The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa) menyelenggarakan Journalists Workshop dan Fellowship “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim” pada 1 – 2 Oktober 2021 di Sorong dan 5 – 6 Oktober 2021 di Jayapura. Kegiatan  ini diharapkan dapat membekali jurnalis lokal Papua untuk turut memberikan perhatian khusus pada  isu-isu kehutanan, krisis iklim, dan kearifan lokal Papua dalam publikasi berita.

Dari puluhan proposal liputan yang dikirimkan peserta, tim penilai SIEJ dan EcoNusa memutuskan 10 jurnalis berikut yang berhak untuk memperoleh Fellowship “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim.”

Sorong:

1. Sayid Syech Boften (Koran DPN Papua Barat Pos)

2. Willem Oscar Makatita (TeropongNews.com)

3. Yosep Erwin Nothan Tupen (Papua Channel TV)

4. Tantowi Djauhari (jurnalpapua.id)

5. Olha Irianti Mulalinda (sorongnews.com)

6. Ernes Broning Kakisina (Kantor berita Antara)

Jayapura:

1. Nees Nikolas Makuba (Parapara TV)

2. Putri Nurjanah Kurita (PapuaUnik.com)

3. John Mampokem (Harian Papua Baru)

4. Musa Abubar (Tribun-Papua.com)

Kesepuluh jurnalis terpilih ini akan mendapatkan bantuan pendanaan liputan dan mengikuti kelas bimbingan jurnalistik secara daring dengan jurnalis senior. Publikasi karya penerima Fellowship ini menjadi bentuk nyata dukungan SIEJ dan Yayasan EcoNusa untuk ikut menjaga hutan Papua melalui jurnalisme lingkungan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

April Sirait (SIEJ) – 082308236489

Antusiasme jurnalis di Indonesia untuk meliput dengan menggunakan tools data kian meningkat. Ini terbukti dengan makin tingginya minat para jurnalis yang mendaftar  Workshop & Kompetisi Jurnalistik  “Memanfaatkan Platform Global Forest Watch untuk Memantau SDA dan Hutan Indonesia” yang diselenggarakan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Global Forest Watch (GFW).

Tercatat sebanyak 62  jurnalis dari berbagai media di Indonesia dengan wilayah kerja yang merata di semua pulau. Termasuk wilayah-wilayah kerja jurnalis yang isu sumber daya alam dan hutan tengah menjadi sorotan karena alih fungsi lahan, kebakaran dan eksploitasi.

Workshop khusus jurnalis berbasis jurnalisme data ini memang dibuka untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan jurnalis dalam menggunakan data dan platform terbuka untuk mendukung peliputan yang berkualitas terkait dengan isu lingkungan, khususnya  sumber daya alam dan hutan di Indonesia melalui pemanfaatan data GFW.

Hasil seleksi tim The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Global Forest Watch (GFW), memutuskan 15 jurnalis yang lolos dan berhak mengikuti workshop dan kompetisi jurnalistik yang berlangsung secara virtual pada 12-13 Oktober 2021.

Berikut nama-nama jurnalis  yang lolos mengikuti workshop dan kompetisi jurnalistik :

1. Luh De Suriyani –  mongabay.co.id – Denpasar

2. Ahmad Riki Sufrian –  kilasjambi.com –  Jambi

3. Wulan Eka Handayani – Terakota.id –  Malang

4. Khoirul Muzakki  – Tribun Jateng –  Banjarnegara

5. Yuli –  Harian Kendari Pos – Kota Kendari

6. Yuliani –  Gatra Sumsel – Kabupaten Muba, Sumatra Selatan

7. Aseanty Widaningsih Pahlevi – Mongabay Indonesia – Pontianak

8. Tahmil – Metro Sulawesi – Palu

9. Riki Chandra –  Suara.com –  Solok, Sumatra Barat

10. Renal Husa –  Lipunaratif.com –  Gorontalo

11. Suprianto Suwardi – bumantara.id – Kotamobagu

12. Novi Abdi – ANTARA – Balikpapan

13. Iwan Bahagia – Kompas.com -Takengon, Aceh

14. Munawir Taoeda – kalesang.id – Ternate, Maluku Utara

15. Trisatrisnah – sorongraya.co – Sorong


Peserta yang lolos berhak mendapatkan :

  1. Subsidi kuota internet
  2. Jejaring dengan tim GFW WRI Indonesia
  3. Pendampingan / konsultasi dalam menggunakan data dan  informasi dari platfom GFW
  4. Kesempatan mengikuti kompetisi jurnalistik  dengan tema “Memantau Kondisi terkini Sumber Daya  Alam dan Hutan Indonesia.”


Informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:
Tasmalinda (SIEJ) – 081284820708

Global Forest Watch adalah platform pemantauan hutan global yang menyajikan data-data spasial near real time serta citra satelit yang jika digunakan secara bersama-sama dapat mendeteksi aktivitas eksploitasi hutan. Data sumber daya alam dan lahan di platform GFW dapat menjadi sumber informasi penting untuk mendukung kebutuhan data bagi kerja-kerja jurnalistik dalam peliputan isu sumber daya alam dan kehutanan.

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendorong media di Indonesia untuk memberikan perhatian lebih terhadap isu perubahan iklim secara lebih luas hingga lingkup internasional. Termasuk pada perhelatan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim ke-26 (UNFCCC COP26) di Glasgow yang berdampak langsung pada langkah antisipasi dan mitigasi Indonesia dalam menghadapi krisis iklim.

Untuk itu, SIEJ menggelar diskusi journalis dengan tema “COP26 101: Komitmen Kolaborasi Indonesia dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim”, pada Sabtu (09/10).

“Kegiatan ini bisa membantu jurnalis memberikan peliputan terkait perubahan iklim di daerahnya. Isu lingkungan sangat penting untuk disampaikan dan pahami publik, melalui kedalaman isu dengan mengawal komitmen Indonesia dalam COP26,” ujar Rochimawati, Ketua Umum SIEJ saat membuka diskusi virtual ini.

Menurutnya, komitmen dan ambisi Indonesia serta dunia dalam menghadapi perubahan iklim ini penting dikawal dengan sinergi jurnalis dalam peliputan yang lebih persuasif dan informatif mengenai kolaborasi dunia menghadapi perubahan iklim.

“Peran media massa dalam memberitakan perhelatan COP26 sangat memengaruhi persepsi publik terhadap kejadian dan penanganan,” tambah Ochi.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Laksmi Dhewanthi, dalam paparannya mengatakan, agenda COP26 adalah menyelesaikan Paris Rulebook dalam Paris Agreement. Indonesia sendiri mencanangkan target pengurangan emisi karbon sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan hingga 41 persen jika ada dukungan internasional.

COP dibuat untuk mendorong komitmen seluruh negara menuju kondisi net-zero emission. Termasuk Indonesia dimana sesuai dengan mandatori, harus berinisiatif menuju net-zero emission.

Upaya itu diwujudkan dalam Nationally Determined Contributions (NDCs) harus bisa dilacak dan dilaporkan agar transparan.

“Perlu adanya transisi yang berkeadilan dalam mencapai komitmen tersebut. Negara berkembang dan negara maju memiliki kapasitas berbeda. Yang pasti kami tidak bisa melakukan ini sendiri. Perlu komitmen bersama dengan para jurnalis dan publik untuk bergerak bersama dalam mencapai net-zero emission.” kata Laksmi.

Pada kesempatan yang sama, Vice-Chair, Working Group I The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Edvin Aldrian mengatakan, perubahan iklim terjadi di segala lapisan bumi dan kondisi ekstrim itu terjadi secara bersamaan. Adaptasi yang kita lakukan saat ini bisa menentukan skenario beberapa tahun kedepan.

“Perubahan iklim sudah mempengaruhi setiap wilayah di bumi, dalam berbagai cara. Perubahan yang kita alami akan meningkat dengan pemanasan lebih lanjut,” ujar Edvin dalam pemaparannya.

IPCC merupakan badan PBB yang menangani  ilmu perubahan iklim. Produk utama adalah laporan kajian perubahan iklim dalam tiga kelompok kerja: basis sains, kerentanan dan adaptasi dampak, dan Mitigasi.

Sementara itu, jurnalis senior Harian Kompas, Ahmad Arif mengatakan bahwa di Indonesia, wacana terkait perubahan iklim masih dianggap sebagai isu tunggal karena tidak dikaitkan dengan isu lingkungan lainnya seperti banjir, kesehatan, atau pangan. Hal ini karena publik melihat isu perubahan iklim punya dimensi kompleks di hampir setiap aspek kehidupan.  

“Ini merupakan pekerjaan besar untuk jurnalis karena isu perubahan iklim masih stand alone di media massa yang jadi salah satu barrier penyebab rendahnya literasi masyarakat. Padahal kalau itu  saling dikaitkan, maka inklusivitas perubahan iklim akan lebih mudah dicerna oleh publik,” kata Ahmad Arif dalam pemaparannya.

Narahubung :

Sepsha (restian.voi@gmail.com)

Divisi Program dan Kerjasama SIEJ

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Global Forest Watch (GFW) membuka kesempatan bagi jurnalis di Indonesia untuk mengikuti Workshop & Kompetisi Jurnalistik  “Memanfaatkan Platform Global Forest Watch untuk Memantau SDA dan Hutan Indonesia”

Kegiatan workshop dan kompetisi jurnalistik ini merupakan bagian dari upaya  mendukung kelestarian sumber daya alam dan hutan di Indonesia melalui pemanfaatan data GFW untuk mendorong karya jurnalistik berkualitas berbasis jurnalisme data.

Kegiatan workshop berlangsung secara virtual pada  12-13 Oktober 2021

Ketentuan peserta :
1. Jurnalis (tetap/lepas) dengan pengalaman minimal 2 tahun
2. Melampirkan surat izin dari redaksi /  editor untuk mengikuti workshop
3. Pernah mengikuti workshop jurnalisme data
4. Tidak sedang mengikuti program SIEJ

Peserta yang lolos berhak mendapatkan :

  1. Subsidi kuota internet
  2. Jejaring dengan tim GFW WRI Indonesia
  3. Pendampingan / konsultasi dalam menggunakan data dan  informasi dari platfom GFW
  4. Kesempatan mengikuti kompetisi jurnalistik  dengan tema “Memantau Kondisi terkini Sumber Daya  Alam dan Hutan Indonesia.”


Untuk menjadi peserta, isi dan kirimkan formulir pendaftaran pada link berikut : https://bit.ly/FormPendaftaran_WorkshopGFW

Batas waktu penerimaan formulir :  8 Oktober 2021.

Informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:
Tasmalinda (SIEJ) – 081284820708

Global Forest Watch adalah platform pemantauan hutan global yang menyajikan data-data spasial near real time serta citra satelit yang jika digunakan secara bersama-sama dapat mendeteksi aktivitas eksploitasi hutan. Data sumber daya alam dan lahan di platform GFW dapat menjadi sumber informasi penting untuk mendukung kebutuhan data bagi kerja-kerja jurnalistik dalam peliputan isu sumber daya alam dan kehutanan.

Global Forest Watch Map

Melalui seleksi ketat, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan ID Comm didukung Institute for Essential Services Reform (IESR), menetapkan 20 jurnalis dari berbagai media di Indonesia terpilih untuk mengikuti pelatihan jurnalistik “Transisi Energi”. Pelatihan berlangsung secara virtual dari tanggal 6 September 2021 hingga 7 Oktober 2021.

Dalam program pelatihan ini, SIEJ menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya sehingga para jurnalis yang lolos seleksi akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai jurnalistik lingkungan dengan isu transisi energy. Para pemateri ini adalah :

  1. Aris Prasetyo (Harian Kompas)
  2. Sunu Dyantoro ( Tempo.co)
  3. Adi Marsiela ( Ekuatorial )

Selain itu, 20 jurnalis juga berkesempatan menyelesaikan peliputan berdasarkan proposal yang diajukan sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan panitia, dari tanggal 7 Oktober 2021 sampai 31 Oktober 2021.

Selama proses penyelesaikan peliputan, para jurnalis akan didampingi mentor, sebagai berikut :

  1. Aris Prasetyo – Harian Kompas
  2. Sapariah Saturi – Mongabay Indonesia
  3. Adhitya Wardhana – CNN Indonesia TV
  4. Sunudyantoro – Tempo

Program pelatihan dan beasiswa ini cukup diminati para jurnalis. Ini terbukti dari  jumlah peserta jurnalis yang mendaftar yang mencapai 70 lebih pendaftar jurnalis dari berbagai platform media. Semua proposal peliputan dengan topik isu transisi energi yang diajukan tersebut dinilai hingga berhasil meloloaskan 20 jurnalis sebagai peserta.

Ketua Umum SIEJ, Rochimawati menjelaskan, program pelatihan dan beasiswa peliputan transisi energi ini menjadi  komitmen SIEJ, untuk  terus mendukung dan mendorong peningkatan kapasitas para jurnalis di Indonesia dalam peliputan dan menyuarakan isu lingkungan, khususnya isu transisi energi di Indonesia.

“Isu energi akan terus menjadi prioritas mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak potensi di bidang energi terbarukan. Ini penting untuk meningkatkan pemahaman jurnalis dan publik akan isu ini. Salah satu upayanya melalui program peningkatan kapasitas jurnalis,” jelasnya, (5/09).

SIEJ memiliki visi membangun masyarakat, sadar informasi dan sadar lingkungan melalui jurnalisme lingkungan berkualitas tinggi.

Harapannya, peliputan isu transisi energi di Indonesia dapat terus ditingkatkan dan menjadi perhatian pemerintah dan publik sehingga tingkat bauran energi di Indonesia bisa ditingkatkan. Media massa berperan besar untuk mewartakan isu  tersebut.

Adapun 20 jurnalis yanng menjadi peserta pelatihan dan beasiswa Transisi Energi adalah sebagai berikut:

1.Agung Sumandjaya – Radar Sulteng

2.April Sirait – CNN TV Indonesia

3.Bethriq Kindy – Warta Ekonomi

4.Danur Lambang – Kompas.com

5.Dinda Wulandari – Bisnis Indonesia

6.Fadli Ilham – Radar Makasar

7.Haris Prabowo – Tirto.id

8.Hartatik – Suara Merdeka

9.Irsyan Hasyim – Tempo

10.Jekson Simanjuntak – Beritalingkungan.com

11.Kennial Caroline Laia – Betahita

12.Margaretha Nainggolan – Batamnews.co.id

13.Moh. Syarif Abdu Salam – Tribun Jabar

14.M. Ulil Abab – IDN Times

15. Imelda Vinolia – suarariau.com

16.Suriani Mappong – LKBN Antara

17.Suryani S Tawari – Malut Post

18.Sri Surya – Beritamanado.com

19.Titik Kartitiani – Berita Jatim

20.Yogi Eka Sahputra – Mongabay Indonesia