Keanekaragaman ikan karang yang melimpah, mendorong nelayan Indonesia berbondong-bondong menangkap ikan di perbatasan dengan Australia.

Di luar perhitungan, lima nelayan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba ditangkap saat menangkap ikan di dekat perbatasan laut Indonesia-Australia.

Perahu motor ‘Hidup Bahagia’ berbobot 5 gross tonage yang didalamnya terdapat hasil tangkapan ikan karang termasuk hiu pun disita. Tanpa ampun, perahu ditarik ke pelabuhan di Darwin, Northern Territory, Australia, diisi jerami kering, lalu disulut api.

Itu bukan kejadian pertama. Sudah banyak perahu nelayan NTT menjadi korban, dibakar hingga ditenggelamkan  otoritas Australia.

Peristiwa pada 8 Oktober 2017 itu masih membekas di ingatan Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) NTT, Wahid Wham Nurdin. “Sampai sekarang saya tidak terima,” tandasnya.

Apa boleh buat, aturan yang berlaku di negara itu melarang nelayan menangkap ikan karang, kecuali ikan permukaan. “Ikan di dasar laut milik mereka, walaupun masih di perairan Indonesia,” kata Nurdin kesal.

Terlepas dari tuduhan nelayan Indonesia menangkap ikan secara ilegal, gugusan karang di perairan itu memiliki keanekaragaman ikan karang yang melimpah, mendorong nelayan Indonesia berbondong-bondong menangkap ikan di sana.

Sebetulnya, karang Beatrix, Dalam, dan Tabui yang jaraknya sejam pelayaran dari ujung selatan Timor, memiliki potensi ikan yang melimpah. Di sana hidup ikan marlin, layaran, tenggiri, wahui, kuwe, barakuda, lemadang, dan tuna. “Kita bersyukur tiga karang ini masih bagus,” ungkap Nurdin.

Potensi yang kemudian mendorong tak kurang dari 50 nelayan luar daerah datang setiap tahunnya untuk menangkap ikan di perairan NTT, termasuk di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Kupang.

Tetapi, persoalan nelayan tidak berhenti di situ saja. Nelayan di Kupang umumnya memiliki perahu dengan tonase 2-3 GT saja, mustahil berlayar sampai ratusan mil, apalagi sampai gugusan karang di perbatasan perairan Australia selama 48 jam. Mereka pun tak jarang memilih jalan pintas, menangkap ikan dengan alat tangkap yang merusak lingkungan.

Nurdin, yang saban hari menangkap ikan di laut, berkisah mengenai kondisi terumbu karang di perairan dalam yang disebutnya masih utuh. Lain halnya di kedalaman antara 3-10 meter, terumbu karang dalam kondisi rusak.

Simak laporan Palce Amalo selengkapnya di website ekuatorial.com

Banner Image : Palce Amalo / Media Indonesia

Upaya menekan kerusakan ekosistem laut di Kawasan Taman Wisata Laut Pulau Sangiang terus dilakukan banyak pihak.  Sejak 2018, Yayasan KEHATI bersama PT Asahimas Chemical melakukan rehabilitasi karang yang rusak di kawasan ini akibat aktivitas Industri, wisata, reklamasi, dan pembangunan di kawasan pesisir.

Berbeda dengan metode kebanyakan, rehabilitasi terumbu karang ini lakukan di dua lokasi rehabilitasi, yaitu transplantasi karang di Legon Bajo, Legon Waru, dan pembibitan karang di Tembuyung dengan menggunakan modul PVC sebagai media tumbuh karang.

Sampai tahun 2021, sudah terdapat 75 modul yang ditanam di kawasan Pulau Sangiang.

Selain itu, juga dilakukan pengambilan data ekologi serta pengambilan sampel air untuk analisis environmental DNA (eDNA) untuk mengetahui keragaman hayati di perairan Pulau Sangiang.

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI Yasser Ahmed menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring, tingkat survival transplantasi dengan pipa PVC ini di atas 67% per tahun. Sehingga metode transplantasi dengan modul PVC dapat memperkaya metode rehabilitasi terumbu karang di Indonesia.

“Fakta ini menggembirakan, mengingat rehabilitasi dianggap berhasil jika survival rate berada di atas 50%, karena menyerupai fungsi ekosistem aslinya. Materinya ramah lingkungan, prosesmudah dan biaya murah, kami akan terus melakukan kajian mendalam dari penggunaan modul PVC ini,”jelas Yasser.

Pada tahun 2018, sebanyak 1.491 fragment karang dari 11 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 66%. Pada tahun 2019, sebanyak 544 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%. Pada tahun 2020, sebanyak 2159 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%.

Fakta lain, anakan terumbu karang juga berhasil tumbuh secara alami pada terumbu buatan. Hingga tahun 2020 tercatat sebanyak 335 koloni rekrutmen karang yang berhasil menempel dan tumbuh pada terumbu buatan. Rekrutmen karang pada terumbu buatan didominasi oleh genus Pocillopora yang merupakan jenis karang pioneer dalam proses. Karang dari jenis ini mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat, sehingga merupakan jenis pionir dalam mengkolonisasi substrat baru

Yasser menambahkan, program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Sangiang Banten melihatkan banyak pihak, yaitu PT. Asahimas, Yayasan KEHATI, Yayasan Terangi, Maritim Muda Nusantara, BKSDA Jabar, Oceanogen Environmental and Biotechnoogy Laboklinikum, Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan IPB, Marine Science and Diving School IPB. Serta masyarakat lokal sebagai binaan untuk melangsungkan kegiatan rehabilitasi terumbu karang secara berkelanjutan.

“Sebagai daerah taman wisata alam, kelestarian ekosistem laut yang ada didalamnya harus terus terjaga. Dan ini membutuhkan dukungan banyak pihak,” tutup Yasser.

Berdasarkan pengamatan ekologi secara visual di tahun 2021, ditemukan 30 spesies ikan terumbu di Legon Waru, 33 spesies di Legon Bajo, dan 20 spesies di Raden (daerah non-rehabilitasi). Hal ini mengindikasikan daerah rehabilitasi yaitu Legon Waru dan Legon Bajo memiliki kekayaan spesies ikan terumbu lebih tinggi dibandingkan daerah non-rehabilitasi yaitu Raden.

Data pengamatan ekologi lain menemukan sebanyak 45 spesies makrobentos di Legon Waru, 40 spesies di Legon Bajo, dan 23 spesies di Raden.

Makrobentos adalah hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas atau di bawah dasar laut atau pada wilayah yang disebut zona bentik (benthic zone) maupun dasar daerah tepian. Bentos berbeda dengan plankton yang hidup mengambang bebas di air.

Narahubung :

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI

Yasser Ahmed

Telepon: +62 813-1090-8979

Email: Yasser.ahmed@kehati.or.id 

Banner Image : Transplantasi karang dengan model PVC / dokumentasi foto : Yayasan Kehati