Sektor energi menyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua di Indonesia setelah alih fungsi lahan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan, emisi gas rumah kaca dari sektor energi mencapai 453,2 juta ton CO2 pada 2010. Kondisi ini harus segera ditangani dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah percepatan transisi energi nasional.

Indonesia memiliki potensi sumber energi baru terbarukan yang melimpah. Selain tenaga surya, angin, dan air, panas bumi atau geotermal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi energi alternatif ramah lingkungan untuk mengatasi krisis energi. Menurut catatan Badan Geologi, potensi panas bumi di Indonesia sebesar 23,9 gigawatt (GW) hingga Desember 2019. Namun, potensi ini baru dimanfaatkan sebesar 8,9% atau sekitar 2.176 megawatt (MW). Dalam Roadmap Pengembangan Geotermal yang disusun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia menargetkan pengembangan energi geotermal sampai 7.000 megawatt (MW) pada 2025.

Untuk mengetahui potensi dan perkembangan energi panas bumi di Indonesia, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan Pri Utami pada Jumat, 17 September 2021. Sebagai perempuan yang berkarir dalam bidang yang mayoritas didominasi  laki-laki, Pri Utami justru terpilih sebagai salah satu Duta Wanita Geotermal atau Women in Geothermal Ambassador oleh International Geothermal Association (IGA) pada 2015 atas kontribusi dan dedikasinya pada pengembangan energi panas bumi. Saat ini, Pri Utami juga masih aktif mengajar di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM).

Pri Utami, pengajar di Departemen Teknik Geologi UGM yang mendedikasikan ilmunya untuk pengembangan energi panas bumi. Foto : dokumentasi pribadi

Bagaimana awal mula ketertarikan Anda terhadap panas bumi?

Sebetulnya karena saya punya latar belakang jurusan Teknik Geologi saat kuliah. Saat itu, sistem panas bumi belum terlalu berkembang di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Waktu liburan keluarga ke Dieng, saya melihat aktivitas pengembangan panas bumi dan mencari tahu tentang kaitan antara pengeboran dan akses ke perut bumi. Sebagai mahasiswa Geologi, saya pun tertarik membuat skripsi mengenai panas bumi. Dipandu alumni UGM yang bekerja di bidang panas bumi, saya akhirnya menemukan passion dalam bidang itu.

Bagaimana potensi energi panas bumi di Indonesia?

Sekitar 40 persen potensi panas bumi dunia ada di Indonesia. Menurut ESDM, potensinya mencapai 24 gigawatt (GW) karena negeri kita berada di cincin api. Di bawah telapak kaki kita, ada sumber energi yang berasal dari dalam bumi kita sendiri. Prospek panas bumi yang bisa diekstraksi dengan aman dan ekonomis itu panas bumi dari gunung api tidak aktif karena tidak ada erupsi vulkanik.

Akan seperti apa pengelolaan energi terbarukan itu nantinya?

Saat ini, 2.176 megawatt (MW) listrik berasal dari energi panas bumi. Daerah Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara memiliki potensi panas bumi yang belum dikembangkan secara maksimal. Pemerintah berencana melakukan eksplorasi panas bumi baik berdekatan dengan gunung api, maupun yang tidak berdekatan dengan gunung api. Fenomena panas bumi, seperti air panas, sudah dikenal manusia sejak lama dan dimanfaatkan untuk pemandian. Awalnya fokus energi panas bumi hanya untuk pembangkit listrik, tapi sekarang terus dikembangkan untuk sektor industri.

Di masa depan, energi panas bumi dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk pembangkit listrik. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Contohnya industri pembuatan gula aren yang sudah dilakukan di wilayah Sulawesi Utara. Air nira yang semula hanya dijual sebagai bahan dasar pembuatan minuman keras tradisional, kini juga dimasak menjadi gula aren. Pengelolaannya tidak lagi memerlukan kayu dan minyak tanah, tapi cukup memanaskan wajan dengan uap panas bumi. Jika dioptimalkan, panas bumi dapat mendukung pengembangan industri lokal. Energi panas bumi memang tidak bisa dipindahkan, sehingga harus dimanfaatkan langsung di lokasi sumbernya. Namun, sumber energi panas bumi dapat dipakai untuk membantu proses pembuatan energi terbarukan lainnya, seperti etanol dan hidrogen yang dapat dipindahkan.

Anda pernah terpilih sebagai “Women in Geothermal Ambassador. Bagaimana awal mulanya?

Itu merupakan perjalanan panjang. Di mulai dari ketertarikan saya pada panas bumi saat masih kuliah, sampai pada pilihan berkarir dalam bidang ini. Sebagai dosen, saya aktif melakukan berbagai aktivitas akademik, seperti berpartisipasi dalam seminar, menulis paper, dan ikut mensosialisasikan energi panas bumi kepada banyak kalangan. Kontribusi saya dalam bidang panas bumi dilirik asosiasi panas bumi internasional, yang kemudian memilih saya sebagai  salah satu Women in Geothermal Ambassador atau Duta Wanita Panas Bumi untuk periode 2015 – 2020. Tugasnya untuk menyampaikan informasi seputar panas bumi agar lebih dikenal masyarakat luas. Barangkali karena perempuan dinilai memiliki kemampuan mendidik dan mengajar yang baik, sehingga kami diberi kepercayaan itu.

Di sisi lain, tidak banyak perempuan yang terjun dalam bidang sains, teknologi, dan panas bumi. Sebagai Duta Wanita Panas Bumi, saya juga turut mempromosikan kesetaraan gender di bidang studi dan kerja yang mayoritas didominasi laki-laki.

Tidak sedikit lokasi pengembangan panas bumi berada di kawasan hutan maupun pegunungan. Apakah pengembangan panas bumi berisiko merusak alam?

Dari sisi energi, panas bumi ramah lingkungan. Emisi pembangkit listrik panas bumi tidak signifikan dibandingkan non-panas bumi, seperti emisi CO2 batubara. Sebagai contoh, untuk membangkitkan satu megawatt jam listrik yang bersumber dari batubara, menghasilkan sekitar 900-1000 kilogram CO2.

Sementara dari aktivitas ekstraksi, kita menggunakan media fluida air atau uap yang ada di reservoir geotermal. Ketika kita ekstraksi fluida menjadi lebih dingin, airnya tidak dibuang ke tanah atau tubuh air permukaan, tapi diinjeksikan kembali ke dalam bumi. Aktivitas ini turut menjaga lingkungan. Jika air yang sudah diekstraksi tidak kembali ke bumi, justru akan menyebabkan berkurangnya keseimbangan massa di dalam reservoir panas bumi. Pemanfaatan energi panas bumi ikut melestarikan lingkungan karena ikut menjamin keberlangsungan siklus hidrologi alamiah yang sampai ke dalam reservoir panas bumi.

Pengembangan energi panas bumi juga turut melestarikan hutan. Keberlanjutan pemanfaatan panas bumi bergantung pada kondisi area hutan dan aktivitas ekstraksi sebenarnya dapat dilakukan tanpa merusak fungsi hutan. Pembukaan lahan untuk akses sumber daya energi apa pun, termasuk panas bumi, memang memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Namun, ada peraturan untuk meminimalisir gangguan dan rehabilitasi, seperti melakukan penanaman pohon setelah pembukaan lahan sebagai bagian dari upaya melestarikan lingkungan. Luas lahan untuk pengembangan energi panas bumi juga kecil dan cara ekstraksi energinya melalui sumur pemboran, bukan penggalian lahan.

Apa saja kendala dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia?

Kita perlu memperbanyak penelitian tentang karakter atau sistem panas bumi untuk memperkecil resiko kegagalan area yang dikembangkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dapat membantu mengatasi kendala itu.

Dari sisi regulasi, kita bersyukur UU panas bumi yang baru sudah jauh lebih baik dibandingkan yang lama. Eksplorasi panas bumi tidak dikategorikan sebagai aktivitas penambangan karena yang dilakukan adalah ekstraksi panas, sehingga media pembawanya dikembalikan lagi ke dalam bumi. Ke depannya, regulasi turunan maupun regulasi pada sektor lain yang bersentuhan dengan panas bumi seperti dalam hal tata guna lahan, konservasi, pembiayaan, dan investasi masih perlu disinkronkan lagi.

Di wilayah mana saja rencana pengembangan energi panas bumi? Mengapa memilih wilayah itu?

Sekarang fokus kita di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan NTT. Flores akan dijadikan pulau panas bumi. Kita masih memprioritaskan pengembangan jenis sistem panas bumi yang bertemperatur tinggi seperti yang sudah berkembang sekarang. Namun, kita sudah mengeksplorasi sistem-sistem bertemperatur menengah.

Dalam Roadmap Pengembangan Geotermal yang disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia menargetkan pengembangan energi panas bumi sekitar 7.000 MW pada 2025.  Sejauh mana perkembangan rencana tersebut?

Target itu berat sekali. Pada 2021 saja, kita baru mengembangkan total 2.175 MW. Untuk mencapai 7.000 MW pada 2025 yang hanya tinggal beberapa tahun lagi sangat berat. Saya tidak tahu apakah rencana tersebut sudah direvisi atau belum. Namun, melihat aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan selama ini, saya optimis akan ada peningkatan jumlah kapasitas pembangkit listrik tenaga panas  bumi yang signifikan.

Seberapa optimis Anda dengan capaian pemerintah untuk energi panas bumi?

Kita memang harus mematok capaian target yang tinggi, apalagi dengan potensi energi yang kita miliki. Saya kurang optimis kalau sampai 7.000 MW. Namun, kita harus terus maju walaupun belum mencapai target tersebut pada 2025.

Pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai upaya percepatan transisi energi nasional sangat penting. Ini juga berkaitan dengan komitmen kita dalam Nationally Determined Commitment (NDC) yang merupakan tindak lanjut Paris Agreement untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebagai langkah mitigasi perubahan iklim. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga rentan bencana, dampaknya akan lebih buruk dengan adanya perubahan iklim. Untuk itu, kita harus terus menggenjot potensi EBT yang ada, dari tenaga surya, angin, air, sampai panas bumi.

Dibandingkan dengan potensi EBT lainnya di Indonesia, seperti panel surya, angin, dan air, apakah panas bumi menjadi alternatif terbaik untuk transisi energi nasional?

Panas bumi termasuk sumber energi bersih dan terbarukan. Salah satu keunggulan panas bumi yaitu pasokannya yang stabil dan tidak bergantung pada musim karena sumbernya ada pada kedalaman 2 – 3 kilometer di bawah tanah. Simpanan energinya juga berkelanjutan karena berasal dari magma. Pasokan yang stabil menjadikan panas bumi sebagai sumber energi yang dapat diandalkan untuk memasok kebutuhan beban dasar listrik.

Bagaimana menarik minat lebih banyak anak muda untuk belajar dan menjadi ahli dalam bidang EBT yang memiliki potensi besar di Indonesia?

Perlu adanya publikasi media dan sosialisasi tentang energi baru terbarukan. Pesan-pesan positif tentang sumber energi alternatif dapat menarik minat generasi muda untuk mengenal potensi EBT di Indonesia. Ketertarikan itu dapat mendorong mereka untuk belajar tentang energi baru terbarukan, menjadi ahli atau pengusaha di bidang EBT, bahkan ikut mengkampanyekan energi ramah lingkungan, yang juga dapat memajukan sektor EBT di Indonesia.

Banner Image : Pengembangan PLTP Sorik Marapi berkapasitas 240 MW merupakan salah satu proyek strategis nasional dan menjadi bagian dalam Program 35 ribu MW. Foto diambil dari website resmi ebtke.esdm.go.id

Isu perubahan iklim sudah lama digaungkan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan di media yang kurang “membumi” menjadikan isu ini sulit dipahami publik.

Di sisi lain, media memainkan peran sangat penting dalam menyampaikan informasi tentang perubahan iklim. Jurnalis yang bekerja meliput perubahan iklim harus mampu menemukan dan menuliskan cerita dengan baik.

Beberapa kiat singkat ini dapat menjadi panduan untuk menemukan dan menulis cerita yang lebih baik, serta cara meliput aspek-aspek spesifik perubahan iklim.

1. Ikuti aliran dananya.

Perubahan iklim adalah cerita tentang ratusan miliar dollar. Dimana uang yang digunakan untuk adaptasi dan mitigasi? Siapa yang mengendalikannya? Siapa yang membelanjakannya? Siapa yang mengawasi penggunaannya? Siapa yang mendanai LSM dan politisi? Perusahaan mana yang diuntungkan dari tindakan mengatasi perubahan iklim? Siapa yang akan dirugikan?

Hal lain untuk perhatian media adalah apakah negara-negara kaya menepati janjinya untuk mendanai aksi iklim di negara berkambang, dan apakah dana tersebut benar-benar ‘baru dan tambahan’ dan bukan dari anggaran bantuan dana yang ada. Juga akan ada perdebatan besar tentang seberapa besar pembiayaan iklim harus berasal dari pembiayaan publik dan seberapa besar harus berasal dari sektor swasta (yang kemungkinan tidak akan menunjukkan minat dalam pembiayaan proyek adaptasi skala kecil yang diperlukan karena mereka menawarkan sedikit peluang pengembalian dalam investasi apa pun). Ikuti aliran danaya dan Anda akan menemukan semua elemen dari suatu cerita yang bagus. Ada beberapa contoh laporan dari Fiji151, dan Filipina152 yang melihat keterlambatan pencairan Green Iklim Fund (GCF) dan kebijakan tentang pencarian GCF yang akan memiliki kontribusi positif bagi penduduk asli.

2. Melokalkan isu global.

Setiap hari para ilmuwan memublikasikan penelitian baru, pembuat kebijakan membuat pengumuman baru, para pegiat lingkungan mengeluarkan tuntutan baru dan pola cuaca aneh terjadi. Bahkan jika hal-hal ini terjadi di tempat jauh, para jurnalis yang cerdas dapat mencari cara untuk mengaitkan cerita-cerita ini dengan keadaan dan audiensi tempat mereka sendiri.

Misalnya di Indonesia, para jurnalis menggunakan media multi-platform dengan teknologi digital untuk menyajikan isu-isu perubahan iklim dengan cara yang menarik.

Para jurnalis dan kontributor di berbagai kota dapat menyumbangkan cerita dalam berita khas (news feature) untuk menuliskan  lingkungan dan peran yang diinisiasi dan dilakukan individu atau komunitas lokal dalam melestarikan alam. Ini menjadi cara efektif untuk mengomunikasikan perubahan iklim kepada khalayak yang lebih luas.

3. Pakai kacamata perubahan iklim dan meliput dari sudut pandang baru.

Untuk setiap kebijakan baru, penemuan batu, apa pun yang baru, amati dengan lensa perubahan iklim Anda dan ajukan dua pertanyaan; “Bagaimana X dapat mempengaruhi perubahan iklim?” dan “Bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi X?” Anda akan menemukan banyak sudut pandang baru untuk pelaporan Anda. Sudut-sudut ini meliputi kesehatan, bisnis, teknologi, makanan, budaya, olehraga, pariwisata, agama, politik – malah, hampir semua hal lainnya.

4. Ikuti jaringan.

Terus ikuti cerita perubahan iklim dengan membaca karya para jurnalis lain yang meliputnya dengan baik ( misal beberapa kisah hebat di IPS, Reuters AlertNet, The Guardian, The New York Times dan BBC, reporter meliput perubahan iklim untuk media nasional di seluruh dunia).

Gunakan media sosial seperti Facebook, Instagram atau Twitter untuk mengetahui apa yang dikatakan orang tentang perubahan iklim dan berbagi cerita Anda sendiri.

The Climate News Network (Jaringan Berita Iklim) menawarkan cerita yang para jurnalis dapat adaptasi untuk mereka gunakan. (http://www.iklimnewsnetwork. net/).

5. Baca jurnal.

Penelitian yang paling penting dan signifikan muncul dalam jurnal seperti Nature Climate Change, Geophysical Research Letters, Nature, Science, PNAS, Climatic Change. Anda dapat melacak penelitian baru dengan berlangganan milis jurnal – melalui layanan siaran pers EurekAlert dan AlphaGalileo gratis.

Jurnal cenderung hanya tersedia untuk pelanggan berbayar tetapi para jurnalis dapat memperoleh salinan dengan melakukan pencarian dalam Google Scholar (http://scholar.google. com) untuk file PDF atau dengan mengunjungi situs web jurnal tersebut untuk makalah tertentu. Situs web akan sering menampilkan alamat email penulis utama, yang biasanya akan bersedia mengirimkan salinan makalah kepada jurnalis dan menjawab pertanyaan.

Cara lain, memulai membuat catatan kontak para ahli dengan mencari di Internet untuk makalah ilmiah terbaru tentang topik tertentu.

6. Tetap mengikuti perkembangan dan arus informasi, negosiasi internasional melalui jejaring atau melalui forum untuk para editor dan jurnalis seperti The Conversations.

7. Menjalin hubungan.

Seorang jurnalis perlu banyak narasumber. Perubahan iklim merupakan hal yang berdampak terhadap semua orang. Para jurnalis dapat membuat daftar kontak narasumber dari berbagai sektor yang berbeda, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Para narasumber tersebut termasuk: pembuat kebijakan, organisasi antar pemerintah, badan PBB, organisasi masyarakat sipil dan pusat penelitian. Beberapa narasumber terbaik tidak berasal dari organisasi tetapi dari masyarakat umum, seperti petani dan nelayan, penggembala dan pemilik usaha kecil. Hanya segelintir orang yang tahu lebih banyak tentang perubahan iklim dibanding mereka yang mata pencaharian paling terpengaruh.

Para jurnalis dapat bergabung dengan milis seperti Climate-L (http://www.iisd.ca/ email/subscribe.htm), tempat ribuan ahli iklim berbagi laporan dan informasi terkini mereka tentang peristiwa perubahan iklim. Untuk informasi tentang negosiasi perubahan iklim PBB para jurnalis dapat berlangganan Earth Negotiations Bulletin (http://www.iisd.ca/ process/iklim_ atm.htm).

Disadur dari Buku Menyampaikan Pesan Meliput Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Asia dan Pasifik: Buku Panduan untuk Jurnalis

Silakan unduh versi lengkap di https://siej.or.id/pustaka/

Banner Image : istimewa / Dokumentasi kegiatan field trip “From Ridge to Reefs” yang diselenggarakan SIEJ

Perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia mengakibatkan meningkatnya perstiwa banjir di wilayah pesisir utara Pulau Jawa.  Ini salah satu kesimpulan yang disampaikan Prof. Edvin Aldrian, Pakar Iklim dan Meteorologi BRIN yang juga  Wakil Ketua Kelompok Kerja I IPCC.

“Hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara diamati dari tahun 1984-2015,” kata Prof Edvin Aldrian.

Proyeksi menunjukkan permukaan laut regional rata-rata terus meningkat sehingga mengakibatkan meningkatnya kejadian banjir  di derah pantai. Ditambah lagi Tingkat Total Ekstrim Air (Extreme Total Water Level/ETWL) lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir

Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim tahun 2021 menyebutkan, kawasan Asia Tenggara akan berdampak  cukup parah karena kerentanan kawasan ini terhadap kenaikan permukaan air laut lebih cepat terjadi dibandingkan daerah lain. Hal ini semakin diperburuk oleh pergeseran tektonik dan efek surutnya air tanah.

Prof. Edvin menegaskan bahwa kenaikan air laut tak lepas dari fenomena mencairnya es di kutub bumi dan pemuaian air laut karena pemanasan global. Inilah yang mengakibatkan penambahan volume air laut, serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir yang menggenangi wilayah daratan.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin mengamini dampak perubahan iklim terhadap pesisir utara Pulau Jawa semakin tinggi dengan dipicu oleh penurunan permukaan tanah di wilayah tersebut.

“Manusia ikut menjadi faktor penyebab yang signifikan. Konsumsi air tanah yang masif dan tidak terkendali menyebabkan turunnya permukaan tanah. Walaupun saat ini dampaknya belum terlalu terasa, namun risiko penurunan permukaan tanah jelas merugikan dan berdampak sosial maupun ekonomi bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” tambahnya.

Rokhis memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan citra satelit terbukti terjadi penurunan muka tanah di DKI Jakarta antara 0.1-8 cm per tahun, Cirebon antara 0.3-4 cm per tahun, Pekalongan antara 2.1-11 cm per tahun, Semarang antara 0.9 – 6 cm per tahun, dan Surabaya antara 0.3 – 4.3 cm per tahun .

Dari data satelit tergambar bahwa pesisir utara Jawa, terutama Pekalongan, mengalami penurunan muka tanah yang paling tajam. Kondisi geologi daerah pesisir yang merupakan tanah lunak ditunjang dengan peningkatan pembangunan pemukiman dan penggunaan air tanah menyebabkan penurunan muka tanah semakin tinggi.

“Perlu adanya monitoring terhadap penurunan tanah dan laju perubahan garis pantai akibat perubahan ketinggian air laut,” imbuhnya.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Eddy Hermawan mengungkapkan fenomena turunnya permukaan tanah di pesisir utara Pulau Jawa lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan selatan Jawa yang struktur geologinya cenderung berbukit.

“Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya adalah kota-kota pesisir utara Jawa yang paling rawan terhadap penurunan tanah ekstrim hingga tahun 2050. Untuk itu, upaya mitigasi dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan harus segera dilakukan,” ujarnya.

Kondisi morfologi daerah pesisir yang relatif datar membuat hampir seluruh aktivitas pembangunan infrastruktur jalan dan perekonomian dipusatkan di utara Jawa. Ini membuat beban tanah karena bangunan dan penyedotan atas penggunaan air tanah menjadi lebih intensif dibandingkan dengan wilayah lain.

Banner Image : Peta Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah. Peta Google Earth diambil oleh Tim data Storigraf (dari situs Tirto.id)

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melalui Ekuatorial.com telah memilih 12 jurnalis yang berhak mendapatkan Beasiswa Liputan periode ke-2 (story grant batch 2) tahun 2021. Tema besar yang dipilih kali ini adalah “Menyambut COP26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Melalui tema tersebut SIEJ-Ekuatorial ingin agar para jurnalis bisa memaparkan permasalahan lingkungan hidup di kawasan urban, berikut dampak dan juga solusi yang bisa ditawarkan. Tujuannya agar kaum urban memahami bahwa persoalan lingkungan hidup itu dekat dengan rumah mereka, bukan sesuatu yang hanya bisa terjadi di tengah hutan atau kutub nun jauh di sana. Pun bahwa, disadari atau tidak, aktivitas sehari-hari mereka akan berpengaruh pada kondisi lingkungan dan perubahan iklim.


SIEJ-Ekuatorial juga ingin agar masyarakat bisa tergerak untuk mencermati segala diskusi dan keputusan yang diambil para pemangku kepentingan dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) yang akan berlangsung di Glasgow, Skotlandia, 1-12 November 2021. Pasalnya, segala keputusan tersebut akan berpengaruh terhadap Bumi dan kehidupan kita semua.

Saat pendaftaran ditutup pada 13 September 2021, Ekuatorial.com menerima 30 proposal dari para jurnalis di berbagai wilayah Indonesia.

Berikut ini nama-nama jurnalis yang usulan peliputan berhak mendapatkan beasiswa peliputan SIEJ-Ekuatorial “Menyambut COP26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

  1. Suwandi (Kompas.com-Jambi)
  2. Aceng Mukaram (Liputan6.com-Pontianak)
  3. Hendra Friana (Fortune Indonesia-Tangerang)
  4. Sarjan Lahay (Mongabay Indonesia-Gorontalo)
  5. Ani Marda (Merdeka.com-Yogyakarta)
  6. Vina Oktavia (Kompas.id-Bandar Lampung)
  7. Jaka Hendra Baittri (Mongabay-Sumatera Barat)
  8. Fahreza Ahmad (theacehpost.com-Banda Aceh)
  9. Maratun Nashihah (Suara Merdeka-Semarang)
  10. Mita Anggraini (Mimbar Untan-Pontianak)
  11. Sahrul Jabidi (Kieraha.com-Ternate)
  12. Yael Stefany Sinaga (Mongabay Indonesia-Medan)

Para jurnalis tersebut masing-masing akan menerima beasiswa peliputan mulai sebesar Rp3 juta. Selamat kepada kawan-kawan jurnalis yang terpilih usulannya untuk mendapatkan beasiswa liputan.

Panitia akan menghubungi melalui surat elektronik terkait penjadwalan koordinasi dalam peliputan.

Baca update terkait isu lingkungan dan perubahan iklim di website https://www.ekuatorial.com/

#ekuatorial #perubahaniklim #lingkunganhidup #hibahliputan #beasiswapeliputan #jurnalis #jurnalislingkungan #COP26 #SIEJ #climatechange

Selain memiliki manfaat ekologi, mangrove juga dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan. Oleh masyarakat Tidore Kepulauan, tanaman ini telah dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional secara turun-temurun.

Deretan perahu ketinting mengapung di muara sungai di Desa Toseho, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Kamis, 29 Juli 2021. Perahu nelayan ini dalam kondisi tertambat. Sekitar 700 meter ke arah Selatan, berdiri delapan unit rumah warga dalam kondisi tidak terawat. Sebagian masih berdiri kokoh dan sisanya sudah rata dengan tanah.

Menurut Kepala Desa Toseho, Taufik Khalil, ke delapan rumah warga Desa Toseho ini ditinggal kosong karena sering dihantam banjir rob setiap tahunnya. Warga desa pesisir yang dikenal sebagai kampung tua Toseho tersebut terpaksa pindah sejauh 2 kilometer dari pantai.

“Migrasinya penduduk ini dimulai sejak tahun 1997. Kemudian pada 2001, banjir rob terparah terjadi lagi dan membuat kurang lebih 400 jiwa lebih memilih mengungsi. Hingga sekarang, kurang lebih 900 jiwa sudah keluar dan pindah ke kampung baru Toseho,” kata lelaki 29 tahun itu.

Letak kampung tua Toseho berhadapan langsung dengan laut dan membelakangi hamparan Hutan Mangrove yang berada di pesisir kecamatan setempat.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, luas tutupan Hutan Mangrove Indonesia pada 2020 mencapai 3.490.000 hektare atau 21 persen dari total luas tutupan hutan mangrove di dunia. Dari luas ini, sebanyak 2.673.548 ha dalam kondisi baik dan 637.624 ha lainnya dalam kondisi kritis.

Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah atau Bapelitbangda Kota Tidore Kepulauan mencatat, luas Hutan Mangrove di Tidore Kepulauan sebesar 1.729 ha atau 0,0495 persen dari luas mangrove nasional. Luasan tersebut tersebar di tujuh pulau, yaitu Pulau Tidore seluas 14,18 ha, Pulau Maitara 4,51 ha, Pulau Mare 11,88 ha, Pulau Woda 47,56 ha, Pulau Raja 15,92 ha, dan Pulau Guratu 37,43 ha. Sisanya di wilayah Halmahera bagian Tengah sebesar 1.597,52 ha.

aufik bilang, hutan mangrove di desanya memiliki peranan yang sangat penting. Karena menjadi tempat hidup dan berkembangnya siput popaco yang dapat dijadikan lauk untuk konsumsi harian dan sumber pendapatan masyarakat.

“Karena ada orang dari desa lain selalu datang mencari bia (siput) popaco di sini (Desa Toseho),” katanya.

Disamping itu, lanjut Taufik, tanaman mangrove juga dimanfaatkan sebagai keperluan makanan ternak kambing dan bahan pengobatan tradisional.

Ramli Abdullah, biang (tetua) Desa Toseho mengaku, selalu mengambil tanaman mangrove di sekitar Kampung Tua Toseho untuk keperluan pembuatan obat. Karena disitu terdapat berbagai jenis tanaman mangrove yang telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun, ujar perempuan 60 tahun yang memperoleh pengetahuan pengobatan itu dari orang tuanya.

“Dari kecil saya sudah lihat papa (ayah) menggunakan mangrove untuk pengobatan, selain itu nenek saya juga seorang biang desa yang selalu melakukannya,” tutur perempuan yang akrab disapa Mama Li ini, ketika disambangi di rumahnya, Kamis, 29 Juli 2021.

Ia menceritakan, selama ini mangrove digunakan sebagai bahan obat untuk beberapa penyakit, di antaranya sakit perut, keseleo, mengembalikan fungsi indera pengecap, dan membersihkan darah nifas selesai bersalin.

Simak laporan Apriyanto Latukau di website ekuatorial.com

Banner Image : Hutan Mangrove Desa Toseho, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, tampak pada Kamis, 29 Juli 2021. Foto : Apriyanto Latukau/Kieraha

Perhelatan Konferensi Iklim COP26 di Glasgow akan menjadi salah satu negosiasi iklim terpenting sejak COP21 di Paris. Sejumlah isu penting akan menjadi sorotan negara-negara di dunia untuk kembali berkomitmen menurunkan emisi karbon.

Tetapi ada banyak sekali rintangan yang menghalangi para jurnalis untuk hadir dan terlibat dalam sesi-sesi tersebut.

The Climate Tracker membuka kesempatan bagi 20 jurnalis muda dari negara berkembang untuk mengambil bagian dalam perhelatan tersebut dengan membuka program “COP26 Climate Justice Journalism Fellowship” .

Jurnalis yang lolos nantinya akan ikut bergabung melaporkan secara virtual isu-isu yang menjadi pembicaraan di Konferensi Iklim PBB pada bulan Oktober dan November ini.

Banyak keuntungan yang didapat dari program ini, seperti pemahaman terhadap isu perubahan iklim, belajar dari jurnalis iklim terbaik di dunia, terhubung dengan jurnalis lain dari seluruh dunia, dan mengerjakan cerita kolaboratif yang dapat dipublikasikan di media masing-masing.

Apa yang didapat dari fellowship yang berlangsung selama satu bulan ini :

  1. Fee honor sebesar €250 tunjangan
  2. Pelatihan online selama dua minggu menjelang COP26
  3. Pendampingan kelompok kecil dan individu selama COP26
  4. Dukungan untuk mengedit dan mempromosikan karya jurnalistik  di seluruh COP
  5. Peluang untuk mengerjakan cerita kolaboratif dengan jurnalis lain dari seluruh wilayah kerja jurnalis dan secara global

Kualifikasi yang dicari :

  1. Jurnalis dengan pengalaman minimal 5 tahun
  2. Bersedia dan mampu membuat proposal peliputan dan mempublikasikan hingga 4 cerita di media masing-masing.
  3. Memiliki kemauan untuk belajar tentang politik iklim
  4. Miliki koneksi Wi-Fi yang bagus
  5. Dapat terlibat dalam beberapa pelatihan berbasis bahasa Inggris (meskipun pendampingan, penerbitan, dan pelatihan individu akan multibahasa)
  6. Berasal dari atau tinggal di negara berkembang
  7. Ingin bergabung dengan The Climate Tracker Family

Untuk pendaftaran silakan buka https://climatetracker.org/join-our-cop26-climate-justice-online-fellowship-global/

Jika Anda tertarik, jangan ragu untuk mengirimkan aplikasi! Batas waktu untuk melamar adalah 20 September 2021.

Jika ingin mengajukan pertanyaan atau mengalami kesulitan terkait dengan program ini, jangan ragu untuk menghubungi Dizzanne Billy, di dizzanne@climatetracker.org.

Banner Image : Para pemuda dari penjuru dunia tergabung dalam Mary Robinson dan Kofi Annan, di perhelatan One Young Worls Summit 2015 di Dublin. Foto diambil dari website Mary Robinson Foundation Climate Justice

Selama kurun waktu 30 tahun, hampir 50% luasan tutupan mangrove di pesisir Kota Semarang telah hilang. Kondisi ini mengakibatkan ekosistem pesisir Kota Semarang rawan abrasi dan banjir rob.  

Tekanan dari industri akuakultur sejak tahun 1978 melalui pembukaan tambak yang cukup intensif sekitar tahun 1990-2000 menjadi penyebabnya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2013 menyebut, penurunan luasan mangrove secara signifikan dari 557,39 hektare tahun 1990 menjadi 250,16 hektare pada tahun 2000.

Salah satu kawasan pesisir yang terdampak ada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Sejak 1997, tingkat abrasi di wilayah ini sangat tinggi mencapai 150 hektare. Bahkan merambah sepanjang 3,5 kilometer ke arah permukiman warga.

Muhammad Imran Amin, Direktur Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA ) mengatakan, sejak 2019 kawasan ini menjadi fokus restorasi mangrove untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, menjaga sumber daya dan aset alam, serta dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan berbasis  ilmiah.

“Restorasi ekosistem mangrove di pesisir Kota Semarang butuh suatu demplot restorasi mangrove yang dapat menjadi acuan kegiatan restorasi dalam ruang lingkup yang lebih besar dan sarana pembelajaran bagi masyarakat sekitar,” kata Imran.

Restorasi mangrove yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan sejumlah mitra ini membekali warga dengan pengetahuan restorasi mangrove melalui berbagai pelatihan, seperti pemilihan benih, pembibitan, penanaman, pemantauan hingga pemeliharaan demplot restorasi mangrove.

Pelestarian ekosistem mangrove dan pengelolaan pesisir terpadu di Kelurahan Mangunharjo ini sebenarnya juga menajdi perhatian banyak pihak. Selain ekologi, pendekatan pesisir terpadu juga menyentuh aspeksosial dan ekonomi termasuk mata pencaharian.

“Kami identifikasi sektor ekonomi unggulan yang mendukung upaya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat,” lanjut Imran.

Dengan pendekatan partisipatif Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP), diketahui, kerupuk udang, batik mangrove, dan budi daya tambak merupakan produk unggulan dan potensial bagi masyarakat Kelurahan Mangunharjo.

Sugiarti, selaku Lurah Mangunharjo mengatakan, upaya tindaklanjut dalam mendukung keberlanjutan usaha ekonomi, warga membentuk Koperasi Serbaguna Raharjo Mandiri sejak tahun 2020. Untuk pemasaran dan menjangkau pasar yang lebih luas, produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini bekerjasama dengan platform digital marketplace untuk pemasaran. 

”Kami harapkan produk unggulan ini dapat dipasarkan dengan baik, mutunya selalu terjaga, dan hasilnya dapat membantu peningkatan perekonomian warga, kata Sugiarti.

“Pengelolaan pesisir terpadu ini mendukung strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui kegiatan ekonomi berbasis konservasi. Jika dikelola secara efektif dan berkelanjutan, mangrove dapat menjadi sumber penghidupan, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial,” imbuh  Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Banner Image : Warga Mangunharjo menyeleksi bibit mangrove yang akan ditanam di pesisir Mangunharjo, Semarang. Foto : Nugroho Arif Prabowo/YKAN

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bekerja sama dengan Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa) mengundang jurnalis yang bekerja di wilayah Timur Indonesia untuk mengikuti Journalist Workshop dan Fellowship “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim”.

Program ini merupakan program peningkatan kapasitas jurnalis yang khusus diperuntukkan bagi jurnalis multi platform yang meliput di wilayah Sorong dan Jayapura.

Jurnalis dapat mengangkat isu yang berkaitan dengan tema besar “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim” seperti kehutanan, masyarakat adat, kearifan lokal, dan krisis iklim di Papua.

Workshop akan berlangsung selama dua hari secara offline pada 1-2 Oktober 2021 untuk wilayah Sorong dan 5-6 Oktober 2021 untuk wilayah Jayapura.

Adapun syarat mengikuti workshop ini :

  1. Jurnalis tetap maupun lepas dengan pengalaman kerja minimal dua tahun
  2. Mendapat rekomendasi dari editor atau redaksi
  3. Bersedia mematuhi protokol kesehatan Covid-19

Untuk menjadi peserta workshop, Anda dapat mengisi dan mengirimkan formulir lamaran melalui link: 
https://bit.ly/WorkshopKehutananPapua.

Deadline pengisian Formulir Pendaftaran adalah 23 September 2021.

Jurnalis yang lolos seleksi berhak mengikuti workshop selama dua hari.

Informasi lengkap di:
www.ekuatorial.com
www.siej.or.id
Instagram/FB/Twitter: @siej_info

Peserta juga dapat menghubungi:
Dedi +62 821-9893-7005 (Wilayah Sorong) dan Hans Kapisa +62 853-4488-0321 (Wilayah Jayapura).

Ekuatorial.com dan The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Ekuatorial.com kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Beasiswa peliputan ini berdasarkan wilayah domisili jurnalis dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Beasiswa liputan dibuka untuk periode September-Oktober 2021
  2. Terbuka untuk semua jurnalis dari berbagai jenis platform media. Namun penilaian akan diprioritaskan dan diberikan kepada anggota SIEJ dan jurnalis yang belum pernah mendapatkan beasiswa peliputan sepanjang tahun 2021.
  3. Memilih tema dan objek liputan yang terkait dan berada di seputar wilayah kerja masing-masing
  4. Hasil karya jurnalistik wajib ditayangkan di media masing-masing paling lambat 16 Oktober 2021. Untuk jurnalis freelance, hasil karya akan dipublikasikan di situs web https://www.ekuatorial.com/
  5. Proposal akan diseleksi oleh tim editorial Ekuatorial

Penjaringan usulan liputan bakal dibuka hingga 12 September 2021 dan proposal yang lolos akan diumumkan selambat-lambatnya 15 September 2021. Setiap usulan yang masuk akan diseleksi oleh tim editorial ekuatorial.com

Informasi untuk mengikuti beasiswa peliputan dapat dibaca lengkap di tautan berikut ini: https://forms.gle/vTrRcYh7diXKXWjR8

Kami tunggu usulan terbaik dari sobat SIEJ di seluruh Indonesia.

Info hubungi : Sandy Pramuji (redaksi.ekuatorial@gmail.com)

#ekuatorial #perubahaniklim #lingkunganhidup #hibahliputan #beasiswapeliputan #jurnalis #jurnalislingkungan #COP26 #SIEJ #climatechange

Menurut laporan the Coalition for Urban Transitions, perkotaan menyumbang sekitar 70% total emisi dunia yang berdampak masif bagi perubahan iklim. Hal ini menyebabkan tingkat pencemaran udara yang tinggi dan sangat berbahaya bagi kesehatan penduduk perkotaan.

Saat para pemimpin dunia terus berupaya menyusun kebijakan-kebijakan global untuk mengendalikan laju perubahan iklim, kesadaran terhadap dampak perubahan iklim ikut mendorong maraknya gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, khususnya di kalangan masyarakat perkotaan. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan untuk dijadikan kebun buah dan sayuran.

Selain dapat memenuhi kebutuhan pangan yang lebih sehat, berkebun di perkotaan berkontribusi pada nilai ekologi, yaitu dengan bertambahnya ruang hijau di tengah kawasan yang padat penduduk. The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan Soraya Cassandra, Co-Founder Kebun Kumara, pada Rabu, 1 September 2021. Sosok inspiratif ini aktif memberikan edukasi dan melakukan aksi nyata menjaga lingkungan. Ia  membangun Kebun Kumara sebagai kebun belajar dengan tujuan untuk mengajak masyarakat kota menerapkan gaya hidup yang lebih lestari, salah satunya dengan kembali berkebun. Kisahnya  diangkat dalam film dokumenter lingkungan berjudul “Semesta”, yang diproduseri oleh Nicholas Saputra. Melalui Kebun Kumara yang menggunakan pendekatan permakultur, Soraya merawat alam dengan menggabungkan tradisi dan kearifan lokal Indonesia yang kian tergerus modernisasi di daerah perkotaan.

Soraya Cassandra. Foto : istimewa

Anda memilih membentuk Kebun Kumara sebagai upaya menjaga lingkungan. Bisa dijelaskan bagaimana awal mula Kebun Kumara terbentuk?

Kebun Kumara lahir dari keresahan kami sebagai anak kota akan disparitas dari pengetahuan kami akan isu lingkungan dengan kemampuan kami untuk melakukan sebuah aksi nyata untuk turut berkontribusi mengatasinya. Kami menyadari bahwa kami sungguh tidak memahami alam, hanya sekedar mengagungkannya, mengaku mencintainya, tanpa tau betul cara merawatnya.

Kami menemukan sebuah tempat bernama Bumi Langit di Imogiri, Jogjakarta. Dari lokasi tersebut, kami belajar tentang permaculture, sebuah pendekatan untuk mendesain hidup yang lebih seimbang dengan bekerja sama dengan prinsip alam. Permaculture ini sesungguhnya bukanlah hal baru, namun sebuah pedoman yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita.

Ketika mengikuti Permaculture Design Course di Bumi Langit, kami belajar tentang cara mendesain ruang yang bisa mendukung proses berkehidupan yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan kembali menghadirkan kebun di rumah yang bisa mengintegrasi tradisi, untuk kembali menjalin hubungan dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, kami membangun Kebun Kumara sebagai kebun belajar yang mengajak masyarakat kota untuk menerapkan gaya hidup yang lebih lestari, salah satunya dengan kembali berkebun.

Apa saja kegiatan yang dilakukan oleh Kebun Kumara?

Kami menawarkan dua jasa utama, yaitu edukasi dan penggarapan lanskap kebun pangan. Untuk edukasi, kami menggodok berbagai kurikulum dasar seputar berkebun, mengkompos, permaculture, upcyling plastic, dan lainnya untuk dijadikan pelatihan atau webinar. Kami mendesain proses belajar berbasis experiential learning untuk segala umur – dari usia 2 tahun hingga dewasa.

Untuk jasa penggarapan lahan kebun pangan atau edible landscape, kami menawarkan jasa desain, konstruksi (build & plant), dan perawatan kebun. Kami membantu merealisasikan lanskap yang berkelanjutan untuk rumah, sekolah dan area komunal jenis apa pun. Pendekatan desain kami berbasis permaculture, sehingga kami betul-betul melakukan pengamatan yang holistik terhadap lahan yang ingin digarap dan menjalani proses pemetaan potensi bersama klien secara mendalam, sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan pemiliknya. Kami percaya bahwa sebuah kebun dapat memenuhi fungsi yang beragam, yang mampu memperkaya kualitas hidup dari mereka yang berinteraksi dengannya.


Bicara soal lingkungan hidup, menurut pengamatan Anda, bagaimana kondisi alam dan lingkungan di Indonesia saat ini?


Tough question! Saya bukan ahli di bidang ini sehingga tidak bisa memberikan gambaran yang adil. Namun, dari apa yang saya baca, dengar, dan lihat, alam Indonesia begitu kaya sehingga terlalu banyak yang tergiur untuk terus menggerogotinya untuk kekayaan serta kepentingan segelintir kelompok.

Sebut semua kekayaan alam – jelas dari fossil fuel seperti batubara, minyak, gas bumi, dikeruk dengan dampak yang begitu menyeramkan; lalu kekayaan tanah hutan yang dirampas dari hutan itu sendiri, pohon ditebangi dan diganti oleh pertanian monokultur sawit dan lainnya yang merusak.

Hutan yang berusia ratusan tahun bisa hilang dalam sekejap dan melemahkan jasa yang senantiasa ia beri untuk melindungi kita semua dari banjir, erosi dan bencana alam lainnya; juga pencemaran besar-besaran yang terjadi, baik di kota maupun di area-area lain yang tidak dipedulikan nasibnya ketika ia bergelut dengan sampah plastik, limbah industri, bahkan sampah impor dari negara lain.  Sementara dari kacamata pembangunan, jelas alam kita telah dan sedang dirusak habis-habisan. Saya pikir kita sedang hidup dalam zaman krisis iklim.

Bagaimana kita dapat ikut mencegah dampak perubahan iklim?

Kalau kita bicara krisis iklim secara makro, maka beberapa hal utama yang harus dilakukan sesegera mungkin; pertama menghentikan fossil fuel dan deforestasi. Kedua butuh komitmen besar dan aksi konkret dari para pemimpin yang memegang kendali untuk mengubah alur jalannya sistem yang sekarang berlangsung. Ketiga, aksi individu dan perorangan dimulai dari kesadaran, pengetahuan dan willingness atau kemauan untuk beraksi. Ketiga hal ini harus seimbang karena aksi nyata sangat bergantung pada konteks masing-masing orang. Selama kita mengenali isunya dan mau untuk bertindak, kita pasti akan menemukan cara yang bisa dilakukan dalam keseharian.

Bagaimana Anda melihat potensi pasar urban farming di kota besar?

Diperkirakan bahwa 56% populasi Indonesia akan berhijrah ke kota besar pada tahun 2035, bahkan urbanisasi secara global akan terjadi. Diperkirakan 1/3 penduduk dunia akan hidup di kota pada tahun 2050. Jika orang akan berkumpul di kota, maka gaya hidup kita di kota harus bisa menjadi gaya hidup yang berkelanjutan dan mampu melestarikan alam serta mendukung kehidupan yang berkualitas untuk manusianya. Saat ini, kehidupan perkotaan bisa dibilang jauh dari itu.

Pola hidup yang serba instan, berlebih, dan mubazir, serta pemenuhan kebutuhan kehidupan perkotaan yang konsumtif telah menjadi sumber terjadinya kerusakan pada alam. Maka, cara kita membangun kota dan cara kita membentuk pola hidup di dalamnya harus digodok kembali.

Salah satunya adalah dengan potensi lanskap perkotaan yang dibuat asri, lebih hijau, lebih produktif, dan lebih sehat. Hal ini bisa dimulai secara perorangan per rumah. Kehadiran kebun dan pohon ikut menemani keseharian pemiliknya. Hal ini bisa juga dimulai dengan tata ruang yang lebih luas. Taman kota, hutan kota, atau kebun-kebun tempat beraktivitas mulai ditanam dan dibangun untuk menemani kehidupan di perkotaan.

Bagaimana keberadaan urban farming dalam pemanfaatan lahan, penggunaan air berkelanjutan, dan pengurangan jejak karbon individu maupun kelompok masyarakat perkotaan?

Kebun Kumara tidak melakukan urban farming skala produksi. Dari segi pemanfaatan lahan, jelas area yang digarap menjadi sebuah kebun yang berisi keanekaragaman tanaman dan pohon, akan mampu merealisasikan potensi dari lahan itu dengan memanen aneka sumber daya terbarukan yang hadir. Dengan adanya kebun, secara langsung kita memanen matahari dan air hujan. Energi tersebut diubah menjadi energi yang membuat pohon dan tanaman tumbuh subur dan besar. Kelak itu menjadi energi untuk hasil panennya, baik manusia ataupun binatang lain yang menempati kebun tersebut.

Lahan menjadi ruang kehidupan dengan ekosistem yang berjalan. Tidak terbatas pada itu, area yang dibuat hijau dengan aneka tanaman tentunya memberikan manfaat penyejukan untuk lingkungan sekitar serta menghadirkan udara yang lebih bersih.

Dari segi penggunaan air berkelanjutan, jelas bahwa sebuah kebun dapat memenuhi hal ini karena pada dasarnya kita bisa mendesain sebuah kebun untuk bisa menangkap air hujan, baik dengan instalasi penangkapan dari genteng, lubang biopori ataupun desain drainase yang bisa menyerap air ke dalam tanah untuk disimpan di dalam kebun. Penyerapan ini jelas menguntungkan simpanan atau suplai air tanah yang kita ketahui terus-menerus menipis di perkotaan.

Lalu terakhir dari segi pengurangan jejak karbon, sebuah kebun yang ditanami pepohonan jelas membantu penyerapan CO2 dari sekitarnya dan mengembalikannya ke tanah sebagai unsur karbon yang dibutuhkan untuk kesuburan tanaman yang tumbuh di atasnya. Hal ini sering disebut crabon sequestration atau penangkapan dan penyimpanan karbon untuk jangka waktu yang lama. Karena kebun itu usianya bisa sangat lama, bahkan pohon bisa lebih dari 100 tahun sekalipun, maka jika kita terus merawat kebun tersebut, proses sekuestrasi karbon ini bisa terus berjalan.

Anda juga menjadi salah satu pemeran dalam film dokumenter “Semesta. Bagaimana awal mula Anda terlibat dalam film tersebut?

Awal keterlibatannya waktu dikenalkan ke Mas Nicholas Saputra saat beliau dan tim sedang mencari satu perspektif dari sebuah aksi yang dilakukan di perkotaan. Tidak lama setelah itu, tim produksi datang ke Kebun Kumara dan bercerita tentang niat mereka dalam membuat sebuah dokumenter “Semesta”.

Setelah beberapa kali diskusi, mereka ingin mengangkat sedikit cerita kami dan latar belakang kami seputar langkah yang kami ambil untuk menggaungkan kelestarian di kota. Walau kami bukan bisnis besar dan pengaruhnya belum begitu luas, kami senang bisa berbagi sedikit perspektif di balik kegiatan kami di film dokumenter tersebut.


Nilai yang ditanamkan dalam film tersebut adalah kecintaan terhadap alam dengan berpedoman
pada kearifan lokal. Mengapa menggunakan pedoman kearifan lokal?

Karena pedoman kearifan lokal adalah tradisi bangsa kita, sehingga menjadi sebagian dari identitas diri kita. Lebih lagi karena kearifan lokal adalah proses yang terbukti telah berhasil menjaga keseimbangan alam dan kualitas hidup manusia selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Karena itu sudah sepatutnya kearifan lokal menjadi sumber ilmu yang dipelajari dan dikenal kembali. Ia menjadi mercusuar yang membimbing kita untuk menemukan cara berkehidupan yang lebih baik, cara yang kembali menjunjung nilai-nilai alam dan environmental stewardship.


Bagaimana film “Semesta” dapat membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan?

Dalam dunia digital seperti sekarang, saya pikir film memiliki peran yang begitu besar dalam ranah kesadaran masyarakat. Apa yang kita tonton tidak hanya memberikan pengetahuan, tapi juga bisa menjadi sumber diskusi yang lebih mendalam lagi untuk kita gali bersama orang-orang sekitar. Kita membutuhkan semakin banyak orang yang sadar dan paham tentang cara merawat alam seiring dengan isu-isu lingkungan dan krisis iklim yang dihadapi. Sebuah film dapat menjembatani proses ini, memberikan harapan dan motivasi untuk kita semua percaya akan kemampuan kita sendiri untuk mengambil aksi. That is the power of movies.

Bicara anak muda, bagaimana mengajak lebih banyak generasi muda untuk peduli dan melek isu lingkungan, dan berkontribusi langsung untuk mencegah dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari hari?

Anak muda harus diajak untuk mengenal alam secara langsung dan berinteraksi dengannya. Penataan ruang harus bisa menghadirkan alam untuk bisa dinikmati oleh generasi muda, tidak hanya gedung-gedung pencakar langit dan perkotaan yang sepi pepohonan untuk menyainginya. Children need the real jungle, not concrete jungle.

Satu kegiatan yang kami percayai memiliki dampak yang luar biasa untuk mendukung hal ini adalah dengan berkebun. Ajak anak ke kebun dan izinkan dia untuk belajar menanam. Anak akan menemukan berbagai aspek alam yang sesungguhnya telah berkontribusi untuk keberlangsungan hidupnya selama ini. Ketika anak mengenal asal usul dan proses di balik makanannya sendiri, ia bisa bercermin dan menemukan sebagian dirinya pada tanah, pada daun, pada benih, pada air, pada matahari, dan pada alam semesta. Dan ketika rasa itu tersadarkan, anak akan dengan sendirinya bergerak untuk mencari cara merawat alam.


Harapan Anda untuk alam dan lingkungan Indonesia di masa depan?

Tentunya harapan saya, alam dan lingkungan akan semakin lestari. Bisa dimulai dari perubahan kebijakan dan penerapannya di lapangan. Menurut saya hal ini kunci, sebab seluruh lapisan masyarakat bergerak dari sistem yang berlaku. Jika sistem tidak dirombak, maka langkah yang kita ambil akan selalu saja terbatas.

Saya juga berharap bahwa pelaku bisnis saat ini maupun yang akan datang bisa semakin bertanggungjawab dan berperilaku adil pada alam sehingga pendekatan itu kelak menjadi norma, bukan anomali. Orang-tua, sekolah, guru, media, bahkan public figure mulai mengangkat isu lingkungan dan menguatkan kesadaran masyarakat secara bersama-sama.

Komunitas, gerakan, pemerintah, pihak swasta dan masyarakat luas mulai tergerak melakukan aksi nyata untuk merawat lingkungan. Secara individu, kita bisa memperbaiki cara hidup agar lebih empatis terhadap dampak yang kita berikan ke alam. Seperti bagaimana cara kita mengkonsumsi, menghemat listrik, mematikan air, mengkompos sisa makanan, dan masih banyak lagi.  

Banner Image : Aktivitas kebun belajar di Kebun Kumara. Dokumentasi pribadi / Soraya Cassandra