“Langit itu warisan. Melihat langit gelap, berbintang di tengah malam itu pemandangan mewah dan gratis yang sekarang sulit diakses. Kita tidak bisa melihat objek langit, maka putuslah kita pada langit malam dan pada alam.”

Yatny Yulianty, Astronom, Manager Program Pendidikan dan Penjangkauan Publik Observatorium Bosscha

Peradaban manusia membawa banyak keuntungan. Misalnya saja dengan penemuan penerangan buatan yang kini membuat semesta terang dengan gemerlap lampu dan cahaya. Bahkan banyak kota besar di dunia yang disebut sebagai kota yang tak pernah tidur karena mobilitas tinggi. Juga karena lampu yang terus menyala. Ini membuat ada banyak orang  yang tak dapat beradaptasi dengan malam gelap.

Tahukah Anda bahwa malam hari yang makin terang karena gemerlap cahaya tidak selalu menguntungkan. Di balik kemewahan itu, seluruh penghuni semesta dan isinya tak terkecuali manusia harus  menerima konsekuansinya.

Para ilmuwan memperkirakan, planet bumi menjadi lebih terang 2% setiap tahunnya. Dan konsekuensi dari pertumbuhan cemaran cahaya ini juga makin kentara.

Ilmu pengetahuan kini juga menunjukkan adanya keterkaitan antara cemaran cahaya atau yang kita sebut polusi cahaya, dengan menurunnya kualitas kesehatan hidup manusia dan lingkungan.

Tidak hanya itu saja, polusi cahaya juga mengganggu kerja-kerja astronomi global. Seperti apa dan bagaimana itu terjadi ? Yatny Yulianty, Manager Program Pendidikan dan Penjangkauan Publik Observatorium Bosscha mengupasnya bersama Adi Marsiela, Bidang kampanye The Society of Indonesian Environmental Jornalists (SIEJ) dalam siaran langsung (live) di akun resmi Instagram SIEJ_info, baru-baru ini.

Simak perbincangan selengkapnya berikut ini:

Sebagai gambaran awal, seperti apa pekerjaan peneliti di Observatorium Bosscha ?

Observatorium astronomi mempunyai pekerjaan utama penelitian. Tapi karena berada dalam pengelolaan Intitut Teknologi Bandung maka juga melaksanakan Tridhama Perguruan Tinggi. Jadi ada pendidikan dan pengabdian masyarakat. Ada pekerjaan yang khusus astronomi. Dan terkait pendidikan mahasiswa di Prodi Astronomi maupun pendidikan untuk publik.

Ini karena sejarah pendirian observatorium tak lepas dari kampus ini. Ada banyak kesamaan. Ini bermula dari inisiasi yang dimulai tahun 1920 yang kemudian diwujudkan dengan pendirian Perhimpunan Bintang Hindia Belanda, yayasan swasta yang berkomitmen untuk  mendanai Observatorium Bosscha. Jadi dari tahun 1920 dan diresmikan tahun 1923. Dan pengembangan kawasan ini dilakukan secara bertahap.

Di dunia ada banyak observatorium. Seberapa penting Bosscha bagi astonomi dunia?

Observatorium Bosscha pada saat didirikan ini juga banyak pertimbangan. Pada saat didirikan, Indonesia berada di kawasan ekuator, tempat orang-orang yang tinggal di ekuator mempunyai previlage pada langit.

Kita bisa melihat porsi langit jauh lebih besar dibandingkan dengan wilayah utara atau selatan. Kita di ekuator dengan cukup baik punya akses pada objek-objek di belahan langit utara dan selatan.

Pada tahun 1920, di wilayah bumi bagian selatan itu baru ada 2-3 observatorium besar. Ketiadaan observatorium itu membuat data pengamatan lebih banyak ada dari kawasan utara. Ada kekosongan statistik untuk objek-objek  di selatan. Peran observatorium di kawasan selatan ini kemudian menjadi sangat penting untuk mengisi kekosongan statistik dari objek-objek tersebut. Itu di awal pendirian Bosscha.

Sekarang  memang observatorium-observatorium besar sudah banyak dibangun di kawasan bumi bagian selatan. Kalau dilihat dari peta persebarannya.

Observatorium di kawasan dekat dekat ekuator itu masih sangat sedikit  sekali. Ini masih menjadi peluang bagi Bosscha menjadi connecting  antara daerah utara dan selatan karena beberapa projek yang membutuhkan koneksi observatorium yang cukup besar. Indonesia masih bisa mengisi kekosongan tersebut.

Hasil penelitian Bosscha memberi andil dalam perkembangan astronomi global. Seperti apa misalnya ?

Dengan posisi yang strategis, peranan Bossca sangat penting di awal pendiriannya. Data-data dari belahan bumi selatan banyak sekali digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang cukup besar. Salah satu contohnya dalam studi bintang ganda. Kalau kita lihat di langit bintang satu titik dua, kalau di lihat dari stetoskop ternyata ada dua bintang yang berdekatan dan dua bintang ini saling mengitari satu sama lain.  Di tahun 1900-an orang belum tahu bagaimana cara mengukur bintang ini, sampai pada akhirnya dengan objek bintang ganda orang bisa mengukur atau menghitung mata dari bintang-bintang tersebut.

Dari situ pekerjaan-pekerjaan besar dilakukan oleh Observatorium Bosscha dan hasil pengamatan itu digunakan astronom seluruh dunia untuk menyumbangkan data sebagai bagian dari studi penentuan masa bintang. Astronom bisa membangun teori evolusi bintang.

Ini sudah go internasional dan yang menyenangkan dari astronomi itu tidak mengenal teritory. Tidak hanya digunakan oleh orang Indonesia dan astronom Indonesia. Tidak begitu. Jadi memang ada keterbukaan untuk bisa diakses atau digunakan seluruh dunia.

Benda apa saja yang bisa diamati di Bosscha ?  

Biasanya orang melihat seberapa jauh benda yang paling jauh. Yang menarik di astronomi itu ukuran tak bisa dengan melihat seperti itu. Bukan ditentukan oleh jarak saja tapi oleh besarnya sinyal atau energi yang dipancarkan objek tersebut. Ada objek yang jauh sekali tapi itu masih bisa kelihatan. Tapi ada objek dengan jarak terdekat karena energi atau sinyal lemah jadi tidak bisa dilihat. Jadi itu relatif sekali terhadap objeknya apa dulu dan instrumen apa yang kita gunakan.

Teleskop optik seperti di Bosscha memiliki kemampuan melihat benda redup yang berbeda-beda. Besaran yang bisa dilihat teleskop adalah seberapa redup objek itu bisa dilihat. Seberapa besar teleskopnya dan bisa mengumpukan lebih banyak cahaya itu akan semakin redup dan semakin banyak objek yang bisa dilihat.

Bergantung pada teleskop. Teleskop-teleskop di Bosscha ukuran 40 cm. Itu kalau di astronomi ada besaran terang dan redup yang kita namakan magnitudo. Seberapa terang dan redup objek tersebut kita setarakan dengan satuan magnitudo. Makin besar magnitudo semakin redup objeknya. Jadi kalau di Observatorium Bosscha dengan teleskop magnitudo 8-9 itu sudah cukup sulit untuk diamati.

Kenapa Bosscha memilih lokasi di dekat Tangkuban Perahu, apakah ada pertimbangan khusus seperti aktivitas astronom ?

Ada beberapa faktor. Di awal ini memang keinginan pribadi pak Bosscha membangun observaotium untuk mewujudkan wasiat kakeknya untuk membangun peneropongan bintang. Bukan seorang astronom sehingga meminta nasehat astronom profesional pada saat itu dan lokasi yang dipilih berdasarkan kondisi geografis dan meteorologis memang yang pas di kawasan dekat Tangkuban Perahu. Daerah yang tinggi dan jauh dari pusat kota. Lembang utara tepatnya di bukit ini salah satu yang paling tinggi di kawasan Lembang. Dan jumlah malam cerah di daerah ini lumayan banyak.

Alasan lain juga alasan daya dukung karena Lembang tak jauh dari Bandung yang saat itu sedang dibangun Institute Teknologi bandung. Dengan adanya perguruan tinggi dekat Bossca akan sangat mendukung dari sisi teknologi dan daya dukung.

Jumlah malam cerah lebih banyak. Apa konteks untuk lokasi sebuah peneropongan  bintang ?

Bergantung pada instrumen pengamatan, kebetulan di Bosscha  menggunakan  instrumen utamanya optik yang bekerja pada lampu optik. Seperti mata kita. Instrumen itu akan lihat sepanjang mata kita bisa lihat.

Jadi sepanjang ketika bintang tertutup awan tebal, teleskop juga tidak bisa menembus awan. Artinya yang dicari adalah kondisi dimana malam itu bebas dari awan. Jadi ya semakin banyak malam tanpa awan, makin jadi pilihan bagi untuk tempat pengamatan astronomi. Musuh utama itu ya awan.

Ada berapa hari cerah rata-rata di Bosscha ?

Kendala utama memang datang dari kondisi cuaca global. Dulu kita tahu musim kering relatif stabil bisa diproyeksikan kapan datang dan berakhir. Kira-kira 10 tahun terakhir ini menjadi sulit sekali di prediksi. Apalagi yang dirasakan para astronom di sini beberapa tahun terakhir lebih banyak malam yang hujan dibandingkan malam cerah. Hari basah itu lebih banyak dibandingkan hari yang kering. Kalau diitung berapa ya barangkali dalam dua tahun kita memiliki 30-50 malam cerah dari 365 hari. Itu sangat menyedihkan sebebetulnya.

Ini sudah masuk bulan Juli, sebelumnya di Bulan Juni harusnya astronom sudah giat-giatnya begadang untuk pengamatan tapi ternayata kita masih menemukan banyak hari yang hujan. Cuaca jauh lebih memberikan pengaruh. Ditambah lagi dengan polusi cahaya yang makin mempersulit kerja-kerja astronom.

Apakah nampak perbedaan signifikan kondisi langit pada peneropongan misal 20 tahun lalu dengan sekarang ?

Betul terasa sekali. Sebagai contoh ketika saya kuliah hampir 22 tahun yang lalu dengan kondisi sekarang. Sangat terasa sekali perbedaannya. Gambaran mudahnya begini, kita memang bisa melakukan pengukuran kecerahan langit, seberapa gelap langit itu bisa kita ukur. Di Observatorium Bosscha yang menjadi tolak ukur seberapa baik kita bisa mengenali bentangan cahaya Bimasakti. Di langit malam terlihat seperti kabut cahaya yang membelah langit. Karena kabut cahaya yang tipis, maka dibutuhkan langit yang gelap.

Di awal saya kuliah itu masih bisa diamati dengan baik di langit yang cerah. Nah, dari pengukuran yang dilakukan peneliti Observatorium Bosscha itu sekarang menjadi sangat  sulit sekali melihat Bimasakti dengan menggunakan mata.

Efeknya, selain kesulitan mengenali Bimasakti. Jadinya di daerah ufuk Observatorium Bosscha,  langit terang karena polusi cahya membuat objek-objek di ufuk itu sulit untuk diamati. Ini menjadi masalah kalau kita punya objek atau peristiwa astronomi khusus yang terjadi di ufuk. Ini akan jadi sulit sekali diamati. Jadi sekarang  jendela  pengamatan menjadi terbatas. Objek diamati bisa dari ufuk, sekarang harus menunggu objek agak tinggi baru bisa diamati.  Tadinya jendela pangamatan 18 derajat. Sekarang baru bisa mengamati diatas 30 derajat dari ufuk.

Bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan  polusi cahaya karena jenis polusi ini bisa dikatakan tidak populer dibanding polusi udara misalnya ?

Polusi cahaya itu yang paling muda usianya.  Orang baru sadar beberapa tahun belakang ini. Namanya juga polusi, pasti itu sesuatu yang tidak diinginkan. Bisa dikatakan polusi cahaya adalah cahaya berlebih yang sebetulnya tidak dibutuhkan.

Apakah polusi cahaya berdampak bagi astronom ?

Dalam konteks observatorium, langit malam yang gelap itu menjadi satu hal yang sangat dibutuhkan untuk pengamatan bintang. Ketika polusi cahaya itu berarti cahayanya. Sebetulnya cahaya malam hari dibutuhkan ke bawah untuk menerangi aktivitas kita, tapi sayangnya arahnya ini salah sehingga ada cahaya yang luber yang mengarah ke langit dan cahaya yang dilangit ini akan berkumpul di horizon dan berpendar sehingga menyebabkan langit malam tak lagi gelap karena tercahayai oleh polusi cahaya.

Untuk astronomi dan astronom ini menjadi hal yang tidak mengenakkan. Objek-objek yang diamati astronom itu kebanyakan objek yang redup. Jadi astronom sangat mengandalkan ojek-objek langit yang redup. Dan ketika menjadi terang karena terkena polusi cahaya, maka objek-objek tersebut kalah terang. Jadinya malah tenggelam di latar langit yang terang. Ini yang membuat objek tersebut menjadi sulit diamati bahkan tidak kelihatan lagi.

Seperti apa pengaruh polusi cahaya pada pengamatan objek di langit ?

Polusi memengaruhi pengukurnya, bisa jadi karena efek yang ditimbulkan. Efek polusi cahaya bukan memengaruhi kinerja astronom-nya, tapi lebih pada memengaruhi kualitas data yang diambil.

Bayangkan objek langit sangat redup sebisa mungkin sinyal yang datang hanya dari objeknya saja. Ketika ada polusi cahaya tentu saja ada cahaya yang masuk sehingga itu akan memengaruhi kualitas data. Kualiats data sinyal tambahan itu yang tidak kita inginkan akan memengaruhi hasil pengukuran objek tersebut. Entah itu proses analisis bisa menjadi lebih sulit karena harus menghilangkan ekses cahaya sehingga akhirnya dapat sinyal yang kita butuhkan. Atau data jadi jelek karena banyak cahaya yang tak diinginkan daripada cahaya dari objek itu sendiri.

Magnitudo di astronomi ada magnitudo semu yang kita lihat dan magnitudo mutlak. Matahari itu magnitudo semu minus 27. Sementara kalau bintang yang paling terang itu Bintang Sirius dengan minus 1. Hitungannya, 1 magnutudo sama dengan 100 kali keterangan (cahaya).

Kota di sekitar observatorium berkembang pesat. Penggunaan kendaraan makin meningkat. Apakah polusi udara yang dihasilkan ini juga berkelindan dengan polusi cahaya ?

Nah, sebenarnya tingginya mobilitas kendaraan itu juga mengakibatkan getar juga. Ini juga cukup memengaruhi kondisi dan posisi instrumen atau peralatan di observatorium. Satu polusi saja bisa jadi masalah, apalagi dua polusi. Masalahnya jadi dobel.

Ya, memang pertumbuhan penduduk di kota sekitar  observatorium sedikit banyak punya pengaruh langsung pada Observatorium Bosscha. Bagaimana kita bisa ambil data penelitian. Ini sangat terasa dengan banyak aktivitas pariwisata di akhir pekan yang jauh lebih ramai di sekitar kawasan Bosscha. Kondisi udara akan jauh lebih buruk dibandingkan hari biasa. Pandangan kita di ufuk akan lebih terganggu dibandingkan di hari biasa.

Bagaimana cara atau upaya menekan polusi cahaya ?

Kita bicara bagaimana menanggulangi polusi cahaya dan apa yang bisa kita lakukan. Penggunaan lampu yang tepat yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi cahaya.

Pesan penting yang harus disebarluaskan adalah bahwa sebenarnya polusi cahaya adalah polusi yang paling gampang ditanggulangi dibandingkan dengan polusi yang lain. Setiap indivdu bisa langsung bekontribusi untuk pengurangan polusi cahaya. Hanya saja setiap individu belum paham bagaimana caranya.

Yang paling penting adalah mengubah mainset bahwa polusi cahaya sebenarnya adalah pemborosan energi karena menggunakan cahaya yang berlebihan.

Polusi cahaya sebenarnya adalah pemborosan energi karena menggunakan cahaya yang tidak tepat. Jadi yang bisa dilakukan adalah hal-hal sederhana. Tapi barangkali banyak orang sulit mengganti lampu, orang bisa melakukan dengan menggunakan lampu hanya di waktu yang dibutuhkan saja. Pada siang hari maksimalkan pencahayaan matahari. Kemudian setelah itu arahkan cahaya pada tepat, kalau memang punya satu pojok daerah bawah yang dicahayai ya arahkan ke situ saja jangan sampai meluber ke atas.

Selain itu upaya lain bisa dilakukan dengan mengurangin intensitasnya. Kalau sulit mengakses lampu jenis tertentu, bisa kurangi intensitas cahayanya. Lebih teknis adalah dengan menggunakan lampu yang tidak mengeluarkan emisi yang bisa mengganggu kegiatan astronomi. Yang banyak di pasaran seperti lampu LED itu murah tapi watt tinggi. Sebetulnya itu kurang baik juga untuk astronomi.

Masyarakat masih bisa ikut aktif dalam mengurangi polusi cahaya dengan memerhatikan hal itu. Jangan menggunakan lampu yang terlalu terang. Barangkali bisa memilih warna lampu yang warm dibandingkan warna yang light.

Untuk kepentingan astronomi, warna dominan apa yang dapat memengaruhi proses pengamatan ?

Ini akan bergantung pada jenis pengamatan. Yang beda-beda tapi pada panjang gelombang. Orang mengamati di daerah merah atau kuning. Jadi jangan sampai lampu-lampu itu berwarna jauh lebih terang atau emisi lebih tinggi dibandingkan dengan objeknya. Biasanya kita pilih warna warm adalah warna kuning yang intensitasnya sangat rendah.

Apakah polusi cahya bisa merusak benda langit ?

Dalam astronomi, biasanya objek yang diamati berada di luar atmosfer. Skala di luar bumi. Polusi cahaya di bumi tidak memengaruhi langsung pada objek astronomi yang diamati. Tapi mengganggu sinyal yang kita terima dari objek tersebut. Dan ini diakibatkan oleh polusi cahaya.

Apakah objek di luar angkasa tidak dapat dilihat lagi karena polusi cahaya?

Bergantung pada lokasi lokalnya. Ada tempat yang polusinya parah dan banyak objek yang akhirnya sulit diamati. Yang paling mudah jadi ukuran adalah Bimasakti. Seberapa baik Bimasakti itu bisa diamati menandakan seberapa bagus kualitas langit malamnya. Makin mudah menemukan peta Bimasakti maka langit makin bagus.  

Di Bosscha dengan Skala Bortles sekarang ini masuk ke skala Bortles 5, jadi ada di tengah-tengah. Sudah masuk ke perkotaan itu Bimasakti sulit ditemukan dengan mudah.

Bagi astronom di sini masih bagus, tahu ada dimana karena sering melihat. Tapi bagi masyarakat awam tidak bisa mengesani galaksi Bimasakti. Jadi yang paling  mudah untuk jadi ukuran adalah Bimasakti. Kalau objek-objek lain sudah sangat spesifik, tapi di Jakarta barangkali bintang dan planet yang paling terang adalah Yupiter dan Alfa Centuri. Lebih redup dari itu sudah lebih sulit.

Kira-kira apakah bisa dilakukan upaya pelestarian lingkungan khususnya di bidang astronomi?

Menurut saya ini mungkin sekali. Bicara polusi cahaya kenapa astronom yang paling ribut dibandingkan saintis lain. Ini karena astronom yang paling merasakan dampak langsung polusi cahaya secara profesional.

Polusi cahaya memengaruhi data kita makanya kita ribut soal ini. Isu polusi cahaya berkaitan erat dengan isu pemborosan energi. Dengan menggaungkan untuk mengurangi polusi cahaya adalah usaha lain untuk menghemat energi.

Tapi yang lebih alam lagi, polusi cahaya ini tidak hanya memengaruhi astronomi saja, tapi banyak aspek lain yang dipengaruhi dari polusi cahaya. Misalnya, aspek dari hewan-hewan nokturnal yang aktif di malam hari yang bergantung sekali bagaimana dia mengindra gelap dan terang.

Dampak ke hewan, energi dan kesehatan manusia. Walaupun manusia tidak merasakan langsung efek polusi cahaya saat itu tapi sebenarnya memengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang.

Polusi cahaya memengaruhi kualitas hidup. Instrumen biologis kita punya ambang batas yang bisa ditoleir dan kalau diambang batas itu bisa terganggu.

Dari ilmu astronomi karena yang paling terpengaruh adalah ukuran berapa kegelapan langit malam. Semakin gelap makin bagus. Kalau ada polusi cahaya, muncul angka kecerahan, makin terang.

Di skala Bortle atau skala kegelapan langit menetapkan skala 1-9. Untuk kondisi langit sangat prima. Bimasakti terlihat jelas, bintang nampak jelas. Skala 9 itu standar di perkotaan besar Bimasakti tidak terlihat dan hanya puluhan bintang yang bisa diamati. Itu bisa jadi panduan kalau ingin tahu seberapa baik kualitas langit di tempat masing-masing.

Seberapa masif kampanye polusi cahaya digaungkan ?

Sekarang mulai banyak gerakan untuk mengobservasi langit malam yang gelap. Seperti yang dilakukan Dark Sky Campaign. Ini sudah menjadi gerakan global untuk menyelamatkan langit malam. Banyak hal yang bisa dilakukan seperti kampanye orang menggunakan tudung lampu untuk mengurangi polusi cahaya, memberikan laporan seberapa baik kualitas langit malam dari tempat mereka sehingga kita para astronom terbantu dan memiliki peta global daerah-daerah mana yang masih mempunyai langit gelap. Ini yang kemudian jadi target kedepan untuk preservasi langit.

Sejauhmana perhatian media terhaddap isu polusi cahaya ?

Mungkin kalau polusi cahaya baru disuarakan para astrnonom saja. Barangkali yang masih banyak beredar adalah polusi cahaya dan astronomi karena menganggu pengamatan. Baru aspek astronomi yang diangkat.

Harapannya, isu polusi cahaya tidak hanya jasi isu astronomi dan astronom. Yang paling penting sekarang memberi pamahaman dan informasi kepada publik tentang apa sebenarnya polusi cahaya dan dampak luasnya baik dalam skala individu yang bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang, hewan-hewan dalam konteks biodiversitas dan alam pada umumnya.

Kalau kita lihat lebih dekat sekarang ini kira nyaris tak pernah lihat kunang-kunang, burung tersesat pada saat migrasi. Itu dampak pada hewan baik langsung maupun tidak langsung yang akan berdampak pada manusia dan alam dalam jangka waktu lama.

Jadikan isu polusi cahaya ini isu bersama. Astronomi hanya jadi pintu masuk dan harapannya bisa memberikan solusi. Astronomi terkena dampak secara profesional.

Langit itu warisan. Melihat langit gelap, berbintang di tengah malam itu pemandangan yang mewah dan gratis. Ini sekarang jadi sesuatu yang  diakses. Sekarang harus pergi ke tempat tertentu seperti Labuan Bajo misalnya untuk bisa melihat itu. Padahal seharusnya ini gratis dan jadi hak semua orang. Kita tidak bisa melihat objek langit, maka putuslah kita pada langit malam dan pada alam.

Masyarakat dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup, Sabtu, 5 Juni 2021. ”Ecosystem Restoration” atau “Restorasi Ekosistem” menjadi tema global tahun ini, yang sekaligus menandai peluncuran Dekade Restorasi Ekosistem Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) 2021 – 2030.

Dekade PBB ini merupakan agenda yang didedikasikan untuk memulihkan ekosistem yang terdegradasi dan hancur, memerangi krisis iklim, mencegah hilangnya satu juta spesies, meningkatkan ketahanan pangan, pasokan air dan mata pencaharian.

Tema ini dianggap tepat mengingat dunia masih dalam suasana pandemi Covid- 19. Keprihatinan serupa juga melingkupi kita yang berada di Indonesia.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia 2021, Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendorong para pengelola media dan jurnalis menginstropeksi kerja-kerja jurnalistiknya. Minimal membantu proses pemulihan bumi melalui karya jurnalistik yang berkualitas.

Ketua Umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk menyoroti pentingnya lingkungan dan mengingatkan pubik bahwa alam tidak boleh dianggap remeh.

“Kami mengamati penyebaran informasi terkait kondisi lingkungan hidup makin bertambah, baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Apakah itu cukup? Banyak isu terkait lingkungan hidup dapat digali lebih dalam dan disajikan lebih komprehensif kepada publik,” kata Rochimawati.

Perempuan yang akrab disapa Ochie ini menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang harus dikawal oleh media dan publik. Sebut saja, ambisi pemerintah yang ingin mewujudkan setengah juta kendaraan listrik perlu dipandang secara menyeluruh. Alih-alih mengurangi pemanfaatan energi fosil, dukungan kepada industri mobil listrik perlu dikawal terkait kegiatan pertambangan nikel yang berpotensi bencana di bagian timur Indonesia.

Keterlibatan Indonesia pasca Paris Agreement pada The Conference of Parties (COP) dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-21 pada 2015 lalu dalam konteks transaksi jual beli sertifikat emisi karbon juga belum memperlihatkan hasil menggembirakan.

Catatan Forest Watch Indonesia (2000-2017) memperlihatkan Indonesia kehilangan hutan alam hingga d 23 juta hectare lebih. Ini setara dengan 75 kali luas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sumber lainnya, World Resources Institute (WRI) menempatkan Indonesia pada posisi tiga sebagai negara yang paling banyak kehilangan hutan hujan primer akibat deforestasi. Konversi hutan jadi perkebunan kelapa sawit, lokasi pertambangan, dan kebakaran hutan ditengarai sebagai penyebab utamanya.

Pemerintah juga menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen pada tahun 2025. Untuk mencapai target itu, setidaknya dibangun 12 proyek pembangkit listrik tenaga sampah yang didukung Pemerintah.

Meski banyak masukan dan kritik dari pemerhati lingkungan terkait dampak dan bahaya proses pembakaran sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap mendorong realisasi belasan proyek tersebut.

Media dan jurnalis juga kerap terjebak dalam konsep circular economy yang keliru saat merespons tanggung jawab dari produsen. Secara global, sampah yang berhasil ditarik, didaur ulang, dan digunakan kembali tidak lebih dari 10 persen saja. Ujung-ujungnya, industri tetap mengandalkan proses ekstraksi minyak bumi untuk memproduksi lebih banyak sampah, seperti kemasan sekali pakai.

Ochie menambahkan, pengelolaan dan penanganan sampah ini juga perlu dipandang sebagai upaya menyelamatkan lautan yang saat ini menjadi tempat sampah abadi. Dampak dari tercecernya sampah di daratan yang masuk ke aliran sungai hingga bermuara ke laut akan mengancam ekosistem kehidupan pada wilayah yang dilewatinya.

“Kita punya andil besar untuk ikut menjaga dan  merawat bumi. Ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. SIEJ mengajak seluruh jurnalis di Indonesia tidak bosan dan lelah mengangkat berbagai topik seputar lingkungan hidup dalam praktik kerjanya sehari-hari. Ini harapan dan bentuk partisipasi jurnalis yang berpihak pada lingkungan,” harapnya.

Narahubung:

Rochimawati – Ketua Umum

Adi Marsiela – Koordinator Bidang Kampanye

Email: sekretariat@siej.or.id

FB/IG/Twitter: @siej_info

Berita terkait :

https://sumsel.suara.com/read/2021/06/05/144549/peringati-hari-lingkungan-hidup-siej-ingin-jurnalis-lebih-aktif-suarakan-isu-lingkungan