Peninggalan kejayaan peradaban kuno di Cagar Budaya Muarajambi di Jambi makin terancam oleh stockpile industri tambang batu bara.

Berada di tepi aliran Sungai Batanghari–sungai terpanjang di Sumatera yang melewati Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, banyak tinggalan peradaban tua masih tersisa. Bangunan candi-candi di Muaro Jambi itu tersebar dari barat ke timur sepanjang 7,5 kilometer mengikuti aliran Batanghari.

Arsitektur purba berupa candi-candi terpendam berabad-abad silam. Sebagian reruntuhan bangunan telah dipugar dan dibuka untuk wisatawan. Sementara masih ada puluhan gundukan tanah yang di dalamnya menyimpan struktur bangunan kuno.

Keberadaan Kawasan Cagar Budaya Muarajambi pertama kali diketahui dari laporan S.C. Crooke, seorang perwira kehormatan bangsa Inggris dalam sebuah lawatannya ke Hindia Timur pada 1820. Crooke mendapat laporan dari warga sekitar yang menemukan struktur bangunan candi dan benda-benda purbakala.

Dalam buku Muaro Jambi Dulu, Sekarang, dan Esok yang diterbitkan Balai Arkeologi Sumatera Selatan (2009:30) dijelaskan, satuan ruang geografis Kawasan Percandian Muarajambi merupakan tinggalan kebudayaan klasik masa Sriwijaya dan Melayu Kuno.

Kawasan tersebut juga menjadi pusat pendidikan agama Buddha abad VII-XIII, yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara. Dahulu pada tahun 671 Masehi, seorang pengelana asal Tiongkok I-Tsing, atau Yi Jing, mencatat, ribuan biksu dari Thailand, India, Srilanka, Tibet, Cina, datang ke Muarajambi untuk memperdalam ilmu sebelum ke Nalanda (saat ini kawasan Bihar di India).

Peradaban Muarajambi ratusan abad silam memang sudah kesohor. Dalam sejarahnya, sebagaimana ditulis Swarnadwipa Muarajambi (Sudimuja), Maha Guru Buddha Atisa Dipamkara Shrijnana pernah tinggal dan belajar di Candi Muarajambi, Sumatera, selama 12 tahun lamanya, atau sekitar tahun 1011-1023 Masehi.

Atisa adalah seorang yang berperan penting dalam membangun gelombang kedua Buddhisme dari Tibet. Ia pernah menjadi murid dari guru besar Buddhis, yakni Guru Swarnadwipa, Serlingpa Dharmakirti. 

Selama menghabiskan waktunya di Muarajambi, Atisa belajar kepada gurunya, Serlingpa Dharmakirti, tentang Boddhi Citta (batin pencerahan) yang berdasarkan cinta kasih dan welas asih. 

“Atisa Dipamkara Shrijnana membawa pengaruh yang sangat besar dalam sejarah keagamaan di Tibet dan dunia pada umumnya. Ini merupakan salah satu ajaran universal Budhadharma yang paling berpengaruh di dunia hingga saat ini,” tulis Sudimuja.

Di Kawasan Percandian Muarajambi itu tersebar 82 reruntuhan bangunan kuno atau yang disebut menapo. Saat ini beberapa bangunan telah dipugar, seperti Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Astana, Candi Kembar Batu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Tinggi I, Candi Kedaton, dan Candi Teluk I.

Seiring berputarnya waktu, melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 259/M/2013, Kawasan Percandian Muarajambi telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional dengan satu ruang geografis mencapai 3.981 hektare.

Cagar Budaya Muarajambi mencakup tujuh wilayah desa di Kabupaten Muaro Jambi. Ketujuh desa tersebut adalah Desa Dusun Baru, Danau Lamo, Muara Jambi, Kemingking Luar, dan Kemingking Dalam, serta Desa Teluk Jambu dan Dusun Mudo.

Selain bangunan komplek percandian, di kawasan itu juga terdapat sisa peradaban berupa kolam kuno, danau. Kemudian ada jaringan kanal kuno, yang pada masa lalu digunakan sebagai jalur transportasi menghubung bangunan candi. Jaringan kanal kuno itu juga terhubung dengan sungai-sungai alam yang bermuara ke Sungai Batanghari.

Kini di tengah menyisakan kejayaan peradaban masa lampau, situs Percandian Muarajambi yang menyandang predikat Cagar Budaya Nasional itu sudah lama terancam oleh aktivitas industri.

“Tapi pemerintah kita tidak pernah mau melihat kondisi Kawasan Cagar Budaya Muarajambi ke lapangan,” kata Mukhtar Hadi, Aktivis Pelestari Cagar Budaya Muarajambi kepada Liputan6.com di Desa Muara Jambi, Jumat 27 Agustus 2021.

Bangunan candi yang menjadi saksi bisu peradaban masa lampau masih terkepung alat berat, pabrik, dan industri stockpile batu bara. Kawasan Cagar Budaya yang berada di sisi selatan Desa Muara Jambi itu seakan tak berdaya menghadapi stockpile batu bara sejak satu dekade terakhir. 

Stockpile adalah tempat penumpukan batu bara. Batu bara di stockpile itu didatangkan dari sejumlah daerah di Jambi, kemudian diangkut kapal tongkang lewat jalur perairan Sungai Batanghari. Tahun 2010, ekspansi stockpile batu bara semakin tak terbendung.

Begitu pula sejak 2011, Borju–begitu sapaan akrab Mukhtar Hadi–mulai menolak keras keberadaan stockpile batu bara yang berada di seberang desanya. Suara-suara penolakan terus digaungkan dengan lantang, baik itu lewat puisi ataupun kampanye dan aksi. 

Simak laporan Gresi Plasmanto selengkapnya di website Ekuatorial.com

Banner Image : Keberadaan Candi Teluk I di Kawasan Cagar Budaya Muarajambi berdekatan dengan stockpile Batu Bara. Foto : Glesi Plasmanto / Liputan6.com

Sektor energi menyumbang emisi gas rumah kaca terbesar kedua di Indonesia setelah alih fungsi lahan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan, emisi gas rumah kaca dari sektor energi mencapai 453,2 juta ton CO2 pada 2010. Kondisi ini harus segera ditangani dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah percepatan transisi energi nasional.

Indonesia memiliki potensi sumber energi baru terbarukan yang melimpah. Selain tenaga surya, angin, dan air, panas bumi atau geotermal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi energi alternatif ramah lingkungan untuk mengatasi krisis energi. Menurut catatan Badan Geologi, potensi panas bumi di Indonesia sebesar 23,9 gigawatt (GW) hingga Desember 2019. Namun, potensi ini baru dimanfaatkan sebesar 8,9% atau sekitar 2.176 megawatt (MW). Dalam Roadmap Pengembangan Geotermal yang disusun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia menargetkan pengembangan energi geotermal sampai 7.000 megawatt (MW) pada 2025.

Untuk mengetahui potensi dan perkembangan energi panas bumi di Indonesia, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan Pri Utami pada Jumat, 17 September 2021. Sebagai perempuan yang berkarir dalam bidang yang mayoritas didominasi  laki-laki, Pri Utami justru terpilih sebagai salah satu Duta Wanita Geotermal atau Women in Geothermal Ambassador oleh International Geothermal Association (IGA) pada 2015 atas kontribusi dan dedikasinya pada pengembangan energi panas bumi. Saat ini, Pri Utami juga masih aktif mengajar di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM).

Pri Utami, pengajar di Departemen Teknik Geologi UGM yang mendedikasikan ilmunya untuk pengembangan energi panas bumi. Foto : dokumentasi pribadi

Bagaimana awal mula ketertarikan Anda terhadap panas bumi?

Sebetulnya karena saya punya latar belakang jurusan Teknik Geologi saat kuliah. Saat itu, sistem panas bumi belum terlalu berkembang di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Waktu liburan keluarga ke Dieng, saya melihat aktivitas pengembangan panas bumi dan mencari tahu tentang kaitan antara pengeboran dan akses ke perut bumi. Sebagai mahasiswa Geologi, saya pun tertarik membuat skripsi mengenai panas bumi. Dipandu alumni UGM yang bekerja di bidang panas bumi, saya akhirnya menemukan passion dalam bidang itu.

Bagaimana potensi energi panas bumi di Indonesia?

Sekitar 40 persen potensi panas bumi dunia ada di Indonesia. Menurut ESDM, potensinya mencapai 24 gigawatt (GW) karena negeri kita berada di cincin api. Di bawah telapak kaki kita, ada sumber energi yang berasal dari dalam bumi kita sendiri. Prospek panas bumi yang bisa diekstraksi dengan aman dan ekonomis itu panas bumi dari gunung api tidak aktif karena tidak ada erupsi vulkanik.

Akan seperti apa pengelolaan energi terbarukan itu nantinya?

Saat ini, 2.176 megawatt (MW) listrik berasal dari energi panas bumi. Daerah Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara memiliki potensi panas bumi yang belum dikembangkan secara maksimal. Pemerintah berencana melakukan eksplorasi panas bumi baik berdekatan dengan gunung api, maupun yang tidak berdekatan dengan gunung api. Fenomena panas bumi, seperti air panas, sudah dikenal manusia sejak lama dan dimanfaatkan untuk pemandian. Awalnya fokus energi panas bumi hanya untuk pembangkit listrik, tapi sekarang terus dikembangkan untuk sektor industri.

Di masa depan, energi panas bumi dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk pembangkit listrik. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Contohnya industri pembuatan gula aren yang sudah dilakukan di wilayah Sulawesi Utara. Air nira yang semula hanya dijual sebagai bahan dasar pembuatan minuman keras tradisional, kini juga dimasak menjadi gula aren. Pengelolaannya tidak lagi memerlukan kayu dan minyak tanah, tapi cukup memanaskan wajan dengan uap panas bumi. Jika dioptimalkan, panas bumi dapat mendukung pengembangan industri lokal. Energi panas bumi memang tidak bisa dipindahkan, sehingga harus dimanfaatkan langsung di lokasi sumbernya. Namun, sumber energi panas bumi dapat dipakai untuk membantu proses pembuatan energi terbarukan lainnya, seperti etanol dan hidrogen yang dapat dipindahkan.

Anda pernah terpilih sebagai “Women in Geothermal Ambassador. Bagaimana awal mulanya?

Itu merupakan perjalanan panjang. Di mulai dari ketertarikan saya pada panas bumi saat masih kuliah, sampai pada pilihan berkarir dalam bidang ini. Sebagai dosen, saya aktif melakukan berbagai aktivitas akademik, seperti berpartisipasi dalam seminar, menulis paper, dan ikut mensosialisasikan energi panas bumi kepada banyak kalangan. Kontribusi saya dalam bidang panas bumi dilirik asosiasi panas bumi internasional, yang kemudian memilih saya sebagai  salah satu Women in Geothermal Ambassador atau Duta Wanita Panas Bumi untuk periode 2015 – 2020. Tugasnya untuk menyampaikan informasi seputar panas bumi agar lebih dikenal masyarakat luas. Barangkali karena perempuan dinilai memiliki kemampuan mendidik dan mengajar yang baik, sehingga kami diberi kepercayaan itu.

Di sisi lain, tidak banyak perempuan yang terjun dalam bidang sains, teknologi, dan panas bumi. Sebagai Duta Wanita Panas Bumi, saya juga turut mempromosikan kesetaraan gender di bidang studi dan kerja yang mayoritas didominasi laki-laki.

Tidak sedikit lokasi pengembangan panas bumi berada di kawasan hutan maupun pegunungan. Apakah pengembangan panas bumi berisiko merusak alam?

Dari sisi energi, panas bumi ramah lingkungan. Emisi pembangkit listrik panas bumi tidak signifikan dibandingkan non-panas bumi, seperti emisi CO2 batubara. Sebagai contoh, untuk membangkitkan satu megawatt jam listrik yang bersumber dari batubara, menghasilkan sekitar 900-1000 kilogram CO2.

Sementara dari aktivitas ekstraksi, kita menggunakan media fluida air atau uap yang ada di reservoir geotermal. Ketika kita ekstraksi fluida menjadi lebih dingin, airnya tidak dibuang ke tanah atau tubuh air permukaan, tapi diinjeksikan kembali ke dalam bumi. Aktivitas ini turut menjaga lingkungan. Jika air yang sudah diekstraksi tidak kembali ke bumi, justru akan menyebabkan berkurangnya keseimbangan massa di dalam reservoir panas bumi. Pemanfaatan energi panas bumi ikut melestarikan lingkungan karena ikut menjamin keberlangsungan siklus hidrologi alamiah yang sampai ke dalam reservoir panas bumi.

Pengembangan energi panas bumi juga turut melestarikan hutan. Keberlanjutan pemanfaatan panas bumi bergantung pada kondisi area hutan dan aktivitas ekstraksi sebenarnya dapat dilakukan tanpa merusak fungsi hutan. Pembukaan lahan untuk akses sumber daya energi apa pun, termasuk panas bumi, memang memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Namun, ada peraturan untuk meminimalisir gangguan dan rehabilitasi, seperti melakukan penanaman pohon setelah pembukaan lahan sebagai bagian dari upaya melestarikan lingkungan. Luas lahan untuk pengembangan energi panas bumi juga kecil dan cara ekstraksi energinya melalui sumur pemboran, bukan penggalian lahan.

Apa saja kendala dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia?

Kita perlu memperbanyak penelitian tentang karakter atau sistem panas bumi untuk memperkecil resiko kegagalan area yang dikembangkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dapat membantu mengatasi kendala itu.

Dari sisi regulasi, kita bersyukur UU panas bumi yang baru sudah jauh lebih baik dibandingkan yang lama. Eksplorasi panas bumi tidak dikategorikan sebagai aktivitas penambangan karena yang dilakukan adalah ekstraksi panas, sehingga media pembawanya dikembalikan lagi ke dalam bumi. Ke depannya, regulasi turunan maupun regulasi pada sektor lain yang bersentuhan dengan panas bumi seperti dalam hal tata guna lahan, konservasi, pembiayaan, dan investasi masih perlu disinkronkan lagi.

Di wilayah mana saja rencana pengembangan energi panas bumi? Mengapa memilih wilayah itu?

Sekarang fokus kita di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan NTT. Flores akan dijadikan pulau panas bumi. Kita masih memprioritaskan pengembangan jenis sistem panas bumi yang bertemperatur tinggi seperti yang sudah berkembang sekarang. Namun, kita sudah mengeksplorasi sistem-sistem bertemperatur menengah.

Dalam Roadmap Pengembangan Geotermal yang disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia menargetkan pengembangan energi panas bumi sekitar 7.000 MW pada 2025.  Sejauh mana perkembangan rencana tersebut?

Target itu berat sekali. Pada 2021 saja, kita baru mengembangkan total 2.175 MW. Untuk mencapai 7.000 MW pada 2025 yang hanya tinggal beberapa tahun lagi sangat berat. Saya tidak tahu apakah rencana tersebut sudah direvisi atau belum. Namun, melihat aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan selama ini, saya optimis akan ada peningkatan jumlah kapasitas pembangkit listrik tenaga panas  bumi yang signifikan.

Seberapa optimis Anda dengan capaian pemerintah untuk energi panas bumi?

Kita memang harus mematok capaian target yang tinggi, apalagi dengan potensi energi yang kita miliki. Saya kurang optimis kalau sampai 7.000 MW. Namun, kita harus terus maju walaupun belum mencapai target tersebut pada 2025.

Pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai upaya percepatan transisi energi nasional sangat penting. Ini juga berkaitan dengan komitmen kita dalam Nationally Determined Commitment (NDC) yang merupakan tindak lanjut Paris Agreement untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebagai langkah mitigasi perubahan iklim. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga rentan bencana, dampaknya akan lebih buruk dengan adanya perubahan iklim. Untuk itu, kita harus terus menggenjot potensi EBT yang ada, dari tenaga surya, angin, air, sampai panas bumi.

Dibandingkan dengan potensi EBT lainnya di Indonesia, seperti panel surya, angin, dan air, apakah panas bumi menjadi alternatif terbaik untuk transisi energi nasional?

Panas bumi termasuk sumber energi bersih dan terbarukan. Salah satu keunggulan panas bumi yaitu pasokannya yang stabil dan tidak bergantung pada musim karena sumbernya ada pada kedalaman 2 – 3 kilometer di bawah tanah. Simpanan energinya juga berkelanjutan karena berasal dari magma. Pasokan yang stabil menjadikan panas bumi sebagai sumber energi yang dapat diandalkan untuk memasok kebutuhan beban dasar listrik.

Bagaimana menarik minat lebih banyak anak muda untuk belajar dan menjadi ahli dalam bidang EBT yang memiliki potensi besar di Indonesia?

Perlu adanya publikasi media dan sosialisasi tentang energi baru terbarukan. Pesan-pesan positif tentang sumber energi alternatif dapat menarik minat generasi muda untuk mengenal potensi EBT di Indonesia. Ketertarikan itu dapat mendorong mereka untuk belajar tentang energi baru terbarukan, menjadi ahli atau pengusaha di bidang EBT, bahkan ikut mengkampanyekan energi ramah lingkungan, yang juga dapat memajukan sektor EBT di Indonesia.

Banner Image : Pengembangan PLTP Sorik Marapi berkapasitas 240 MW merupakan salah satu proyek strategis nasional dan menjadi bagian dalam Program 35 ribu MW. Foto diambil dari website resmi ebtke.esdm.go.id

Isu perubahan iklim sudah lama digaungkan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan di media yang kurang “membumi” menjadikan isu ini sulit dipahami publik.

Di sisi lain, media memainkan peran sangat penting dalam menyampaikan informasi tentang perubahan iklim. Jurnalis yang bekerja meliput perubahan iklim harus mampu menemukan dan menuliskan cerita dengan baik.

Beberapa kiat singkat ini dapat menjadi panduan untuk menemukan dan menulis cerita yang lebih baik, serta cara meliput aspek-aspek spesifik perubahan iklim.

1. Ikuti aliran dananya.

Perubahan iklim adalah cerita tentang ratusan miliar dollar. Dimana uang yang digunakan untuk adaptasi dan mitigasi? Siapa yang mengendalikannya? Siapa yang membelanjakannya? Siapa yang mengawasi penggunaannya? Siapa yang mendanai LSM dan politisi? Perusahaan mana yang diuntungkan dari tindakan mengatasi perubahan iklim? Siapa yang akan dirugikan?

Hal lain untuk perhatian media adalah apakah negara-negara kaya menepati janjinya untuk mendanai aksi iklim di negara berkambang, dan apakah dana tersebut benar-benar ‘baru dan tambahan’ dan bukan dari anggaran bantuan dana yang ada. Juga akan ada perdebatan besar tentang seberapa besar pembiayaan iklim harus berasal dari pembiayaan publik dan seberapa besar harus berasal dari sektor swasta (yang kemungkinan tidak akan menunjukkan minat dalam pembiayaan proyek adaptasi skala kecil yang diperlukan karena mereka menawarkan sedikit peluang pengembalian dalam investasi apa pun). Ikuti aliran danaya dan Anda akan menemukan semua elemen dari suatu cerita yang bagus. Ada beberapa contoh laporan dari Fiji151, dan Filipina152 yang melihat keterlambatan pencairan Green Iklim Fund (GCF) dan kebijakan tentang pencarian GCF yang akan memiliki kontribusi positif bagi penduduk asli.

2. Melokalkan isu global.

Setiap hari para ilmuwan memublikasikan penelitian baru, pembuat kebijakan membuat pengumuman baru, para pegiat lingkungan mengeluarkan tuntutan baru dan pola cuaca aneh terjadi. Bahkan jika hal-hal ini terjadi di tempat jauh, para jurnalis yang cerdas dapat mencari cara untuk mengaitkan cerita-cerita ini dengan keadaan dan audiensi tempat mereka sendiri.

Misalnya di Indonesia, para jurnalis menggunakan media multi-platform dengan teknologi digital untuk menyajikan isu-isu perubahan iklim dengan cara yang menarik.

Para jurnalis dan kontributor di berbagai kota dapat menyumbangkan cerita dalam berita khas (news feature) untuk menuliskan  lingkungan dan peran yang diinisiasi dan dilakukan individu atau komunitas lokal dalam melestarikan alam. Ini menjadi cara efektif untuk mengomunikasikan perubahan iklim kepada khalayak yang lebih luas.

3. Pakai kacamata perubahan iklim dan meliput dari sudut pandang baru.

Untuk setiap kebijakan baru, penemuan batu, apa pun yang baru, amati dengan lensa perubahan iklim Anda dan ajukan dua pertanyaan; “Bagaimana X dapat mempengaruhi perubahan iklim?” dan “Bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi X?” Anda akan menemukan banyak sudut pandang baru untuk pelaporan Anda. Sudut-sudut ini meliputi kesehatan, bisnis, teknologi, makanan, budaya, olehraga, pariwisata, agama, politik – malah, hampir semua hal lainnya.

4. Ikuti jaringan.

Terus ikuti cerita perubahan iklim dengan membaca karya para jurnalis lain yang meliputnya dengan baik ( misal beberapa kisah hebat di IPS, Reuters AlertNet, The Guardian, The New York Times dan BBC, reporter meliput perubahan iklim untuk media nasional di seluruh dunia).

Gunakan media sosial seperti Facebook, Instagram atau Twitter untuk mengetahui apa yang dikatakan orang tentang perubahan iklim dan berbagi cerita Anda sendiri.

The Climate News Network (Jaringan Berita Iklim) menawarkan cerita yang para jurnalis dapat adaptasi untuk mereka gunakan. (http://www.iklimnewsnetwork. net/).

5. Baca jurnal.

Penelitian yang paling penting dan signifikan muncul dalam jurnal seperti Nature Climate Change, Geophysical Research Letters, Nature, Science, PNAS, Climatic Change. Anda dapat melacak penelitian baru dengan berlangganan milis jurnal – melalui layanan siaran pers EurekAlert dan AlphaGalileo gratis.

Jurnal cenderung hanya tersedia untuk pelanggan berbayar tetapi para jurnalis dapat memperoleh salinan dengan melakukan pencarian dalam Google Scholar (http://scholar.google. com) untuk file PDF atau dengan mengunjungi situs web jurnal tersebut untuk makalah tertentu. Situs web akan sering menampilkan alamat email penulis utama, yang biasanya akan bersedia mengirimkan salinan makalah kepada jurnalis dan menjawab pertanyaan.

Cara lain, memulai membuat catatan kontak para ahli dengan mencari di Internet untuk makalah ilmiah terbaru tentang topik tertentu.

6. Tetap mengikuti perkembangan dan arus informasi, negosiasi internasional melalui jejaring atau melalui forum untuk para editor dan jurnalis seperti The Conversations.

7. Menjalin hubungan.

Seorang jurnalis perlu banyak narasumber. Perubahan iklim merupakan hal yang berdampak terhadap semua orang. Para jurnalis dapat membuat daftar kontak narasumber dari berbagai sektor yang berbeda, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Para narasumber tersebut termasuk: pembuat kebijakan, organisasi antar pemerintah, badan PBB, organisasi masyarakat sipil dan pusat penelitian. Beberapa narasumber terbaik tidak berasal dari organisasi tetapi dari masyarakat umum, seperti petani dan nelayan, penggembala dan pemilik usaha kecil. Hanya segelintir orang yang tahu lebih banyak tentang perubahan iklim dibanding mereka yang mata pencaharian paling terpengaruh.

Para jurnalis dapat bergabung dengan milis seperti Climate-L (http://www.iisd.ca/ email/subscribe.htm), tempat ribuan ahli iklim berbagi laporan dan informasi terkini mereka tentang peristiwa perubahan iklim. Untuk informasi tentang negosiasi perubahan iklim PBB para jurnalis dapat berlangganan Earth Negotiations Bulletin (http://www.iisd.ca/ process/iklim_ atm.htm).

Disadur dari Buku Menyampaikan Pesan Meliput Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Asia dan Pasifik: Buku Panduan untuk Jurnalis

Silakan unduh versi lengkap di https://siej.or.id/pustaka/

Banner Image : istimewa / Dokumentasi kegiatan field trip “From Ridge to Reefs” yang diselenggarakan SIEJ

Perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia mengakibatkan meningkatnya perstiwa banjir di wilayah pesisir utara Pulau Jawa.  Ini salah satu kesimpulan yang disampaikan Prof. Edvin Aldrian, Pakar Iklim dan Meteorologi BRIN yang juga  Wakil Ketua Kelompok Kerja I IPCC.

“Hilangnya wilayah pesisir dan kemunduran garis pantai di Asia Tenggara diamati dari tahun 1984-2015,” kata Prof Edvin Aldrian.

Proyeksi menunjukkan permukaan laut regional rata-rata terus meningkat sehingga mengakibatkan meningkatnya kejadian banjir  di derah pantai. Ditambah lagi Tingkat Total Ekstrim Air (Extreme Total Water Level/ETWL) lebih tinggi di daerah dataran rendah dan erosi pantai mulai terjadi di sepanjang pantai berpasir

Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim tahun 2021 menyebutkan, kawasan Asia Tenggara akan berdampak  cukup parah karena kerentanan kawasan ini terhadap kenaikan permukaan air laut lebih cepat terjadi dibandingkan daerah lain. Hal ini semakin diperburuk oleh pergeseran tektonik dan efek surutnya air tanah.

Prof. Edvin menegaskan bahwa kenaikan air laut tak lepas dari fenomena mencairnya es di kutub bumi dan pemuaian air laut karena pemanasan global. Inilah yang mengakibatkan penambahan volume air laut, serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir yang menggenangi wilayah daratan.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknologi Penginderaan Jauh BRIN, Rokhis Khomarudin mengamini dampak perubahan iklim terhadap pesisir utara Pulau Jawa semakin tinggi dengan dipicu oleh penurunan permukaan tanah di wilayah tersebut.

“Manusia ikut menjadi faktor penyebab yang signifikan. Konsumsi air tanah yang masif dan tidak terkendali menyebabkan turunnya permukaan tanah. Walaupun saat ini dampaknya belum terlalu terasa, namun risiko penurunan permukaan tanah jelas merugikan dan berdampak sosial maupun ekonomi bagi negara kepulauan seperti Indonesia,” tambahnya.

Rokhis memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan citra satelit terbukti terjadi penurunan muka tanah di DKI Jakarta antara 0.1-8 cm per tahun, Cirebon antara 0.3-4 cm per tahun, Pekalongan antara 2.1-11 cm per tahun, Semarang antara 0.9 – 6 cm per tahun, dan Surabaya antara 0.3 – 4.3 cm per tahun .

Dari data satelit tergambar bahwa pesisir utara Jawa, terutama Pekalongan, mengalami penurunan muka tanah yang paling tajam. Kondisi geologi daerah pesisir yang merupakan tanah lunak ditunjang dengan peningkatan pembangunan pemukiman dan penggunaan air tanah menyebabkan penurunan muka tanah semakin tinggi.

“Perlu adanya monitoring terhadap penurunan tanah dan laju perubahan garis pantai akibat perubahan ketinggian air laut,” imbuhnya.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Eddy Hermawan mengungkapkan fenomena turunnya permukaan tanah di pesisir utara Pulau Jawa lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan selatan Jawa yang struktur geologinya cenderung berbukit.

“Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya adalah kota-kota pesisir utara Jawa yang paling rawan terhadap penurunan tanah ekstrim hingga tahun 2050. Untuk itu, upaya mitigasi dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan harus segera dilakukan,” ujarnya.

Kondisi morfologi daerah pesisir yang relatif datar membuat hampir seluruh aktivitas pembangunan infrastruktur jalan dan perekonomian dipusatkan di utara Jawa. Ini membuat beban tanah karena bangunan dan penyedotan atas penggunaan air tanah menjadi lebih intensif dibandingkan dengan wilayah lain.

Banner Image : Peta Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah. Peta Google Earth diambil oleh Tim data Storigraf (dari situs Tirto.id)

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melalui Ekuatorial.com telah memilih 12 jurnalis yang berhak mendapatkan Beasiswa Liputan periode ke-2 (story grant batch 2) tahun 2021. Tema besar yang dipilih kali ini adalah “Menyambut COP26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Melalui tema tersebut SIEJ-Ekuatorial ingin agar para jurnalis bisa memaparkan permasalahan lingkungan hidup di kawasan urban, berikut dampak dan juga solusi yang bisa ditawarkan. Tujuannya agar kaum urban memahami bahwa persoalan lingkungan hidup itu dekat dengan rumah mereka, bukan sesuatu yang hanya bisa terjadi di tengah hutan atau kutub nun jauh di sana. Pun bahwa, disadari atau tidak, aktivitas sehari-hari mereka akan berpengaruh pada kondisi lingkungan dan perubahan iklim.


SIEJ-Ekuatorial juga ingin agar masyarakat bisa tergerak untuk mencermati segala diskusi dan keputusan yang diambil para pemangku kepentingan dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) yang akan berlangsung di Glasgow, Skotlandia, 1-12 November 2021. Pasalnya, segala keputusan tersebut akan berpengaruh terhadap Bumi dan kehidupan kita semua.

Saat pendaftaran ditutup pada 13 September 2021, Ekuatorial.com menerima 30 proposal dari para jurnalis di berbagai wilayah Indonesia.

Berikut ini nama-nama jurnalis yang usulan peliputan berhak mendapatkan beasiswa peliputan SIEJ-Ekuatorial “Menyambut COP26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

  1. Suwandi (Kompas.com-Jambi)
  2. Aceng Mukaram (Liputan6.com-Pontianak)
  3. Hendra Friana (Fortune Indonesia-Tangerang)
  4. Sarjan Lahay (Mongabay Indonesia-Gorontalo)
  5. Ani Marda (Merdeka.com-Yogyakarta)
  6. Vina Oktavia (Kompas.id-Bandar Lampung)
  7. Jaka Hendra Baittri (Mongabay-Sumatera Barat)
  8. Fahreza Ahmad (theacehpost.com-Banda Aceh)
  9. Maratun Nashihah (Suara Merdeka-Semarang)
  10. Mita Anggraini (Mimbar Untan-Pontianak)
  11. Sahrul Jabidi (Kieraha.com-Ternate)
  12. Yael Stefany Sinaga (Mongabay Indonesia-Medan)

Para jurnalis tersebut masing-masing akan menerima beasiswa peliputan mulai sebesar Rp3 juta. Selamat kepada kawan-kawan jurnalis yang terpilih usulannya untuk mendapatkan beasiswa liputan.

Panitia akan menghubungi melalui surat elektronik terkait penjadwalan koordinasi dalam peliputan.

Baca update terkait isu lingkungan dan perubahan iklim di website https://www.ekuatorial.com/

#ekuatorial #perubahaniklim #lingkunganhidup #hibahliputan #beasiswapeliputan #jurnalis #jurnalislingkungan #COP26 #SIEJ #climatechange

Selain memiliki manfaat ekologi, mangrove juga dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan. Oleh masyarakat Tidore Kepulauan, tanaman ini telah dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional secara turun-temurun.

Deretan perahu ketinting mengapung di muara sungai di Desa Toseho, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Kamis, 29 Juli 2021. Perahu nelayan ini dalam kondisi tertambat. Sekitar 700 meter ke arah Selatan, berdiri delapan unit rumah warga dalam kondisi tidak terawat. Sebagian masih berdiri kokoh dan sisanya sudah rata dengan tanah.

Menurut Kepala Desa Toseho, Taufik Khalil, ke delapan rumah warga Desa Toseho ini ditinggal kosong karena sering dihantam banjir rob setiap tahunnya. Warga desa pesisir yang dikenal sebagai kampung tua Toseho tersebut terpaksa pindah sejauh 2 kilometer dari pantai.

“Migrasinya penduduk ini dimulai sejak tahun 1997. Kemudian pada 2001, banjir rob terparah terjadi lagi dan membuat kurang lebih 400 jiwa lebih memilih mengungsi. Hingga sekarang, kurang lebih 900 jiwa sudah keluar dan pindah ke kampung baru Toseho,” kata lelaki 29 tahun itu.

Letak kampung tua Toseho berhadapan langsung dengan laut dan membelakangi hamparan Hutan Mangrove yang berada di pesisir kecamatan setempat.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, luas tutupan Hutan Mangrove Indonesia pada 2020 mencapai 3.490.000 hektare atau 21 persen dari total luas tutupan hutan mangrove di dunia. Dari luas ini, sebanyak 2.673.548 ha dalam kondisi baik dan 637.624 ha lainnya dalam kondisi kritis.

Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah atau Bapelitbangda Kota Tidore Kepulauan mencatat, luas Hutan Mangrove di Tidore Kepulauan sebesar 1.729 ha atau 0,0495 persen dari luas mangrove nasional. Luasan tersebut tersebar di tujuh pulau, yaitu Pulau Tidore seluas 14,18 ha, Pulau Maitara 4,51 ha, Pulau Mare 11,88 ha, Pulau Woda 47,56 ha, Pulau Raja 15,92 ha, dan Pulau Guratu 37,43 ha. Sisanya di wilayah Halmahera bagian Tengah sebesar 1.597,52 ha.

aufik bilang, hutan mangrove di desanya memiliki peranan yang sangat penting. Karena menjadi tempat hidup dan berkembangnya siput popaco yang dapat dijadikan lauk untuk konsumsi harian dan sumber pendapatan masyarakat.

“Karena ada orang dari desa lain selalu datang mencari bia (siput) popaco di sini (Desa Toseho),” katanya.

Disamping itu, lanjut Taufik, tanaman mangrove juga dimanfaatkan sebagai keperluan makanan ternak kambing dan bahan pengobatan tradisional.

Ramli Abdullah, biang (tetua) Desa Toseho mengaku, selalu mengambil tanaman mangrove di sekitar Kampung Tua Toseho untuk keperluan pembuatan obat. Karena disitu terdapat berbagai jenis tanaman mangrove yang telah dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun, ujar perempuan 60 tahun yang memperoleh pengetahuan pengobatan itu dari orang tuanya.

“Dari kecil saya sudah lihat papa (ayah) menggunakan mangrove untuk pengobatan, selain itu nenek saya juga seorang biang desa yang selalu melakukannya,” tutur perempuan yang akrab disapa Mama Li ini, ketika disambangi di rumahnya, Kamis, 29 Juli 2021.

Ia menceritakan, selama ini mangrove digunakan sebagai bahan obat untuk beberapa penyakit, di antaranya sakit perut, keseleo, mengembalikan fungsi indera pengecap, dan membersihkan darah nifas selesai bersalin.

Simak laporan Apriyanto Latukau di website ekuatorial.com

Banner Image : Hutan Mangrove Desa Toseho, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, tampak pada Kamis, 29 Juli 2021. Foto : Apriyanto Latukau/Kieraha

Perhelatan Konferensi Iklim COP26 di Glasgow akan menjadi salah satu negosiasi iklim terpenting sejak COP21 di Paris. Sejumlah isu penting akan menjadi sorotan negara-negara di dunia untuk kembali berkomitmen menurunkan emisi karbon.

Tetapi ada banyak sekali rintangan yang menghalangi para jurnalis untuk hadir dan terlibat dalam sesi-sesi tersebut.

The Climate Tracker membuka kesempatan bagi 20 jurnalis muda dari negara berkembang untuk mengambil bagian dalam perhelatan tersebut dengan membuka program “COP26 Climate Justice Journalism Fellowship” .

Jurnalis yang lolos nantinya akan ikut bergabung melaporkan secara virtual isu-isu yang menjadi pembicaraan di Konferensi Iklim PBB pada bulan Oktober dan November ini.

Banyak keuntungan yang didapat dari program ini, seperti pemahaman terhadap isu perubahan iklim, belajar dari jurnalis iklim terbaik di dunia, terhubung dengan jurnalis lain dari seluruh dunia, dan mengerjakan cerita kolaboratif yang dapat dipublikasikan di media masing-masing.

Apa yang didapat dari fellowship yang berlangsung selama satu bulan ini :

  1. Fee honor sebesar €250 tunjangan
  2. Pelatihan online selama dua minggu menjelang COP26
  3. Pendampingan kelompok kecil dan individu selama COP26
  4. Dukungan untuk mengedit dan mempromosikan karya jurnalistik  di seluruh COP
  5. Peluang untuk mengerjakan cerita kolaboratif dengan jurnalis lain dari seluruh wilayah kerja jurnalis dan secara global

Kualifikasi yang dicari :

  1. Jurnalis dengan pengalaman minimal 5 tahun
  2. Bersedia dan mampu membuat proposal peliputan dan mempublikasikan hingga 4 cerita di media masing-masing.
  3. Memiliki kemauan untuk belajar tentang politik iklim
  4. Miliki koneksi Wi-Fi yang bagus
  5. Dapat terlibat dalam beberapa pelatihan berbasis bahasa Inggris (meskipun pendampingan, penerbitan, dan pelatihan individu akan multibahasa)
  6. Berasal dari atau tinggal di negara berkembang
  7. Ingin bergabung dengan The Climate Tracker Family

Untuk pendaftaran silakan buka https://climatetracker.org/join-our-cop26-climate-justice-online-fellowship-global/

Jika Anda tertarik, jangan ragu untuk mengirimkan aplikasi! Batas waktu untuk melamar adalah 20 September 2021.

Jika ingin mengajukan pertanyaan atau mengalami kesulitan terkait dengan program ini, jangan ragu untuk menghubungi Dizzanne Billy, di dizzanne@climatetracker.org.

Banner Image : Para pemuda dari penjuru dunia tergabung dalam Mary Robinson dan Kofi Annan, di perhelatan One Young Worls Summit 2015 di Dublin. Foto diambil dari website Mary Robinson Foundation Climate Justice

Selama kurun waktu 30 tahun, hampir 50% luasan tutupan mangrove di pesisir Kota Semarang telah hilang. Kondisi ini mengakibatkan ekosistem pesisir Kota Semarang rawan abrasi dan banjir rob.  

Tekanan dari industri akuakultur sejak tahun 1978 melalui pembukaan tambak yang cukup intensif sekitar tahun 1990-2000 menjadi penyebabnya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2013 menyebut, penurunan luasan mangrove secara signifikan dari 557,39 hektare tahun 1990 menjadi 250,16 hektare pada tahun 2000.

Salah satu kawasan pesisir yang terdampak ada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Sejak 1997, tingkat abrasi di wilayah ini sangat tinggi mencapai 150 hektare. Bahkan merambah sepanjang 3,5 kilometer ke arah permukiman warga.

Muhammad Imran Amin, Direktur Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA ) mengatakan, sejak 2019 kawasan ini menjadi fokus restorasi mangrove untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, menjaga sumber daya dan aset alam, serta dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan berbasis  ilmiah.

“Restorasi ekosistem mangrove di pesisir Kota Semarang butuh suatu demplot restorasi mangrove yang dapat menjadi acuan kegiatan restorasi dalam ruang lingkup yang lebih besar dan sarana pembelajaran bagi masyarakat sekitar,” kata Imran.

Restorasi mangrove yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan sejumlah mitra ini membekali warga dengan pengetahuan restorasi mangrove melalui berbagai pelatihan, seperti pemilihan benih, pembibitan, penanaman, pemantauan hingga pemeliharaan demplot restorasi mangrove.

Pelestarian ekosistem mangrove dan pengelolaan pesisir terpadu di Kelurahan Mangunharjo ini sebenarnya juga menajdi perhatian banyak pihak. Selain ekologi, pendekatan pesisir terpadu juga menyentuh aspeksosial dan ekonomi termasuk mata pencaharian.

“Kami identifikasi sektor ekonomi unggulan yang mendukung upaya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat,” lanjut Imran.

Dengan pendekatan partisipatif Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP), diketahui, kerupuk udang, batik mangrove, dan budi daya tambak merupakan produk unggulan dan potensial bagi masyarakat Kelurahan Mangunharjo.

Sugiarti, selaku Lurah Mangunharjo mengatakan, upaya tindaklanjut dalam mendukung keberlanjutan usaha ekonomi, warga membentuk Koperasi Serbaguna Raharjo Mandiri sejak tahun 2020. Untuk pemasaran dan menjangkau pasar yang lebih luas, produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini bekerjasama dengan platform digital marketplace untuk pemasaran. 

”Kami harapkan produk unggulan ini dapat dipasarkan dengan baik, mutunya selalu terjaga, dan hasilnya dapat membantu peningkatan perekonomian warga, kata Sugiarti.

“Pengelolaan pesisir terpadu ini mendukung strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui kegiatan ekonomi berbasis konservasi. Jika dikelola secara efektif dan berkelanjutan, mangrove dapat menjadi sumber penghidupan, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial,” imbuh  Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Banner Image : Warga Mangunharjo menyeleksi bibit mangrove yang akan ditanam di pesisir Mangunharjo, Semarang. Foto : Nugroho Arif Prabowo/YKAN

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bekerja sama dengan Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa) mengundang jurnalis yang bekerja di wilayah Timur Indonesia untuk mengikuti Journalist Workshop dan Fellowship “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim”.

Program ini merupakan program peningkatan kapasitas jurnalis yang khusus diperuntukkan bagi jurnalis multi platform yang meliput di wilayah Sorong dan Jayapura.

Jurnalis dapat mengangkat isu yang berkaitan dengan tema besar “Hutan Papua Kunci Mitigasi Krisis Iklim” seperti kehutanan, masyarakat adat, kearifan lokal, dan krisis iklim di Papua.

Workshop akan berlangsung selama dua hari secara offline pada 1-2 Oktober 2021 untuk wilayah Sorong dan 5-6 Oktober 2021 untuk wilayah Jayapura.

Adapun syarat mengikuti workshop ini :

  1. Jurnalis tetap maupun lepas dengan pengalaman kerja minimal dua tahun
  2. Mendapat rekomendasi dari editor atau redaksi
  3. Bersedia mematuhi protokol kesehatan Covid-19

Untuk menjadi peserta workshop, Anda dapat mengisi dan mengirimkan formulir lamaran melalui link: 
https://bit.ly/WorkshopKehutananPapua.

Deadline pengisian Formulir Pendaftaran adalah 23 September 2021.

Jurnalis yang lolos seleksi berhak mengikuti workshop selama dua hari.

Informasi lengkap di:
www.ekuatorial.com
www.siej.or.id
Instagram/FB/Twitter: @siej_info

Peserta juga dapat menghubungi:
Dedi +62 821-9893-7005 (Wilayah Sorong) dan Hans Kapisa +62 853-4488-0321 (Wilayah Jayapura).

Ekuatorial.com dan The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Ekuatorial.com kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Beasiswa peliputan ini berdasarkan wilayah domisili jurnalis dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Beasiswa liputan dibuka untuk periode September-Oktober 2021
  2. Terbuka untuk semua jurnalis dari berbagai jenis platform media. Namun penilaian akan diprioritaskan dan diberikan kepada anggota SIEJ dan jurnalis yang belum pernah mendapatkan beasiswa peliputan sepanjang tahun 2021.
  3. Memilih tema dan objek liputan yang terkait dan berada di seputar wilayah kerja masing-masing
  4. Hasil karya jurnalistik wajib ditayangkan di media masing-masing paling lambat 16 Oktober 2021. Untuk jurnalis freelance, hasil karya akan dipublikasikan di situs web https://www.ekuatorial.com/
  5. Proposal akan diseleksi oleh tim editorial Ekuatorial

Penjaringan usulan liputan bakal dibuka hingga 12 September 2021 dan proposal yang lolos akan diumumkan selambat-lambatnya 15 September 2021. Setiap usulan yang masuk akan diseleksi oleh tim editorial ekuatorial.com

Informasi untuk mengikuti beasiswa peliputan dapat dibaca lengkap di tautan berikut ini: https://forms.gle/vTrRcYh7diXKXWjR8

Kami tunggu usulan terbaik dari sobat SIEJ di seluruh Indonesia.

Info hubungi : Sandy Pramuji (redaksi.ekuatorial@gmail.com)

#ekuatorial #perubahaniklim #lingkunganhidup #hibahliputan #beasiswapeliputan #jurnalis #jurnalislingkungan #COP26 #SIEJ #climatechange