Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) dalam laporannya tahun 2020, memaparkan adanya potensi krisis pangan akibat terganggunya ketersediaan, stabilitas, dan akses pangan, khususnya bagi masyarakat rentan secara ekonomi dan geografi.

Bahkan, para menteri negara anggota G20 dalam pertemuan di Italia akhir Juni lalu menyerukan perlunya peningkatan upaya yang sangat signifikan untuk menangani penyebab utama kerentanan pangan.

Merespon hal ini, pemerintah Indonesia telah menyusun program food estate/program lumbung pangan nasional, yaitu konsep pengembangan pangan yang terintegrasi dengan pertanian, perkebunan, dan peternakan di suatu kawasan. Namun, kebijakan ini menuai banyak reaksi negatif seiring banyaknya pihak yang menilai program food estate ini kurang tepat untuk menjawab isu pemenuhan pangan lokal.

Guna membahas mengenai dampak food estate terhadap lingkungan dan masyarakat, sekaligus mencari solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan ketahanan pangan di masa pandemi COVID-19, EcoNusa Foundation, Pantau Gambut, dan Ombudsman mengadakan diskusi bersama media dengan tema “Apakah Food Estate Efektif Hadapi Ancaman Krisis Pangan Saat Pandemi?”.

Acara ini akan diselenggarakan pada:

Tanggal dan waktu : Kamis, 22 Juli 2021

Waktu : 14.00 – 16:00 WIB

Link Pendaftaran Media : https://bit.ly/DiskusiMediaFoodEstate

Pembicara :

• Bustar Maitar – CEO Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation)

• Iola Abas – Koordinator Nasional Pantau Gambut

• Yeka Hendra Fatika – Anggota Ombudsman Republik Indonesia

Moderator : Mulia Nurhasan – Food and Nutrition Scientist

Konfirmasi kehadiran kami nantikan selambatnya Rabu, 21 Juli 2021 dengan menghubungi Adeanti Prasti: adeanti@idcomm.id / 0815 7413 1575.

Dalam rangkaian peringatan ulangtahun ke-15 The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Hari Bumi, SIEJ mengajak anak muda khususnya mahasiswi/a untuk berbagi ide, bagaimana memulihkan bumi agar makin lestari.

Ya, merawat bumi tidak hanya menjadi tanggungjawab para forester, atau pemangku kebijakan. Tapi ini menjadi tanggungjawab bersama termasuk anak muda.

Sejak kita lahir, hingga hari ini kita hidup di bumi. Seumur hidup, tanpa pernah meninggalkannya. Tapi apa yang kita sumbangkan untuk bumi ini?

Semenjak manusia gemar menggeruk isi bumi, banyak kerusakan timbul. Mulai pembabatan hutan, pencemaran air, polusi udara, sampai makin panasnya suhu bumi. Jika dibiarkan, akibatnya tentu bisa kembali pada kita. Krisis iklim yang mengubah cuaca bisa membuat beragam panen tumbuhan pangan gagal. Akibatnya, ancaman krisis pangan bisa menghantam umat manusia saat ini.

Padahal bumi ini titipan, bukan hadiah. Generasi mendatang akan tinggal di bumi yang sama juga. Jika kita sudah mengeruknya habis-habisan, apa yang tersisa buat mereka kelak? Bagaimana tempat hidup mereka nanti?

Sebagai bentuk kepedualian dan kesadaran keperpihakan terhadap isu lingkungan, SIEJ menggelar Lomba Video Hari Bumi khusus mahasiswa dengan tema “Apa yang bisa kita lakukan untuk memulihkan Bumi.”

Dalam periode unggahan video di Instagram mulai tanggal 22 April – 30 April 2021, tercatat 46 pendaftar mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia menuangkan ide kreatifnya dalam video ringkas, tentang suara, aktivitas dan harapan mereka untuk memulihkan bumi.

Ide-ide kreatif mulai dari disiplin membuang sampah, melakukan 3 R, menanam pohon, hingga keterlibatan mereka dalam komunitas yang mendedikasikan diri demi merawat bumi yang menjadi rumah kita bersama.

Berikut pemenang Lomba Video dari hasil seleksi kompetisi video tersebut :

  1. Juara 1  : @alimznow
  2. Juara II  : @arkian_sawitra
  3. Juara III : @feriansyahchrulr
  4. Favorit  : @ummuluffia

#SIEJ15Th

#BersamaPulihkanBumi

#UntukmuBumiku