Indonesia memiliki 243 jenis mangrove yang tergolong dalam 197 marga dan 83 suku dari 286 jenis di Asia Tenggara (IBSAP 2015-2020). Dari 202 jenis mangrove yang sudah diketahui, 166 jenis terdapat di Jawa, 157 jenis di Sumatera, 150 jenis di Kalimantan, 142 jenis di Papua, 135 jenis di Sulawesi, 133 jenis di Maluku dan 120 jenis di Kepulauan Sunda Kecil.

Peran jurnalis dan generasi muda sangat penting dalam pelestarian mangrove di Indonesia. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dan pemuda terkait mangrove, Yayasan KEHATI mengadakan pelatihan Identifikasi Mangrove dan Panduan Program CSR Rehabilitasi Mangrove di Indonesia.

Waktu pelaksanaan :
Hari : Jumat, 23 Juli 2021
Pukul : 13.00 -16.00 WIB
Tempat : Zoom Meeting

Pembicara :

  1. Dr. Rudhi Pribadi (Dosen FPIK Universitas Diponegoro )
  2. Yasser Ahmed (Manager Program Ekosistem kelautan Yayasan KEHATI )

Moderator :
Julian Saputra ( Technical Assistant Program Ekosistem kelautan Yayasan KEHATI)

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan mangrove dari sisi jenis (endemik dan non endemik), habitat, manfaat, tantangan pelestarian dan hasil penelitian terbaru serta memberikan panduan yang tepat tentang pelaksanaan program CSR rehabilitasi mangrove di Indonesia.

Warriors dapat mengikuti pelatihan dengan mendaftarkan diri pada tautan http://bit.ly/IdentifikasidanPanduanProgramCSRMangrove klik link di bio

Info selengkapnya : hubungi Yayasan KEHATI : +62 852-8804-3838

bwintraining #mangrove #biodiversity #keanekaragamanhayati #bwkehati #yayasankehati

Keanekaragaman ikan karang yang melimpah, mendorong nelayan Indonesia berbondong-bondong menangkap ikan di perbatasan dengan Australia.

Di luar perhitungan, lima nelayan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba ditangkap saat menangkap ikan di dekat perbatasan laut Indonesia-Australia.

Perahu motor ‘Hidup Bahagia’ berbobot 5 gross tonage yang didalamnya terdapat hasil tangkapan ikan karang termasuk hiu pun disita. Tanpa ampun, perahu ditarik ke pelabuhan di Darwin, Northern Territory, Australia, diisi jerami kering, lalu disulut api.

Itu bukan kejadian pertama. Sudah banyak perahu nelayan NTT menjadi korban, dibakar hingga ditenggelamkan  otoritas Australia.

Peristiwa pada 8 Oktober 2017 itu masih membekas di ingatan Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) NTT, Wahid Wham Nurdin. “Sampai sekarang saya tidak terima,” tandasnya.

Apa boleh buat, aturan yang berlaku di negara itu melarang nelayan menangkap ikan karang, kecuali ikan permukaan. “Ikan di dasar laut milik mereka, walaupun masih di perairan Indonesia,” kata Nurdin kesal.

Terlepas dari tuduhan nelayan Indonesia menangkap ikan secara ilegal, gugusan karang di perairan itu memiliki keanekaragaman ikan karang yang melimpah, mendorong nelayan Indonesia berbondong-bondong menangkap ikan di sana.

Sebetulnya, karang Beatrix, Dalam, dan Tabui yang jaraknya sejam pelayaran dari ujung selatan Timor, memiliki potensi ikan yang melimpah. Di sana hidup ikan marlin, layaran, tenggiri, wahui, kuwe, barakuda, lemadang, dan tuna. “Kita bersyukur tiga karang ini masih bagus,” ungkap Nurdin.

Potensi yang kemudian mendorong tak kurang dari 50 nelayan luar daerah datang setiap tahunnya untuk menangkap ikan di perairan NTT, termasuk di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Kupang.

Tetapi, persoalan nelayan tidak berhenti di situ saja. Nelayan di Kupang umumnya memiliki perahu dengan tonase 2-3 GT saja, mustahil berlayar sampai ratusan mil, apalagi sampai gugusan karang di perbatasan perairan Australia selama 48 jam. Mereka pun tak jarang memilih jalan pintas, menangkap ikan dengan alat tangkap yang merusak lingkungan.

Nurdin, yang saban hari menangkap ikan di laut, berkisah mengenai kondisi terumbu karang di perairan dalam yang disebutnya masih utuh. Lain halnya di kedalaman antara 3-10 meter, terumbu karang dalam kondisi rusak.

Simak laporan Palce Amalo selengkapnya di website ekuatorial.com

Banner Image : Palce Amalo / Media Indonesia

13 jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia menerima hibah pendanaan peliputan isu lingkungan hidup Ekuatorial Story Grant Round 1. Mereka berhasil melewati tahap seleksi ketat dan terpilih dari 89 pendaftar dari media lokal, nasional dan jaringan nasional di Indonesia.

Para jurnalis terpilih ini nantinya akan mengerjakan 12 proposal peliputan yang telah diseleksi sebelumnya serta mempublikasikan di Website https://www.ekuatorial.com/ dan medianya masing-masing. Ada tiga tema utama yang ditawarkan dalam program ini, yakni polusi udara, keanekaragaman hayati dan konservasi, serta eco-tourism.

Ketua umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, antusias jurnalis untuk mendaftar dan mengirimkan proposal peliputan pada program hibah tahap pertama periode Juni 2021 cukup tinggi.

“Semua proposal yang dikirim bagus-bagus, hanya saja para pendaftar kurang menggali dan mengembangkan isu yang kami tawarkan. Padahal, sebenarnya banyak sekali isu-isu lingkungan Isu di daerah yang menarik untuk diangkat dan dikembangkan,” katanya.

Tingkat partisipasi pendaftar yang tinggi menunjukkan isu lingkungan makin diminati  dan mendapat perhatian besar bagi jurnalis di Indonesia.

Menurut Ochi, program hibah ini merupakan bentuk komitmen Ekuatorial dan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) untuk  terus mendukung dan mendorong peningkatan kapasitas dan ketrampilan para jurnalis di Indonesia dalam menghasilkan liputan kritis dan mendalam tentang isu lingkungan. 

“Untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu lingkungan, salah satu upaya dengan meningkatkan kualitas liputan lingkungan dengan memberikan dukungan penting kepada jurnalis dari berbagai platfom media dalam upaya meliput isu lingkungan melalui dukungan program hibah untuk karya jurnalistik lingkungan,” imbuhnya.

SIEJ memiliki visi membangun masyarakat sadar informasi dan sadar lingkungan melalui jurnalisme lingkungan berkualitas tinggi. 

Harapannya, peliputan isu lingkungan dan perubahan iklim makin mendapat tempat dan prioritas di media massa sehingga publik makin paham dan terliterasi pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup yang lebih baik.

Berikut penerima story grant peliputan lingkungan hidup SIEJ periode Juni 2021:

1. Ronny Adolof Buol – Zonautara.com

2. Haryadi – Pontianak Post

3. Lili Rambe – Mongabay Indonesia

4. Riza Salman – Ekuatorial.com

5. Gresi Plasmanto – Liputan6.com

6. Dhana Kencana – IDN Times

7. Monang Lubis – Riau Pos

8. Rizka Nur Laily Mualifa – Merdeka.com

9. Rayhana Anwarie – Buletin Yayasan Bina Desa

10. Apriyanto Latukau – Kieraha.com

11. Basri Marzuki – Beritapalu.com

12. Kennial Laia dan Lusia Arumingtyas – (Mongabay Indonesia)

Terima kasih kepada para jurnalis yang telah berpartisipasi dan selamat kepada penerima hibah peliputan.

#grant #journalism #jurnalislingkungan #polusiudara #keanekaragamanhayati #konservasi #ecotourism

Upaya menekan kerusakan ekosistem laut di Kawasan Taman Wisata Laut Pulau Sangiang terus dilakukan banyak pihak.  Sejak 2018, Yayasan KEHATI bersama PT Asahimas Chemical melakukan rehabilitasi karang yang rusak di kawasan ini akibat aktivitas Industri, wisata, reklamasi, dan pembangunan di kawasan pesisir.

Berbeda dengan metode kebanyakan, rehabilitasi terumbu karang ini lakukan di dua lokasi rehabilitasi, yaitu transplantasi karang di Legon Bajo, Legon Waru, dan pembibitan karang di Tembuyung dengan menggunakan modul PVC sebagai media tumbuh karang.

Sampai tahun 2021, sudah terdapat 75 modul yang ditanam di kawasan Pulau Sangiang.

Selain itu, juga dilakukan pengambilan data ekologi serta pengambilan sampel air untuk analisis environmental DNA (eDNA) untuk mengetahui keragaman hayati di perairan Pulau Sangiang.

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI Yasser Ahmed menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring, tingkat survival transplantasi dengan pipa PVC ini di atas 67% per tahun. Sehingga metode transplantasi dengan modul PVC dapat memperkaya metode rehabilitasi terumbu karang di Indonesia.

“Fakta ini menggembirakan, mengingat rehabilitasi dianggap berhasil jika survival rate berada di atas 50%, karena menyerupai fungsi ekosistem aslinya. Materinya ramah lingkungan, prosesmudah dan biaya murah, kami akan terus melakukan kajian mendalam dari penggunaan modul PVC ini,”jelas Yasser.

Pada tahun 2018, sebanyak 1.491 fragment karang dari 11 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 66%. Pada tahun 2019, sebanyak 544 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%. Pada tahun 2020, sebanyak 2159 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%.

Fakta lain, anakan terumbu karang juga berhasil tumbuh secara alami pada terumbu buatan. Hingga tahun 2020 tercatat sebanyak 335 koloni rekrutmen karang yang berhasil menempel dan tumbuh pada terumbu buatan. Rekrutmen karang pada terumbu buatan didominasi oleh genus Pocillopora yang merupakan jenis karang pioneer dalam proses. Karang dari jenis ini mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat, sehingga merupakan jenis pionir dalam mengkolonisasi substrat baru

Yasser menambahkan, program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Sangiang Banten melihatkan banyak pihak, yaitu PT. Asahimas, Yayasan KEHATI, Yayasan Terangi, Maritim Muda Nusantara, BKSDA Jabar, Oceanogen Environmental and Biotechnoogy Laboklinikum, Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan IPB, Marine Science and Diving School IPB. Serta masyarakat lokal sebagai binaan untuk melangsungkan kegiatan rehabilitasi terumbu karang secara berkelanjutan.

“Sebagai daerah taman wisata alam, kelestarian ekosistem laut yang ada didalamnya harus terus terjaga. Dan ini membutuhkan dukungan banyak pihak,” tutup Yasser.

Berdasarkan pengamatan ekologi secara visual di tahun 2021, ditemukan 30 spesies ikan terumbu di Legon Waru, 33 spesies di Legon Bajo, dan 20 spesies di Raden (daerah non-rehabilitasi). Hal ini mengindikasikan daerah rehabilitasi yaitu Legon Waru dan Legon Bajo memiliki kekayaan spesies ikan terumbu lebih tinggi dibandingkan daerah non-rehabilitasi yaitu Raden.

Data pengamatan ekologi lain menemukan sebanyak 45 spesies makrobentos di Legon Waru, 40 spesies di Legon Bajo, dan 23 spesies di Raden.

Makrobentos adalah hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas atau di bawah dasar laut atau pada wilayah yang disebut zona bentik (benthic zone) maupun dasar daerah tepian. Bentos berbeda dengan plankton yang hidup mengambang bebas di air.

Narahubung :

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI

Yasser Ahmed

Telepon: +62 813-1090-8979

Email: Yasser.ahmed@kehati.or.id 

Banner Image : Transplantasi karang dengan model PVC / dokumentasi foto : Yayasan Kehati

Lautan menyediakan 50 persen oksigen Bumi yang merupakan rumah bagi sebagian besar keaneka ragaman hayati Bumi.

Lautan menutupi sekitar 71 persen permukaan Bumi. Laut memiliki kehidupan yang sangat besar di dalamnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan organisme lainnya. Wilayah lautan mengisi beberapa cekungan di permukaan Bumi. 

Fakta ini seharusnya dapat menunjukkan kepada masyarakat global untuk meningkatkan kesadaran tentang peran penting laut dalam kehidupan kita dan cara penting orang dapat membantu melindunginya. 

Konsep Hari Laut Sedunia pertama kali diusulkan pada tahun 1992 pada KTT Bumi di Rio de Janeiro. Ide ini muncul untuk merayakan lautan bersama dunia dan hubungan pribadi manusia dengan laut. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day setiap tanggal 8 Juni. Peringatan ini dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lautan. 

Tujuan dari Hari Laut Sedunia adalah untuk menciptakan kesadaran dalam kehidupan manusia akan manfaat yang telah dinikmati dari laut. Karena lautan menyediakan berbagai senyawa obat penyelamat jiwa, obat anti inflamasi, dan anti kanker. 

Jadi sekarang giliran kita untuk melestarikan laut dan sumber daya kelautan untuk pembangunan berkelanjutan. Lautan adalah kunci ekonomi kita, dengan perkiraan 40 juta orang dipekerjakan oleh industri berbasis laut pada tahun 2030. 

Apalagi berdasarkan data dari PBB, populasi ikan besar habis, dan 50% terumbu karang hancur, akibat ulah  manusia mengambil lebih banyak daripada yang diregenerasi.

Tema Hari Laut Sedunia 2021: The Ocean: Life and Livelihoods”, menjadi fokus utama adalah pada kehidupan dan mata pencaharian yang menopang laut. 

Jadi, untuk melindungi dan melestarikan laut dan semua yang menopangnya, kita harus menciptakan keseimbangan baru, yang berakar pada pemahaman yang benar tentang laut dan bagaimana manusia berhubungan dengannya. 

Dan membangun koneksi ke laut yang inklusif, inovatif, dan bermanfaat bagi laut dan kehidupan di dalamnya.

Banner Image : Dokumentasi Noni Arnee

Pengamatan burung di Muara Hutan Lindung Angke Kapuk Jakarta pada 8 Mei 2021 berhasil mengidentifikasi 25 jenis burung dari total 180 individu seperti Burung Cangak, Blekok sawah, Kowak Malam Abu dan satu jenis burung migrasi Trinil pantai (Actitis hypoleucos).

Kegiatan pengamatan burung dalam rangka memeringati Hari Burung Migrasi Sedunia 2021 diselenggarakan Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini berlangsung di Muara Hutan Lindung Angke Kapuk Jakarta dengan melibatkan perwakilan anggota Pramuka, pengamat burung, dan mahasiswa dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Negeri Jakarta. Pengamatan burung juga dilaksanakan serentak di kampus jaringan Biodiversity Warriors, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas dan Universitas Tanjungpura.

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI Rika Anggraini mengatakan, kegiatan pengamatan ini untuk mendata burung migrasi dan burung lain yang berada di sekitar perairan Jakarta, yaitu Hutan Lindung Angke Kapuk. “Selain memonitor dan menginventarisir burung migrasi, juga  memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian burung migran dan habitatnya di Indonesia,” kata Rika.

Indonesia menjadi bagian dari jalur perlintasan 149 jenis burung migran (Sukmantoro et al., 2007) di jalur Asia Timur-Australasia yang memiliki kekayaan spesies dan jumlah burung yang bermigrasi. Berdasarkan data Birdlife Indonesia, lebih dari 50 juta burung air dari lebih 250 populasi yang berbeda menggunakan jalur terbang yang membentang dari Asia Timur, Asia Tenggara sampai Australia dan Selandia Baru, yang mencakup 22 negara. 

Sebagai negara mega biodiversity (18% jenis burung dunia terdapat di Indonesia), burung migrasi juga menambah khasanah kekayaan burung di Indonesia.

Namun, burung migrasi rentan ancaman. Aktivitas migrasi yang dilakukan untuk mencari iklim yang lebih hangat dan makanan yang melimpah membuat burung migrasi harus menghadapi berbagai ancaman. Diantaranya, faktor alam seperti cuaca ekstrim, faktor manusia dengan maraknya perburuan liar dan pengrusakan habitat burung migrasi. Kondisi ini menyebabkan populasi burung migrasi terus berkurang.

Di Jakarta, limbah cair dan sampah plastik merupakan ancaman tersendiri bagi burung air dan burung migran. Berdasarkan hasil pengamatan terakhir, masih banyak sampah plastik yang berada di muara Hutan Lindung Angke Kapuk. Bahkan nampak dalam pengamatan, burung air memakan sampah plastik, dan bertengger di ban bekas dan sampah plastik yang mengapung.

Jumlah individu burung yang diamati bertambah dibandingkan dasil pengamatan di tahun 2019 yang berhasil mengindentifikasi 24 jenis burung dari total 149 individu, dimana dua jenis terindentifikasi sebagai burung migran, yaitu Trinil Pantai (Actitis hypoleucos) dari daerah Erasia atau Afrika dan Bubut pacar jambul (Clamator coromandus) dari China Selatan/India atau Asia Tenggara.

Rika menambahkan, hasil pengamatan diinformasikan kepada pemangku kepentingan, terutama Pemprov DKI sebagai bahan rekomendasi kebijakan perlindungan burung migrasi. “Kami selalu menghimbau dan bersinergi agar wilayah perairan yang menjadi habitat utama burung migran dapat diperbaiki, baik dengan penanaman mangrove, maupun dengan penanganan sampah plastik,” imbuh Rika.

Tahun 2021, Hari Burung Migrasi Sedunia mengusung tema Sing, Fly, Soar – like a bird! Tema ini ingin mengajak warga dunia untuk ikut “berkicau, terbang, dan terus menjulang” menyuarakan kepedulian kepada burung migran dan habitatnya. Hal yang tepat, karena masih minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia, termasuk yang tinggal di dekat habitat burung migran.

Berikut jenis burung yang berhasil diamati :

40 Cangak Abu, 35 Blekok sawah, 15 Kowak Malam Abu, 6 Cangak merah, 11 Walet linchi, 5 Kuntul kecil, 14 Itik Benjut, 6 Pecuk Padi Hitam, 15 Bondol peking, 5 Cucak kutilang, 1 Cipoh kacat, 1 Kuntul kerbau, 1 Dederuk Jawa, 4 Punai Gading, 1 Bangau bluwok, 2 Pecuk ular asia, 4 Layang2 batu, 2 Kekep babi, 1 Bondol haji, 4 Sepah kecil, 1 Betet biasa, 1 Trinil pantai, 4 Tekukur biasa, 1 Wiwik kelabu. Dan satu jenis burung migrasi Trinil pantai (Actitis hypoleucos).

Banner Image : copyright Yayasan KEHATI