Data yang termuat dalam Buku Statistik Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten periode 2014-2020 menunjukkan penurunan ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun dalam tiga tahun terakhir di Pulau Panjang, Pulau Lontar, Pulau Tunda, Pulau Satu, Pulau Dua dan Pulau Lima. Mengapa itu terjadi?

Muhammad Iqbal Elbetan (22) membelah gelap Kali Berung, Serang, banten dengan perahu berkapasitas mesin 6 paardenkrakracht (daya kuda). Ia bergegas keluar muara menuju lokasi tangkap sejauh satu kilometer. Jam baru menunjukkan pukul 04.00 WIB. Samar-samar terlihat dua alat pancing beserta umpan tergeletak di geladak.

Tapi di tengah jalan, lelaki yang berprofesi sebagai nelayan ini mengurungkan niat dan membalik haluan menjauhi area tangkap. Sebab kapal batu bara sudah beroperasi lebih dulu di jembatan timbang(jeti) milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7.

“Saya takut ditabrak,” kata Iqbal saat ditemui di Kramatwatu, Bojonegara, Serang, Jumat, 30 April 2021.

PLTU Jawa 7 dengan kapasitas 2×1.000 Megawatt (MW) merupakan pembangkit terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan yang membangun yakni PT Shenhua Guohua Pembangkit Jawa Bali (PT SGPJB), perusahaan konsursium antara China Shenhua Energy Company Limited (CSECL) dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJBI) yang merupakan anak usaha PT PLN (Persero).

Kepemilikan saham CSECL di PLTU Jawa 7 mencapai 70 persen, sementara PJBI memiliki sisanya. Di Indonesia, sepak terjang CSECL dalam memproduksi energi kotor tak hanya di Banten. Perusahaan energi dan infrastruktur terbesar di China ini juga membangun PLTU Mulut Tambang di Kalimantan Timur, PLTU Sumatera Selatan I dan PLTU Simpang Belimbing Muara Enim. Perusahaan mengkalim bahwa PLTU Jawa 7 merupakan industri ramah lingkungan lantaran menggunakan teknologi pemanas Ultra Super Critic (USC) yang mampu meredam buangan karbon dan limbah ke laut.

Namun, Iqbal melihat sendiri bagaimana limbah bahang yang dialirkan pabrik setrum itu membuat permukaan air keruh, berbusa dan berbau busuk. Sementara nelayan lain, Lukman (50) mengeluhkan aktivitas kapal batu bara. Hampir setiap hari ia melihat hilir mudik kapal di tengah laut. Jumlahnya 3-4 kapal dalam sehari.

Lelaki yang sudah menetap puluhan tahun di Pulau Panjang ini menyakini bahwa aktivitas PLTU Jawa 7, mulai dari pengoperasian kapal batu bara sampai pembuangan limbah berpengaruh buruk terhadap ekosistem laut di sekitar tempat tinggalnya. “Gugusan terumbu karang bersampur lumpur, retak dan terdapat bintik-bintik berwarna putih. Nelayan banyak mengeluh. Biasanya tangkapan ada. Tahun ini malah tidak dapat. Jauh sekali perbedaannya,” katanya saat dihubungi Jaring.id, Sabtu 8 Mei 2021.

Simak laporan Abdus Somad selengkapnya di website ekuatorial.com

Upaya menekan kerusakan ekosistem laut di Kawasan Taman Wisata Laut Pulau Sangiang terus dilakukan banyak pihak.  Sejak 2018, Yayasan KEHATI bersama PT Asahimas Chemical melakukan rehabilitasi karang yang rusak di kawasan ini akibat aktivitas Industri, wisata, reklamasi, dan pembangunan di kawasan pesisir.

Berbeda dengan metode kebanyakan, rehabilitasi terumbu karang ini lakukan di dua lokasi rehabilitasi, yaitu transplantasi karang di Legon Bajo, Legon Waru, dan pembibitan karang di Tembuyung dengan menggunakan modul PVC sebagai media tumbuh karang.

Sampai tahun 2021, sudah terdapat 75 modul yang ditanam di kawasan Pulau Sangiang.

Selain itu, juga dilakukan pengambilan data ekologi serta pengambilan sampel air untuk analisis environmental DNA (eDNA) untuk mengetahui keragaman hayati di perairan Pulau Sangiang.

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI Yasser Ahmed menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring, tingkat survival transplantasi dengan pipa PVC ini di atas 67% per tahun. Sehingga metode transplantasi dengan modul PVC dapat memperkaya metode rehabilitasi terumbu karang di Indonesia.

“Fakta ini menggembirakan, mengingat rehabilitasi dianggap berhasil jika survival rate berada di atas 50%, karena menyerupai fungsi ekosistem aslinya. Materinya ramah lingkungan, prosesmudah dan biaya murah, kami akan terus melakukan kajian mendalam dari penggunaan modul PVC ini,”jelas Yasser.

Pada tahun 2018, sebanyak 1.491 fragment karang dari 11 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 66%. Pada tahun 2019, sebanyak 544 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%. Pada tahun 2020, sebanyak 2159 fragment karang dari 13 genus ditransplan pada terumbu buatan dengan tingkat survival rate sebesar 64%.

Fakta lain, anakan terumbu karang juga berhasil tumbuh secara alami pada terumbu buatan. Hingga tahun 2020 tercatat sebanyak 335 koloni rekrutmen karang yang berhasil menempel dan tumbuh pada terumbu buatan. Rekrutmen karang pada terumbu buatan didominasi oleh genus Pocillopora yang merupakan jenis karang pioneer dalam proses. Karang dari jenis ini mampu mengkolonisasi substrat dengan cepat, sehingga merupakan jenis pionir dalam mengkolonisasi substrat baru

Yasser menambahkan, program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Sangiang Banten melihatkan banyak pihak, yaitu PT. Asahimas, Yayasan KEHATI, Yayasan Terangi, Maritim Muda Nusantara, BKSDA Jabar, Oceanogen Environmental and Biotechnoogy Laboklinikum, Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan IPB, Marine Science and Diving School IPB. Serta masyarakat lokal sebagai binaan untuk melangsungkan kegiatan rehabilitasi terumbu karang secara berkelanjutan.

“Sebagai daerah taman wisata alam, kelestarian ekosistem laut yang ada didalamnya harus terus terjaga. Dan ini membutuhkan dukungan banyak pihak,” tutup Yasser.

Berdasarkan pengamatan ekologi secara visual di tahun 2021, ditemukan 30 spesies ikan terumbu di Legon Waru, 33 spesies di Legon Bajo, dan 20 spesies di Raden (daerah non-rehabilitasi). Hal ini mengindikasikan daerah rehabilitasi yaitu Legon Waru dan Legon Bajo memiliki kekayaan spesies ikan terumbu lebih tinggi dibandingkan daerah non-rehabilitasi yaitu Raden.

Data pengamatan ekologi lain menemukan sebanyak 45 spesies makrobentos di Legon Waru, 40 spesies di Legon Bajo, dan 23 spesies di Raden.

Makrobentos adalah hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas atau di bawah dasar laut atau pada wilayah yang disebut zona bentik (benthic zone) maupun dasar daerah tepian. Bentos berbeda dengan plankton yang hidup mengambang bebas di air.

Narahubung :

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI

Yasser Ahmed

Telepon: +62 813-1090-8979

Email: Yasser.ahmed@kehati.or.id 

Banner Image : Transplantasi karang dengan model PVC / dokumentasi foto : Yayasan Kehati