E-book panduan ini disusun para anggota Konsursium Hari Hutan Indonesia 2021 sebagai upaya pelestarian hutan Indonesia dan segala isi keanekaragaman hayati yang perlu kita jaga bersama bersama.

Lebih dari 70 juta penduduk Indonesia hidup bergantung dari hutan untuk sumber
makanan dan penghidupan. Hutan menyokong kebutuhan air untuk jutaan hektare lahan pertanian. Hutan juga menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana banjir dan longsor. Hutan pun erat dengan beragam budaya Indonesia.

Tanpa hutan, Indonesia tidak akan sekaya dan seberagam yang kita kenal sekarang. Namun, kondisi hutan kita terancam. Selama tahun 2001-2019, Indonesia kehilangan hampir 27 juta hektar tutupan hutan. Kondisi ini menimbulkan dampak pada keanekaragaman hayati, hak-hak dan kesejahteraan penduduk setempat dan masyarakat adat, serta iklim global.

Tahun 2017, kita kehilangan 479.000 hektare hutan, baik karena pembukaan lahan yang terencana untuk industri maupun yang tidak terencana karena kegiatan ilegal atau kebakaran hutan. Usaha penghijauan dengan menanam pohon memang telah dilakukan, tapi hasilnya jauh dari luas hutan yang hilang, juga perlu waktu lama untuk pulih.

Sumber : harihutan.id

#HariHutanIndonesia #KitaJagaHutan #HutanJagaKita

Indonesia adalah salah satu negara yang telah menyatakan komitmen iklimnya dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC). Setelah ratifikasi Persetujuan Paris pada tahun 2016, para negara menyerahkan dokumen NDC mereka untuk pertama kalinya, menegaskan kembali komitmen untuk masa depan yang lebih rendah karbon dan berketahanan iklim.

Dalam COP26 Glasgow di akhir tahun ini, yang mengalami penundaan dari tahun lalu akibat pandemi, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mendorong negara-negara untuk memperbarui NDC mereka sekaligus membuat strategi penurunan emisi GRK yang lebih ambisius.

Indonesia  berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen hingga 41 persen di bawah skenario business-as-usual, namun komitmen ini hanya berlaku hingga 2030. Komitmen tersebut juga belum cukup untuk menahan laju pemanasan global yang dibutuhkan untuk mencegah bencana iklim yang lebih besar. Oleh karena itu, dalam COP26 mendatang Indonesia perlu mengemukakan rencana untuk meningkatkan ambisi iklimnya yang selaras dengan sains dan kondisi pembangunan Indonesia.

Sayangnya, penurunan emisi GRK Indonesia belum berada pada jalur tepat untuk mencegah bahaya krisis iklim. Peran non-state actors (termasuk pemerintah daerah, swasta, dan publik) menjadi penting dalam menunjukkan aktivitas yang berpotensi untuk mendukung target pemerintah Indonesia. Aktivitas-aktivitas potensial tersebut masih belum banyak diketahui masyarakat umum.

Peran media sangat dibutuhkan untuk menginformasikan praktik-praktik terbaik dari non-state actors di berbagai sektor dan wilayah sehingga dapat menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia untuk  meningkatkan ambisi iklimnya.

Untuk itu The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) bekerjasama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia menggelar diskusi publik “Menuju COP26 di Glasgow: Pembelajaran Peningkatan Aksi Iklim yang Lebih Ambisius”.

Sejumlah pembicara kompeten dihadirkan untuk menakar sejauhmana aksi dan ambisi Indonesia dalam upaya menekan perubahan iklim.

Pembicara:

* Tony La Viña, Manila Observatory, Philippines (TBC)

* Moekti H. Soejachmoen, Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID) (TBC)

* Mahawan Karuniasa, Universitas Indonesia/Founder Environtment Institute

Moderator :

* April Sirait, Senior Assignment Editor, CNN Indonesia TV

Kegiatan ini akan dilaksanakan secara virtual pada :

Hari : Jumat, 16 Juli 2021

Pukul : 13.30 WIB – 15.30 WIB

Tempat : Link Zoom: bit.ly/DiskusiCOP26

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan jurnalis yang meliput isu perubahan iklim. Setelah diskusi publik juga akan dibuka kesempatan bagi jurnalis di Indonesia untuk meraih beasiswa peliputan perubahan iklim.

Informasi lebih lengkap, dapat hubungi Bhekti Suryani (+62 811-2652-266)

Indonesia menjadi negara di dunia yang memberikan kontributusi terbesar emisi karbon cakupan 3 (scope 3) yaitu dari pengapalan batu bara.

Selain Indonesia, Australia juga masuk sebagai penyumbang terbesar karena tercatat sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia,

Angkanya, mencapai 59% atau setara 740 juta metrik ton. Emisi scope 3 ini mencakup semua emisi tidak langsung yang dihasilkan dalam rantai nilai sebuah industri atau perusahaan.

Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 1,25 miliar metrik ton batu bara dikapalkan untuk diekspor dari seluruh negara produsen batu bara di dunia.

Pengapalan ekspor batu bara berkontribusi sekitar 10% dari total emisi karbon (CO2) dari sektor energi pada tahun 2020, yaitu sekitar 3,1 miliar ton CO2, di mana total CO2 dari sektor energi diperkirakan mencapai 31,5 miliar ton CO2.

Data ini merupakan laporan hasil temuan analisis data dari EMBER, lembaga think-tank yang berbasis di London, Inggris, yang meluncurkan dashboard interaktif tentang emisi yang dihasilkan dari pengapalan untuk tujuan ekspor batu bara dari seluruh negara pengekspor batu bara di dunia, Selasa (2/6/2021).

Di antara negara eksportir batu bara terbesar, Indonesia dan Australia memiliki tingkat emisi scope 3 yang sangat tinggi dibanding emisi domestik masing-masing negara tersebut. Pada tingkat 0,9 miliar ton CO2 masing-masing negara, emisi ruang scope 3 dari pengapalan ekspor  batu bara adalah sebesar 1,5-2 kali lebih lipat dari emisi domestik yang mereka hasilkan.

“Bisnis batu bara tidak saja memberikan keuntungan bagi negara pengekspor. Namun dampak lingkungan berupa emisi dari pengapalan batu bara (scope 3) sering diabaikan, meskipun memberikan kontribusi signifikan terhadap naiknya emisi CO2 dunia,” kata Nicolas Fulghum, analis dari EMBER.

Seperti diketahui, emisi gas rumah kaca dikategorikan ke dalam tiga kelompok atau ‘scope’ dalam standar internasional teknik penghitungan yang paling banyak digunakan, Protokol Gas Rumah Kaca (GRK). Cakupan 1 (Scope 1) mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan. Cakupan 2 (Scope 2) mencakup emisi tidak langsung dari pembangkitan listrik yang dibeli, uap, pemanasan dan pendinginan yang dikonsumsi oleh industri/perusahaan. Cakupan 3 (Scope 3) mencakup semua emisi tidak langsung lainnya yang terjadi dalam rantai nilai industri/perusahaan.

Dashboard lebih detil dapat diakses melalui: https://ember-climate.org/ember-shipping-dashboard/

Banner Image : copyright detik.com