Ekuatorial.com dan The Society of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Ekuatorial.com kembali membuka kesempatan bagi para jurnalis di Indonesia untuk mengikuti beasiswa peliputan dengan tema “Menyambut COP 26: Membumikan Isu Perubahan Iklim di Kawasan Urban”.

Beasiswa peliputan ini berdasarkan wilayah domisili jurnalis dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Beasiswa liputan dibuka untuk periode September-Oktober 2021
  2. Terbuka untuk semua jurnalis dari berbagai jenis platform media. Namun penilaian akan diprioritaskan dan diberikan kepada anggota SIEJ dan jurnalis yang belum pernah mendapatkan beasiswa peliputan sepanjang tahun 2021.
  3. Memilih tema dan objek liputan yang terkait dan berada di seputar wilayah kerja masing-masing
  4. Hasil karya jurnalistik wajib ditayangkan di media masing-masing paling lambat 16 Oktober 2021. Untuk jurnalis freelance, hasil karya akan dipublikasikan di situs web https://www.ekuatorial.com/
  5. Proposal akan diseleksi oleh tim editorial Ekuatorial

Penjaringan usulan liputan bakal dibuka hingga 12 September 2021 dan proposal yang lolos akan diumumkan selambat-lambatnya 15 September 2021. Setiap usulan yang masuk akan diseleksi oleh tim editorial ekuatorial.com

Informasi untuk mengikuti beasiswa peliputan dapat dibaca lengkap di tautan berikut ini: https://forms.gle/vTrRcYh7diXKXWjR8

Kami tunggu usulan terbaik dari sobat SIEJ di seluruh Indonesia.

Info hubungi : Sandy Pramuji (redaksi.ekuatorial@gmail.com)

#ekuatorial #perubahaniklim #lingkunganhidup #hibahliputan #beasiswapeliputan #jurnalis #jurnalislingkungan #COP26 #SIEJ #climatechange

Fenomena langka hujan di Greenland hanya permulaan saja. Sederet konsekuensi tengah menanti Bumi karena rusaknya keseimbangan alam.

Peneliti Centre for Planetary Health and Food Security di Griffith University, Willow Hallgren menilai perubahan iklim telah menyebabkan kerusakan serius pada seluruh planet. Fenomena langka hujan yang turun di Greenland, menurut Willow hanya permulaan saja. Sederet konsekuensi buruk menanti Bumi karena rusaknya keseimbangan iklim. 

Seperti diketahui, hujan turun di Greenland pada 14 Agustus 2021. Pulau teritori Denmark yang dilapisi es dan dekat dengan Kutub Utara itu dilanda 7 miliar ton hujan selama 24 jam. Terakhir kali hujan deras turun di Greenland pada tahun 1950. Ini mengkhawatirkan karena tetes hujan akan mempercepat pencairan es.

Willow memaparkan, es yang mencair dari Samudra Arktik dan Greenland telah menyebabkan masuknya air tawar ke Samudra Atlantik Utara. Ini telah berkontribusi pada melambatnya sistem arus laut penting, yang membawa air hangat dari daerah tropis ke Atlantik Utara yang lebih dingin. 

Arus ini, yang disebut Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), telah melambat sebesar 15% sejak tahun 1950-an. Jika AMOC melambat lebih jauh, konsekuensinya bagi bumi bisa sangat besar. Ia bisa menyebabkan hutan hujan Amazon lebih sering kekeringan, monsun di Afrika Barat jadi tak stabil, dan es di Antartika mencair lebih cepat.

“Es di Antartika akan lebih cepat mencair seiring dengan turunnya hujan di Greenland. Fauna yang hidup di daerah kutub juga akan kehilangan ekosistem ,” tutur Willow dilansir dari The Conversation.

Meningkatnya suhu rata-rata di Bumi menyebabkan kerusakan serius di tempat-tempat yang paling sensitif terhadap perubahan suhu. Misalnya, dua daerah kutub. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi fauna yang membutuhkan es untuk bertahan hidup karena tempat ini adalah ekosistemnya. 

Baca artikel lengkapnya di https://www.ekuatorial.com/2021/08/deras-hujan-di-greenland-bukti-rusaknya-keseimbangan-alam/

Banner image : Greenland ice sheet climate change initiative (CCI) annual ice velocity maps derived from Sentinel-1 SAR data 2014-2017 and winter campaign map 2017/18. Source publication from ResearchGate: An Integrated View of Greenland Ice Sheet Mass Changes Based on Models and Satellite Observations ( Ruth Mottram – Danish Meteorological Institute, Sebastian B. Simonsen, S. H. Svendsen, Rene Forsberg)

13 jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia menerima hibah pendanaan peliputan isu lingkungan hidup Ekuatorial Story Grant Round 1. Mereka berhasil melewati tahap seleksi ketat dan terpilih dari 89 pendaftar dari media lokal, nasional dan jaringan nasional di Indonesia.

Para jurnalis terpilih ini nantinya akan mengerjakan 12 proposal peliputan yang telah diseleksi sebelumnya serta mempublikasikan di Website https://www.ekuatorial.com/ dan medianya masing-masing. Ada tiga tema utama yang ditawarkan dalam program ini, yakni polusi udara, keanekaragaman hayati dan konservasi, serta eco-tourism.

Ketua umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, antusias jurnalis untuk mendaftar dan mengirimkan proposal peliputan pada program hibah tahap pertama periode Juni 2021 cukup tinggi.

“Semua proposal yang dikirim bagus-bagus, hanya saja para pendaftar kurang menggali dan mengembangkan isu yang kami tawarkan. Padahal, sebenarnya banyak sekali isu-isu lingkungan Isu di daerah yang menarik untuk diangkat dan dikembangkan,” katanya.

Tingkat partisipasi pendaftar yang tinggi menunjukkan isu lingkungan makin diminati  dan mendapat perhatian besar bagi jurnalis di Indonesia.

Menurut Ochi, program hibah ini merupakan bentuk komitmen Ekuatorial dan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) untuk  terus mendukung dan mendorong peningkatan kapasitas dan ketrampilan para jurnalis di Indonesia dalam menghasilkan liputan kritis dan mendalam tentang isu lingkungan. 

“Untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu lingkungan, salah satu upaya dengan meningkatkan kualitas liputan lingkungan dengan memberikan dukungan penting kepada jurnalis dari berbagai platfom media dalam upaya meliput isu lingkungan melalui dukungan program hibah untuk karya jurnalistik lingkungan,” imbuhnya.

SIEJ memiliki visi membangun masyarakat sadar informasi dan sadar lingkungan melalui jurnalisme lingkungan berkualitas tinggi. 

Harapannya, peliputan isu lingkungan dan perubahan iklim makin mendapat tempat dan prioritas di media massa sehingga publik makin paham dan terliterasi pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup yang lebih baik.

Berikut penerima story grant peliputan lingkungan hidup SIEJ periode Juni 2021:

1. Ronny Adolof Buol – Zonautara.com

2. Haryadi – Pontianak Post

3. Lili Rambe – Mongabay Indonesia

4. Riza Salman – Ekuatorial.com

5. Gresi Plasmanto – Liputan6.com

6. Dhana Kencana – IDN Times

7. Monang Lubis – Riau Pos

8. Rizka Nur Laily Mualifa – Merdeka.com

9. Rayhana Anwarie – Buletin Yayasan Bina Desa

10. Apriyanto Latukau – Kieraha.com

11. Basri Marzuki – Beritapalu.com

12. Kennial Laia dan Lusia Arumingtyas – (Mongabay Indonesia)

Terima kasih kepada para jurnalis yang telah berpartisipasi dan selamat kepada penerima hibah peliputan.

#grant #journalism #jurnalislingkungan #polusiudara #keanekaragamanhayati #konservasi #ecotourism