Baru-baru ini, 15 organisasi yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksin Bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan mengirim surat terbuka  kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial, Kapolri, Menteri Hukum dan HAM, Kepala Dinas PPPA, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kumham, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Kepala Dinas Kesehatan, di seluruh Indonesia.

Mereka meminta pemerintah membuka akses vaksin tanpa birokrasi rumit sehingga masyarakat adat dan kelompok rentan yang terkendala administrasi kependudukan karena tidak memiliki identitas, tetap dapat menerima haknya untuk mendapatkan vaksin sebagai upaya percepatan penanganan pandemi Covid-19.

Dalam siaran langsung (live) di akun resmi Instagram SIEJ_info, baru-baru ini, Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jenderal AMAN bercerita kepada Rochimawati, Ketua Umum The Society of Indonesian Environmental Jornalists (SIEJ) tentang kondisi dan tantangan masyarakat adat di tengah pandemi Covid-19 dan bagaimana mereka bertahan.

Bisa dijelaskan apa itu Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ?

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) didirikan oleh para pemimpin masyarakat adat di Indonesia pasca kejatuhan pemerintahan Soeharto. Waktu itu ada 300 orang menyelenggarakan Kongres Masyarakat Adat. Tentu saja keanggotaannya adalah masyarakat adat yang tersebar di seluruh Indonesia. Saat ini anggota sebanyak 2.422 komunitas masyarakat adat, dengan jumlah warga  20 juta. Kami mempunyai 21 pengurus wilayah di tingkat propinsi, dan 115 pengurus di tingkat daerah.

Masyarakat adat ini adalah masyarakat yang masih mendiami wilayah adat, masih hidup sesuai tradisi dan pengetahuan dari leluhur.

Tentunya banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari urusan kebijakan, hingga teritori wilalyah adat.

Masyarakat di seluruh dunia adalah penjaga ekosistem yang terbaik di dunia. Termasuk di dalamnya hutan, gunung, dan laut. Kondisinya masih ada yang baik karena dijaga masyarakat adat. Ini perlu dipikirkan peran mereka terhadap kelestarian alam dan bumi.

Bagaimana masyarakat adat menjaga lingkungan?

Masing-masing masyarakat adat atau komunitas adat memiliki cara tersendiri, mempunyai pengetahuan tradisional yang kita mengenalnya sebagai pranata adat, hukum adat tentang bagaimana mengelola dan memanfaatkan alam dan keberlanjutannya.  

Kita ambil sesuatu dari alam ya secukupnya, jangan sampai alam menjadi rusak.Misalnya ambil satu pohon tanam seribu. Dan ini terjadi karena dilakukan kolektif di komunitas-komunitas adat dengan melibatkan musyawarah adat dan gotong royong. Mereka mempunyai aturan khusus tentang pelestarian lingkungan, alam dan sumberdaya.

Misal tradisi “sasi” di Maluku dan Papua yang digunakan sebagai cara untuk memastikan tidak ada Tragedy of the Commons, tidak ada sumber daya yang dieksploitasi. Sumberdaya di alam diangpap sebagai milik semua orang dan kemudian diambil secara berlebihan itu akan habis, hilang, punah dan secara sosial bisa menimbulkan konflik. Perembutan ini yang dihindari.

Seperti Sasi Lomba di Maluku yang dijaga Om Elly sebagai penjaga sasi. Kalau sasi sedang berlengsung, dipastikan sasi ini dihormati seluruh warga kampung Haruku. Beliau juga termasuk yang melakukan ritual sampa saanya buka sasi, melihat tanda-tanda alam dan ketika air bagus dan ikan datang. Ini semua bukan soal aturan saja tapi ada aturan bagaimana komunikasi dengan alam secara spiritual dan meminta perlindungan pada Sang Pencipta.  Katanya dengan begitu mereka bisa memanggil ikan. Mereka punya hal yang bisa kita pelajari bersama, biasana setelah panen maka hasil panen dikumpulkan dan yang pertama boleh mengambil adalah anak yatim, perempuan janda, orang sakit dan difabel. Setelah itu baru dibagi rata untuk warga. Ini juga salah satu yang membuat masyarakat adat bertahan selama pandemi.

Bagaimana kondisi masyarakat adat di saat awal pandemi hingga sekarang?

Sampai saat ini mereka masih mengalami keterisoalasian jarak, akses layanan kesehatan sehingga mengakibatkan masyarakat adat jadi rentan.

Kondisinya macam-macam. Tahun lalu sebelum pelaksanaan PSBB, AMAN sudah menyatakan lockdown. Kami tahu bahwa penyakit asing datangnya karena manusia yang bergerak. Kalau di wilayah adat ada orang masuk ke wilayah adat atau ada orang dari mereka yang ke kota dan mendapat virus itu kemudian membawanya masuk ke dalam. Ini yang disadari.

Menariknya, ada memori kolektif di masyarakat adat tentang pandemi di masa lalu. Seperti kalau saya waktu itu teringat kampuang Saya di Toraja ada ingatan “rak babiang”. Itu adalah peristiwa ketika banyak kematian, seperti ilalang yg rebah disaat bersamaan. Orang Toraja menganggap ritual kematian waktu dikubur itu sangat penting, tapi waktu itu banyak sekali kematian sehingga tidak sempat melakukan upacara adat yang pantas. Seperti sekarang tidak ada upacara adat.

Siang masih seha, sore meninggal. Ternyata itu adalah wabah flu spanyol. Dan itu masih terus diingat. Itu jadi dongeng Saya di waktu kecil dan sering diceritakan orang tua. Peristiwa itu hampir sama dengan yang terjadi sekarang. Banyak yang meninggal. Dulu itu 30% penduduk Toraja habis. Mungkin virus itu dibawa pedangang yang dibawa dari pesisir atau oleh orang Belanda. Ada banyak yang masih mengingat itu.

Makanya sejak tahun lalu banyak yang tinggal di kampung melakukan lockdown wilayah adat dan membatasi yang keluar. Kalau ada yang keluar pun, pintu masuk dan keluar dijaga dengan baik.

Kalau ada yang kembali dari kota, harus tinggal di hutan atau ladang selama dua minggu. Itu karantina bermartabat. Mereka yang di kota dipanggil pulang untuk mengantisipasi  di kota tidak bisa makan dan hidup dalam kondisi yang tidak baik. Tetua adat meminta mereka pulang dan semua kebutuhan pangan dijamin.

Jadi kondisi mereka relatif aman dari virus Covid-19?

Kita salah hitung karena kita pikir pandemi hanya 6 bulan. Stok makanan cukup dijamin 6 bulan. Stok pangan di kampung bermacam-macam, ada yang akan panen, ada yang  punya stok banyak bahkan bisa bertahun-tahun.

Stok pangan itu dipengaruhi kehadiran perusahaan di sekitarnya. Semakin dekat keberadaan perusahaan seperti tambang, sawit, maka stok itu makin terancam dan kampung makin tidak aman. Bahkan ada komunitas yang sudah tidak punya tempat menanam, jadi buruh pabrik. Seperti Orang Rimba itu harus dibantu karena hutan “sudah diambil” perusahaan, meskipun mereka karantina mandiri di hutan, tetap saja  stok pangan tidak cukup.

Itu yang terjadi tahun lalu. Ternyata pandemi ini hampir dua tahun belum selesai. Makanya menanam lagi. Jangan jualan makanan dulu, tahan karena kalau nanti ada krisis pangan, kita yang akan jadi lumbung, menyerahkan makanan ke tempat-tempat yang tidak punya makanan.

Ini terbukti waktu Palu gempa, masyarakat adat Ngata Toro yang bermukim di sekitar kawasan penyangga Taman Nasional Lore Lindu, membantu puluhan ton beras yang dipakai Gugus tugas AMAN untuk dibagiakan di luar kampung.

Mereka juga membantu melalui Serikat Tani anggota KPA dengan mengirim bahan pangan ke Jakarta untuk serikat buruh yang dipecat  perusahaan, dipotog gaji, dan yang terancam PHK. Yang menjaga bukan negara dan perusahaan tapi justru orang-orang kampung.

Itu pengalaman berharga. Jadi menanam, panen, simpan, makan. Kalau ada yang lebih baru dibagi-bagikan ke tempat yang tidak punya makanan. Konsep gotong royong itu yang membuat mereka bertahan selama pandemi. Dan beberapa tahun ini ada gerakan anak-anak muda pulang kampung. Mereka pulang kampung, yang awalnya di cerca kenapa kembali ke kampung. Tapi justru sekarang mereka yang berjaya dengan beternak,berkebun, bertani dan membuat sekolah adat. Bahkan menanam tanaman yang ditanam tapi tidak dimakan dan dijadikan nilai tukar atau barter dengan warga kampung lain.

Panen juga meningkat selama pandemi. Seperti masyarakat di Sakai yang notabenenya sedang “berkasus” dengan perusahaan dan rmasuk kategori terancam punah tapi selama pandemi, mereka justru panen hingga tiga kali. Ini fenomena yang sama sekali di luar teori pembangunan modern yang bertumbuh pada perusahaan.

Jadi produksi pangan jadi menignkat, penjaga ekosistem terbaik juga lumbung pangan dan kalau kita bicara ekonomi masa depan, hal baik ramah lingkungan itu ada di wilayah adat. Jadi masa depan kita sebenarnya ada di masyarakat adat.

Apakah ada laporan AMAN berapa jumlah masyarakat adat yang terpapar Covid-19 ?

Sampai Bulai Mei  masih bisa bernafas lega. Ternyata varian Delta ini mendekat ke wilayah adat. Virus ibarat mendekat di depan pintu. Sistem yang dibangun masyarakat adat selama ini sudah mulai merenggang tidak bisa menahan laju Covid. Masyarakat ingin lockdown tapi tidak memungkinkan karena kampung-kampung mereka dilewati aktivitas perusahaan, perkampungan pekerja perusahaan juga tidak diliburkan sehingga sangat rentan terekspose dan membawa ke kampung mereka tinggal.

Sudah banyak laporan, misal waktu kasus awal terjadi di Kalimantan Utara di Pulau Mamadau itu pulau terluar. Ada kampung Dobo sekarang sudah banyak kasus terpapar Covid. Padahal dari Dobo hanya bisa dijangkau sekitar 6 jam dengan perahu melewati Benjina. Dan itu kalau kita perhatikan di sana tidak ada fasilitas PCR. Hasil test PCR itu harus dikirim ke Ambon dulu.

Sebelumnya ada kepala desa yang meninggal karena Covid. Sekarang ini persoalan terbesar adalah fasilitas pemeriksaan PCR dan tracing. Jadi test kurang makanya kita juga tidak pernah tahu berapa yang sudah terkena Covid. Dari Sulawesi Tengah, di Bengkulu, di Kalteng banyak yang paling parah di sana. Belum lagi  kalau kita lihat kampung-kampung di dekat sub urban seperti gaya hidup perpindahan orang Toraja, satu buat upacara maka akan banyak sanak saudara yang ke sana karena hubungan sosial kekeluargaan yang tidak dibatasi administrasi. Pemerintah tidak bis amelarang upacara adat.

Bagaimana cara mengatasinya ? Bagaimana masyarakat adat menjaga diri untuk meningkatkan imunitas terlebih lagi disaat pandemi Covid ini tanpa bergantung pada negara ?

Banyak yang dilakukan masyarakat addat seperti misalnya dengan menjaga secara spiritual dengan berdoa.Mereka sudah berhitung karena menganggap penyakit aneh ini dan masing-masing masyarakat adat mempunyai ritual.

Juga memanfaatkan sumberdaya yang ada di wilayah adat dengan membuat ramuan tradisional. Tidak ada resep generik karena masing-masing kampung punya resep sendiri dan itu tidak perlu dipertentangkan karena ada sejak turun temurun. Misalnya ramuan daun sungkai yang digunakan hampir di seluruh wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Ada juga tabib dari Murung Raya yang menganjurkan konsumsi jeruk nipis dipanaskan dan diminum tiap pagi. Kalau kena flu, minum 3 kali sehari. Atau mandi dengan rebusan daun jeruk nipis dan daun kunyit. Jika di pegunungan Meratus, banyak warga yang memakan buah tertentu yang rasanya asam sekali jika mengalami gejala demam dan hilang penciuman. Bisa jadi buah itu punya kandungan vitamin C tinggi.

Ini juga tantangan bagi kita. Karena ini tantangan menjadi warisan leluhur pengetahuan praktik-praktiknya sehingga tidak pernah melalui uji klinis. Bagi masyarata adat ya udah itu dilakukan saja. Itu yang menjadi ritual kemudian ramuan-ramuan penguat imunitas bahkan ada yang coba dulu kalau ada penyakit asing begini cara mengobatinnya.

Ada bermacam-macam konsep perlindungan di masyarakat adat. Ada yang dibuatkan perisai sehingga virus tidak akan masuk, ada juga yang kemudian membuat bingung agar tidak bisa masuk kampung. Itu masih banyak yang melakukannya termasuk yang merasa cukup dengan ritual obat-obatan dari alam. Masyarakat tahu bahwa ini menyerang antibodi kita sehingga tabib-tabib banyak memproduksi ramuan-ramuan tradisional.

Sejauh ini apa upaya yang dilakukan agar masyarakat adat bersedia divaksin?

Ada inisiatif dari AMAN di Sekadau, Kalbar bekerja sama dengan pemda untuk vaksinasi masyarakat adat. Katanya disiapkan 200 tapi yang bisa divaksin hanya 47. Ini kita belum tahu alasannya. Bisa jadi karena kendala KTP, ketika pemeriksaan kesehatan, atau jangan-jangan sosialisasi yang kurang. Apakah ada pendampingan setelah vaksin, kami juga belum tahu.

Terkait dengan akses vaksin, apakah NIK jadi kendala terbesar hingga AMAN dan koalisi menulis surat terbuka untuk Presiden ?

Di masyarakat adat kita sudah berjuang 20 tahun lebih untuk mendapatkan KTP bagi masyarakat adat yang hidup di tempat-tempat jauh yang tidak ada administrasi pemerintah di situ, hidup di wilayah konflik dan yang masih menganut agama leluhur. Ada masyarakat adat yang lahir hingga mati tidak pernah jadi warga negara Indonesia. Hitungannya ada dua juta wajib pilih yang pada pemilu lalu tidak bisa memilih karena persoalan KTP.

Persoalan NIK ini sebenarnya bukan di masyarakat adat saja, di kota besar banyak yang tidak punya NIK karena ini bagian dari persoalan yang sudah menahun. Ini kesalahan administrasi. Ada layanan yang tidak benar-benar mengcover masyarakat Indonesia.

Sekali lagi kita ingin meletakkan substansi bahwa vaksin adalah hak mendasar warga negara, maka administrasi kependudukan atau administrasi apapun tidak boleh menyandera warga negara untuk menikmati haknya. Jadi secara prinsipil, NIK itu tidak perlu jadi persyaratan  mendapatkan vaksin. Bahkan di situasi darurat, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan kedaruratan, jangan paksakan pakai NIK. Sekarang yang terjadi justru bertentangan dengan apa yang disampaikan pemerintah dengan target dua juta vaksin per hari tapi tidak ada realisasinya.

Saran kami mulai dari pemerintah pusat hinga daerah yang punya otoritas menjadi jembatan antara negara dan masyarakat. Gunakan otoritas untuk mengelurkan kebijakan yang berpihak seperti di level terendal ada kepala desa yang bisa mengeluarkan daftar by name by addres untuk pencepatan dan menjangkau tempat-tempat yang sulit.

Pemerintah tidak melihat bahwa yang membuat kita bertahan sebenarnya adalah partisipasi  masyarakat adat dan warga umum yang gotong royong. Partisipasi ini tidak dihargai pemerintah. Sehingga mau vaksin tidak bisa karena tidak mempunyai NIK.

Belum lagi masyarakat yang kena hoaks karena mereka tidak mau mendengar karena pemerintah tidak memberi contoh baik misal tidak boleh berkerumun tapi pejabat negara sendiri yang berkerumun.

Apakah masyarakat adat juga termakan hoaks terkait dengan pandemi dan vaksin?

Iya, semua karena di masyarakat adat mereka percaya informasi itu benar adanya. Jadi ketika dalam situasi dimana tidak ada informasi yang betul-betul disampaikan pememerintah, orang tidak bisa mengambil dan memilah informasi mana yang benar dan tidak. Informasi yang sampai di masyarakat  mana yang hoak dan bukan itu tidak jelas. Masyarakat di kota yang punya akses informasi saja banyak yang termakan hoaks, apalagi di masyarakat adat. Informasi itulah yang dianggap benar.

Ada banyak alasan yang mengatakan dari lahir sampai tua tetap sehat, takut jarum suntik. Ada juga yang takut karena hoaks kalau divaksin akan berubah menjadi buaya atau beruang. Banyak masyarakat yang tidak punya filter jadi semua dipercaya. Ini memang lucu tapi sungguh terjadi.

Sejauhmana upaya yang dilakukan agar masyarakat adat tidak menolak divaksin?

Di AMAN  mencari orang yang bersedia divaksin. Dan saat ini kita punya angka 500 ribu. Ini yang bisa kita dapatkan dalam situasi keterbatasan. Kami sempat diskusi dengan dokter ahli dan atusisme terhadap vaksin tinggi sekali. Baru dua hari sudah masuk data 400 ribu, tapi ketika kita mulai mengumpulkan data lagi, mulai banyak kasus KIPI yang parah, dan yang terakhir dan menjadi pukulan terberat itu ketika Mamah Alit, istri Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi Sugriana meningal setelah beberapa hari vaksin. Vaksin kemudian dijadikan kambing hitam. Apapun yang demam hingga meninggal dianggap karena vaksin. Ini terjadi karena dari awal masyarakat tidak pernah disiapkan dan tidak tersosialisasi dengan baik misalnya, screening kesehatannya mana yang bisa di vaksin dan tidak.

Di masyarakat adat perlu dipastikan kenapa pemerikasaan kesehatan itu penting karena kita sedang membangun benteng pertahanan membangun perisai dengan melindungi tetua-tetua adat yang bisa jadi punya penyakit. Mereka itu orang yang paling berharga bagi masyarakat adat.

Jadi pemeriksaan di kampung-kampung itu penting supaya selain mempermudah juga punya security dan pendampingan pasca vaksinasi. Di beberapa tempat kita dapat laporan banyak yang sakit pasca vaksin dan tidak ditangani dengan baik, harus mencari upaya sendiri untuk memulihkan diri.

Harapan surat terbuka dari AMAN dan koalisi yang ditujukan kepada presiden?

Karena kita sadar dan itu harus ditandatangani presiden. Presiden yang harus bertindak karena kita tidak bisa menyampaikan ini sebagai masalah sektoral. Kita harus mengulurkan tangan karena kita lihat kapasitas sistem kesehatan kita sudah kolaps.

Kami ingin memastikan suara masyarakat adat dan kelompok marginal itu tersampaikan dan didengar. Ini saatnya kita gotong royong. Mudah-mudahan presiden mendengar dan bisa segera sadar bahwa ada situasi  darurat dan masyarakat adat sebagai penjaga alam perlu dilindungi.

Banner Image : Warga Kajang dan Kalluppini (Foto: Istimewa)/ diambil dari website umcpress.id

Keberagaman budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan di Indonesia terbingkai dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat adat menjadi salah satu elemen kemajemukan Nusantara. Sekitar 70 juta masyarakat adat, yang terbagi dalam 2.371 komunitas adat, tersebar di 31 provinsi Tanah Air.

Persebaran Masyarakat Adat di Indonesia. Infografis : AMAN

Namun, masyarakat adat belum sepenuhnya mendapat jaminan perlindungan hak untuk hidup dan mengelola penghidupannya. Praktik perampasan lahan masyarakat adat untuk kepentingan tambang dan perkebunan terus terjadi. Masyarakat adat yang mencoba untuk mempertahankan lahannya malah dikriminalisasi. Tak cukup di situ, mereka juga kerap dikambinghitamkan karena dituding melakukan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Menurut data dari IPB University, setidaknya terdapat 17,4 juta hektar penguasaan tanah oleh korporasi berada dalam kawasan hutan pada 2017. Sementara itu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, luasan konsesi tambang hingga 2019 mencapai 19.224.576 hektar. Sebanyak 77 persen dari luasan tersebut adalah konsesi ilegal.

Kondisi itu diperburuk dengan minimnya pengakuan hak teritorial masyarakat adat. Menurut AMAN, hanya 109 produk hukum daerah yang telah menerbitkan peraturan daerah terkait pengakuan masyarakat adat sejak 7 tahun terakhir. Sampai saat ini, pemerintah pusat seakan bergeming mengakui hak, identitas, maupun ruang hidup masyarakat adat. Pengesahan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat pun belum juga terwujud.  

Untuk mengulik jalan terjal memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, The Society of Environmental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan Sumarni Laman pada Selasa 3 Agustus 2021. Perempuan asli suku Dayak ini dikenal aktif memperjuangkan hak-hak masyarakat adat yang kerap dilanggar atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Tak hanya itu, sosok anak muda ini juga bergabung komunitas Ranu Welum http://www.ranuwelum.org/#homey yang bergerak memadamkan api saat bencana kebakaran hutan dan lahan terjadi di Palangka Raya.

Sumarni Laman, perempuan asli Suku Dayak yang aktif memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Foto: istimewa

Sebagai perempuan Dayak, bagaimana Anda memaknai peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional?

Maknanya dalam, ini momentum pengakuan dunia. Saya berharap ini menjadi momen refleksi bagaimana negara memperlakukan masyarakat adat. Saya juga memaknainya sebagai momen kita berjuang mendapat pengakuan hak, identitas, sekaligus melestarikan budaya kita.

Bagaimana masyarakat adat memaknai hidup dengan alam dan hutan?

Hampir di semua daerah, masyarakat adat memiliki penghidupan dengan alam. Bagi kami, alam adalah tempat yang menyediakan makanan, air, bahkan sumber penghidupan. Ada timbal balik antara kami dan alam. Kami hidup berdampingan dengan alam, artinya kami mengambil secukupnya apa yang alam sediakan, lalu kami merawatnya kembali.

Bisa diceritakan bagaimana kondisi masyarakat adat di Kalimantan saat ini?

Tidak bisa digeneralisasi. Di Indonesia ada ratusan suku, substratnya saja ada 400. Sementara suku besarnya ada tujuh. Pada era Soekarno, Soeharto hingga Jokowi, di Kalimantan terdapat banyak izin perusahaan yang diberikan untuk konsesi pengelolaan. Sebagian perusahaan merambah hutan yang menjadi bagian kepemilikan masyarakat adat. Hal itu memicu konflik yang membuat kami mendapat penindasan.

Kami bertanya-tanya, kenapa pemerintah dengan mudahnya memberikan tanah kepada perusahaan? Padahal tanah tersebut merupakan bagian dari hak masyarakat adat. Sebelum Indonesia merdeka, orang pertama yang tinggal di pedalaman adalah masyarakat adat. Semestinya kami punya hak dan kebebasan untuk mengelola sekaligus menjaga ekosistem alam.

Ketika perusahaan masuk territorial yang menjadi wilayah masyarakat adat, kemudian diprivatisasi, dikomersialisasi, dan komodifikasi. Banyak stakeholder berkepentingan di wilayah masyarakat adat karena jadi sumber uang.  Saya contohkan, di wilayah Barito saja ada 100 tambang batu bara. Masyarakat diambil tanahnya, mereka kehilangan penghasilan, dan hutan yang merupakan sumber penghidupan dirampas. Hak masyarakat adat hilang.

Upaya yang sudah dilakukan untuk menjaga hutan dari perampasan?

Banyak yang sudah dilakukan. Kami melakukan protes ke pemerintah. Kami melakukan advokasi di lingkaran masyarakat adat. Kami memberikan edukasi kepada masyarakat adat untuk mempelajari kembali fungsi hutan untuk mereka. Masih banyak yang belum sadar bahwa hutan kami dijajah.

Kami juga melakukan dialog dengan DPRD, gubernur, hingga advokasi ke tingkat internasional dan memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat. Kami memperjuangkan teritorial kami. Ketika itu diakui, maka hutan sebagai ruang hidup kami juga mendapatkan pengakuan. Jadi orang luar tak bisa lagi mengklaim wilayah masyarakat adat.

Apa saja tantangan masyarakat adat untuk bertahan hidup saat menyempitnya ruang hidup?

Menyempitnya ruang hidup itu tantangan. Hutan itu buat masyarakat tempat mereka hidup. Ketika hutan diambil, maka sudah jelas hutan akan hilang. Sementara kita tahu, di desa lapangan pekerjaan susah, masyarakat yang cari buah, rotan, karet tidak lagi mudah mendapatkan akses. Itu salah satu yang mencekik masyarakat adat di daerah. Selain itu kebijakan yang top bottom approach, dengan membuat peraturan seenaknya tanpa mempedulikan masyarakat adat. Dari itu, satu satunya harapan adalah hutan.

Tantangan lain adalah ketika kami dijadikan kambing hitam karena dituding membakar lahan. Padahal kami sejak dulu membuka lahan dengan cara membakar. Tentu saja pembakaran yang kami lakukan berbeda, kami punya langkah, ada batasan, dan aturan dalam membakar lahan untuk kebutuhan pertanian. Tanpa adanya lahan pertanian, kami tidak bisa menanam sayur. Lalu dari mana kami bisa makan? Pertanian bagi masyarakat adat merupakan hal yang esensial.

Selain itu, apalagi tantangan yang dihadapi?

Kami pernah mendapat stereotipe. Dulu, kalau punya nama orang Dayak pasti susah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, media nasional kerap membuat stereotipe dengan membangun image aneh tentang masyarakat Dayak. Saya dulu sering diperlakukan seperti itu saat berkunjung ke kota. Kami juga mendapatkan perlakuan rasisme. Masyarakat Papua juga sering mendapatkan itu.

Ini bukan tanggung jawab pemerintah saja. Ini merupakan perubahan pola pikir. Diskriminasi masyarakat adat juga masih sering terjadi. Di Mentawai, masyarakat adat menggunakan tato sebagai identitas. Namun, ketika mereka mencoba untuk mendaftar sebagai calon polisi atau bersekolah, ada aturan tak boleh bertato. Ketika punya tato, maka tidak akan bisa sekolah. Maka dari itu dibutuhkan pengakuan masyarakat adat dari aspek budaya maupun hak-hak lain.

Bagaimana negara dapat memberikan jaminan perlindungan dan hak-hak masyarakat adat yang mayoritas tidak memiliki dokumen administratif, seperti KTP, sertifikat tanah, dan hal lainnya?

Membuat KTP kan harus ada surat lahir. Lalu ada kolom agama di dalamnya. Selain itu untuk membuat KTP harus punya akta lahir sedangkan di masyarakat ada banyak orang terdahulu tidak punya akta kelahiran. Orang tua tidak punya buku nikah. Tidak mungkin kan ada KTP saat lahir. Jadi untuk membuat KTP ketika tak ada buku nikah maupun akta kelahiran akan kesulitan mendapatkan KTP.

Pandemi Covid-19 merupakan hal baru yang dialami oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga masyarakat adat. Bisa dijelaskan bagaimana masyarakat adat bertahan hidup di tengah pandemi?

Kami bisa bertahan hidup saat pandemi.  Ketika lockdown diterapkan di daerah-daerah, orang kota heboh karena khawatir nggak bisa punya aktivitas. Untuk masyarakat adat, saat penutupan, oke saja. Kami masih bisa mencari makan di hutan.

Ada kesulitan selama bertahan hidup di tengah pagebluk?

Beberapa daerah jelas ada. Ketika hendak pergi ke hutan, terkadang aksesnya dilarang. Akibatnya, masyarakat adat susah makan. Masih banyak masyarakat adat yang dibatasi untuk pergi ke hutan.

Bicara soal penghidupan. Tidak sedikit lahan masyarakat adat dirampas untuk perkebunan. Bagaimana tanggapan Anda?

Itu harus dilawan, saya tidak pernah menolak pembangunan ekonomi, namun segala sesuatu yang dilakukan harus dengan cara tidak menindas hak asasi manusia. Tidak dibenarkan melakukan itu demi pertumbuhan ekonomi. Hak kami dirampas agar pemilik modal mendapatkan cuan. Kami tidak bisa diam diri. Itu harus dilawan.

Maksudnya disiksa?

Hal itu terjadi pada kasus masyarakat adat Kinipan. Di Papua juga banyak kejadian seperti itu. Saya juga memantau bagaimana kasus di Gunung Karito, Barito. Banyak lagi kejadian penyiksaan dan penindasan yang tak muncul di pemberitaan.

Bentuknya seperti apa?

Dibunuh, ada dipenjarakan, dikriminalisasi. Ada juga yang disiksa dan ditangkap. Masih banyak lagi peristiwa lain yang terjadi.

Anda juga terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bagaimana awal mula Anda terlibat dalam kegiatan tersebut?

Saya sudah ikut memadamkan api sejak umur 6 tahun. Di tempat saya tinggal, Palangka Raya, sering dilanda kebakaran. Satu sisi, saat itu tak banyak tetangga karena hanya ada beberapa rumah saja. Mau tidak mau harus memadamkan api sendiri. Saya mulai ikut Gerakan pemadaman di Youth Act Kalimantan. Saya menjadi koordinator organisasi itu, anggotanya kebanyakan anak muda yang mau terlibat langsung. Pada 2019 lalu, terjadi kebakaran hebat selama enam bulan. Kami mulai melakukan kerja sama dengan tim pemadam kebakaran lokal, kami mencoba untuk menarik selang dan angkat mesin. Dari sana kami terlatih.

Kalau masyarakat adat, bagaimana cara mereka mitigasi kebakaran?

Buat sekat kanal kecil yang mengelilingi lahan. Saat membakar lahan pertanian, masyarakat adat membuat kanal yang difungsikan agar api tidak menyebar. Kanal tersebut diisi air, lalu lahan gambutnya dibasahi. Saat ada api, masyarakat adat akan memukul api tersebut dengan menggunakan ranting atau langsung menyiramnya dengan air yang ada di sekat kanal.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk melakukan penanganan (Karhutla)?

Perempuan berjuang karena ingin melindungi. Saya tersentuh ketika karhutla terjadi, ada nenek mencuci masker bedah satu bulan sekali. Dia tidak tahu bahwa masker itu satu kali pakai. Kalau pun membeli, harganya mahal. Selain itu saya tersentuh dengan seorang bayi usia 3 bulan, yang baru lahir sudah menghirup asap. Ada juga peristiwa bapak-bapak kehilangan lahan kebun yang dia tanam dalam sekejap. Padahal kebun itu ditanam sudah bertahun-tahun. Hal itu yang membuat saya terdorong untuk terlibat dalam penanganan karhutla. Saya seperti merasa ada ikatan emosional dengan tanah. Masyarakat adat itu memiliki ikatan emosi dengan tanah dan teritorialnya.

Selain terjun langsung memadamkan api di lahan, apa saja aktivitas lain Anda untuk atasi karhutla?

Saya bergabung dengan organisasi Ranu Welum, organisasi anak muda masyarakat adat. Mereka punya gerakan dan film festival tentang isu kebakaran dan bagi-bagi masker. Kami juga melakukan kampanye bahaya p.m 25. Masih banyak yang belum aware tentang partikel tersebut. Kami juga membuka sekolah rumah aman asap dan menggunakan sosial media untuk kampanye karhutla.

Sebagai anak muda, apa yang bisa disampaikan anak-anak muda di Indonesia dalam melihat masyarakat adat, ruang, hidup, dan karhutla?

Pada 20-30 tahun ke depan, kita akan alami krisis iklim besar.Tahun ini saja ada ribuan bencana alam hidrologi terjadi. Semua itu karena perubahan iklim dan akibat deforestasi hutan. World Bank menyatakan sebanyak 80 persen biodiversitas ada di kawasan masyarakat adat. Saya pikir dengan kearifan lokal dan pengelolaan tradisional, kita akan mampu melindungi keanekaragaman itu. Menjaga hutan merupakan solusi mengatasi krisis iklim.

Bagaimana mengajak anak muda untuk memperhatikan isu masyarakat adat dan karhutla?

Harus tahu apa manfaatnya memperjuangkan masyarakat adat. Seseorang yang merasa tak menyukai hal tersebut tentu saja sulit untuk turun tangan. Ketika sudah terbentuk rasa suka itu, maka selanjutnya melakukan advokasi dan edukasi dengan memberikan pemahaman tentang masyarakat adat serta kebakaran hutan dan lahan.  

Anda mengatakan akan terus berjuang, sampai kapan itu dilakukan?

Di dunia ini banyak hal yang harus diperjuangkan, meski saya tahu perlahan mulai berguguran. Perjuangan untuk melindungi masyarakat adat bukan jalan yang dipilih banyak orang. Ketika punya panggilan, maka itu akan membuatmu terus berjuang. 

Kunjungi Masyarakat Adat di Indonesia di https://www.aman.or.id/

Banne Image : Sumarni Laman (23) ikut terjun menjadi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengan. Foto: dokumentasi pribadi/Sumarni Laman

Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksin Bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan meminta pemerintah membuka akses vaksin tanpa birokrasi rumit.

Hal ini disampaikan dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial, Kapolri, Menteri Hukum dan HAM, Kepala Dinas PPPA, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kumham, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Kepala Dinas Kesehatan, di seluruh Indonesia.

15 anggota Koalisi ini melihat bahwa upaya vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok bisa terhambat Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 10/2021 Pasal 6 Ayat 3 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi. Peraturan ini mewajibkan adanya Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai syarat bagi warga negara untuk mengikuti program vaksinasi.

Persyaratan adanya NIK, by name by address, tersebut telah menyulitkan masyarakat adat dan kelompok rentan. Seperti kita ketahui bersama, tak sedikit masyarakat adat, kelompok disabilitas, anak-anak yang berada di panti asuhan, lansia, tunawisma, yang tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan.

Ada banyak penjelasan tentang mengapa masyarakat adat dan kelompok rentan sebagian tidak memiliki NIK, mulai dari hambatan birokrasi, infrastruktur penunjang, sampai mungkin adanya hambatan kultural. Kita berdiskusi panjang-lebar mengenai penyebab ketiadaan akses NIK bagi masyarakat adat dan kelompok rentan.

Namun, di masa pandemi dan terutama di saat merebaknya Virus Corona Varian Delta yang mengganas, belum ada langkah diskresi dari pemerintah untuk melakukan terobosan, yakni dengan mengganti persyaratan NIK dengan surat keterangan yang ditandatangani oleh RT, RW, kepala desa, kepala adat, atau organisasi tempat seseorang bernaung.   

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) memperkirakan ada 40-70 juta jiwa masyarakat adat tersebar di Indonesia, 20 juta jiwa dari mereka telah menjadi anggota AMAN. Dari jumlah tersebut, dalam data AMAN, per 21 Juli 2021, baru 468.963 orang yang mendaftarkan diri untuk vaksinasi; sekitar 20 ribu  dari mereka sudah mendapatkan vaksinasi tahap pertama. Keterbatasan akses vaksinasi dan ketiadaan NIK menjadi kendala utama rendahnya pendaftar.

Negara berkewajiban untuk menyediakan layanan kesehatan bagi seluruh penduduk, termasuk akses pemberian vaksin dalam rangka percepatan penanganan pandemi COVID-19. Bagi masyarakat adat yang tinggal di pedalaman atau pulau terluar, kewajiban memiliki NIK menjadi sandungan signifikan untuk bisa menjangkau program vaksinasi pemerintah.

Masyarakat adat bukanlah kelompok rentan. Mereka bisa hidup mandiri dan selama ini telah menjaga keharmonisan dan kelestarian alam, serta keragaman hayati di daerah-daerah terdalam dan terluar Indonesia. Wilayah-wilayah adat selama ini adalah lumbung pangan Indonesia, wilayah adat pula yang menjadi jantung yang memperlambat efek perubahan iklim.

Pada awalnya, lokasi yang terpencil dan relatif terisolasi, kehidupan mandiri, dan kearifan lokal membuat masyarakat adat relatif aman dari Covid-19. Namun seiring perkembangan varian virus yang lebih dahsyat dan mudah menular, pertahanan masyarakat adat mulai jebol.

Peningkatan angka positif Covid-19 Masyarakat Adat yang cukup signifikan, menurut AMAN, terjadi di kawasan Aru Kayau, Kalimantan Utara; Lamandau, Kalimantan Tengah; Tana Toraja dan Toraja Utara, Sulawesi Selatan; Sigi, Sulawesi Tengah; dan Kepulauan Aru, Maluku. Ada beberapa kasus klaster keluarga yang meninggal pada saat isoman karena fasilitas dan layanan kesehatan yang jauh dari jangkauan. Namun demikian, detail jumlah yang positif belum ada karena test and tracing tidak berjalan baik di wilayah-wilayah terpencil.

Mengingat peran penting dalam menjaga biodiversitas dan lumbung pangan, masyarakat adat perlu dilindungi. Kerusakan pada masyarakat adat dan daerah yang menjadi ruang tinggal masyarakat adat pada akhirnya akan berbahaya bagi seluruh wilayah Indonesia.

Persyaratan NIK untuk vaksin juga menjadi persoalan bagi kelompok rentan dalam berbagai bentuk. Kelompok disabilitas, anak-anak dalam berbagai kondisi yang tak memiliki akta kelahiran, lansia, transpuan, tunawisma, misalnya, kerap tidak memiliki NIK. Jika keberadaan KTP dijadikan persyaratan vaksin, by name by address, maka kelompok marjinal akan mengalami risiko tak tersentuh akses vaksinasi dan ini membahayakan keseluruhan upaya penanganan pandemi.

Koalisi juga meminta perhatian pemerintah bahwa kelompok rentan cenderung tidak memiliki akses layanan kesehatan memadai karena berbagai hal. Akibatnya, riwayat kesehatan, keberadaan status komorbid, tidak sepenuhnya diketahui. Karenanya, pemerintah juga perlu menyediakan fasilitas pengecekan pre-vaksin untuk mengetahui kondisi komorbid calon penerima vaksin.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksinasi bagi Masyarakat Adat dan Kelompok Rentan, juga mendesak pemerintah segera untuk melakukan langkah-langkah strategis :

1.Memberikan diskresi bagi masyarakat adat, penyandang disabilitas dan kelompok anak tanpa akta agar mendapatkan vaksin meski tanpa NIK. Koalisi ini menyadari bahwa NIK adalah tertib administrasi yang dibutuhkan, namun mengingat gentingnya situasi pandemi, Koalisi mendesak pemerintah untuk membuat terobosan.

2.Mendorong agar  surat keterangan dari ketua adat, RT/RW, kepala desa, atau organisasi yang menaungi sebagai pengganti NIK dan dikukuhkan lewat surat edaran kementerian terkait. AMAN dan organisasi yang bergabung dalam Koalisi ini bersedia membantu pemerintah dalam penyediaan data dan surat keterangan yang dibutuhkan masyarakat adat, penyandang disabilitas, dan anak-anak.

3.Mendorong edukasi dan sosialisasi yang konstruktif, mudah didapat, dan mudah dipahami terkait COVID-19 dan program vaksinasi, termasuk aktif meluruskan sejumlah kabar bohong/hoaks yang berkaitan dengan dua hal tersebut.

4.Memastikan tersedianya fasilitas pemeriksaan kesehatan awal untuk masyarakat adat dan kelompok rentan termasuk anak, sebelum mendapatkan vaksin. Memastikan adanya layanan kunjungan ke rumah atau lokasi tinggal kelompok disabilitas, panti-panti atau sarana transportasi penjemputan ke lokasi fasilitas kesehatan terdekat.

5.Mendefinisikan kelompok rentan yang menjadi prioritas vaksinasi sesuai standar WHO dan memprioritaskan vaksinasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat adat dan kelompok rentan di seluruh provinsi Indonesia.

6.Memberikan pelatihan orientasi bagi para relawan yang akan memberikan layanan vaksinasi massal, terutama tentang etika berinteraksi dengan kelompok disabilitas dengan melibatkan organisasi penyandang disabilitas.  

Banner Image : diambil dari situs greeners.co