Isu perubahan iklim sudah lama digaungkan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan di media yang kurang “membumi” menjadikan isu ini sulit dipahami publik.

Di sisi lain, media memainkan peran sangat penting dalam menyampaikan informasi tentang perubahan iklim. Jurnalis yang bekerja meliput perubahan iklim harus mampu menemukan dan menuliskan cerita dengan baik.

Beberapa kiat singkat ini dapat menjadi panduan untuk menemukan dan menulis cerita yang lebih baik, serta cara meliput aspek-aspek spesifik perubahan iklim.

1. Ikuti aliran dananya.

Perubahan iklim adalah cerita tentang ratusan miliar dollar. Dimana uang yang digunakan untuk adaptasi dan mitigasi? Siapa yang mengendalikannya? Siapa yang membelanjakannya? Siapa yang mengawasi penggunaannya? Siapa yang mendanai LSM dan politisi? Perusahaan mana yang diuntungkan dari tindakan mengatasi perubahan iklim? Siapa yang akan dirugikan?

Hal lain untuk perhatian media adalah apakah negara-negara kaya menepati janjinya untuk mendanai aksi iklim di negara berkambang, dan apakah dana tersebut benar-benar ‘baru dan tambahan’ dan bukan dari anggaran bantuan dana yang ada. Juga akan ada perdebatan besar tentang seberapa besar pembiayaan iklim harus berasal dari pembiayaan publik dan seberapa besar harus berasal dari sektor swasta (yang kemungkinan tidak akan menunjukkan minat dalam pembiayaan proyek adaptasi skala kecil yang diperlukan karena mereka menawarkan sedikit peluang pengembalian dalam investasi apa pun). Ikuti aliran danaya dan Anda akan menemukan semua elemen dari suatu cerita yang bagus. Ada beberapa contoh laporan dari Fiji151, dan Filipina152 yang melihat keterlambatan pencairan Green Iklim Fund (GCF) dan kebijakan tentang pencarian GCF yang akan memiliki kontribusi positif bagi penduduk asli.

2. Melokalkan isu global.

Setiap hari para ilmuwan memublikasikan penelitian baru, pembuat kebijakan membuat pengumuman baru, para pegiat lingkungan mengeluarkan tuntutan baru dan pola cuaca aneh terjadi. Bahkan jika hal-hal ini terjadi di tempat jauh, para jurnalis yang cerdas dapat mencari cara untuk mengaitkan cerita-cerita ini dengan keadaan dan audiensi tempat mereka sendiri.

Misalnya di Indonesia, para jurnalis menggunakan media multi-platform dengan teknologi digital untuk menyajikan isu-isu perubahan iklim dengan cara yang menarik.

Para jurnalis dan kontributor di berbagai kota dapat menyumbangkan cerita dalam berita khas (news feature) untuk menuliskan  lingkungan dan peran yang diinisiasi dan dilakukan individu atau komunitas lokal dalam melestarikan alam. Ini menjadi cara efektif untuk mengomunikasikan perubahan iklim kepada khalayak yang lebih luas.

3. Pakai kacamata perubahan iklim dan meliput dari sudut pandang baru.

Untuk setiap kebijakan baru, penemuan batu, apa pun yang baru, amati dengan lensa perubahan iklim Anda dan ajukan dua pertanyaan; “Bagaimana X dapat mempengaruhi perubahan iklim?” dan “Bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi X?” Anda akan menemukan banyak sudut pandang baru untuk pelaporan Anda. Sudut-sudut ini meliputi kesehatan, bisnis, teknologi, makanan, budaya, olehraga, pariwisata, agama, politik – malah, hampir semua hal lainnya.

4. Ikuti jaringan.

Terus ikuti cerita perubahan iklim dengan membaca karya para jurnalis lain yang meliputnya dengan baik ( misal beberapa kisah hebat di IPS, Reuters AlertNet, The Guardian, The New York Times dan BBC, reporter meliput perubahan iklim untuk media nasional di seluruh dunia).

Gunakan media sosial seperti Facebook, Instagram atau Twitter untuk mengetahui apa yang dikatakan orang tentang perubahan iklim dan berbagi cerita Anda sendiri.

The Climate News Network (Jaringan Berita Iklim) menawarkan cerita yang para jurnalis dapat adaptasi untuk mereka gunakan. (http://www.iklimnewsnetwork. net/).

5. Baca jurnal.

Penelitian yang paling penting dan signifikan muncul dalam jurnal seperti Nature Climate Change, Geophysical Research Letters, Nature, Science, PNAS, Climatic Change. Anda dapat melacak penelitian baru dengan berlangganan milis jurnal – melalui layanan siaran pers EurekAlert dan AlphaGalileo gratis.

Jurnal cenderung hanya tersedia untuk pelanggan berbayar tetapi para jurnalis dapat memperoleh salinan dengan melakukan pencarian dalam Google Scholar (http://scholar.google. com) untuk file PDF atau dengan mengunjungi situs web jurnal tersebut untuk makalah tertentu. Situs web akan sering menampilkan alamat email penulis utama, yang biasanya akan bersedia mengirimkan salinan makalah kepada jurnalis dan menjawab pertanyaan.

Cara lain, memulai membuat catatan kontak para ahli dengan mencari di Internet untuk makalah ilmiah terbaru tentang topik tertentu.

6. Tetap mengikuti perkembangan dan arus informasi, negosiasi internasional melalui jejaring atau melalui forum untuk para editor dan jurnalis seperti The Conversations.

7. Menjalin hubungan.

Seorang jurnalis perlu banyak narasumber. Perubahan iklim merupakan hal yang berdampak terhadap semua orang. Para jurnalis dapat membuat daftar kontak narasumber dari berbagai sektor yang berbeda, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Para narasumber tersebut termasuk: pembuat kebijakan, organisasi antar pemerintah, badan PBB, organisasi masyarakat sipil dan pusat penelitian. Beberapa narasumber terbaik tidak berasal dari organisasi tetapi dari masyarakat umum, seperti petani dan nelayan, penggembala dan pemilik usaha kecil. Hanya segelintir orang yang tahu lebih banyak tentang perubahan iklim dibanding mereka yang mata pencaharian paling terpengaruh.

Para jurnalis dapat bergabung dengan milis seperti Climate-L (http://www.iisd.ca/ email/subscribe.htm), tempat ribuan ahli iklim berbagi laporan dan informasi terkini mereka tentang peristiwa perubahan iklim. Untuk informasi tentang negosiasi perubahan iklim PBB para jurnalis dapat berlangganan Earth Negotiations Bulletin (http://www.iisd.ca/ process/iklim_ atm.htm).

Disadur dari Buku Menyampaikan Pesan Meliput Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Asia dan Pasifik: Buku Panduan untuk Jurnalis

Silakan unduh versi lengkap di https://siej.or.id/pustaka/

Banner Image : istimewa / Dokumentasi kegiatan field trip “From Ridge to Reefs” yang diselenggarakan SIEJ

Laporan terbaru berjudul Do Not Revive Coal, yang diterbitkan lembaga Think Tank Carbon Tracker Initiative menyebutkan, Indonesia dan empat negara lainnya menjadi ancaman gagalnya Perjanjian Paris (Paris Agreement) untuk menjaga kenaikan temperatur global abad ini di bawah 2 derajat Celcius dan mendorong upaya membatasi kenaikan suhu kurang dari  1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Selain Indonesia, ancaman tidak tercapainya target Perjanjian Paris ini berasal dari Jepang, Indonesia, India, Vietnam, dan Tiongkok.

Dalam laporan tersebut, alasan utama ancaman gagalnya Perjanjian Paris adalah persoalan rancangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dimana kelima negara ini berencana membangun 600 PLTU batu bara baru dengan total kapsitas melebihi 300 gigawatt (GW). Atau sekitar 80 persen dari porsi batu bara baru global.

Indonesia sendiri masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan penggunaan PLTU batu bara ini. Di mana kapasitasnya mencapai 45 GW dan 24 GW pembakit baru sudah direncanakan untuk dibangun.

Kelima negara ini mengoperasikan 3/4 PLTU yang ada di seluruh dunia. Sebanyak 55 persen adalah negara Tiongkok dan 12 persen adalah India. Sekitar 27 persen kapasistas PLTU batu bara global tidak dapat menghasilkan keuntungan, dan 30 persen hampir mencapai titik breakeven.

Temuan fakta berdarkan laporan Do Not Revive Coal tersebut, di masa depan biaya operasi PLTU dinilai akan lebih mahal dibandingkan dengan energi bersih terbarukan.

Head of Power and Utilities Carbon Tracker, Catharina Hillenbrand Von Der Neyen dalam keterangan tertulisnya melalui Yayasan Indonensia Cerah mengatakan, laporan itu mengungkapkan 92 persen proyek PLTU baru yang direncanakan secara ekonomis tidak menguntungkan. Selain itu, dana perkiraan investasi pembangunannya mencapai 150 triliun US Dollar bakal terbuang sia-sia walaupun dalam keadaan business as usual (BAU).

“Investor seharusnya menjauhi pembiayaan proyek baru, karena dari awal terproyeksi akan menghasilkan negative return,” kata dia, Rabu (30/6/2021) seperti ditulis Ellyvon Pranita dari Kompas.com.

Sektor energi sendiri memiliki target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 314 juta ton di tahun 2030 mendatang.  Penambahan PLTU batubara ini akan berpotensi mengunci emisi gas rumah kaca selama 40 tahun mendatang, sebab masa operasional PLTU ini berlangsung selama itu.

Adila Isfandiari, selaku Peneliti Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, dalam pemberitaan Kompas.com (30/3/2020) mengatakan, penambahan PLTU batubara ini sangat bertolak belakang dengan komitmen penanggulangan krisis iklim. 

“Jadi sebenarnya tren global sedang berupaya mengurangi jumlah PLTU baru dan mengembangkan energi terbarukan. Kita justru sebaliknya,” kata Adila Isfandiari.

Energi terbarukan ditargetkan akan mengalahkan seluruh tambang baru yang ada pada tahun 2024. PT Pembangkit Listrik Negara (PLN Persero) sendiri masuk ke dalam daftar perusahaan dengan aset yang terancam menjadi aset terlantar dalam skema B2DS (Below 2 Degrees).  Dari 22,529 MW kapasitas, PLN berisiko kehilangan 15,41 miliar USD miliar dari asset terbengkalai dengan patokan B2DS.

Pada tahun 2024, biaya Energi Terbarukan (ET) akan lebih murah dibandingkan pembangkit batu bara di seluruh dunia. Sedangkan, pada tahun 2026, pengoperasian PLTU batu bara yang ada 100 persen lebih mahal dibandingkan pengoperasian ET.

Dengan adanya kompetisi dari ET dan regulasi yang semakin ketat, maka diproyeksikan PLTU batu bara akan semakin tidak menguntungkan.

Jika target Perjanjian Paris tercapai, sekitar  220 triliun US Dollar PLTU batu bara global yang sudah beroperasi beresiko menjadi aset terbengkalai (stranded assets). Sekitar 80 persen PLTU batu bara global yang sudah beroperasi dapat digantikan oleh pembangkit Energi Terbarukan yang lebih hemat biaya.

Dampak buruk PLTU Batubara PLTU batu bara yang tersebar dan beroperasi di Indonesia, melepaskan jutaan ton polusi setiap tahunnya. Dari waktu ke waktu PLTU-PLTU tersebut diyakini mengotori udara yang kita hirup dengan polutan beracun. Adapun, polutan yang dihasilkan bisa berupa merkuri, timbal, arsenik, kadmium dan partikel halus namun beracun, yang telah menyusup ke dalam paru-paru kita. Oleh karena itu, polusi udara atau polutan ini dianggap sebagai pembunuh senyap yang menyebabkan 3 juta kematian dini di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, penyakit yang bisa terdampak dari polutan beracun akibat operasi PLTU batu bara ini seperti risiko kanker paru-paru, stroke, jantung dan penyakit pernapasan. Bahkan, tidak hanya berdampak langsung pada kesehatan manusia saja, sektor lainnya yang dirugikan selain kesehatan adalah pertanian, perikanan, lingkungan dan perekonomian masyarakat.

Artikel ini bersumber dari Kompas.com dengan judul “Indonesia dan 4 Negara Lainnya Jadi Ancaman Gagalnya Perjanjian Paris, Kok Bisa?”

Banner Image : diambil dari situs greenpeace.org

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 12 jam, kendaraan travel yang saya tumpangi tiba di Putussibau. Saya tak ingin perjalanan ini sia-sia. Entah bagaimana caranya. Kali ini harus berhasil bertemu dengan direktur PT. Makmur Pratama Indonesia. 

Persiapan harus matang. Mengatur strategi mencari rumah yang ditinggali direktur perusahaan tambang dan lokasi penambangan itu.

Saya akhirnya berhasil menemukan alamat rumah salah seorang warga dan karyawan PT Makmur Pratama Indonesia. Rupanya, direktur itu menetap di rumah tersebut. Ini jadi target pertama yang harus didatangi.

***

Sepeminum teh kemudian, muncul seorang lelaki renta dari pintu utama. Tanpa mengenakan baju. Hanya bercelana pendek. 

Si karyawan itu mengenalkannya sebagai Direktur Utama PT. Makmur Pratama Indonesia. “Mohon maaf, kalau bicara dengan beliau suaranya agak dikeraskan.” 

Sang direktur ternyata mempunyai gangguan pendengaran. Sesaat muncul keraguan untuk mewawancarainya. Saya tak yakin akan memdapatkan jawaban konsisten dari orang yang mengalami penurunan daya ingat.

Tapi, apa boleh buat. Bagaimanapun kondisinya, dia adalah direktur perusahaan yang diduga kuat terlibat dan bertanggungjawab dalam penyelundupan antimoni. 

Dan benar. Dengan suara terbata, dia membantahnya. Sepertinya untuk yang satu ini perkiraan saya salah besar. 

Jangan pernah meremehkan seseorang dari penampilan dan umur. Itu pelajaran berharga untuk saya.  

Direktur ini dapat menjelaskan kronologis waktu. Pada saat penangkapan, perusahaannya tidak ada pengiriman antimoni apalagi menyelundupkan ke Malaysia. Dia hafal pengiriman terakhir pada 26 Januari 2018 ke PT. Advance Smelting Technologi di Serang, Banten, sebanyak 22.500 Kg atau 22,5 ton.

Dia menegaskan perusahaan yang dikelolanya memiliki izin dan legal sehingga tak  terlibat dalam penyelundupan. Juga meyakinkan tidak ada aktivitas penambangan cukup lama karena minimnya pesanan dan alat berat yang  rusak.

Bantahan terus meluncur dari lelaki renta itu. Termasuk ketika nama Mr Chao saya sebut terlibat kerjasama dengan perusahaannya. “Bukan. Kami tidak mempekerjakan orang asing,” tegasnya.

Saya mencoba tidak menyanggah apapun yang diungkapkan. Sesaat kemudian, saya menunjukkan  dokumen resmi surat Izin Mempekerjakaan Tenaga Asing (IMTA). Di dokumen jelas tertera perusahaannya menjadi penjamin dan mengangkat Mr. Chao sebagai quality control advisor. 

Akhirnya dia mengakui. Meski tetap saja berkelit tak tahu menahu aktivitas warga Tiongkok itu.  

***

Ya, apapun jawaban sang direktur setidaknya saya sudah menemukan lingkaran para pengeruk antimoni di Boyan Tanjung.

Dan rasanya tak lengkap jika saya tidak melihat langsung lokasi penambangan dan aktivitas di tambang itu. 

Untuk keamanan diri, saya tak akan pergi sendiri. Dengan berhitung risiko ketika di lapangan dan pulang dengan selamat, saya ditemani seorang kawan yang membantu dan berjaga. 

Lokasi penambangan antimoni di Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, berada di bagian paling timur dari Provinsi Kalimantan Barat.  Jika dihitung dari Pontianak, butuh menempuh perjalanan darat sejauh 1.000 kilometer. 

Secara geografis, kabupaten ini berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Maka, tidak heran jika wilayah perbatasan rawan praktik penyelundupan. Di wilayah ini, tidak sedikit jalur tikus yang kapan saja bisa digunakan untuk  masuk dan keluar barang secara ilegal. Termasuk antimoni. 

Setelah menempuh perjalanan tiga jam dari ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau, kami tiba di lokasi areal tambang antimoni milik PT. Makmur Pratama Indonesia (MPI). Lokasinya berada di antara pemukiman penduduk Desa Riam Mangelai, Kecamatan Boyan Tanjung. 

Bagi sebagian masyarakat Kapuas Hulu, desa ini memang dikenal dan kerap mendapat sorotan karena maraknya aktivitas pertambangan ilegal, hingga izin eksploitasi pertambangan dan perkebunan.

Padahal jika ditilik lagi, Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten konservasi di jantung Kalimantan. Wilayah yang semestinya penting bagi kelestarian lingkungan.

Memasuki areal pertambangan seperti ini bukanlah pengalaman pertama. Sebelumnya, saya beberapa kali memasuki areal tambang emas ilegal. Tapi tetap saja jantung saya selalu berdegup kencang. Bersiap  berhadapan dengan para pekerja dan atau terusir dengan peringatan. Tapi semua antisipasi sudah dipersiapkan.

***

Kubangan bekas galian tambang milik PT Makmur Pratama Indonesia di Desa Riam Mangelai, Boyan Tanjung, Kapuas Hulu. Lubang tambang itu dibiarkan tanpa pagar pengaman. Foto : Arief Nugroho

Dengan hati-hati kami coba memasuki areal pertambangan. Nampak sepi. Para penjaga dan pekerja yang saya bayangkan sebelumnya bakal menghadang langkah kami pun tak terlihat.  Apalagi datang menghampiri.

Pun dengan menara pantau. Tak ada penjaga. Pabrik atau pun smelter untuk pengolahan dan pemurnian hasil tambang yang saya bayangkan tak ada sama sekali.

Sebaliknya. Di area itu nampak kubangan menyerupai danau berukuran 20-30 meter. Tanpa pagar pengaman. Kedalamannya kira-kira  mencapai belasan meter. 

Tidak jauh dari titik penambangan, terdapat dua unit ekskavator dan bangunan permanen memanjang yang digunakan sebagai bedeng pekerja. Semua sepi. Sudah ditinggalkan pekerjanya.

Ada dua ruangan utama di bangunan itu. Di bagian pertama, dijadikan ruang administrasi, dapur, dan tiga buah kamar yang masing-masing kamar terdapat dua ranjang. Semua berantakan. 

Sementara di bagian lainnya, dijadikan ruangan pengolahan dan laboratorium uji sampel batuan antimoni. Ini dugaan saya setelah melihat peralatan seperti kompor, tabung gas, alat penggorengan, dan beberapa jeriken berisi cairan kimia HCL (Asam Clorida) dan HNo3 (Nittrit Acid).

Di ruang itu, saya menemukan plastik transparan berisi serbuk hitam. Bisa jadi ini hasil pemurnian batuan antimoni karena saat itu saya tidak dapat memastikan sebelum ada hasil uji sampel.

Di luar kemasan juga dilabeli nama lokasi, seperti “Betung” dan “Riam Piyang”. Lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun pengujian sampel.

Antimoni yang dikeruk itu akhirnya dibiarkan tercecer tak bertuan.

Tapi, jauh sebelum kasus penyelundupan antimoni ini mencuat, tambang antimoni seluas 509,7 Ha yang berlokasi di Boyan Tanjung / Riam Mengelai, Kapuas Hulu  pernah ditawarkan di Forum Kaskus untuk dijual senilai Rp 80 miliar.

Iklan di Bulan September 2014 itu bahkan menyertakan IUP kuasa ekplorasi dan izin pengolahan pemurnian, pengangkutan, penjualan dan IUP produksi  tambang PT Makmur Pratama Indonesia yang beroperasi sejak tahun 2009.

Ruang pemurnian bebatuan antimoni yang ditemukan di bedeng PT Makmur Pratama Indonesia. Foto : Arief Nugroho
Sampel bebatuan antimoni setelah dimurnikan di areal tambang milik PT Makmur Pratama Indonesia. Foto : Arief Nugroho

***

Bagi sebagian orang tentu tak paham dan asing dengan kata “antimoni”. Tapi di dunia pertambangan, bebatuan berwarna hitam ini menjadi salah satu primadona yang diincar dan dicari para pebisnis tambang.

Antimoni merupakan unsur dengan warna putih keperakan, berbentuk kristal padat yang rapuh. Zat ini menyublim (menguap dari fase padat) pada suhu rendah. Sebagai sebuah metaloid, antimon menyerupai logam.

Antimoni sangat dibutuhkan dalam industri non makanan. Sebagai bahan baku  membuat beberapa jenis perangkat semi-konduktor, seperti dioda dan detektor inframerah serta peralatan hall-effect

Sebagai sebuah campuran, manfaat yang paling penting dari antimon adalah sebagai penguat timbal untuk batere, campuran antigores, korek api, obat-obatan, pipa, senjata ringan dan tracer bullets (peluru penjejak), pembungkus kabel, dan produk-produk minor lainnya yang digunakan sebagai bahan tahan api, cat, keramik, elektronik, dan karet.

Antimon sulfida alami (stibnit) diketahui telah digunakan sebagai obat-obatan dan kosmetika.

Jadi, antimoni sangat penting dalam perekonomian dunia. Saat ini Cina masih menjadi produsen terbesar antimon dan senyawanya. 

Di pasar internasional, batuan antimoni murni harganya mencapai US$8.000 perton atau sekitar Rp 115 juta (US$1=Rp14.000). Namun ada salah satu sumber menyebutkan, satu kilogram batu antimoni dihargai US$50.00 atau sekitar Rp 700.000 per kilogram. 

Produk ini banyak diekspor ke Turki, Prancis, dan Amerika Serikat. Kalau di  pasar dalam negeri yang banyak menggunakan adalah PT Pindad, perusahaan industri dan manufaktur dalam pembuatan produk militer. 

Antimoni banyak ditemukan di pegunungan yang kaya akan batuan mineral logam.  Kandungan antimoni terbesar berada pada batuan berjenis stibnite, yang merupakan sumber utama dari antimoni.

Ketersediaan mineral metalloid ini sangat besar di Indonesia, dengan potensi ekonomi yang sangat menarik jika dieksploitasi. Produksi antimoni telah dilakukan di beberapa tempat di Indonesia. 

Salah satunya di Kalimantan Barat. Batuan Antimoni yang banyak ditemukan di Kabupaten Kapuas Hulu dijadikan sebagai salah satu produk unggulan.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kalimantan Barat menyebut potensi stock kadar kandungan antimoni mencapai 5 % -20% (lebih kurang 100 ton – kadar permukaan).

Tak heran jika di tahun 2004, Pemda Kalimantan Barat sudah gencar menawarkan potensi sumber daya alam miliknya kepara para investor.  Antimoni menjadi salah satu dari bahan galian produk unggulan yang ditawarkan dalam “Indonesia Solo Exhibition” pertama di Beijing yang di sponsori Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Depperindag kala itu. Selain juga Bijih Besi dan Pasir Kwarsa.

Beberapa pengusaha Cina yang tergabung dalam Beijing Steel Industry & Trade Group Corporation dan Shun Ji Che Internasional Investment, menunjukkan minatnya menjajaki investasi dan perdagangan bahan galian antimoni di  Kapuas Hulu.

Bebatuan antimoni yang berhasil dikeruk di PT Makmur Prataman Indonesia. Foto:Arief Nugroho

***

Namun, perlu diketahui bahwa antimoni dan senyawa-senyawanya adalah toksik (meracun). Secara klinis, gejala akibat keracunan antimon hampir mirip dengan keracunan arsen. Dalam dosis rendah, dapat menyebabkan sakit kepala dan depresi. Bahkan dapat mengakibatkan kematian jika dosisnya tinggi.

Tak hanya itu, cemaran senyawa antimoni yang di atas ambang aman dapat membahayakan tanah dan perairan. Beberapa uji laboratorium terhadap tikus, kelinci, dan marmut yang dilakukan beberapa institusi menunjukkan bahwa tingkat paparan antimoni yang relatif tinggi di tanah dan perairan dapat menyebabkan kematian terhadap hewan tersebut.*n*

***

Tulisan ini bagian dari tulisan berseri Mencari Siapa Pengeruk Antimoni  https://siej.or.id/2021/07/03/cerita-dari-jantung-borneo-1-mencari-siapa-pengeruk-antimoni/

Penulis : Arief Nugroho, Jurnalis Pontianak Post. Koordinator simpul The Society of Indonesian Environmental Journalists SIEJ Kalimantan Barat.

Banner Image : Batuan antimoni yang belum dimurnikan /Foto : Arief Nugroho. 

Hasil liputan ini mendapat beasiswa Jurnalisme Investigasi Berbasis Data, tahun 2019. Karya jurnalistik dimuat di Pontianak Post, dan dapat dibaca di link :  https://pontianakpost.co.id/menelisik-praktik-culas-tambang-antimoni-2/

Cerita tentang antimoni cukup membekas dalam perjalanan saya selama meliput isu lingkungan di Kalimantan. Pulau yang dulu dikenal karena hutan yang lebat dan sumber daya alam melimpah.

Bagaimana tidak, liputan yang satu ini, bagi saya cukup menguras tenaga, waktu dan biaya. Bukan mendramatisir. Bisa jadi ini juga bertaruh nyawa. Berurusan dengan oknum-oknum di bisnis tambang tentu bukan hal yang mudah di hadapi.

Peristiwa itu terjadi tiga tahun silam. Ketika saya menelusuri aktor-aktor di balik penyelundupan berton-ton antimoni di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Batuan tambang yang memiliki senyawa beracun itu dilarikan ke Malaysia secara ilegal.

Semua bermula dari temuan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan yang menangkap sebuah truk pengangkut batuan tambang di sekitar Jalur Inspeksi Patroli Perbatasan (JIPP) di Kecamatan Badau. Ini jalur yang memisahkan Indonesia dan Malaysia.

Kabar penangkapan truk berisi batuan tambang antimoni pada November 2018 itu sempat menjadi headline di media lokal. Termasuk di media tempat saya bekerja. Tapi tak lama. Itu berlalu begitu saja.

Namun, dari sejumlah orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus itu justru tak diusut tuntas.  Hanya satu orang yang waktu itu harus mendekam di rutan. Rasanya tak mungkin jika penyelundupan itu dikerjakan sendiri. Apalagi  perbatasan antar negara harus dilintasi.

Ya, rasa curiga dan penasaran mulai menjangkiti hingga saya ingin menelisik kasus ini agar publik paham banyak praktik ilegal merusak lingkungan di wilayah ini.  Tapi saya juga harus tahu diri bahwa luasan pulau ini seringkali menyulitkan. Tak hanya butuh fisik tapi juga mental dan kantong tebal.

Beruntung, waktu itu saya mendapat beasiswa peliputan investigasi berbasis data. Ini menjadi “darah segar” untuk menindaklanjuti temuan kasus ini meski tak mendapat dukungan dana dari redaksi.

***

Kubangan bekas galian tambang milik PT. Makmur Prtama Indonesia di Desa Riam Mangelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. Lubang tambang itu dibiarkan begitu saja, tanpa ada pagar pengaman. Foto : Arief Nugroho

Untuk menelusuri siapa saja aktor di balik penyelundupan ini, saya tak hanya mengumpulkan banyak informasi dan dokumen. Tapi harus berhasil bertemu dan wawancara dengan orang-orang yang terlibat dalam pusaran antimoni ilegal di Kapuas Hulu.

Dugaan kuat kasus ini bukan kasus biasa. Banyak oknum terlibat. Ada warga sipil, warga asing, oknum TNI, bahkan PT Makmur Pratama Indonesia (MPI), perusahaan tambang yang mengantongi sertifikat CnC dan IUP Operasi Produksi dengan luas area lahan 215 hektare (SK Bupati Kapuas Hulu Nomor 319 tahun 2014).

Dari petugas saya mendapatkan nama-nama. Salah satu yang menjadi saksi kunci, Saparudin alias Udin. Sebut saja namanya demikian. Mantan Kepala Dusun Betung, Desa Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung yang ditahan di Rutan Kelas IIB Putussibau.

Mengetahui Udin ada di Rutan, Saya sempat terpikir ingin menyelinap atau menyamar sebagai pengunjung tahanan agar bisa bertemu . Tapi ini berisiko. Apalagi kami juga tidak saling kenal sebelumnya. Bisa jadi saya justru apes. Informasi tak di tangan dan rencana peliputan buyar.

Butuh waktu beberapa hari untuk memikirkan itu. Jalan terbaik tetap gunakan prosedur yang benar. Apapun hasilnya. Saya memutuskan untuk meminta izin petugas rutan agar bisa bertemu  dan mewawancarai Udin.

Dari pendekatan dan birokrasi belibet. Izin akhirnya saya kantongi dan memilih mendatangi Udin ketika jam besuk tahanan berakhir. Pertimbangan ini agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian penghuni rutan lainnya.

Saya menunggu di ruang besuk yang menyerupai gazebo. Tak lama kemudian, nampak sosok lelaki dari kejauhan muncul. Melangkah pelan. Itu pasti Udin.

Entah apa yang terpikir dalam benaknya saat itu. Bisa jadi dia was-was atau curiga dengan kehadiran orang yang tak dikenalnya. Tapi saya yakin, dia telah mendapat “bisikan” dari sipir jika orang yang menemuinya adalah orang yang ingin mengorek kasusnya.

Saya bersikap senatural mungkin. Menanyakan kabar, mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Yang pasti juga menjelaskan maksud dan tujuan saya menemui pria paruh baya ini.

Gesture tak nyaman bisa saya rasakan. Maklum saja. Mungkin dia berpikir akan diinterogasi layaknya para petugas yang menjebloskan dia ke rutan. Mungkin dia merasa dejavu.

Tapi saya bukan petugas, tentunya tak akan memperlakukan narasumber kunci ini dengan semena-mena. Meski selama sesi wawancara dia selalu menyembunyikan pandangannya. Matanya tertuju ke bawah. Seperti ada rasa takut yang disembunyikan.

“Demi Allah, ini semua gara-gara Mr. Chao,” katanya mengawali cerita dan memberanikan diri untuk menyebut satu nama setelah saya meyakinkan untuk bicara.

Mr. Chao, yang disebut udin adalah warga negara asing asal Tiongkok yang suatu ketika menemuinya dan mengaku sebagai perpanjangan tangan PT. Makmur Pratama Indonesia. Perusahaan tambang antimoni yang beroperasi di desanya.

Udin lantas membeberkan bagaimana awal mula pertemuannya hingga keterlibatan dalam bisnis ilegal itu. Pertimbangan realistis. Dia tergiur nilai rupiah yang bakalan diterima tanpa paham tentang batuan antimoni dan harga jualnya. Tawaran Mr Chao saat itu Rp 4.500 per kilogram.

Tanpa pikir panjang, dia menyetujuinya dan meminta Sabri, salah seorang warganya untuk mencarikan batuan antimoni itu dengan cara menyewa lahan milik Ibrahim. Di lahan itulah batuan yang menjadi campuran bahan peledak itu di tambang.

Batuan antimoni yang sudah dikeruk, disimpan di rumah Udin sebelum diangkut oleh truk-truk dan dibawa pergi. Entah kemana, Udin tak mengetahui lagi. Dia tak memikirkan kemana truk-truk itu membawa antimoni. Yang terpikir dalam benaknya, uang hasil jual beli.

Nyatanya, Udin mengaku belum menerima uang sepeserpun dari Mr. Chao.

Berbekal informasi dari Udin, saya  berencana menemui beberapa orang yang terlibat dalam bisnis ilegal ini.  Dua nama saya kantongi. Termasuk sang direktur perusahaan tersebut.

***

Sejumlah nama yang disebut Udin ternyata mudah ditemui. Salah satunya pemilik lahan yang disewa untuk pertambangan. Ibrahim, pengerajin mebel yang ruko-nya berada di di pinggir jalan. Ibrahim sedikit kaget. Karena sebelumnya sudah ada petugas yang datang mengintrogasinya, dia “hafal” dengan jawaban yang sepertinya sudah disiapkan. Tak tahu menahu soal penyelundupan itu.

Sebagai pemilik lahan, dia  mengaku hanya mendapat kompensasi fee 10 persen dari hasil penambangan itu. Meski sempat melihat lelaki yang diketahui bernama Mr. Chao beberapa kali mendatangi lahan miliknya untuk mengambil sampel batu.

Target selanjutnya menuju Desa Betung, Boyan Tanjung untuk mencari nama-nama lain yang disebut Udin. Tentu saja kedatangan kami disambut dengan puluhan pasang mata yang manaruh rasa curiga. Melihat orang asing yang datang ke kampungnya.

Tapi mereka cukup berbaik hati sehingga saya mendapat petunjuk rumah Sabri. Lelaki perawakan tinggi kurus yang sehari-hari mengurus ladang sepertinya dapat menebak maksud kedatangan saya.

Tak lama kemudian, dari mulutnya meluncur cerita tentang asal mula penambangan antimoni. Nama Mr Chao lagi-lagi disebut dan menjadi orang yang dianggapnya paling bertanggungjawab dalam perkara itu.

Dia mengaku tak mengetahui  jika batuan antimoni yang dikeruknya dan dimasukkan ke dalam truk-truk itu akan  diselundupkan ke Malaysia.

“Mr. Chao yang memulai. Setahu saya, dia mau beli antimoni karena perusahaannya kehabisan stok,” kata Sabri.

Tak puas dengan jawaban Sabri, saya mendatangi PT. Makmur Pratama Indonesia. Perusahaan berlokasi di Pontianak yang diduga kuat menambang di luar wilayah izinnya. Dan  untuk menguatkan dugaan keterlibatan Mr. Chao.

Namun nihil. Alamat kantor yang terletak di Jalan Parit Haji Husein, Pontianak Selatan itu, kosong. Kantor yang lebih layak disebut rumah hunian itu ditinggalkan pemilik yang tak lain adalah direktur utama PT. Makmur Pratama Indonesia.

Saya tak percaya begitu saja. Memantau rumah itu menjadi pekerjaan saya berhari-hari. Dengan harapan, jika si pemilik rumah muncul, saya bisa langsung mewawancarainya. Apalagi nomor ponselnya yang berkali-kali saya hubungi  tak ada balasan.

***

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat informasi, sang direktur itu berada di lokasi penambangan di Desa Riam Mengelai, Boyan Tanjung.

Saya pun bergegas memesan tiket di jasa travel dan kembali menuju Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu.

Bersambung….https://siej.or.id/2021/07/06/cerita-dari-jantung-borneo-2-mencari-siapa-pengeruk-antimoni/

Penulis : Arief Nugroho,  Jurnalis Pontianak Post. Koordinator simpul The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat.

Banner Image : Sampel batuan Antimoni yang belum dimurnikan. Foto : Arief Nugroho. 

Hasil liputan ini mendapat beasiswa Jurnalisme Investigasi Berbasis Data, tahun 2019. Karya jurnalistik dimuat di Pontianak Post, dapat dibaca di link :

https://pontianakpost.co.id/menelisik-praktik-culas-tambang-antimoni-2/

Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) dan Yayasan EcoNusa menggelar Kelas Belajar Journalist Fellowsea “Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data”, sejak Maret 2021 lalu.

Sebanyak 130 jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia mengajukan usulan liputan isu kelautan dan perikaan dan 15 jurnalis di antaranya mendapatkan hibah peliputan  pada April-Mei 2021. 

Ketua SIEJ, Rochimawati mengatakan kegiatan Kelas Belajar Journalist Fellowsea SIEJ-EcoNusa ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas jurnalis dengan topik kelautan dengan pendekatan jurnalisme data. Ini menjadi salah satu isu penting dalam konteks pelestarian lingkungan, khususnya laut.

“SIEJ menaruh perhatian besar terhadap isu kelautan dan perikanan karena butuh upaya besar bagi jurnalis untuk mengeksplorasi isu ini. Belum lagi tingkat kesulitan ketika di lapangan. Kami mencoba memfasilitasi itu,” katanya.

Upaya menjaga dan melestarikan lingkungan itu, ungkap Ochi, terlihat dari beragam topik dan wilayah yang diajukan penerima hibah liputan. Mulai dari isu sampah daratan yang bocor ke sungai hingga mencemari laut, fenomena terdamparnya paus, budidaya udang yang mencemari kawasan pesisir, kegiatan pertambangan dan dampaknya ke masyarakat dan laut, hingga patroli pengawasan ikan yang kelabakan menghadapi pencurian ikan di perairan Natuna. 

“Para peserta berusaha menghadirkan cerita dengan bukti dari data-data terbuka yang mereka dapatkan. Meski ini jadi tantangan tersendiri karena minimnya data terbuka itu,” imbuh Ochi, Kamis, 10 Juni 2021. 

Dalam program ini, peserta mengikuti kelas daring selama 12 jam serta pendampingan setidaknya satu bulan. 

Mayoritas peserta mengakui peningkatan kapasitas berbasis jurnalisme data adalah hal baru. Salah satu penerima hibah, Findamorina Muhtar. Jurnalis beritamanado.com ini mengungkapkan, banyak mendapatkan pengetahuan baru terkait isu-isu kelautan dan perikanan dalam kelas ini. 

“Kami juga dapat materi mengumpulkan, analisis, dan menunjukkan data secara tepat. Isu lingkungan penting karena saat menjaga lingkungan, kita menjaga keberlangsungan hidup manusia,” tuturnya. 

CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar menjelaskan, peliputan isu kelautan dan perikanan, termasuk nelayan di dalamnya, sedikit berbeda dengan isu-isu lingkungan hidup di daratan seperti hutan. “Kalau di laut ini agak susah menjangkaunya,” terang dia. 

Munculnya liputan dari jurnalis terkait isu-isu laut dan perikanan, ungkap Bustar, harus menjadi sumber informasi bagi publik. Terlebih, 70 persen wilayah Indonesia adalah wilayah perairan dengan semua jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari laut. 

“Pemerintah bilang laut itu masa depan bangsa, tapi selama ini laut kita belakangi. Konteks laut bukan masa depan bangsa jadi harus diekploitasi tapi harus dijaga agar bisa berikan kehidupan buat kita,” tambah Bustar. 

Setelah proses kelas dan pendampingan, panitia memutuskan tiga karya terbaik dari peserta kelas belajar Journalist Fellowsea “Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data” SIEJ-EcoNusa sebagai berikut:

1. “Nasib Nelayan Halmahera Timur Berjibaku dengan Limbah Tambang Nikel”, karya Haris Prabowo dari Tirto.id

2. “Rusaknya Ekosistem Pulau di Seberang PLTU Jawa 7”, karya Abdus Somad dari Jaring.id

3. “Telantar di Tengah Wabah”, karya Kennial Laia dari Betahita.id

Salah satu pendamping peserta, Joni Aswira Putra menuturkan, secara umum karya para peserta cukup baik dalam pemilihan topik liputannya. Tantangan yang paling terasa adalah pencarian data terbuka yang bisa membantu peserta menajamkan analisis dan liputannya. “Semoga hal ini bisa jadi masukan bagi badan publik, khususnya terkait data-data lingkungan,” tutur Joni.

Dari program Kelas Belajar ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta, khususnya untuk liputan isu lingkungan di wilayahnya masing-masing.

Link berita terkait :

https://wongkito.co/read/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data

https://katantt.com/artikel/39948/journalist-fellowsea-2021-menjaga-laut-dengan-jurnalisme-data/

https://indikatorpapua.com/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data/

https://potretmanado.com/read/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data

Kapal cepat “Mentawai Fast” yang saya tumpangi berlayar melambat. Terompet kapal dibunyikan. Tanda sesaat lagi akan berlabuh di Dermaga Pokai, Muara Sikabaluan, Siberut Utara.

Dari kursi tempat saya duduk dengan pemandangan laut lepas, nampak kejauhan dermaga yang berada di tengah hutan mangrove yang rapat. Cuaca cerah, udara sejernih laut Selat Mentawai.

Penumpang kapal di pertengahan Juli 2020 lalu, tak begitu banyak. Saat pandemi aturan perjalanan memang diperketat. Selain jumlah penumpang dibatasi, juga wajib membawa hasil rapid-test.

Ini perjalanan kedua menuju Pulau Siberut untuk melanjutkan peliputan program Pulitzer Center dan Rainforest Journalism Fund yang Saya terima awal Januari 2020. Perjalanan pertama, di Bulan Maret ke Kawasan Taman Nasional Siberut. Bahkan Saya sempat tinggal di perkampungan masyarakat di Simatalu, pantai barat yang berada di kawasan taman nasional.

Pulau Siberut bersama rangkaian  pulau lainnya di Kepulauan Mentawai mempunyai sejarah geologis unik. Pulau yang terpisah hampir satu juta tahun lalu dengan Pulau Sumatera ini memiliki flora-fauna yang terpelihara dari perubahan evolusi dinamis. Keanekaragaman hayati dianggap mirip dengan Pulau Galapagos dimana Charles Darwin menemukan teori evolusinya.

Di Siberut masih banyak spesies endemik. Seperti empat primata endemik, yaitu Bokkoi (Macaca siberu), Joja atau Lutung Mentawai (Presbytis potenziani siberu), Bilou (Hylobates klosii), dan Simakobu (Nasalis concolor siberu).

Tercatat sekitar 65 persen dari 31 spesies hewan dan 15 persen dari 896 spesies tumbuhan endemik. Dunia mengakui keunikannya hingga Siberut ditetapkan sebagan Cagar Biosfer melalui program Man and Biosfer, manusia dan lingkungan pada tahun 1981.

Bilou (Hylobates klosii), salah satu primata endemik Mentawai. Foto : Febrianti

**

Turun dari kapal, Saya segera mencari Bambang Sagurung, wartawan Mentawai Kita.com. Di dermaga, kolega Saya di Siberut ini nampak melambaikan tangan memberi tanda kehadirannya. Dan segera mengajak ke rumahnya di Tamairang.

Kami merencanakan perjalanan ke Tiniti. Sebuah kampung kecil yang berada di tepi pantai barat, Siberut Barat yang menjadi lokasi logpon atau tempat penimbunan kayu Hak Pengusahaan Hutan (HPH) milik PT Sakali Suma Sejahtera. Kayu-kayu ini ditimbun sebelum dibawa dengan kapal.

Saya ingin memotret kayu-kayu log itu. “Kalau cuaca cerah, besok bisa langsung ke Tiniti, tapi tidak bisa terlalu berharap, sekarang ini sering hujan kalau siang,” kata Bambang di berada rumahnya.

Perjalanan dengan sepeda motor akan menyulitkan jika hujan menerjang. Sungai Tarekan tidak akan bisa diseberangi karena tidak ada jembatan penghubung. Bahkan kami harus berangkat minimal empat orang agar bisa membantu mengangkat sepeda motor saat menyeberangi sungai.

Di hari ketiga, cuaca benar-benar cerah. Saya, Bambang, Ores dan Barnabas, mantan Kepala Desa Malancan baru bisa berangkat menuju Tiniti dengan mengendarai tiga sepeda motor. Kami melintasi Jalan Trans Mentawai yang baru diperkeras dengan tanah. Bekas hujan membuat jalan licin dan sepeda motor sering terperosok.

Tapi yang paling berat saat  menyeberangi Sungai Tarekan. Perlu waktu dua jam untuk membawa dua sepeda motor terperosok di kubangan lumpur dan melewati sungai yang alirannya cukup deras.

**

Kayu-kayu glondongan HPH di logpon Tiniti. Foto : Febrianti
Kayu-kayu HPH di Pantai Tiniti, Siberut Barat yang akan dibawa dump truck menuju kapal. Foto : Febrianti

Kami tiba di Kampung Tiniti siang hari. Di tepi pantai, kami melihat dengan jelas tumpukan  kayu-kayu gelondongan berukuran besar dari pohon Meranti (Shorea spp) dan Kruing (Dipterocarpus sp). Masing-masing panjangnya 10 meter. Menumpuk dalam gunungan yang tinggi. Bahkan ada kayu glondongan berdiameter satu meter.

Kayu-kayu ini siap dibawa ke kapal yang menunggu di tengah laut. Saya memotret dengan sembunyi-sembunyi. Tak ingin mengambil risiko karena larangan memotret oleh pekerja perusahaan seperti yang pernah dialami Bambang sebelumnya.

Ya, Pulau Siberut sedang terancam. Hutan di pulau terbesar di Kepulauan Mentawai yang  dijuluki sebagai Galapagos Asia ini dieksploitasi sejak sejak 1971 dengan terbitnya izin Hak Pengusahaan Hutan  (HPH) kepada enam perusahan besar untuk penebangan kayu di Kepulauan Mentawai. Empat diantaranya ada di Pulau Siberut.

Eksploitasi hutan Siberut sempat terhenti pada 1993. Namun, di tahun 2001, pemerintah memberi izin HPH kepada Universitas Andalas (berhenti beroperasi tahun 2007). Menyusul kemudian izin untuk PT Salaki Summa Sejahtera pada 2004 hingga kini.

Pulau Siberut semakin terancam ketika Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengeluarkan izin Hutan Tanaman Industri untuk PT. Biomass Andalan Energi seluas 19.876 hektare di akhir 2018. Dari dokumen laporan rencana kerja, PT Salaki Suma Sejahtera ini rata-rata menebang 8 ribu pohon setiap tahun.

Saya menjadi ngeri membayangkan betapa banyaknya pohon tempat habitat primata itu dihabisi. “Muatan kapal ponton itu bisa empat ribu hingga delapan ribu kubik kayu bulat untuk dibawa ke Surabaya,” jelas Barnabas saat kami makan siang dibawah pohon tak jauh dari logpon.

Barnabas kemudian banyak bercerita tentang kondisi hutan di Siberut. Termasuk ketika tahun 2018 hutan di lahan sukunya di Malancan ternyata juga masuk dalam rencana kerja tahunan perusahaan kayu. Tetapi, pemilik lahan menolak. Alasannya, perusahaan kayu hanya membayar Rp37 ribu per-kubik. Selisihnya sangat besar, dengan harga kayu meranti di toko bangunan di Sikabaluan yang mencapai Rp1,7 juta per-kubik.

“Hutan milik suku kami di Malancan masih utuh, hutan primer, belum pernah dibuka, sekarang hanya kami yang punya hutan seperti itu,” kata Barnabas.

**

Ancaman itu makin nyata diceritakan Sabariah, warga Dusun Tarekan Hulu yang saya temui di tepi hutan dalam perjalanan pulang menuju Sikabaluan.

Ia menuturkan, pada Mei dua bulan sebelumnya  Sungai Tarekan meluap dan mengakibatkan ladangnya terendam. Tanaman pisang, keladi, cabai, ubi kayu, dan sayuran untuk sumber pangan, rusak akibat diterjang banjir.

Banyak kayu gelondong besar bekas tebangan perusahaan HPH yang hanyut dari hulu Sungai Tarekan yang menghancurkan pohon pisang dan tanamannya.  Banjir baru surut setelah dua hari. Seluruh hamparan kebunnya tertutup lumpur tebal sehingga tidak bisa ditanami.

“Sampai sekarang tanahnya masih lunak, tidak bisa ditanami. Itu sangat menyusahkan hidup saya. Makan terpaksa apa adanya,” ungkap Sabariah sambil membelah dahan kayu untuk kayu bakar.

Eksploitasi hutan sangat menguntungkan pengusaha kayu, memiskinkan warga lokal dan kehancuran lingkungan.**

Penulis : Febrianti, Jurnalis Tempo. Anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists SIEJ Simpul Sumatera Barat.

Banner Image : Febrianti, Ores dan Bambang Sagurung di lokasi logpon HPH di Pantai Tiniti. Dokumentasi pribadi Febrianti 

Hasil liputan project “Save Siberut” bisa dibaca di link: https://rainforestjournalismfund.org/projects/saving-siberut-island

Hutan di Taman Nasional Siberut. Foto:Febrianti