Kapal pencuri ikan di Laut Natuna ada 50-100 unit setiap hari. Sedangkan kapal patroli Indonesia hanya belasan. Pengawasan selama ini tidak tertumpu di daerah pusat sebaran kapal asing pencuri ikan di Natuna Utara.

Dedi, seorang nelayan Natuna, kaget kala melihat kapal asing Vietnam, berukuran 100 Gross Ton (GT) melaut di perairan Natuna Utara, awal Mei lalu. Kalau biasanya, nelayan hanya berpapasan dengan kapal kecil. Pria 53 tahun ini pun mengabadikan bentuk kapal dan titik koordinat kapal besar itu melalui telepon pintarnya.

Dedi menduga kapal ini penampung ikan hasil curian kapal kecil Vietnam yang melaut di Natuna. “Setidaknya, ada tiga kapal berukuran besar,” katanya kepada Mongabay dari Batam, 17 Mei lalu.

Temuan ini, katanya, menjadi satu indikasi kapal asing pencuri ikan makin berani. Dedi melaut di perbatasan Natuna walau kapal hanya berukuran 10 GT.

“Saya selalu melaporkan kalau ada kapal asing. Akhir-akhir ini sudah bosan, tidak ada juga respons,” katanya.

Selang 10 hari sejak temuan Dedi, Badan Keamanan Laut (Bakamla) menangkap kapal ikan asing kecil berbendera Vietnam mencuri ikan di Laut Natuna Utara. Penangkapan oleh petugas patroli laut KN Pulau Dana-323 diawali pengejaran dramatis.

Petugas patroli di Kapal KN Pulau Dana-323 harus memastikan kapal tetap berada di perairan Indonesia. Begitu kedua kapal berdekatan, petugas melompat guna menguasai kapal asing itu.

Sekitar 300 kilogram ikan hasil tangkapan nelayan Vietnam ada di dalam kapal. Sebanyak enam anak buah kapal (ABK) berkebangsaan Vietnam diamankan.

Penelitian Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), organisasi yang fokus pada isu tata kelola laut, menguraikan praktik pencurian ikan oleh kapal asing (illegal unreported unregulated/IUU fishing)di Natuna kuartal pertama 2021.

Simak laporan Yogi Eka Sahputra selengkapnya di website ekuatorial.com

JAKARTA-Masalah sampah plastik di laut masih sulit teratasi. Seiring berjalannya waktu, kondisi ekosistem laut justru semakin memburuk. Terumbu karang, padang lamun, dan mangrove rusak akibat sulitnya mengurai plastik. Biota laut juga terdampak polusi sampah plastik karena ikut mereka konsumsi.

Emily Penn, salah satu pendiri dan direktur misi eXXpedition bercerita pernah menguji 35 bahan kimia yang tak boleh masuk ke dalam tubuh, hasilnya 29 bahan beracun masuk ke dalam darahnya. Data dari International Coastal Cleanup (ICC) menyebutkan sebanyak 97.457.984 jenis sampah dengan berat total 10.584.041 kilogram ditemukan di laut pada 2019. Sembilan dari 10 jenis sampah terbanyak yang mereka temukan berasal dari bahan plastik, seperti sedotan dan pengaduk, alat makan plastik, botol minum plastik, gelas plastik, dan kantong plastik. Hal tersebut mengancam setidaknya 800 spesies yang hidup di laut.

Kondisi itu juga disampaikan Kirana Agustina, perempuan Indonesia pertama yang berkesempatan ikut eXXpedition melintasi Samudera Atlantik Utara dari Plymouth UK ke Azores, Portugal, sebuah kepulauan di tengah Samudra Atlantik Utara, selama dua minggu. Kiran mengaku mendapati sampah di samudera tak terhitung, bahkan mikroplastik juga ditemukan di sepanjang perjalanan mengarungi samudra.

Untuk mengetahui bagaimana kondisi laut dan polusi plastik mencemari laut, The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan Kirana Agustina pada Selasa, 8 Januari 2021.

Kirana Agustina, Spesialis Kebijakan Global Plastic Partnership WRI Indonesia. Foto : Pribadi

Anda menjadi perempuan satu-satunya dari Indonesia yang ikut dalam eXXpedition melintasi Samudera Atlantik Utara dari Plymouth UK ke Azores, lalu Portugal selama dua minggu. Bisa Anda jelaskan pengalaman itu?

Tidak seseru yang ada di foto, aslinya lebih seram. Dari ekspedisi itu, saya menyadari perempuan mempunyai daya lenting yang kuat dalam mengatasi badai. Perjalanan dari Plymouth ke Azores adalah perjalan yang menyeramkan. Saat kami berlayar pada Oktober 2019 lalu, kita tahu ada badai Lorenzo yang merupakan badai paling kuat. Kami merasakan sendiri badainya kencang. Dalam dua minggu perjalanan, isinya badai. Kalau kita tidak punya kekuatan atau niat untuk berlayar, sulit rasanya diatasi.

Dalam ekspedisi tersebut terdapat 14 kru, empat di antaranya merupakan sosok yang terbiasa berlayar. Sementara sepuluh perempuan merupakan wanita biasa. Ada polisi, peneliti, jurnalis, hingga pengusaha.

Selama berlayar, kami harus menjaga kapal beroperasi selama 24 jam. Dari hal itu kami membagi waktu piket. Setiap satu orang mendapat jatah 2 kali, sehari menjaga kapal selama total 4 – 8 jam. Jadi, mau tidak mau kita harus mengendarai kapal. Saya yang tidak pernah mengendarai kapal harus mampu menyetirnya. Selain itu, ada juga pembagian untuk memperbaiki layar dan mengatur jadwal masak.

Hari pertama perjalanan saja sudah badai.  Layar kapal kami robek. Cuaca agak jelek saat itu. Ini perjalananku yang pertama, aku percaya meski ada badai pasti selamat.

Layarnya robek karena badai?

Iya, saat itu yang robek justru layar utama. Saat yang bersamaan sekitar pukul 12 malam angin kencang. Mau tidak mau kita harus mengganti layar yang beratnya hingga 100 kilogram. Karena basah, kami mencoba keringkan menggunakan blower – pompa udara bertenaga listrik. Setelah dirasa kering, kami menjahit layar tersebut. Saat itu, beruntung sekali ada yang bisa menjahit.

Kapal yang digunakan berlayar itu, seperti apa?

Kapalnya ada mesin, namun sebisa mungkin kita harus berlayar. Kita juga menggunakan solar panel untuk tenaga listriknya.

Bagaimana awal mula Anda diajak?

Awal mulanya, saya kagum dengan Emily Penn – perempuan yang melakukan ekspedisi laut sendiri. Saya tahu dia sudah sejak lama, sekitar 2013. Pada 2018, saat saya mendapatkan fellowship di PBB New York, di sana saya bertemu dengan Emily Penn dalam kegiatan di World Ocean Day. Pada tahun yang sama, saya mendapatkan beasiswa ke Inggris. Saya bertemu kembali dengan Emily dalam acara Ocean Drink, networking event yang diselenggarakan Emily di London. Di sana banyak berkumpul pada jurnalis, model, dan peneliti. Saya ada di sana. Saya ditawari Emily untuk berbicara di hadapan peserta terkait Indonesia dan kecintaan saya terhadap laut. Saya lakukan semua itu. Setelah itu, saya ditawari beasiswa untuk ikut dalam eXXpedition. Saya bersyukur karena saya perempuan satu-satunya asal Indonesia.

Selama berlayar, bagaimana kondisi siang dan malam hari di Samudera Atlantik?

Saya ingat perjalanan kami dilakukan pada musim dingin. Untuk kru profesional yang menjalankan kapal, mereka harus menggunakan seragam anti-badai dan anti-hujan. Bajunya berlapis-lapis. Saya hitung lapisannya ada empat.

Saat siang hari, saya merasakan setiap badai selesai, selalu muncul pelangi. Biasanya saat hujan di Indonesia atau di mana pun, pelangi hanya muncul satu kali saja. Namun di laut samudera, pelangi bisa bermunculan terus-menerus. Saya hitung lebih dari sepuluh pelangi yang saya lihat.   

Sementara kalau malam hari, saya melihat hewat laut memancarkan cahaya di malam hari. Itu indah sekali. Saya paling suka mendapati kapal malam hari, selain dapat melihat ikan berwarna, saya juga bisa melihat perubahan kemunculan matahari.

Ada ketakutan enggak melintasi samudera?

Rute yang kita lalui sepanjang Samudera Atlantik melewati teluk Biscay. Teluk tersebut menjadi tempat sejumlah cuaca buruk di Samudra Atlantik terjadi dan dikenal banyak terjadi peristiwa kapal tenggelam. Salah satunya kapal super Britania Raya, Royal Mail Ship (RMS) Titanic.

Di teluk tersebut, terdapat ruang di mana ada kedalaman lompatan langsung dari kedalaman 200 hingga 4.000 meter. Itu kemudian mengakibatkan arus air laut kencang. Akibatnya navigasi kapal sering salah. Saya jadi deg-degan selama melewatinya.

Bisa diceritakan, apa tujuan dari ekspedisi tersebut?

Kita mencari solusi kondisi laut berdasarkan ilmiah. Kita ingin tahu sampah plastik di laut berdasarkan pendekatan ilmiah. Selain itu, ini juga merupakan penyadartahuan bagi kita semua, termasuk perempuan. Sampah plastik mempunyai dampak langsung terhadap perempuan. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh perempuan, maka dapat mengakibatkan penyakit seperti kanker. Selain itu, di dunia kelautan masih jarang penelitian terkait isu perempuan. Sementara plastik banyak relevansi ke perempuan, seperti kosmetik dan rumah tangga. Mengurangi plastik salah satu solusinya bisa dimulai dari dapur. Dari situ, perempuan mempunyai andil.

Dari ekspedisi Anda bersama 14 kru lain, benar enggak sampah plastik itu jumlahnya banyak di laut?

Iya benar, tujuan utama kita melakukan sampling di laut. Kita ambil beberapa plastik dengan alat yang kami siapkan. Saya cukup kaget saat mendapatiplastik sudah menjadi satu ekosistem di lautan. Bisa dibayangkan apabila mikroplastik dimakan algae, kemudian algae dimakan cumi-cumi juga memakan plastik. Kita tahu, cumi dimakan tuna, lalu tuna dimakan manusia. Kemungkinan besar kita juga sudah memakan plastik.

Apa lagi yang Anda temukan?

Selain itu, saya melihat pelet plastik sebagai bahan material untuk membuat berbagai macam barang. Saya melihat, ternyata ada kapal-kapal yang membawa barang mentah siap olah pabrik itu tercecer di laut. Ini semakin memperburuk keadaan. Polusi plastik jadi semakin banyak.

Apa tindak lanjut dari ekspedisi tersebut?

Kita membentuk self-awareness dan komunitas untuk melakukan perubahan. Bagaimana memulai dengan isu plastik. Kemarin yang sudah kita lakukan, membawa hasil sampel plastik dan mikroplastik di laut ke Universitas Plymouth di Inggris dan sampel di darat datanya diolah di Universitas Georgia di Amerika.

Saya membantu pemerintah Indonesia, sekaligus menyadarkan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik di laut. Saat ini, melalui National Plastic Action Partnership, kami melakukan kerjasama dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah, industri, dan sektor swasta, komunitas, hingga organisasi agama seperti NU dan Muhammadiyah. Saya tahu religious regulator berpengaruh untuk mengubah perilaku. Jadi, harus semua pihak terlibat.

Apakah Anda menyampaikan hasil ekspedisi Anda kepada pemerintah Indonesia?

Secara khusus belum ada sebab jalur ekspedisinya tidak ke Indonesia. Biasanya negara yang dilewati ekspedisi akan bertemu pemerintah lokal. Kami sampaikan temuan kita. Biasanya juga kepada akademisi di kampus-kampus.

Ada upaya menyampaikannya?

Sebenarnya kalau tim eXXpedition mau, malah pada 2019 sebenarnya ada agenda berlayar ke Indonesia. Namun di Indonesia kapal bendera asing sulit masuk. Sebetulnya, sudah ada rencana untuk berlayar di sekitar Indonesia tengah hingga timur. Jika situasi pandemik membaik.

Kenapa pilihannya Indonesia timur?

Emily, founder eXXpedition sempat Raja Empat dan mendapati Sorong, pintu masuk Raja Ampat memiliki banyak sampah. Selain itu, Pulau Papua salah satu lokasi yang memiliki keanekaragaman hayati laut terkaya dan juga posisinya dilewati jalur arus lintas Indonesia. Arusnya kencang dan mampu membawa sampah bawa plastik dari sembilan sungai terkotor di dunia.

Secara umum, menurut Anda bagaimana kondisi laut di Indonesia saat ini?

Indonesia bangsa bahari, negara kepulauan terbesar, panjang pantai terpenjang kedua setelah Kanada. Namun, memiliki banyak tantangan diantaranya perubahan iklim, polusi plastik di laut. Ini jadi risiko yang berdampak pada negara Indonesia baik dari sisi ekonomi dan biota laut untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

Dari kacamata pribadi, membuat saya sadar potensi besar bangsa ada di laut. Indonesia adalah jantungnya terumbu karang dunia, banyak memiliki kharismatik spesies salah satunya dari 7 jenis penyu di dunia, 6 jenis ada di Indonesia.

Ada pengaruh terhadap ekonomi, itu maksudnya seperti apa?

Ambil contoh polusi plastik, pemerintah menjadikan plastik sebagai atensi. Mereka ingin salah satu devisa negara bisa diperoleh dari bahari. Namun, bagaimana bisa datangkan wisata bahari kalo kondisi laut kita tercemar?

Kedua dari sisi perikanan, Indonesia kan eskportir tuna terbesar di dunia. Tentu bisa mempengaruhi kualitas kesehatan ikan tuna. Selain itu, plastik ketika tercemar di laut akan merusak terumbu karang, ikan di sana akan mati. Lalu, bagaimana nelayan dan kita semua dapat ikannya?

Kalau bicara peran anak muda, apa yang bisa dilakukan?

Kalau perubahan perilaku, semua ekosistem harus berperan, pemerintah, industri, komunitas, dari rumah untuk mengurangi dan memilah sampah. Sekala besar untuk industri, mereka harus bertanggung jawab agar tidak menyampah. Perubahan perilaku dimulai dari diri sendiri. Saya anak muda, saya anak kelautan, suka jalan-jalan keliling Indonesia. Indonesia cantik dan memiliki potensi besar. Saya ingin berpartisipasi untuk mencari solusi, bukan polusi.

Apa dampak laut untuk anak muda?

Eksistensinya punah ketika laut tercemar, padahal laut meregulasi perubahan iklim. Ketika terjadi perubahan, tiga bulan sebelum terjadi laut sudah mengetahui itu. Terumbu karang, lamun, mangrove ekosistem penting. Di masa yang akan datang, anak muda mungkin tidak bisa melihat laut yang bersih lagi.

Banner Image : Kru eXXpedition 2019 / Dokumentasi : eXXpedition

Simak juga cerita Prigi Arisandi tentang sampah plastik di laut di tautan berikut :

Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) dan Yayasan EcoNusa menggelar Kelas Belajar Journalist Fellowsea “Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data”, sejak Maret 2021 lalu.

Sebanyak 130 jurnalis dari berbagai wilayah di Indonesia mengajukan usulan liputan isu kelautan dan perikaan dan 15 jurnalis di antaranya mendapatkan hibah peliputan  pada April-Mei 2021. 

Ketua SIEJ, Rochimawati mengatakan kegiatan Kelas Belajar Journalist Fellowsea SIEJ-EcoNusa ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas jurnalis dengan topik kelautan dengan pendekatan jurnalisme data. Ini menjadi salah satu isu penting dalam konteks pelestarian lingkungan, khususnya laut.

“SIEJ menaruh perhatian besar terhadap isu kelautan dan perikanan karena butuh upaya besar bagi jurnalis untuk mengeksplorasi isu ini. Belum lagi tingkat kesulitan ketika di lapangan. Kami mencoba memfasilitasi itu,” katanya.

Upaya menjaga dan melestarikan lingkungan itu, ungkap Ochi, terlihat dari beragam topik dan wilayah yang diajukan penerima hibah liputan. Mulai dari isu sampah daratan yang bocor ke sungai hingga mencemari laut, fenomena terdamparnya paus, budidaya udang yang mencemari kawasan pesisir, kegiatan pertambangan dan dampaknya ke masyarakat dan laut, hingga patroli pengawasan ikan yang kelabakan menghadapi pencurian ikan di perairan Natuna. 

“Para peserta berusaha menghadirkan cerita dengan bukti dari data-data terbuka yang mereka dapatkan. Meski ini jadi tantangan tersendiri karena minimnya data terbuka itu,” imbuh Ochi, Kamis, 10 Juni 2021. 

Dalam program ini, peserta mengikuti kelas daring selama 12 jam serta pendampingan setidaknya satu bulan. 

Mayoritas peserta mengakui peningkatan kapasitas berbasis jurnalisme data adalah hal baru. Salah satu penerima hibah, Findamorina Muhtar. Jurnalis beritamanado.com ini mengungkapkan, banyak mendapatkan pengetahuan baru terkait isu-isu kelautan dan perikanan dalam kelas ini. 

“Kami juga dapat materi mengumpulkan, analisis, dan menunjukkan data secara tepat. Isu lingkungan penting karena saat menjaga lingkungan, kita menjaga keberlangsungan hidup manusia,” tuturnya. 

CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar menjelaskan, peliputan isu kelautan dan perikanan, termasuk nelayan di dalamnya, sedikit berbeda dengan isu-isu lingkungan hidup di daratan seperti hutan. “Kalau di laut ini agak susah menjangkaunya,” terang dia. 

Munculnya liputan dari jurnalis terkait isu-isu laut dan perikanan, ungkap Bustar, harus menjadi sumber informasi bagi publik. Terlebih, 70 persen wilayah Indonesia adalah wilayah perairan dengan semua jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari laut. 

“Pemerintah bilang laut itu masa depan bangsa, tapi selama ini laut kita belakangi. Konteks laut bukan masa depan bangsa jadi harus diekploitasi tapi harus dijaga agar bisa berikan kehidupan buat kita,” tambah Bustar. 

Setelah proses kelas dan pendampingan, panitia memutuskan tiga karya terbaik dari peserta kelas belajar Journalist Fellowsea “Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data” SIEJ-EcoNusa sebagai berikut:

1. “Nasib Nelayan Halmahera Timur Berjibaku dengan Limbah Tambang Nikel”, karya Haris Prabowo dari Tirto.id

2. “Rusaknya Ekosistem Pulau di Seberang PLTU Jawa 7”, karya Abdus Somad dari Jaring.id

3. “Telantar di Tengah Wabah”, karya Kennial Laia dari Betahita.id

Salah satu pendamping peserta, Joni Aswira Putra menuturkan, secara umum karya para peserta cukup baik dalam pemilihan topik liputannya. Tantangan yang paling terasa adalah pencarian data terbuka yang bisa membantu peserta menajamkan analisis dan liputannya. “Semoga hal ini bisa jadi masukan bagi badan publik, khususnya terkait data-data lingkungan,” tutur Joni.

Dari program Kelas Belajar ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta, khususnya untuk liputan isu lingkungan di wilayahnya masing-masing.

Link berita terkait :

https://wongkito.co/read/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data

https://katantt.com/artikel/39948/journalist-fellowsea-2021-menjaga-laut-dengan-jurnalisme-data/

https://indikatorpapua.com/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data/

https://potretmanado.com/read/belajar-menjaga-laut-lewat-karya-jurnalistik-berbasis-data

Ekuatorial dan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) memanggil para jurnalis di Indonesia untuk mengajukan proposal guna mendapatkan “Ekuatorial Story Grants, Round 1”. Mereka yang terpilih akan mendapatkan dana liputan masing-masing sebesar Rp3 juta.

Ekuatorial menetapkan tiga tema besar untuk story grants ini, yaitu:

  • Polusi Udara,
  • Biodiversitas dan Konservasi,
  • Ecotourism.

Para jurnalis yang tertarik untuk mendaftar dan mengirimkan proposal peliputannya dapat mengembangkan salah satu dari ketiga tema besar tersebut. Ruang lingkup liputan harus berada di wilayah kerja jurnalis yang bersangkutan.
Pendaftaran proposal dibuka mulai 9 Juni hingga 21 Juni 2021.

Tim editorial Ekuatorial akan mengumumkan para peserta yang lolos seleksi dan berhak mendapatkan hibah pendanaan untuk peliputan selambat-lambatnya pada 25 Juli 2021. Dan akan diumumkan di media resmi The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).
Hasil liputan / karya jurnalistik para penerima hibah ini harus dimuat di media masing-masing paling lambat pada 31 Agustus 2021. Untuk penerima hibah yang bekerja paruh waktu (freelance), hasil liputan akan ditayangkan pada situs web Ekuatorial (ekuatorial.com).
Untuk pendaftaran, silakan klik https://forms.gle/N79ywCi5azFLKwPv8

Lautan menyediakan 50 persen oksigen Bumi yang merupakan rumah bagi sebagian besar keaneka ragaman hayati Bumi.

Lautan menutupi sekitar 71 persen permukaan Bumi. Laut memiliki kehidupan yang sangat besar di dalamnya, termasuk tumbuhan, hewan, dan organisme lainnya. Wilayah lautan mengisi beberapa cekungan di permukaan Bumi. 

Fakta ini seharusnya dapat menunjukkan kepada masyarakat global untuk meningkatkan kesadaran tentang peran penting laut dalam kehidupan kita dan cara penting orang dapat membantu melindunginya. 

Konsep Hari Laut Sedunia pertama kali diusulkan pada tahun 1992 pada KTT Bumi di Rio de Janeiro. Ide ini muncul untuk merayakan lautan bersama dunia dan hubungan pribadi manusia dengan laut. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day setiap tanggal 8 Juni. Peringatan ini dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lautan. 

Tujuan dari Hari Laut Sedunia adalah untuk menciptakan kesadaran dalam kehidupan manusia akan manfaat yang telah dinikmati dari laut. Karena lautan menyediakan berbagai senyawa obat penyelamat jiwa, obat anti inflamasi, dan anti kanker. 

Jadi sekarang giliran kita untuk melestarikan laut dan sumber daya kelautan untuk pembangunan berkelanjutan. Lautan adalah kunci ekonomi kita, dengan perkiraan 40 juta orang dipekerjakan oleh industri berbasis laut pada tahun 2030. 

Apalagi berdasarkan data dari PBB, populasi ikan besar habis, dan 50% terumbu karang hancur, akibat ulah  manusia mengambil lebih banyak daripada yang diregenerasi.

Tema Hari Laut Sedunia 2021: The Ocean: Life and Livelihoods”, menjadi fokus utama adalah pada kehidupan dan mata pencaharian yang menopang laut. 

Jadi, untuk melindungi dan melestarikan laut dan semua yang menopangnya, kita harus menciptakan keseimbangan baru, yang berakar pada pemahaman yang benar tentang laut dan bagaimana manusia berhubungan dengannya. 

Dan membangun koneksi ke laut yang inklusif, inovatif, dan bermanfaat bagi laut dan kehidupan di dalamnya.

Banner Image : Dokumentasi Noni Arnee

Acara berlangsung secara virtual pada:   

 🗓️: Selasa, 8 Juni 2021

📍: Zoom Meeting

⏰: 13.00 – 15.00 WIB
Pada kesempatan Envirotalk SIEJ “Membedah laut Indonesia” ini, kami menghadirkan dua narasumber:

1. Dr Suhana, Pakar Ekonomi kelautan IPB (Ekonomi kelautan dan kebijakan kelautan Indonesia)

2. Bustar Maitar, CEO Yayasan Econusa (Eksploitasi dan konservasi laut Indonesia) 

Pada kesempatan yang sama, sebanyak 15 jurnalis penerima Journalist Fellowsea akan mengikuti wisuda (graduation) setelah berhasil menuntaskan peliputannya dan mempublikasikan karya jurnalistik “Menjaga laut dengan jurnalisme data”. Graduation ini sekaligus menandakan program kelas belajar Journalist Fellowsea “Menjaga Laut dengan Jurnalisme Data” telah selesai.

Sementara pengumumkan tiga karya terbaik dari peserta Journalist fellowsea untuk mendapatkan hadiah senilai Rp 22,5 juta dipublikasikan melalui media resmi SIEJ. Seluruh acara ini disiarkan langsung melalui Youtube EcoNusa TV.

#HariLautSedunia #LautDunia #LautIndonesia #Kelautan #JurnalismeIndonesia #Jurnalisme #JurnalismeLingkungan #DiskusiLaut #DiskusiJurnalisme #WorldOceansDay

Masyarakat dunia kembali memperingati Hari Lingkungan Hidup, Sabtu, 5 Juni 2021. ”Ecosystem Restoration” atau “Restorasi Ekosistem” menjadi tema global tahun ini, yang sekaligus menandai peluncuran Dekade Restorasi Ekosistem Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) 2021 – 2030.

Dekade PBB ini merupakan agenda yang didedikasikan untuk memulihkan ekosistem yang terdegradasi dan hancur, memerangi krisis iklim, mencegah hilangnya satu juta spesies, meningkatkan ketahanan pangan, pasokan air dan mata pencaharian.

Tema ini dianggap tepat mengingat dunia masih dalam suasana pandemi Covid- 19. Keprihatinan serupa juga melingkupi kita yang berada di Indonesia.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia 2021, Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendorong para pengelola media dan jurnalis menginstropeksi kerja-kerja jurnalistiknya. Minimal membantu proses pemulihan bumi melalui karya jurnalistik yang berkualitas.

Ketua Umum SIEJ, Rochimawati mengatakan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum untuk menyoroti pentingnya lingkungan dan mengingatkan pubik bahwa alam tidak boleh dianggap remeh.

“Kami mengamati penyebaran informasi terkait kondisi lingkungan hidup makin bertambah, baik dari sisi kuantitas dan kualitas. Apakah itu cukup? Banyak isu terkait lingkungan hidup dapat digali lebih dalam dan disajikan lebih komprehensif kepada publik,” kata Rochimawati.

Perempuan yang akrab disapa Ochie ini menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang harus dikawal oleh media dan publik. Sebut saja, ambisi pemerintah yang ingin mewujudkan setengah juta kendaraan listrik perlu dipandang secara menyeluruh. Alih-alih mengurangi pemanfaatan energi fosil, dukungan kepada industri mobil listrik perlu dikawal terkait kegiatan pertambangan nikel yang berpotensi bencana di bagian timur Indonesia.

Keterlibatan Indonesia pasca Paris Agreement pada The Conference of Parties (COP) dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-21 pada 2015 lalu dalam konteks transaksi jual beli sertifikat emisi karbon juga belum memperlihatkan hasil menggembirakan.

Catatan Forest Watch Indonesia (2000-2017) memperlihatkan Indonesia kehilangan hutan alam hingga d 23 juta hectare lebih. Ini setara dengan 75 kali luas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sumber lainnya, World Resources Institute (WRI) menempatkan Indonesia pada posisi tiga sebagai negara yang paling banyak kehilangan hutan hujan primer akibat deforestasi. Konversi hutan jadi perkebunan kelapa sawit, lokasi pertambangan, dan kebakaran hutan ditengarai sebagai penyebab utamanya.

Pemerintah juga menargetkan pengurangan sampah hingga 30 persen pada tahun 2025. Untuk mencapai target itu, setidaknya dibangun 12 proyek pembangkit listrik tenaga sampah yang didukung Pemerintah.

Meski banyak masukan dan kritik dari pemerhati lingkungan terkait dampak dan bahaya proses pembakaran sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap mendorong realisasi belasan proyek tersebut.

Media dan jurnalis juga kerap terjebak dalam konsep circular economy yang keliru saat merespons tanggung jawab dari produsen. Secara global, sampah yang berhasil ditarik, didaur ulang, dan digunakan kembali tidak lebih dari 10 persen saja. Ujung-ujungnya, industri tetap mengandalkan proses ekstraksi minyak bumi untuk memproduksi lebih banyak sampah, seperti kemasan sekali pakai.

Ochie menambahkan, pengelolaan dan penanganan sampah ini juga perlu dipandang sebagai upaya menyelamatkan lautan yang saat ini menjadi tempat sampah abadi. Dampak dari tercecernya sampah di daratan yang masuk ke aliran sungai hingga bermuara ke laut akan mengancam ekosistem kehidupan pada wilayah yang dilewatinya.

“Kita punya andil besar untuk ikut menjaga dan  merawat bumi. Ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. SIEJ mengajak seluruh jurnalis di Indonesia tidak bosan dan lelah mengangkat berbagai topik seputar lingkungan hidup dalam praktik kerjanya sehari-hari. Ini harapan dan bentuk partisipasi jurnalis yang berpihak pada lingkungan,” harapnya.

Narahubung:

Rochimawati – Ketua Umum

Adi Marsiela – Koordinator Bidang Kampanye

Email: sekretariat@siej.or.id

FB/IG/Twitter: @siej_info

Berita terkait :

https://sumsel.suara.com/read/2021/06/05/144549/peringati-hari-lingkungan-hidup-siej-ingin-jurnalis-lebih-aktif-suarakan-isu-lingkungan

Indonesia menjadi negara di dunia yang memberikan kontributusi terbesar emisi karbon cakupan 3 (scope 3) yaitu dari pengapalan batu bara.

Selain Indonesia, Australia juga masuk sebagai penyumbang terbesar karena tercatat sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia,

Angkanya, mencapai 59% atau setara 740 juta metrik ton. Emisi scope 3 ini mencakup semua emisi tidak langsung yang dihasilkan dalam rantai nilai sebuah industri atau perusahaan.

Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 1,25 miliar metrik ton batu bara dikapalkan untuk diekspor dari seluruh negara produsen batu bara di dunia.

Pengapalan ekspor batu bara berkontribusi sekitar 10% dari total emisi karbon (CO2) dari sektor energi pada tahun 2020, yaitu sekitar 3,1 miliar ton CO2, di mana total CO2 dari sektor energi diperkirakan mencapai 31,5 miliar ton CO2.

Data ini merupakan laporan hasil temuan analisis data dari EMBER, lembaga think-tank yang berbasis di London, Inggris, yang meluncurkan dashboard interaktif tentang emisi yang dihasilkan dari pengapalan untuk tujuan ekspor batu bara dari seluruh negara pengekspor batu bara di dunia, Selasa (2/6/2021).

Di antara negara eksportir batu bara terbesar, Indonesia dan Australia memiliki tingkat emisi scope 3 yang sangat tinggi dibanding emisi domestik masing-masing negara tersebut. Pada tingkat 0,9 miliar ton CO2 masing-masing negara, emisi ruang scope 3 dari pengapalan ekspor  batu bara adalah sebesar 1,5-2 kali lebih lipat dari emisi domestik yang mereka hasilkan.

“Bisnis batu bara tidak saja memberikan keuntungan bagi negara pengekspor. Namun dampak lingkungan berupa emisi dari pengapalan batu bara (scope 3) sering diabaikan, meskipun memberikan kontribusi signifikan terhadap naiknya emisi CO2 dunia,” kata Nicolas Fulghum, analis dari EMBER.

Seperti diketahui, emisi gas rumah kaca dikategorikan ke dalam tiga kelompok atau ‘scope’ dalam standar internasional teknik penghitungan yang paling banyak digunakan, Protokol Gas Rumah Kaca (GRK). Cakupan 1 (Scope 1) mencakup emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan. Cakupan 2 (Scope 2) mencakup emisi tidak langsung dari pembangkitan listrik yang dibeli, uap, pemanasan dan pendinginan yang dikonsumsi oleh industri/perusahaan. Cakupan 3 (Scope 3) mencakup semua emisi tidak langsung lainnya yang terjadi dalam rantai nilai industri/perusahaan.

Dashboard lebih detil dapat diakses melalui: https://ember-climate.org/ember-shipping-dashboard/

Banner Image : copyright detik.com

JAKARTA–Tak banyak film dokumenter yang ditayangkan bioskop-bioskop di Indonesia. Salah satu yang berhasil menembus batas tersebut adalah “Pulau Plastik”. Film hasil kerja sama Visinema Pictures, Kopernik, Watchdog, dan Akarumput tersebut bercerita tentang betapa sampah plastik menghantui hidup kita, disadari atau tidak.

Ada tiga aktor utama dalam film yang disutradarai Dandhy Dwi Laksono dan Rahung Nasution itu. Salah satunya, Prigi Arisandi. Dia adalah pendiri sekaligus direktur eksekutif Ecological Observation & Wetland Conservation (Ecoton), sebuah yayasan yang bekerja untuk menjaga kelestarian sungai-sungai di Provinsi Jawa Timur dan kawasan sekitarnya.

The Society of Indonesia Environment Journalists (SIEJ) berbincang dengan penerima penghargaan Goldmen Environmental Prize 2011 tersebut pada Rabu (26/5/2021) via Zoom. Prigi dengan gamblang bercerita, mulai dari soal penelitian 100 sampel feses, kegiatan yang dilakukan Ecoton sejak berdiri 25 tahun lalu, serta pandangannya mengenai kepedulian warga Indonesia terhadap isu lingkungan hidup.

Berikut petikannya.

Prigi Arisandi Photo by Raditya

Tentang film “Pulau Plastik” yang tengah hits saat ini, bisa diceritakan awal keterlibatan Anda di dalam film tersebut?

Jadi, mungkin saya ini pemain cadangan. Mungkin gak ada orang, jadi saya diminta untuk masuk.

Saya senang sekali diajak terlibat. Saya dikontak sama Robi. Dia bilang mau ajak Ecoton. Ya silakan, kami senang sekali. Terakhir kali saya tanya Mas Dandhy, “kenapa dulu ajak Ecoton? Ajak saya?” Dia bilang, dia melihat dari berbagai survei dan pemberitaan. Dia melihat Ecoton ini menarik, kemudian dilibatkan, diundang.

Ya jadi mungkin karena unik menarik kali ya.

Tapi Anda kan pemenang Goldman Environmental Prize, yang disebut-sebut Nobel versi pejuang lingkungan hidup, masa tidak diajak?

Hahaha. Mungkin itu. Ya, (saya) dapat “Nobel lingkungan” itu juga mungkin karena tidak ada yang daftar. Jadi saya yang terpilih. Hahaha.

Salah satu adegan yang, menurut saya, paling menarik di film tersebut adalah penelitian 100 sampel feses. Bagaimana itu ceritanya?

Iya, betul itu. Jadi kita ini kan perang narasi sebenarnya. Isu lingkungan ini kan masih dianggap tidak penting oleh banyak orang ya. Tidak menjadi prioritas. Oleh karena itu kami selalu mencari hal yang dipikirkan dan dekat sama orang. Feses ini yang menurut saya paling dekat. Kalau kita cerita tentang bahaya kanker itu kan agak sulit kalau diterjemahkan sama pikiran orang maka kita ambil feses ini.

Tahun 2017 itu baru ada penelitian di Vienna, di Medical University of Vienna. Mereka meneliti 8 orang dari negara yang berbeda dan mengambil 10 gram (sampel feses, red.). Dari sampel itu ditemukan 20 partikel mikroplastik (berukuran 50 to 500 µm) per 10 gram per orang.

Kami mencoba untuk membuat lebih dari itu.

Andreas (peniliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho) sebenarnya pemegang kunci (penelitian feses itu). Dia adalah labnya. Saya ini sebenarnya cuman mikrofon, amplifiernya.

Andreas ini salah satu yang menangani microplastik. Dia harus mencari bahan kimianya, mempelajari metodenya. Kami belajar dan, dengan keterbatasan kami, ternyata bisa. Kami mencoba sana sini, menggunakan mikroskop yang dimodifikasi macam-macam. Itu bisa, akhirnya.

Sebenarnya kami tidak berencana mengambil sampel sebanyak itu. Cuma bli Robi menantang, “Bagaimana kalau kita membuat rekor, 100 (sampel) gitu?” Ya kami siap. Akhirnya 100 orang itulah.

Bagaimana mencari donor fesesnya?

Donornya dari sekitar 15 kota, dari Denpasar sampai Jakarta. Awalnya risih karena kan pamali (tidak sopan, red.) kalau minta kotoran seperti itu.

Kami awali dengan orang yang terdekat dulu: saya, keluarga, anak-anak, dan bayi. Kami ambil multisample ya, berbagai jenis sampel dari perbedaan usia, desa, kota. Kami punya banyak jaringan dan itu memudahkan kami.

Jadilah ada 100 sampel itu, tepatnya 103 sampel, dan semuanya mengandung mikroplastik. Baik (feses) anak kecil, orang desa, orang kota, tua, muda, semua mengandung mikroplastik.

Kami belum tahu respons kampus terkait penelitian ini. Tapi minimal penelitian ini memberi kami keunggulan karena orang agak malas meneliti feses, membuat jijik.

Sama sekali belum ada tanggapan dari para peneliti di kampus, termasuk almamater Anda Universitas Airlangga?

Hasil penelitian ini kami verifikasi. Jadi kemarin kami membawanya ke Profesor Win Darmanto (dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga). Pak Win mengatakan bahwa penelitiannya sudah sesuai standar. Kemudian kami juga ke Reza Cordova, peneliti LIPI yang memang dia fokus ke mikroplastik di perairan pesisir.

Kami memegang rekor dengan 100 sampel. Pada Februari 2021 ada ilmuwan China yang meneliti 20 sampel feses. Kami lebih banyak.

Apakah Anda juga memasukkan pesan pribadi atau Ecoton ke dalam film Pulau Plastik?

Sebenarnya ada dua pesan yang ingin kami masukkan ke film itu. Pertama, mereka tertarik dengan kegiatan popok (kampanye setop buang popok ke sungai, red.) yang kami lakukan.

Kami mengawali revolusi popok itu pada Juli 2017 dan sengaja dalam setahun itu kami publish banyak-banyak ke media. Bahkan “Kick Andy” juga sempat meliput kegiatan kami itu. Sebenarnya pesan kampanye popok ini untuk mengkritik gaya hidup kita, konsumerisme kita. Pemerintah gagap menangani sampah popok, industri gagap, dan konsumen juga tidak ambil peduli.

Kedua tentang sampah impor. Ini yang kemudian diambil menjadi angle film itu. Ini juga penting bagi kita semua. Kebetulan rumah saya itu di depan pabrik kertas yang mengimpor sampah kertas ini. Sejak kecil saya tahu betul bagaimana sampah impor itu masuk ke Indonesia dan sampah kertas itu bercampur dengan plastik.

Inikan penjajahan bentuk baru. Negara maju mengirim sampah ke negara berkembang itu sejak 1960-an. Orang-orang di negara maju itu membuang sampahnya ke negara berkembang, termasuk sampah plastik tadi. Itu yang kita sampaikan. Negara maju itu, menurut saya, memplokoto (menikam dari belakang) kita dengan mengirimkan sampah plastiknya ke sini.

Kita selalu terlena dengan istilah daur ulang. Padahal kalau negara maju itu mau mendaur ulang sendiri, kenapa mereka tidak simpan saja sampah mereka di negara sendiri? Kenapa dikirim ke negara lain? Itu bisa diartikan bahwa daur ulang sebenarnya bermasalah, berbahaya untuk lingkungan.

Nah, sebenarnya daur ulang plastik itu bisa tidak dilakukan?

Bisa. Tapi kan faktanya sejak tahun 1950-an sampai sekarang hanya 9% sampah plastik yang kita buang itu didaur ulang. Sisanya dibakar, ditimbun di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), beredar di laut, di tanah kita.

Kalau plastik ramah lingkungan itu benar ada apa tidak?

Nah di film “Pulau Plastik” itu kelihatan jawabannya. Di film itu kan digambarkan kalau plastik ramah lingkungan itu bisa lebih berbahaya karena proses hancurnya lebih cepat dan menjadi mikroplastik.

Sejak kecil dekat dengan pabrik kertas. Apakah itu yang menginspirasi Anda masuk jurusan biologi dan kemudian mendirikan Ecoton?

Betul. Kalau di Jawa Timur, kertas memang menjadi momok karena yang merusak sungai adalah pabrik kertas. Pabrik kertas itukan haus air karena mereka harus memasak kertas, memasak pulp menjadi kertas, butuh air yang banyak, butuh energi bahan kimia yang kemudian dibuang ke sungai. Ini yang kemudian mencemari dan merusak sungai kita.

Itulah yang memotivasi saya untuk terjun menjaga sungai. Karena aktivitas industri tahun 1980an itu mengganggu dan menurunkan kualitas air Kali Brantas, merusak Kali Surabaya.

Itu juga yang kemudian mendorong saya untuk meneliti, mengidentifikasi sumber-sumber pencemaran industri ini. Apa limbahnya, apa karakternya.

Akhirnya saya dan teman-teman mendirikan Ecoton pada 1996, saat masih kuliah. Membuat kelompok studi pemerhati lingkungan. Saat lulus dari kampus pada tahun 2000, kami jadikan badan hukumnya.

Selama ini aktivitas yang dilakukan Ecoton hanya di Kali Surabaya dan Kali Brantas, atau…

Sebenarnya kegiatan kami (berlingkup, red.) nasional. Pada 2013 kami bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Best practices yang kami buat di Surabaya didiseminasikan ke berbagai sungai di Sumatra, Gorontalo, Makassar, dan Maros.

Apa yang membuat Kementerian Lingkungan Hidup tertarik?

Perubahan di Kali Brantas. Sebenarnya kita punya problem pada segi partisipasi. Orang tidak terlibat, tidak merasa sungai bagian dari mereka sehingga tidak peduli. Jadi kita harus buat narasi baru tentang sungai. Orang tidak sayangi sungai karena tidak memahami apa yang terjadi di sungai itu. Maka Ecoton berupaya memopulerkan hasil riset yang seringkali sulit diterjemahkan. Kami munculkan banyak berita, mem-publish banyak informasi.

Saya percaya ada lingkaran besar partisipasi yang dimulai dari lingkaran kecil informasi. Jadi, ketersediaan akses informasi itu akan menciptakan semacam ruang untuk diskusi. Setelah diskusi akan ada konsultasi, baru kemudian partisipasi besarnya.

Kalau kita mengharapkan orang terlibat, ia harus, kalau orang Jawa bilang “melu handarbeni” (merasa memiliki, red.). Itu harus dimulai dengan adanya akses informasi. Nah, kami di Ecoton ya memproduksi informasi itu dalam kerangka “tak kenal maka tak sayang.”

Jadi, diseminasi informasi adalah strategi utama Ecoton?

Ada dua hal. Kalau kita sudah bicara riset, berarti menghasilkan informasi. Informasi ini menjadi semacam software yang kita terjemahkan dalam dua bentuk; satu untuk litigasi, satu untuk non-litigasi.

Kalau untuk non-litigasi, kami ingin membuat orang menjadi lebih kritis. jadi kami datang ke komunitas, memperkuat komunitas. Kami juga menjaga hubungan baik dengan media. Kami merasa ada simiosis mutualisme dengan media. Kami butuh bantuan mereka. Itu yang kami lakukan sejak awal tahun 2000.

Kemudian untuk litigasi kami gunakan data hasil riset itu untuk lobi. Dalam riset, kami mengejar inovasi dan scientific background. Kami uji sampel ke Jepang, Praha, Amsterdam. Kami melakukan itu untuk membangun trust orang kepada Ecoton.

Kemudian, kami juga menggugat. Kami hitung ada 7 gugatan hukum yang kami lakukan sejak 2007, menggugat pemerintah dan industri. Untuk menggugat itu perlu data yang valid.

Kami juga melobi teman-teman di DPR, gubernur. Kami meminjam mulutnya gubernur, mulutnya bupati untuk mengatakan apa yang kami inginkan. Misalnya, Khofifah (Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur). Program pertama Khofifah ketika menjabat gubernur adalah membersihkan Kali Brantas dari popok.

Jadi, inilah cara kami. Serangan langit, serangan bumi, seperti itu.

Bekerja sejak 1996, bagaimana Ecoton melihat perbaikan di Kali Brantas dan Kali Surabaya? Apakah sudah puas?

Di tengah prioritas pemerintah yang tidak ke isu lingkungan, capaian di Brantas itu ya lumayan. Artinya, ini kan gradual. Kalau kita mau cepat, itu malah akan menyakiti banyak pihak.

Minimal kini masyarakat tidak lagi mau menerima mie instan dan minyak goreng sebagai ganti pencemaran di daerah mereka. Masyarakat kini berani meminta IPLC (Izin Pembuangan Limbah Cair, red.) pada perusahaan yang ingin mendirikan pabrik di situ.

Kami pernah melakukan survei mengenai industri di Kali Brantas. Mereka kini takut “dikorankan” atau “dipolisikan”. Kemudian mereka lambat laun mulai memperbaiki pengolahan limbah dengan memakai teknologi pengolahan limbah yang memenuhi standar.

Nah sekarang yang menjadi problem adalah standarnya itu. Yang punya standar kan pemerintah, jadi pemerintahlah yang harus meningkatkan standarnya.

Sungai memang bisa self-purification, memulihkan diri sendiri. Tetapi bebannya sekarang makin bertambah. Kesehatannya sudah menurun, sehingga mudah diserang penyakit.

Pernah ada perusahaan yang mengancam Ecoton?

Tidak. Kami menggunakan peran media dengan memberikan data kepada mereka untuk diterbitkan. Pabrik tak bisa menekan kita karena kalau data sudah terbit semua orang terbuka untuk mengawasi.

Yang menarik itu, sekarang ada beberapa industri yang mengirim parsel kepada kami, tapi kami kembalikan. Karena kalau kami terima, hancur reputasi kami. Jadi kami terangkan saja bahwa ini soal reputasi.

Ecoton menjaga lingkungan untuk masa depan dan masa depan itu adalah anak muda. Bagaimana cara mengajak anak muda lebih peduli kepada masalah lingkungan?

jadi tahun 1997 Ecoton itu ikut membidani dan berkolaborasi dengan teman-teman LSM pendidikan lingkungan untuk menelurkan sebuah jaringan pendidikan lingkungan hidup. Jaringan ini yang kemudian menghasilkan Sekolah Adiwiyata. Selalu ada ruang ditempat kami, ada ruang besar, untuk anak-anak. Karena kami menyadari children can make a difference.

Kami ada program Detektif Kali Surabaya, ada program Wisata Limbah, yang mengajak anak-anak peduli lingkungan. Kami menempatkan anak-anak sebagai bagian penting untuk perubahan lingkungan.

Kira-kira feasible-kah membersihkan sungai-sungai di Indonesia, dimulai dari Kali Surabaya dululah?

Feasible, sangat feasible. Tapi yang menjadi PR inikan kontribusi masyarakat yang masih rendah. Kalau saya bandingkan gitu ya, 60 persen orang Jerman itu punya KTA (kartu tanda anggota) LSM lingkungan. Atau di Jepang itu satu orang bisa punya tiga KTA; dia mungkin anggota Birdlife, WWF.

Untuk punya KTA, mereka mau mengeluarkan modal, berkontribusi. Soal kontribusi (untuk lingkungan) itu di Indonesia masih sangat minim. Kalau untuk seperti Badan Amil Zakat, Dompet Dhuafa itu banyak. Isu lingkungan masih kalah dari teman-teman yang bergerak di organisasi agama.

Maka kemudian kami harus menguatkan narasi. Narasi kami harus bisa merangkul lebih banyak orang agar mau mengeluarkan duit untuk menyelamatkan sungai.

Oleh karena itu, melakukan gerakan yang populer, seperti membuat film Pulau Plastik, menjadi penting. Begitu?

Betul. Penting untuk menarik perhatian orang. Selama ini sekitar 70-80% anggaran Ecoton dari orang asing. Dari badan pembiayaan asing seperti pemerintah Belanda, LSM Amerika Serikat. Jadi masih tergantung funding asing.

Kami kepingin seperti teman-teman gerakan Islam yang dananya disokong masyarakat Indonesia. Inikan karena kegagalan kita membangun narasi sehingga orang-orang tidak mencintai sungai.

Jadi orang asing lebih peduli pada kerja Ecoton ketimbang warga Indonesia atau masyarakat Jawa Timur sendiri?

Betul. Tapi hampir semua LSM yang bergerak pada isu lingkungan mengalami hal serupa.

Kami pinginnya kuat karena kami disangga oleh uang masyarakat sendiri, uang orang Surabaya, uang orang Jawa Timur. Kami sedang mencoba itu (menggalang dana masyarakat, red.) melalui kerja sama dengan Kitabisa.com mulai bulan ini (Mei 2021).

Ada program spesifik apa yang akan dibiayai melalui penggalangan dana itu?

Sungai. Jadi Kami lagi membantu orang orang yang berjuang untuk sungai. Ada ibu-ibu yang  menyelamatkan sungai dari popok, ada bapak-bapak di hulu yang konservasi mata air, kemudian ada nelayan di sungai yang menanam pohon, lalu ada anak-anak yang sedang berjuang melawan sampah impor.

Kami sangat ingin kami itu, istilahnya, makan duit teman kami. Bukan makan duit orang asing. Karena keberhasilan sebuah kampanye itu kan kalau warga sendiri rela mengeluarkan uang mereka untuk menyukseskannya.

Kita ini sebenarnya agak antik gitu. Kita menyelamatkan lingkungan kita, sungai kita, tapi dananya dari uang asing.

Terakhir, pesan apa yang ingin disampaikan oleh ecoton kepada pemerintah dan masyarakat?

Ini final call kita. Kita ini selalu  bicara, terlalu banyak pidato, tapi tidak terimplementasi dalam tindakan. Kita bicara tentang cinta kasih, kasih sayang, tapi itu omong kosong kalau kita tetap membiarkan sungai kita kotor, tercemari oleh perilaku kita saat ini. Itukan berarti kita gak punya cinta kasih untuk anak-anak kita. Berarti kita mengotori sungai yang nanti akan menjadi hak anak cucu kita.

Jadi, perilaku buruk kita –buruk kebijakan, buruk industri kita, buruk perilaku kita– itu nanti akan meninggalkan penderitaan besar untuk anak cucu kita. Maka kita harus lebih bijak lagi.

Tapi memang masalah lingkungan gampang diomong tapi sulit. Sebenarnya gampang kan mengurangi pemakaian plastik. Sekarang ini kita punya kampanye setop makan plastik, kurangi pemakaian sedotan, tas kresek, botol minum sekali pakai, sedotan sama sachet. Lah itu kan gampang sebenarnya, tapi ya, angel tenan (sulit sekali). Gampang diomong, tapi susah implementasinya.

The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) mendorong media di Indonesia untuk memberikan perhatian lebih terhadap isu penanganan perubahan iklim.

SIEJ melihat dalam kurun waktu lima tahun terakhir isu penanganaan perubahaan iklim terutama perdagangan karbon di Indonesia tidak begitu banyak diangkat. Padahal perdagangan karbon adalah kegiatan jual beli sertifikat yang diberikan kepada negara yang berhasil mengurangi emisi karbon dari kegiatan mitigasi perubahan iklim. Indonesia memiliki potensi cukup besar dalam perdagangan karbon ini. Terutama setelah memasuki tahap baru sejak diadopsinya Paris Agreement pada The Conference of Parties (COP), dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-21, pada Desember 2015. 

Ketua Umum The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Rochimawati, mengatakan berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp350 triliun dari transaksi jual beli sertifikat emisi karbon.

“Ini penting mengapa media di Indonesia harus memberikan perhatian lebih terhadap isu perdagangan karbon. Kami berharap media bisa mengarahkan jurnalisnya di lapangan untuk melakukan liputan mendalam terkait isu tersebut,” kata Rochimawati.

Data menyebut, total lahan hutan Indonesia mencakup sekitar 94,1 juta hektar menyimpan sekitar 200 ton karbon per hektar.  Sedangkan sekitar 22,5 juta hektar lahan gambut di Indonesia juga dapat menyimpan lebih dari 1.000 ton karbon per hektar. Lahan mangrove di Indonesia yang luasnya sekitar 3,31 juta ha berpotensi menyimpan sekitar 227 ton karbon per hektar.

Namun implementasinya hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan. Pemerintah belum juga menerbitkan peraturan presiden (Perpres) sebagai landasan hukum perdagangan karbon.

Menurut Rochimawati, secara kelembagaan SIEJ mempunyai komitmen memberikan perhatian lebih terhadap isu-isu lingkungan termasuk perdagangan karbon di Indonesia. Pihaknya bahkan akan makin intens mendorong dan mengajak media di Indonesia dapat memberikan porsi terhadap isu lingkungan dalam rencana redaksinya. 

“SIEJ berharap bisa berperan dalam meningkatkan kesadaran media terhadap isu-isu lingkungan dalam upaya membangun kembali lingkungan dan ekonomi hijau pasca pendemi Covid-19,” ujar Rochimawati

Manajer Kampanye Keadilan Iklim WALHI, Yuyun Harmono, mengungkapkan isu pengelolaan hutan di Indonesia kerap dihubungkan dengan wacana perdagangan karbon. Kondisi ini menyebabkan munculnya ketidakadilan, Terutama dalam menggunakan pendekatan nilai untuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

“Padahal masyarakat menjaga hutan awalnya agara hutan bisa menjadi sumber kehidupan sekaligus benteng mencegah bencana. Saya pikir ada ketidakadilan pada hal ini karena berbeda dengan negara yang menjaga hutan untuk urusan karbon,” kata Yuyun dalam diskusi Editor Meeting bertemakan “Tantangan Perdagangan Karbon di Indonesia”, Sabtu (29/5), yang berlangsung secara virtual.

Sementara itu, M. Shofwan, Pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bujang Raba, Jambi mengaku pengelolaaan hutan berbasis masyarakat merupakan pendekatan yang ideal dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Cara ini bahkan bisa mendorong kesejahetaraan masyarakat dan meminimalisir permasalahan. 

“Perdagangan karbon itu salah satu bonus saja. Tetapi manfaat besar dari pengelolaaan hutan itu adalah lingkungan tetap terjaga. Bencana bisa dikurangi dan ekonomi masyarakat tumbuh dengan memanfaatkan potensi hutan. Dari pemanfaatkan sumber air untuk pembangkit hingga wisata,” ujar Shofwan.

Narahubung  :

Budhy Nurgianto (b.nurgianto@gmail.com)