• Ikuti Kami:
  • |
  • August 19, 2022
  • By - SIEJ

Ir. Jaka Widada: Keberlanjutan Pangan dengan Manajemen Air

Kebutuhan akan pangan adalah kewajiban bagi manusia. Tanpa pangan manusia sulit untuk bertahan hidup. Organisasi Pangan Dunia (FAO) memprediksi dunia akan kelaparan pada 2050, sebabnya jumlah penduduk bumi mulai meningkat. Selain itu, eksploitasi hutan, dan upaya pemerintah tiap negara untuk sadar akan pentingnya pangan berkelanjutan minim.

Upaya serupa disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Ia menyampaikan bahwa Indonesia berada dalam ancaman ketahanan pangan. Jawaban atas ancaman itu dibangun embung skala besar dan food estate. Sayangnya daerah proyek food estate alami kegagalan panen. Hasilnya belum dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Pemerhati menilai ada salah tata kelola dalam pembuatan food estate di Indonesia. 

Untuk mengetahui bagaimana kondisi pangan di Indonesia dan mitigasi apa saja yang harus diperhatikan. The Society of Indonesiaan Environmental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan ahli pertanian dan pangan sekaligus Dekan Pertanian (Faperta) Universitas Gadjah Mada, Ir. Jaka Widada. Wawancara dilakukan melalui zoom pada 17 Agustus 2022.

Bagaimana kondisi pangan di Indonesia saat ini?

Secara umum FAO telah memprediksi jumlah penduduk dunia 2050 hampir tembus 10 miliar. Kebutuhan pangan dunia supaya tidak terjadi bencana kelaparan harus naik 70 persen dari saat ini. Itu juga berlaku di Indonesia. Mencapai 2050 produksi pangan harus naik. Pemerintah banyak membuat lumbung pangan. Itu kebijakan yang mungkin tidak pas.

Penggunaan lahan di Jawa, seperti pekarangan dan produktivitas sangat mungkin tanpa melakukan ekstensifikasi. Permasalahan ekstensifikasi ada di deforestasi dan mengurangi tutupan lahan tanaman keras. Indonesia punya masalah yang serupa dengan dunia bahwa pangan ini harus naik signifikan paling tidak 70 persen dari kondisi sekarang.

Perubahan iklim, anomali cuaca. Sebabkan daerah tertentu alami kekeringan dan berpotensi kelaparan. Bagaimana perubahan iklim berdampak ke pangan?

Kalau lihat sejarah, pertanian nenek moyang masih ada ladang berpindah ada konsep natural ekosistem. Semua layanan lingkungan termasuk iklim global belum terganggu. Produksi hutan dan biodiversitas bagus, tidak ada ledakan hama, dan air bagus. Namun jumlah pangan belum diperhatikan karena penduduk masih sedikit.

Dengan adanya revolusi hijau, jumlah penduduk naik. Pemerintah hanya berpikir produksi pangan saja. Semua meningkat sehingga hutan ditebang, penggunaan air tidak ramah, termasuk pertanian monokultur yang intensif akibatnya menyebabkan kontribusi perubahan iklim. Kekurangan air, hutan habis, pemanasan global, dan ledakan hama. Layanan lingkungan sudah mengkhawatirkan karena tidak diperhatikan.

Monokultur sebenarnya bukan pertanian yang berkelanjutan. Banyak layanan ekosistem tanaman yang gilang. Idealnya produksi tetap tinggi tapi layanan lingkungan diperhatikan. Negara maju sudah buat model pertanian masa depan. Tidak hanya karena teknologi, tapi tujuan akhir adalah layanan lingkungan terjaga dan produksinya terjaga.

Kejadian anomali iklim bukan waktu yang singkat. Itu proses panjang akibat kehidupan panjang kehidupan yang salah mengelola lingkungan yang menyebabkan perubahan iklim. Seperti penebangan hutan, akibatnya CO2 naik akibatnya perubahan iklim global.

Ada beberapa daerah kering. Itu seperti apa?

Di Jawa ada pakai air. Di Ngawi ke Timur sekarang mengkhawatirkan karena pakai air tanah. Padahal enggak tahu isinya berapa lalu diambil. Yang diambil dan masuk tidak imbang. Bisa jadi kekurangan permanen di daerah jawa. Terutama yang pakai sumur pantai atau sumur dalam. Itu membuat prihati di Indonesia. Sangat mengkhawatirkan di Indonesia.

Pemerintah membuat food estate untuk ketahanan pangan. Bagaimana tanggapan Anda?

Untuk solusi ketahanan pangan boleh jadi membuat food estate dan membuat embung. Itu sesuatu yang bagus. Yang menjadi perhatian segala sesuatu hendaklah dilihat secara holistic. Kalau buat food estate pikirkan air dari mana, keberlanjutan airnya, bagaimana pola tanam, rotasi tanam, bagaimana memaksimalkan input. Harus secara holistic di lihat. Tidak bisa membuka lahan di Kalimantan Tengah, Sulawesi digunakan untuk padi. Tidak bisa begitu. Itu tidak akan berkelanjutan. Ada sesuatu pembatasan akan membuat kendala.

Seharusnya bagaimana?

Idealnya pendekatannya harus transdisiplin, menyeluruh dan berpikir tidak linear. Semua factor yang ada di situ harus diperhatikan. Keterkaitan faktor menjadi pertimbangan. Betul-betul usaha pertanian sudah memperhatikan semua aspek. Paling gampang soal air. Bagaimana ketersediaan air dan keberlanjutan air. 25 tahun ke depan akan berlanjut atau tidak?

Membuat banyak embung sesuatu yang bagus untuk memanen air hujan. Tapi banyak juga mebung dibuat bukan pada posisi yang pas. Buat embung di paling bawah harus butuh pompa dan energi itu harus dievaluasi. Mestinya buat embung tidak harus besar, kecil tapi berjenjang dan mencari titik tertentu itu akan hemat energi dan berkelanjutan.

Indonesia daerah strategis daerah tropis. Hujan cukup air cukup. Bagaimana mengelolanya. Kalau musim hujan banjir nggak ada musim hujan banjir. Itu masalah padahal hujannya cukup. Kalau cukup harusnya bagaimana memanen air hujan lalu distribusikan air bisa digunakan selama musim kemarau sehingga akan bergulir. Selama satu tahun tidak akan kesulitan air.

Perubahan iklim berpengaruh pada pangan?

Harus menggunakan varietas yang respons terhadap perubahan iklim. Itu bisa dicapai kalau pakai teknik pemuliaan tanaman. Ini waktu yang singkat cukup panjang. Cara budidaya berkelanjutan menjadi penting. Seperti melakukan rekayasa tanaman. Bisa dengan rotasi tanaman, bisa memilih tanaman penutup tanah atau tanaman pelindung itu menjadi penting untuk pertahankan tingkat produktifitas ini menjadi sangat penting juga. Perubahan iklim bisa ditanggapi dengan pendekatan holistic. Termasuk menggunakan varietas hemat air.

Padi Indonesia dan padi sawah kebutuhan air untuk 1 kilogram masih besar sekali mungkin 2500 liter. Bagaimana memproduksi padi tapi 100 liter per 1 kilogram beras. Itu akan sangat hemat sekali dan itu luar biasa.

Jokowi menyampaikan ada ancaman ketahanan pangan. Bagaimana tanggapan Anda?

Itu akan terjadi. Seperti prediksi FAO. Untuk mencukupi kebutuhan penduduk meningkat 70 persen kenaikan pangan harus ada. Kalau itu peningkatan 10 -20 persen maka akan kekurangan pangan luar biasa. Saya kira embung yang dibuat oleh pemerintah dengan masif itu respons baik untuk menjaga ketersedian air harapan kegagalan panen akibat kekeringan tidak terjadi. Namun diperhatikan embung itu harus posisi yang sesuai sehingga air untuk dibagi cukup. Embung harus dipertimbangkan berdasarkan curah hujan, daerah resapan paling besar di lokasi mana.

Kami di Imogiri Bantul membuat laboratorium alam. Memanen air hujan di daerah kering. Harapan embung yang dibuat dapat melayani daerah situ sepanjang tahun tidak kekeringan. Kami pakai air hujan bukan air sumur. PUPR pada 2023 akan setujui. Model pertanian yang ramah lingkungan dan konservasi air bisa dibuat di daerah Imogiri.

Menurut Anda apa sebab kegagalan food estate?

Jadi beberapa faktor kegagalan, misalnya di Kalimantan tengah, pertama soal budaya. Budaya Bertani seperti di Jawa tidak ada. Kebiasaan petani di Kalimantan sebar benih ditinggal selama 6 bulan baru dipanen. Tidak ada sistem setiap hari ke sawah kecuali transmigrant. Di Papua juga sama. Yang mau bekerja di sawah petani di Jawa. Budaya Bertani memelihara sawah minim. Buat mdi Merauke gagal itu juga masalah budaya dan tenaga kerja. Kalau diganti mekanisasi akan mengurangi jumlah pekerja.

Jadi food estate direncanakan secara holistic dan transdisiplin, sosial budaya, ekonomi, sistem budidaya, varietas yang sesuai. Juga kesehatan tanaman aga rtdai turun produktifitasnya. Bagaimana mengembalikan sisa tanaman ke tanah. Harus menjadi satu kesatuan untuk pengembangan food estate.

Tata Kelola dari pemerintah karena ada mimpi ketahanan pangan perlu dievaluasi?

Memilih tempat terkait budaya dan kesiapan pelaku. Pikirkan juga sarana produksi yang tidak mahal. Isu keberlanjutan itu harus dipegang. Keberlanjutan tidak hanya secara ekologis. Tapi secara ekonomis, sosial-budaya. Karakter ekologi tidak menimbulkan bencana ekologi. Tata air menjadi sangat penting.

Mitigasi untuk cegah gagal panen karena kekeringan, hama, dan kerusakan pangan seperti apa?

Kaitan sama air, harus pandai mengelola air. Sumber dari mana. Kalau sumber terbatas, bagaimana curah hujan itu. Lalu memungkinkan melakukan pemanenan air hujan. Ketika bisa antisipasi soal air maka kekeringan tidak harus terjadi. Sumber air adalah air hujan maka membuat embung dan menampung untuk dikelola sampai musim penghujan lagi. Itu dalam rangka menghindari kekeringan. Kalau sumber dari sungai atau mata air di pegunungan perlu dikelola. Bisa menggunakan varietas hemat air. Lalu pemberian air bisa dipikirkan dari model irigasi tetes atau yang spesifik yang tidak mengenai semua. Itu bisa jadi pertimbangan antisipasi kekeringan.

Kaitan sama hama dan penyakit harus dikelola. Harus cari tanaman yang tahan penyakit. Tidak menggunakan sistem monokultur. Mengundang musuh alami dengan pertanian yang multikultur akan mengurangi risiko yang terjadi ledakan hama dan penyakit.

Bagaimana antisipasi ancaman ketahanan pangan?

Pendekatan interdisipliner harus dilakukan. Harus membangun pusat pangan. Pekarangan di Jawa kalau dimanfaatkan untuk pangan luar biasa. Tanah yang tidak dimanfaatkan luar biasa dan luas. Awal penanaman tebu dikombinasikan dengan jagung, kedelai, kacang. Itu dapat menambah produksi tanaman. Itu sangat besar produksinya. Manajemen holistic pendekatan interdisipliner harus diupayakan pemerintah untuk hindari resiko kegagalan yang terjadi. Peluang sangat besar Cuma pendekatan diubah tidak sektora tapi holistic. Berpikir pada sistem. Harus perhatikan geospasial yang menjadi satu kesatuan, budaya, sosial harus diupayakan supaya tidak terjadi kegagalan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments