• Ikuti Kami:
  • |
  • August 19, 2022
  • By - SIEJ

Bom Waktu Krisis Pangan

SIEJ – Jangankan mendapat asupan gizi cukup, separuh penduduk Somalia yaitu sebesar 7,1 juta orang nyaris tak bisa makan. Bahkan terancam mati kelaparan. Agar bisa menyambung hidup, sebanyak 1 juta penduduk Somalia memilih mengungsi, daripada bertahan dalam bencana kekeringan panjang di Somalia. 

Seperti di Somalia, sekitar 6 juta penduduk Etiopia berstatus darurat pangan. Padahal berdasarkan data Bank Dunia, dari 2000 hingga 2018, Etiopia diklaim sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Bukan hanya dua negara di tanduk Afrika tadi, negara Afrika bagian selatan seperti Madagaskar juga mengalami krisis pangan. Sebanyak 1,35 juta penduduk Madagaskar atau 5,15% dari total penduduk, membutuhkan bantuan makanan.

Karena kesulitan pangan, sampai-sampai warga Madagaskar memakan kaktus dan belalang karena kesulitan pasokan gandum dan beras. Langkanya pangan ini disebabkan karena perubahan iklim yang ekstrim. Selama empat musim ini, banyak negara-negara Afrika dilanda kekeringan yang berkepanjangan.

Illustrasi: WFP| Children in Fangak county, Jonglei State eat a cooked meal of sorghum. WFP provides food rations to food insecure families containing sorghum, oil, salt, peas and maize. .South Sudan 20 January 2022.

Di 2022, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 345 juta orang di seluruh dunia menghadapi ancaman kelangkaan pangan akut. Hampir setara dengan jumlah penduduk Amerika Serikat. “Kondisi sekarang jauh lebih buruk daripada selama musim semi Arab 2011,” Direktur Eksekutif World Food Programme (WFP) David Beasley.

Temuan Global Network Againts Food Crises (GNFC), ada 193 juta orang di 53 negara, pada tahun 2021, yang mengalami bencana kelaparan dan tidak bisa mendapat kecukupan makanan setiap hari. Penyebab utamanya perubahan iklim, lalu diikuti dengan konflik.

GNFC menglompokkan kerawanan pangan dalam 5 fase. Pertama, fase aman atau tidak ada kerawanan pangan. Pada fase ini, setiap rumah tangga mampu memnuhi kebutuhan pangannya, tanpa harus melakukan Tindakan tidak lazim. 

Kedua, fase tertekan (Stressed). Dalam fase ini setiap rumah tangga memiliki akses untuk pangan namun tak mampu membayar kebutuhan nonpangan tanpa melakukan tindakan yang memicu stress. Ketiga, fase krisis. Di fase ini, rumah tangga tidak mampu memenuhi pangan yang bergizi.

Keempat, fase darurat. Pada fase ini, rumah tangga mengalami malnutrisi akut tinggi dan berpotensi menyebabkan kematian. Terakhir, fase kelaparan. Di fase ini, rumah tangga sangat kekurangan makanan. Potensi kematian semakin tinggi dibandingkan fase sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Presiden Joko Widodo beserta para pembantunya punya komentar tentang ancaman krisis pangan.

“Beberapa negara sudah mulai, mulai, mulai (mengalami krisis pangan) dan diperkirakan kalau ini tidak ada solusi diperkirakan bisa masuk ke 800 juta orang akan kekurangan pangan dan lapar. Inilah kenapa, kita ingin lahan-lahan yang tidak produktif, itu diproduktifkan.”

“Di tengah ancaman krisis pangan di tingkat global, sekali lagi pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi, menjamin ketercukupan pangan di dalam negeri dan sekaligus memberikan kontribusi bagi kecukupan pangan dunia,”

Presiden Joko Widodo, 11 Agustus 2022

“Situasi dunia terus berubah sangat cepat. Seperti perubahan iklim dan cuaca serta kondisi geopolitik global. Perubahan iklim dan cuaca bisa menyebabkan kondisi gagal panen. Jangan sampai Indonesia mengalami krisis pangan.”

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko – 2 Agustus 2022

“Pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, dan krisis pupuk akan memperburuk kerawanan pangan akut 2022 yang sudah parah yang sudah kita lihat.”


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati -15 Juli 2022 

“Krisis pangan terjadi akibat situasi geopolitik dunia saat ini. Hal itu menjadi tantangan besar Indonesia untuk terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19.”

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir – 15 Agustus 2022

“Krisis pangan merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk memproduksi pangan lokal. Seluruh masyarakat mulai mempersiapkan diri salah satunya, dengan meningkatkan produktivitas di sektor pertanian dan melakukan diversifikasi pangan.”

Kepala Badan Pangan Nasional (BPN) Arief Prasetyo Adi – 2 Agustus 2022

Elit negeri ini sebenarnya sudah sadar terhadap adanya ancaman krisis pangan. Cuma, mitigasinya belum tepat. Karena masih berkutat pada pemanfaatan lahan produktif dan pengembangan teknologi pertanian saja. Sementara biang keroknya adalah perubahan iklim. Dan sejauh ini, belum ada keseriusan pemerintah untuk memitigasi perubahan iklim.

Laporan dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) menjabarkan, kalau kenaikan suhu rata-rata yang terjadi belakangan ini, berdampak pada menurunnya produksi pangan. Global warming merupakan proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan bumi. 

Naiknya suhu terjadi akibat efek rumah kaca yang merupakan proses pemantulan energi panas ke atmosfir dalam bentuk sinar-sinar infra merah. Penyerapan sinar inframerah oleh rumah kaca menyebabkan kenaikkan suhu. Akibat selanjutnya, menyebabkan terjadinya perubahan iklim dalam kurun waktu tertentu.

Dikutip dari climatechange.chicago.gov, ada beberapa faktor yang mengakibatkan kualitas tanaman menurun, bahkan menjadi rusak. Faktor pertama adalah peningkatan suhu di suatu tempat. Beberapa daerah mungkin memiliki tingkat pemananasan yang ideal. Sebaliknya, jika suatu daerah memiliki suhu yang sangat tinggi, maka hasilnya pun ikut menurun.

Faktor lainnya adalah tingkat karbondioksida yang sangat tinggi. Umumnya, karbondioksida mampu mendukung tanaman untuk tumbuh. Namun, faktor seperti perubahan suhu, nutrisi, dan ozon menghambat potensi pertumbuhan.

Karbondioksida juga dinilai kurang baik bagi tanaman karena mengurangi konsentrasi protein dan mineral penting. Misalnya pada tanaman gandum, kedelai, dan beras. Suhu dan curah hujan yang ekstrim pun menjadi faktor yang membuat tanaman susah tumbuh. Apalagi ketika cuaca ekstrim menyebabkan banjir di kawasan tempat panen yang terakumulasi bisa berujung ke krisis pangan. Di Indonesia, krisis pangan seperti bom waktu. Pasalnya bencana kekeringan dan banjir terus terjadi. 

Data Badan Pusat Statistik di atas mencatat, dalam kurun 2019-2021, ada 15.366 desa/kelurahan mengalami bencana banjir. Atau sekitar 18% dari total desa/kelurahan di Indonesia. Lalu sebanyak 1.093 desa/kelurahan atau sekitar 1,3% mengalami banjir bandang. 

Masih di kurun waktu yang sama, ada 2.570 desa/kelurahan yang mengalami bencana kekeringan. Angka tersebut setara dengan 3% dari total kelurahan/desa di Indonesia. Data BPS ini semakin mengkhawatirkan, jika desa atau kelurahan yang mengalami bencana banjir dan kekeringan adalah daerah produsen pangan.Maka itu, selain infrastruktur dan teknologi pertanian, pemerintah mestinya mulai melakukan Gerakan mitigasi perubahan iklim. 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments