• Ikuti Kami:
  • |
  • May 10, 2022
  • By - SIEJ

Studi Baru PBB tentang “Keadaan Hutan Dunia 2022″

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB merilis”Keadaan Hutan Dunia 2022″. Laporan ini disampaikan bertepatan dengan Kongres Kehutanan Dunia di Seoul, 2-6 Mei lalu.

Laporan yang diperbarui dua tahun menyebut, pemanasan planet di bawah 1,5 derajat Celcius, dilakukan dengan menghentikan deforestasi dan memelihara hutan. Ini dapat signifikan menghindari emisi gas rumah kaca atau sekitar 14 persen dari pengurangan yang dibutuhkan hingga 2030.

Laporan ini hasil kontribusi para ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF). Penggunaan hutan secara berkelanjutan dan membangun rantai pasok hijau akan membantu memenuhi permintaan bahan baku di masa depan. Ini berdasarkan konsumsi global yang diperkirakan naik dua kali lipat.

Dari 92 miliar ton 2017 menjadi 190 miliar ton pada 2060. Ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan global populasi menjadi 9,8 miliar orang pada tahun 2050.

Robert Nasi, direktur pelaksana CIFOR-ICRAF mengemukakan, laporan terbaru ini merinci upaya yang dipromosikan CIFOR-ICRAF, yaitu peta jalan keuangan yang direkomendasikan untuk pembuat kebijakan dan sektor swasta.

Kesimpulan utama studi ini bahwa pemulihan global berakar pada hutan. Pepohonan dan hutan dapat membantu dunia pulih dari pandemi COVID-19 dan guncangan ekonomi. Selain memerangi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Diperkirakan bahwa sepruh lebih produk domestik bruto dunia (USD84,4 triliun) pada tahun 2020 , bergantung pada jasa ekosistem, termasuk yang disediakan oleh hutan.

SOFO dikeluarkan hanya beberapa hari setelah angka deforestasi tahun 2021  dirilis melalui Global Forest Watch. Dari Amazon Brasil hingga lembah Kongo, kawasan tropis kehilangan 11,1 juta hektar tutupan pohon tahun lalu, termasuk 3,75 juta hektar hutan primer.

Penelitian CIFOR-ICRAF tentang kehutanan dan agroforestri di negara berkembang untuk mendukung pengambil kebijakan di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin, memantau tren ini.

Selama tahun 2020, total area yang terdeforestasi di seluruh kawasan tropis global meningkat dua kali lipat dibandingkan nilai tahun sebelumnya, sebelum COVID-19. Penutupan dan masalah kesehatan masyarakat mendorong prioritas politik menjauh dari hutan dan pohon.“Kapasitas negara-negara tropis untuk menangani konservasi hutan mungkin telah mundur karena pandemi COVID-19,” kata Manuel Guariguata, ilmuwan utama CIFOR-ICRAF dan Pimpinan Peru.

“Pandemi menciptakan rantai pasokan lebih pendek dan sistem yang lebih beragam dan tangguh,” kata Vincent Gitz, Direktur CIFOR-ICRAF untuk Amerika Latin. Untuk tujuan ini, kami bekerja dalam ‘Proyek Percepatan Agroforestri and Restorasi’, membangun sistem agroforestri beragam di lahan terdegradasi dan mengolah pasar untuk komoditas berbasis hutan yang berkelanjutan.”

Faktanya, Petani kecil menghasilkan hampir 80 persen pangan dunia. Petani kecil, masyarakat lokal dan Masyarakat Adat memiliki atau mengelola setidaknya 4,35 miliar ha hutan dan lahan pertanian. Studi menunjukkan, 91 persen dari semua tanah adat dan tanah masyarakat menunjukkan potensi besar untuk mengurangi deforestasi dengan biaya yang efektif.

Robert Nasi, direktur pelaksana CIFOR-ICRAF mengatakan, pendanaan iklim global yang menjangkau petani kecil, penduduk asli dan komunitas lokal di negara berkembang kurang dari 2%. Pemerintah harus serius memikirkan prioritas untuk memungkinkan masa depan yang lebih baik. “Pemerintah hanya sekitar $50 miliar untuk restorasi lanskap. Sedangkan untuk pengeluaran militer menghabiskan $1,8 triliun per tahun dan $5 triliun untuk subsidi bahan bakar fosil.”

Untuk menghentikan deforestasi, merestorasi lahan terdegradasi dan membangun rantai nilai yang berkelanjutan membutuhkan pembiayaan tiga kali lipat pada tahun 2030 dan empat kali lipat pada tahun 2050 agar target netralitas iklim terpenuhi. Diperkirakan pendanaan yang dibutuhkan untuk pembentukan dan pengelolaan hutan saja setara dengan USD203 miliar per tahun pada tahun 2050.

Ilmuwan CIFOR-ICRAF  mempresentasikan penelitian terbaru mereka di Kongres Kehutanan Dunia untuk membahas keadaan dan masa depan tren kehutanan dunia.

  • Share:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments