• Ikuti Kami:
  • |
  • April 24, 2022
  • By - SIEJ

Jerit Nelayan Pulau Bangka Berebut Hasil Laut dengan Penambang Timah

Penelitian menyebutkan Perairan Matras tercemar logam berat yang bersifat toksik dan karsinogenik. Merusak terumbu karang dan memaksa banyak nelayan mencari sumber penghidupan alternatif.

Angin timur berembus kencang, menggiring ombak menuju pesisir pantai Teluk Pikat yang terletak di sekitar Kelurahan Matras, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Suasana di Teluk Pikat tidak seramai biasanya. Deretan pondokan nelayan tampak sepi. Padahal, di tempat ini nelayan di Matras biasa untuk berkumpul dan menjual hasil tangkapannya. Peti-peti es yang seharusnya terisi penuh oleh ikan juga tampak kosong.

Di sisi barat pantai, terlihat tujuh perahu nelayan tertelungkup di daratan. Hanya sedikit perahu bersandar di bibir pantai dan siap melaut. Salah satunya milik Yaman (40), ketua kelompok nelayan di Matras.

“Musim angin timur ini sering membawa badai dan ombak besar. Jadi banyak nelayan di sini yang tidak melaut,” kata Yaman, sembari mempersiapkan cumi-cumi yang akan ia jadikan umpan memancing, pertengahan bulan Februari kemarin.

Matras berada di wilayah perairan terbuka yang menghadap langsung Laut China Selatan, dan pada bulan-bulan tertentu, seperti Oktober hingga Maret, angin akan berembus langsung dari utara Pulau Bangka, dan menerpa wilayah pesisir timur. Angin tersebut membuat nelayan urung melaut.

Namun, siang itu Yaman terpaksa melaut, ia harus memberanikan diri untuk menerjang ombak dan angin timur yang terkenal ganas di kalangan nelayan. Ombak acapkali memakan korban; baik nelayan maupun warga yang terseret gulungan air laut itu.

“Setidaknya hasil melaut hari ini bisa untuk lauk makan. Kalau banyak ya syukur, bisa untuk dijual,” katanya.

Yaman mulai menyalakan mesin perahunya yang berkapasitas tidak lebih dari 10 paarden kracht (pk). Kali ini, ia akan menuju salah satu titik karang di tengah Laut Matras, jaraknya sekitar 4-5 kilometer dari bibir pantai.

Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan, Yaman berhenti sejenak untuk mengecek titik karang yang menjadi tujuannya. Ia melihat kebelakang, bukit Matras yang menjulang setinggi 110 meter ia jadikan patokan untuk mengingat titik karang.

“Rasanya benar di sini lokasinya,” ujarnya. Yaman segera melemparkan jangkar perahunya. Cumi-cumi yang telah dipotong-potong segera dikaitkan di kail pancingnya dan dilemparkan ke dalam laut.

Tak lama menunggu, senar pancing Yaman sedikit mengencang, pertanda ada ikan yang memakan umpannya. Dengan sigap ia menarik pancingnya.

“Alhamdulillah dapat,” ujarnya.

Seekor ikan kerisi merah seukuran dua jari orang dewasa berhasil terangkat. Tangkapan kerisi disusul juga jenis-jenis ikan lainnya, seperti sirip kuning, kerapu, dan jenis ikan karang lainnya, ukurannya tidak ada yang melebihi lima jari orang dewasa.

“Dulu kerisi di sini besar-besar, ukurannya bisa mencapai lima jari orang dewasa bahkan lebih. Tapi 10 tahun belakangan, ikan disini makin kecil ukurannya. Jumlahnya juga makin sedikit,” kata Yaman.

Hari itu, Yaman hanya mendapat sekitar dua kilogram ikan. Ia terpaksa pulang lebih awal, karena awan hitam mulai menyelimuti langit.

“Lumayan untuk lauk makan dirumah, kalau dijual tanggung, uangnya tidak sampai lima puluh ribu,” katanya.

Di perjalanan pulang, mata Yaman teralihkan oleh empat buah Kapal Isap Produksi (KIP) yang sedang beroperasi dari kejauhan. Kapal-kapal tersebut sedang sibuk menyedot pasir timah di kedalaman Laut Matras. Jarak kapal tersebut tidak sampai dua mil dari bibir pantai.

“Beruntung arus saat ini kencang, kalau tidak, limbah lumpur dari KIP biasanya membuat keruh sekitar perairan matras. Kalau sudah begitu, kita terpaksa melaut lebih jauh lagi,” kata Yaman, sembari terus memacu perahunya menuju daratan.

Simak reportase Nopri Ismi hasil kerja sama Project Multatuli, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), dan Ekuatorial selengkapnya di https://www.ekuatorial.com/

Banner image : Dua Bukit Pilar yang dianggap sebagai gerbang gaib bagi masyarakat melayu di pesisir timur Matras, Pulau Bangka. Foto : Nopri Ismi/Project Multatuli

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments