• Ikuti Kami:
  • |
  • April 21, 2022
  • By - SIEJ

Eliza Marthen Kissya: Kearifan Lokal Dianggap Ketinggalan Zaman

Sekarang hari sudah malam

Singgah dulu di sana

Mari memanfaatkan sumber alam

Secara arif dan bijaksana

Pantun ini karya Eliza Marthen Kissya, kepala Kewang atau pemegang otoritas hukum adat di Negeri Haruku, Maluku Tengah. Ia melestarikan adat-istiadat dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Maluku di tengah ancaman krisis iklim dan ekspolitasi.

Selain mendidik masyarakat agar taat aturan adat, Eliza juga membangun kesadaran masyarakat tentang lingkungan, konservasi penyu dan burung Maleo yang terancam punah. Ia bahkan ikut memprotes keberadaan tambang yang merusak alam di Haruku.

Eliza memperoleh berbagai penghargaan atas dedikasinya terhadap lingkungan, salah satunya Kalpataru. Di usianya yang semakin senja, Eliza berharap lahirnya para kewang muda yang meneruskan warisan adat untuk menjaga tanah leluhur. The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) wawancarai penerima Coastal Award ini, Rabu, 20 April 2022.

Eliza Marthen Kissya, kepala Kewang atau pemegang otoritas hukum adat di Negeri Haruku, Maluku Tengah. Foto : dokumen pribadi.

Mengapa Anda terpanggil untuk menjaga adat dan alam Maluku?

Ini warisan orang tua, saya belajar dari alam dan leluhur. Bapak saya seorang pegawai negeri, tapi harus rela tinggal di kampung. Saya juga hanya ikut sekolah rakyat sampai akhirnya menjadi kepala kewang. Sejak kecil, saya ikut membantu kegiatan kewang adat di negeri Haruku. Banyak hal yang dipelajari, misalnya kapan ikan bisa dipanen atau kapan akan hujan. Semua itu dari ilmu nanaku, ilmu yang diajarkan leluhur.

Bagaimana kondisi alam kampung Haruku saat ini?

Maluku memiliki keanekaragaman hayati, seperti ikan, penyu, dan burung Maleo yang langka. Namun, hadirnya tambang mengancam kelestarian alam di Maluku. Walaupun kami tinggal di pulau kecil, tapi alam menyediakan semua kebutuhan untuk hidup bukan tambang.

Seperti yang terjadi tahun 1994-1997, kehadiran tambang emas menghilangkan kearifan lokal masyarakat. Kami malah dituduh menghambat pembangunan. Padahal masyarakat banyak ditipu karena izin yang dikeluarkan camat dan pemerintah. Kami menolak pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Pembukaan lahan tambang mencemari sungai dan laut yang menjadi tumpuan hidup kami.

Mengapa Anda menciptakan pantun, lagu, dan karya seni lainnya bertemakan lingkungan?

Hidup dengan alam harus berkesinambungan. Seringkali kami melawan perusahaan besar dan pemerintah untuk melestarikan lingkungan. Dan kami harus mencari cara halus untuk melawan. Bukan dengan tombak, tapi dengan pantun, puisi, dan lagu sebagai alat perjuangan. Contohnya seperti ini:

Naik-naik ke gunung nona

Naik kedati bersama kusir

Kalau tambang jadi primadona

Masyarakat Haruku jangan diusir

Bagaimana pantun bisa membuat perubahan?

Cara ini cukup berhasil karena dinilai menarik. Melalui pantun, saya mengajar para kewang kecil, muda, dan tua untuk peduli lingkungan. Misalnya bagaimana menyemai bakau dan mengelola sampah. Saya malah sering diundang ke berbagai kegiatan sekolah dan kewang lainnya. Saat ini, banyak kearifan lokal yang sudah hilang karena dianggap ketinggalan zaman. Berpantun harus terus dilestarikan.

Bagaimana peran kearifan lokal untuk melestarikan lingkungan di Maluku?

Kami membangun kesadaran tentang pentingnya lingkungan melalui kewang kecil dan kewang muda. Misalnya dengan menyebarkan spanduk yang berisi pantun dan menegakkan sasi atau aturan adat untuk tidak mengambil sumber daya alam berlebihan. Seperti pohon sagu di pinggir sungai tidak boleh ditebang karena pohon itu dapat melindungi sungai dan sumber air.

Banyak bencana alam terjadi karena kita tidak merawat bumi dengan baik. Bumi bukan milik kita. Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita yang harus dijaga.

Bagaimana mengajak anak-anak muda untuk terlibat langsung menjaga kearifan lokal dan lingkungan di Maluku?

Kumpulkan dan berdiskusi dengan mereka. Kita harus mau bekerja keras, tidak hanya dengan bicara tapi dengan bukti. Anak muda akan tergerak untuk ikut bekerja karena melihat contoh yang baik.

Anda mendapatkan berbagai penghargaan karena dedikasi menjaga lingkungan. Bagimana tanggapan Anda setelah masuk lagi dalam nominasi Kalpataru 2022?

Saya tidak pernah berpikir untuk meraih penghargaan. Pemerintah pusat dan daerah ternyata melihat yang saya lakukan dan perjuangkan untuk lingkungan. Walaupun tidak pernah mengikuti sekolah formal, saya juga dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan orang lain.

Sampai kapan perjuangan Anda untuk kampung Haruku?

Sampai saya tidak mampu lagi. Sekarang usia saya sudah 70 tahun. Tuhan Maha Kuasa yang terus memberikan saya kekuatan dan kesehatan.

Alam ini harus dijaga. Saya mengajar kewang kecil yang selanjutnya bertugas menjaga alam melalui pantun. Saat ini, proses regenerasi terus berjalan. Saya senang dengan munculnya kewang – kewang baru yang akan melanjutkan perjuangan ini.

Anak-anak di wilayah otoritas hukum adat di Negeri Haruku, Maluku Tengah belajar menyemai bakau. Foto: dokumen pribadi.
Eliza Marthen Kissya bersama para kewang muda melakukan konservasi penyu di wilayah otoritas hukum adat di Negeri Haruku, Maluku Tengah. Foto : dokumen pribadi.

Banner image : Eliza Marthen Kissya, kepala Kewang atau pemegang otoritas hukum adat di Negeri Haruku, Maluku Tengah, mengajak anak-anak untuk membangun kesadaran melestarikan ekosistem pesisir yang terancam punah. Foto: dokumen pribadi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments