• Ikuti Kami:
  • |
  • January 10, 2022
  • By - SIEJ

Cerita dari Wallace : Sembilu Nelayan di Laut Banda

Cerita tentang perubahan iklim seringkali sulit dipahami. Tak heran jika ada yang menganggap isu ini hanya bualan semata dan tak nyata. Tapi tidak bagi Anton, nelayan suku Bajo yang menemani saya membelah laut dangkal perairan Laut Banda di Teluk Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kawasan ini dan pulau-pulau kecil disekitar dengan luasan 21.902,34 hektar menjadi kawasan konservasi sesuai SK Menteri Perikanan dan Kelautan No. 22/2021 pada Maret 2021.

Di tahun itu pula, saya banyak melakukan perjalanan pendokumentasian, memotret kehidupan nelayan tradisional di “kaki Sulawesi” hingga kepulauan Wakatobi di tengah perubahan iklim yang kian masif dan persoalan lingkungan di kawasan Perairan Laut Banda.

Riza Salman melakukan perjalanan pendokumentasian, memotret kehidupan nelayan tradisional di “kaki Sulawesi” hingga kepulauan Wakatobi. Foto: Istimewa

Perjalanan ini dimulai di penghujung Mei 2021. Saya bertemu Anton, nelayan yang menyewakan perahu tradisional ketinting beratap miliknya untuk menemani saya menyusuri Teluk Moramo selama empat hari. 

“Hari ini cerah, angin tidak kencang,” ujar Anton seolah meyakinkan bahwa cuaca terik siang itu cukup bersahabat dan perjalanan kami akan baik-baik saja. Tapi tidak cukup baik untuk kantong saya yang terkuras satu juta rupiah per hari demi menyewa kapal dan memanfaatkan keahlian Anton mengendalikan kemudi Ketinting.

Bagi Anton, kehadiran saya ini kesempatan mereguk rupiah dari aset paling berharga yang dimilikinya. Perahu mesin tempel yang selama ini menghidupi keluarga. Jika tak menemani “tamu” seperti saya, Anton akan mengarungi Laut Banda hingga ke utara Halmahera selama dua malam untuk mencari ikan Pelagis dan ikan karang dasar. Biasanya, tak sendiri. Ia pergi dengan dua rekannya, sesama nelayan di kampungnya.

Aktivitas ini dilakoni beberapa kali dalam setahun, disaat musim angin teduh. Ikan tangkapannya dijual ke pengepul yang datang ke kampung.

Ya, Anton memancing ikan hingga perairan Maluku Utara karena di Teluk Moramo tempatnya berlabuh menggantungkan hidup telah berubah. BMKG Stasiun Maritim Kendari mencatat selama dua tahun terakhir, arah angin dominan dari timur ke barat mengubah pola dan karakteristik iklim di perairan laut hingga pesisir Sulawesi Tenggara hingga mengakibatkan gelombang tinggi.

“Ikan sudah jauh berkurang,” keluhnya. Raut mukanya berubah sendu disembunyikan dengan menatap ke arah huma di lereng-lereng bukit terjal yang berbatasan langsung dengan garis pantai.

Tangan gesitnya mengarahkan kemudi menuju Desa Labotaone, tujuan pertama saya mengitari kaki Sulawesi di sisi tenggara. Anton sengaja menyusuri pesisir untuk menghindari terpaan angin kencang dan gelombang tinggi yang mendadak menerjang perahu.

Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak menyimak cerita Anton dan potret nelayan Bajo yang di masa kecilnya dihabiskan untuk menangkap ikan di laut dan pesisir yang menjadi sumber pendapatan utama penopang ekonomi warga.

Namun, Anton mengaku, alam tak lagi bersahabat dengan para nelayan yang selama ini hidup harmonis berdampingan dengan alam. Nelayan kini harus memutar otak untuk beradaptasi dengan cuaca yang tak lagi bisa diprediksi dan dihitung dengan ilmu turun temurun pemberian leluhur.

Hasil tangkapan di Teluk Moramo tak lagi bisa diharapkan. Hingga mereka harus menantang lautan demi menghidupi keluarga di tengah topografi teluk yang membuat perairan cenderung teduh dari terpaan angin kencang dan gelombang tinggi.

Tak hanya itu. Anton dan nelayan Bajo juga menghadapi tantangan dari nelayan daerah lain yang ingin meraup ikan sebanyak-banyaknya di Teluk Moramo dengan menggunakan peledak.

Lagi-lagi para nelayan harus meraup rezeki dengan cara lain. Seperti Anton yang kemudian menjajal berkebun rempah-rempah untuk sumber pendapatan alternatif, di tengah ketidakpastian cuaca dan menurunnya hasil tangkapan ikan.

Anton, nelayan Bajo terpaksa mencari sumber penghasilan alternatif dengan menanam pohon Pala di lereng-lereng gunung karena perubahan iklim dan rusaknya ekosistem laut di Teluk Moramo. Foto : Riza Salman.

***

Sesaat setelah perahu yang kami tumpangi merapat di Desa Labotaone, Kecamatan Laonti, Konawe Selatan, awan-awan nampak beterbangan dari arah timur berkumpul dengan cepat dan menggumpal di langit teluk.

Sekiranya sepeminum teh, hujan disertai angin kencang, mengguyur rumah-rumah gantung berbahan kayu rimba yang dibangun di atas timbunan karang yang menghadap ke laut.

Hampir tiap rumah milik nelayan Bajo didiami tiga generasi. Berumah tangga beranak pinak dalam rumah yang tidak layak huni— dinding jelajah dan atap setengah terbuka. Tidak ada septic tank permanen. Pun tak tersedia fasilitas kesehatan memadai dan petugas medis yang menetap di desa ini.

Termasuk rumah Saribulan, perempuan nelayan suku Bajo, yang saat itu terpaksa mengurungkan niat melaut karena hujan. Pukul lima sore hingga matahari terbenam sejatinya menjadi waktu paling dinantikan. Waktu terbaik saat air laut surut dan tenang untuk bergegas menarik perahu ketinting dan perahu dayung, memancing dan menjaring ikan di pesisir dangkal yang berjarak sekitar 50-100 meter dari pantai.

Biasanya, Saribulan juga tidak mau ketinggalan momentum itu. Ia satu-satunya perempuan yang melaut di kampung ini. Tak kalah dengan para lelaki. Dari atas perahu, perempuan 55 tahun ini lihai menombak ikan dengan dua bilah tombak bermata dua dan bermata tiga sembari menebar jaring diantara gugusan terumbu karang yang rusak akibat pemboman ikan. Dua cucu yang masih anak-anak menemaninya mencari ikan Kembung, Kerapu, Gurita, Cumi dan beberapa jenis ikan berukuran kecil lain.

“Kalau tidak ada sore, tunggu waktu subuh yang banyak ikan,” kata Saribulan, yang belajar dari pengalaman bertahun-tahun beradaptasi dengan perubahan cuaca tidak menentu dengan melaut dini hari dan kembali pulang pukul tujuh untuk mengurus rumah.

Ia menanggung delapan anak dari pernikahannya dengan menggantikan peran suami yang 10 tahun terakhir tak lagi mampu melaut karena kebutaan.

Anomali cuaca dan aktivitas bom ikan yang merusak karang, memaksa nelayan beradaptasi. Mulai dari mengubah ritme menangkap ikap, mengganti sarana tangkap ikan dari perahu ke kapal, hingga melaut di lintas provinsi. Ada juga nelayan yang beralih menjadi petambak dengan merusak hutan mangrove di muara sungai.

Termasuk menyisihkan pendapatannya untuk menghadapi paceklik. “Simpan sedikit untuk hadapi cuaca tidak menentu seperti ini (buruk-red). Ya menabung atau mau bagaimana,” jelasnya.

Bijak mengelola keuangan didapatnya dari Forum Peduli Pengelolaan Akses Area Perikanan (FPPAAP) Sunu Lestari yang menaungi ratusan nelayan di sembilan desa di Teluk Moramo yang terdampak perubahan iklim. Ia juga menularkan pengetahuan itu pada para istri nelayan di desanya.

Saribulan, perempuan nelayan suku Bajo membawa dua bilah tombak bermata dua dan bermata tiga untuk menangkap ikan. Foto : Riza Salman

***

Fajar duduk di atas perahu sambil memegang bubu, perangkap rajungan ramah lingkungan. Rajungan menjadi sumber penghasilan alternatif karena minimnya tangkapan ikan Foto : Riza Salman.

Nelayan Desa Wandaeha punya cerita lain. Ini desa pesisir kedua yang saya datangi dan berjarak sekitar 30 menit dari desa sebelumnya. Dalam sebulan, nelayan di sini hanya melaut dua pekan sekali karena menyesuaikan arus laut yang turun naik menerjang hingga pemukiman.

Nelayan menangkap ikan dengan cara tradisional, menggunakan cabang pohon Bakau dan daun kelapa yang dibenamkan di dasar laut untuk menciptakan habitat ikan sementara. Ikan yang berkumpul di sekitar cabang pohon dan daun itu lebih mudah dijaring. Sekali melaut dan menjaring ikan, nelayan memperoleh ikan hingga 30 kg dan dijual ke pengepul dengan harga berkisar Rp 20 ribu per kilogram.

Sialnya, bom ikan menghabisi populasi dan habitat ikan sementara hingga menyisakan puing-puing. Pukat yang tersangkut karang sering rusak. Ikan juga jarang didapat.

Fajar, nelayan Desa Wandaeha yang saya temui mengaku, sekali melaut terkadang memperoleh satu kilogram ikan. Hanya cukup memenuhi kebutuhan protein dalam satu-dua hari.

“Tiap malam antara jam 12 malam sampai jam 5 pagi, kita dengar bunyi bom 3 sampai 5 kali,” ungkapnya. Nelayan di kawasan Teluk Moramo juga lah pelaku peledakanan itu untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.

Nelayan yang tak memiliki keterampilan lain seperti Fajar, harus mencari penghasilan lain. Lelaki 47 tahun yang melaut sejak kecil ini pun coba beralih menangkap kepiting rajungan di kedalaman 30 meter. Bubu, perangkap tradisional dari anyaman bambu yang diberi pemberat ditenggelamkan pada sore hari lalu ditarik esok harinya.

Sekali tangkap dapat 5 kilogram. Dijual ke pengepul setempat untuk didistribusikan ke berbagai daerah lain. Harganya tidak menentu, berkisar antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah per kilogram.

Selama empat hari di Teluk Moramo dan singgah di Desa Labotaone, Wandaeha, Woru-woru, dan Panambea Barata. Semuanya punya persoalan serupa. Perubahan iklim, bom ikan, dan kesejahteraan nelayan yang memprihatinkan.

***

Perempuan nelayan Desa Lora, Kabupaten Bombana menjemur Ikan untuk diasinkan. Nelayan kekurangan tangkapan ikan karena anomali cuaca dua tahun terakhir ini. Foto: Riza Salman

Kondisi di desa-desa sekitar Teluk Moramo juga mengingatkan saya ketika menyambangi salah satu desa di Kabupaten Bombana, di pertengahan September 2021 lalu. Tepatnya di Desa Lora, Kecamatan Mataoleo.

Saya melihat Hadawiah yang panik dan sontak berlari keluar rumah menuju pekarangan. Nafas perempuan 54 tahun itu tersengal-sengal, kedua tangannya cekatan menutupi ikan-ikan Tembang yang baru saja dijemurnya untuk menghindari guyuran hujan bak air bah pada siang itu.

Ikan yang didapatnya bersama Arifin, sang suami, pada malam sebelumnya di perairan dangkal pesisir kampung. Angin barat yang biasa ditunggu-tunggu sejak Juni tak kunjung datang. Telat tiga bulan. Nelayan pun berpikir dua kali untuk melaut.

“Hujan, arus kencang. Cuaca berubah-ubah. Biar satu ekor pun susah didapat,” tutur Hadawiah.

Ingatan Hadawiah menuju puluhan tahun sebelumnya, ketika di wilayah tangkapan masih banyak ikan. Masyarakat setempat mengenang Lora, bak surganya laut, penuh hamparan karang berwarna-warni di garis pantai sepanjang 7 kilometer.

Tapi kini yang tersisa bentangan pesisir pasir tanpa padang lamun, terumbu karang hancur tak berbekas akibat pemboman ikan yang marak terjadi selama 4 dekade. Pun dengan hutan mangrove di kawasan muara. Habis dijarah. Kayunya dijadikan bahan bakar dapur warga. Abrasi juga terlihat dimana-mana.

Konflik antar nelayan dengan kapal-kapal pemburu ikan dengan kapasitas mesin 20 GT dari luar daerah juga muncul. Mereka mencaplok wilayah tangkapan ikan nelayan lokal yang selama ini menangkap ikan dengan jaring pelingkar.

Karmang, pria kerempeng berumur 42 tahun bercerita, pernah nyaris adu jotos dengan ABK kapal-kapal penangkap ikan itu. “Kita larang mereka tangkap ikan di sini,” ujarnya penuh emosi. Sebagai salah anggota Bahari Sejahtera, Kelompok Masyarakat Pengawas laut  yang dibentuk secara partisipatif pada pertengahan 2020 dengan kesepakatan enam desa setempat, tentu saja ia punya tanggung jawab besar agar wilayah tangkapan nelayan tetap terjaga. Dan Lora tetap jadi “surga laut”.

Bembe, pulau kecil berjarak 1,6 mil dari pesisir Lora jadi bukti keteguhan mereka. Pulau ini menjadi Kawasan Larang Ambil hasil laut. Laut dan karangnya sehat, lepas dari pemboman ikan.

***

Tak hanya wilayah Teluk Moramo dan Bombana. Saya juga berkesempatan menjelajah gugusan kepulauan Wakatobi. Sebutan pulau Wa (Wangi-wangi) – Ka (Kaledupa) – To (Tomia) – Bi (Binongko). 70 % dari luas wilayah ini adalah laut dan menjadi surga bawah laut dengan status Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO sejak tahun 2012 lalu.

Wakatobi dapat diakses menggunakan sarana transportasi laut, darat (kapal ferry), dan udara. Kali ini, saya memilih KM Sabuk Nusantara, kapal tol laut dari kota Kendari. Selain tiket hanya Rp 40 ribu, lebih murah dibanding transportasi reguler lain yang kisaran Rp 100 ribu. Transportasi ini saya pilih karena lebih nyaman dari terpaan angin kencang dan gelombang Laut Banda.

Ketika menginjakkan kaki di pulau Wangi-wangi, suasana terlihat sunyi. Ini diluar ekspektasi saya dengan cerita geliat beragam jasa wisata.

“Surga bawah laut, berubah jadi neraka di atas laut,” celetuk tukang ojek sambil terkekeh menganalogikan kondisi pulau ini. Pembatasan sosial di saat pandemi mengakibatkan kunjungan wisata domestik dan manca anjlok hingga di titik nol seolah menenggelamkan nama Wakatobi sebagai surga wisata.

Siang itu ia menawarkan jasa antar setelah melihat saya kebingungan mencari kendaraan umum di perempatan jalan tugu utama—nol kilometer di jantung kota yang berjarak 100 meter dari pelabuhan penyeberangan antar kabupaten.

Tujuan saya, Desa Sombu, yang berada di ujung utara pulau ini. Dengan kendaraan roda dua, jaraknya hanya belasan menit dari kota. Saya ingin bertemu dengan anggota Forum Pesisir Wakabibika (FPW). Komunitas Pelestari Hiu Karang Sirip Hitam atau black tip reef shark (Carchanicus melanopterus) yang menjaga ekosistem di spot penyelaman Shark poin.

Di kedalaman 20 meter di spot ini, penyelam dapat mengamati hiu karang yang eksotik meliuk-liuk di antara karang yang menjadi habitat utama hiu Black Trip, jenis hiu yang masuk kategori risiko rendah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Hiu di sini berenang berkelompok,” kata Mariadi, anggota FPW yang setahun terakhir ini ikut mendata populasi hiu secara berkala. Katanya, dalam satu kelompok, ada berbagai ukuran hiu yang berkelompok hingga 20 ekor.

Dari cerita Mariadi membuktikan, celetukan tukang ojek yang mengantar saya tak sepenuhnya benar. Aktivitas pelayaran, limbah sampah dari kapal, dan tingginya aktivitas wisata selam justru berkontribusi buruk pada kerusakan ekosistem laut di Wakatobi.  Sepinya kunjungan wisata, jadi kabar gembira untuk memperbaiki terumbu karang yang tersisa.

Beda dengan Desa Liya. Desa di ujung selatan pesisir pulau Wangi-wangi, yang didiami nelayan di wilayah adat Kadie Liya. Nelayan yang tinggal di pulau-pulau yang masuk dalam wilayah adat di sini semestinya peduli dengan mengelola laut sumber tangkapan ikan, melestarikan ekosistem laut dan menjaganya di bawah pengawasan hukum adat.

Kadiye Liya menjadi Masyarakat Hukum Adat (MHA) melalui PERBUP (Peraturan Bupati) Nomor 41 tahun 2017 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Laut Berbasis MHA Kadiye Liya Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi.

Dalam PERBUP itu MHA mempunyai hak; memperoleh akses terhadap pemanfaatan kawasan perairan yang telah ditetapkan—memperoleh insentif ekonomi, sosial dan budaya—dan melakukan kegiatan hukum adat dan kearifan lokal.

Masyarakat yang memanfaatkan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk kegiatan wisata bahari, penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus memiliki izin Lokasi Perairan Pesisir sesuai Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2018 tentang RZWP3K Provinsi Sultra Tahun 2018-2023. Fasilitasi pemberian Izin Lokasi Perairan Pesisir diprioritaskan kepada mereka yang menetap di wilayah PAAP (Pengelolaan Akses Area Perikanan).

“Tiap sore suara bom terdengar dua atau tiga kali,” beber Adianto, Ketua Forum Nelayan Posa’asa mengenang kerusakan terumbu karang di laut adat mereka, yang terjadi sejak tahun 1980-an. Ketika marak penangkapan ikan dengan bahan peledak dan penambangan pasir laut yang berdampak pada ekosistem pesisir dan hutan Mangrove. Abrasi masif dan merusak rumput laut yang ditanam petani. Tanaman agar-agar ini terjangkiti penyakit akibat terpapar debu limbah penambangan pasir.

Tapi, Adianto, Ketua Forum Nelayan Posa’asa, mengeluhkan sanksi aturan adat hanya sebatas teguran. Bukan tindakan tegas dan menjatuhkan sanksi hukuman lain. Ia apatis dengan hukum adat itu.

Belum lagi meningkatnya temperatur suhu panas di Wakatobi berselang 30 tahun terakhir yang pelan-pelan juga menggerogoti ekosistem laut dan pesisir. “Ukuran ikan kecil-kecil. Dulu besar-besar!”  

Setidaknya dari pertemuan dengan Anton dan nelayan di Kaki Sulawesi, saya lebih memahami persoalan para nelayan tradisional. Ini juga dialami dan dirasakan banyak nelayan di daerah lain di Indonesia, bukan?

Penulis : Riza Salman, jurnalis lepas anggota the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Simpul Sulawesi Tenggara

Banner image : Kapal-kapal nelayan Lora, di Kabupaten Bombana, berlabuh di perairan laut dangkal setempat. Nelayan tidak berani  melaut karena cuaca buruk yang sulit diprediksi. Foto : Riza Salman

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments