• Ikuti Kami:
  • |
  • December 27, 2021
  • By - SIEJ

Mencermati Keterkaitan Bencana, Cuaca Ektrem dan Perubahan Iklim.

Sampai bulan November 2021 telah terjadi 2.431 bencana di Indonesia dan 98% merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung. Frekuensi bencana hidrometeorologi terus meningkat. Pada tahun 2020 lalu, mengalami kenaikan hampir delapan kali lipat dibandingkan tahun 2005 silam. 

Kenaikan trend kejadian bencana di Indonesia tidak hanya disebabkan peningkatan curah hujan ekstrem, tapi juga dampak dari perubahan iklim dunia. 

Urip Haryoko Plt Deputi Klimatologi BMKG menjelaskan perubahan iklim global di Indonesia, proyeksi iklim, dan frekuensi peristiwa ekstrim dapat diamati dengan mengutip sejumlah pakar.

“Petteri Taallas menyatakan perubahan suhu yang terjadi menurut bahwa rata-rata suhu global di tahun 2020 akan meningkat atau sudah diset di atas 1,2 derajat celcius pada level pra-industri (1850-1900),” jelas Urip dalam paparannya di Webinar Bencana, Cuaca Ektrem dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan The Society of Indonesian Science Journalist (SISJ), pada Sabtu, 18 Desember 2021 secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting.

“Setidaknya ada satu dari lima peluang bisa terjadi pada tahun 2024 di mana suhu rata-rata bumi akan mengalami kenaikan sekitar 1,5 derajat celcius,” imbuh Urip.

Urip menambahkan, pakar lain seperti Syukur Wanabe menemukan bahwa tingginya suhu di atmosfer bagian bawah sangat dipengaruhi oleh CO2 (Karbon Dioksida) sementara atmosfer di atas akan lebih dingin. Sedangkan Klauss Hasselmann mengembangkan suatu metode penyebab dari pemanasan atmosfer, apakah ini diakibatkan oleh sumber daya alam atau manusia.

Sedangkan Erma Yulihastin, Peneliti Riset dan Teknologi Atmosferik pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR PA/LAPAN) BRIN memperlihatkan sebuah gambar data kelembaban bulan November 2021 yang merupakan hasil pengamatan satelit dimana hasil pengamatan satelit ini menunjukkan informasi telah terjadi ITCZ ganda di bagian barat dan bagian selatan yang membentuk seperti pola “Tapal Kuda” (Gill Pattern) yang secara teori menunjukkan wilayah pertemuan gelombang atmosfer Mixed Rossby-Gravity Wave (MRG).

“Intertropical Convergence Zone (ITCZ) yaitu satu garis yang merupakan garis konvergensi. Artinya disepanjang garis itu adalah sistem tekanan rendah, bisa dikatakan sebagai sabuk yang melingkar di bumi, yang membentang dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan harusnya hanya ada satu dan nantinya itu akan bergeser sesuai dengan posisi semu Matahari,” kata Erma dalam paparan di webinar tersebut.

Efek dari adanya Gill Pattern yang terjadi di bagian barat-selatan Indonesia menunjukkan bahwa curah hujan secara luas meningkat di Samudera Hindia barat daya Jawa, laut Jawa, dan Pulau Jawa.

Faktor utama meningkatnya hujan kawasan barat Indonesia selama bulan November 2021 bahkan berlanjut hingga pertengahan Desember 2021 adalah karena dinamika vorteks di Samudra Hindia dan Laut Jawa.

Dinamika menguat dan melemahnya vorteks di perairan barat Indonesia tersebut berasosiasi dengan aktivitas gelombang atmosfer ekuator (Kelvin dan Rossby) yang terjadi sangat intensif selama bulan November.

Maraknya pembentukan vorteks di Laut Jawa dan Samudra Hindia tersebut pada awalnya dipicu oleh keberadaan ITCZ ganda (utara dan selatan) yang kemudian terhubung melalui jembatan “tapal kuda” sebagai indikasi pertemuan antara gelombang Kelvin dan gelombang Rossby.

Erma juga menyinggung tentang fenomena La Nina yang terjadi pada November yang dimulai setelah tanggal 10, yang diprediksi terjadi secara singkat (short term), sebab peluang terbentuknya La Nina semakin menurun dan berada pada nilai yang sama dengan kondisi netral pada Maret-April.

“Kita bisa menyebut itu La Nina ketika hal tersebut terjadi minimal secara konsisten 3 bulan berturut-turut. Jika belum stabil, belum bisa dikatakan bahwa itu La Nina,” tegasnya.

Meskipun demikian, kontrol utama anomali cuaca saat ini dan selama musim hujan adalah intensifikasi aktivitas berbagai gelombang di atmosfer yang menjalar dari barat-timur atau timur-barat dan dapat saling bertemu sehingga berpotensi membangkitkan kejadian ekstrem baik di atmosfer maupun di laut sebagai contoh gelombang badai pada 6-7 Desember 2021.

Webinar mengenai keterkaitan bencana, cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang diikuti oleh jurnalis dari berbagai media di Indonesia ini memang diadakan untuk memberi pengetahuan dan pemahaman pada jurnalis  dalam melaporkan isu bencana dan iklim pada publik, yang seringkali  menempatkan peristiwa bencana sebagai isu terpisah dari fenomena iklim yang makin cepat berubah dan menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem global.

Rochimawati, Ketua Umum SIEJ saat membuka webinar tersebut mengatakan, penting bagi para jurnalis mempunyai pengetahuan mendasar tentang pola cuaca dan iklim serta dampaknya dalam konteks kebencanaan di Indonesia.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjembatani dan memberikan manfaat kepada jurnalis terutama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Banyak penggunaan bahasa dan istilah daripara peneliti atau ilmuwan yang sulit dipahami publik. Nah kita harus bisa menederhanakan itu agar mudah dimengerti oleh publik,” kata Rochimawati.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments