50 Jurnalis Indonesia Belajar Sistem Pangan di Program Kelas Belajar SIEJ dan FOLU Coalition

Ketidakpastian iklim global dalam dekade terakhir ini mengakibatkan sistem pangan menjadi ‘korban’. Ini diungkapkan Executive Director, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Dr. Lawrence Haddad dalam sambutan virtualnya dalam Kelas Belajar dan Lomba Karya Jurnalistik: Sistem Pangan Lestari Untuk Adaptasi Perubahan Iklim, yang diselenggarakan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan The Food and Land Use (FOLU) Coalition, pada Rabu-Kamis (15-16/12/2021).

Iklim ekstrim ikut berdampak kepada sistem pertanian di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia telah menyebabkan degradasi sumber daya pertanian dan infrastruktur, seperti degradasi dan penciutan sumber daya lahan, potensi sumber daya air, kerusakan sumber daya genetika, kapasitas irigasi serta epidemi hama dan penyakit tanaman dan hewan.

Belum lagi kondisi hujan dan pengelolaan yang kurang tepat akan menyebabkan banjir, longsor dan kekeringan.

Dampak tersebut berlanjut kepada gangguan terhadap sistem produksi pertanian, terutama pangan, seperti penurunan dan ketidakpastian produktivitas dan luas panen, sehingga berujung pada ancaman rawan pangan serta peningkatan kemiskinan.

Namun demikian banyak hal yang bisa dilakukan baik dari pemerintah yang didukung kerja sama semua pemangku kepentingan, baik pelaku bisnis, organisasi masyarakat, lembaga penelitian, dan mitra pembangunan untuk mengatasi permasalahan ini.

“Kami dari GAIN siap bekerjasama dengan semua pemangku kepentingan terutama pemerintah Indonesia. Kami juga berkolaborasi dengan di bawah FOLU Coalition, World Resources Institut (WRI), Worldwide Fund for Nature (WWF), sangat penting bagi sektor gizi, sektor pangan dan sektor iklim untuk bekerjasama seperti ini,” ujar Lawrence.

Meski sektor pertanian meningkat 25 persen sejak Juli 2020, mitigasi potensi krisis pangan, meningkatnya kelaparan, malnutrisi, dan hambatan untuk menjalankan pertanian berkelanjutan perlu menjadi perhatian, terlebih di tengah pandemi.

Diperlukan perencanaan dan penganggaran dengan pendekatan yang didorong permintaan untuk mendorong transformasi sistem pangan, termasuk rantai nilai agribisnis, konsumsi pangan, permintaan pangan, logistik pangan, persediaan pangan, dan produksi pangan.

Terkait dengan mitigasi potensi krisi pangan, Djarot Indarto,   Koordinator Bidang Pangan/Perencana Ahli Madya, yang mewakili Anang Noegroho selalu Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS dalam paparannya membeberakan, kondisi ini dapat dilihat dari angka balita stunting dan wasting yang masih relatif tinggi.

“Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) bertengger pada posisi puncak, yaitu 15,8% dan 43,82% dibanding provinsi lainnya di Indonesia,” dalam paparannya yang juga menenjelaskan terkait Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim, Kebencanaan sebagai salah satu prioritas nasional berdasarkan Perpres 18/2020: RPJMN 2020-2024.

Kelas belajar juga menghadirkan pemateri yang membuka wawasan para peserta terkait kondisi pangan di Indonesia.  Seperti Amanda Katili Niode dari The Climate Reality Project Indonesia yang memperkenalkan tentang sistem pangan dan kaitannya dengan perubahan iklim.

Dimana pada pemaparannya, Amanda memfokuskan pada peran penting sistem pangan bagi kehidupan, bagaimana krisis iklim berpengaruh kepada sistem pangan serta kontribusi konkret masyarakat dalam sistem pangan.

“Memilih Makanan Ramah Iklim itu artinya memahami sumberdaya yang digunakan untuk produksi makanan akan membuat konsumen lebih peduli terhadap hubungan antara makanan dan perubahan iklim sehingga pilihan yang diambil akan lebih ramah bumi,” ujar Duta Pangan Bijak Nusantara dan juga Ambassador World Food Travel Association di Indonesia ini.

Sedangkan Shanty Syahril ST selalu Consultant, WRI Indonesia (FOLU) memberi pamahaman pada pesereta kelas belajar terkait dengan sistem dan sistem pangan serta bagaimana keterkaitan subsistem dalam.

“ Ada tiga ketrampilan yang perlu dimiliki untuk mengubah sistem. Diantanya bagaimana melihat sistem yang lebih besar, melakukan refleksi dan percakapan yang lebih generatif dan menggeser fokus bersama dari solusi yang reaktif menjadi bersama-sama menciptakan masa depan,’ paparnya.

Peran jurnalis juga sangat penting dalam menjangkau masyarakat luas, untuk memberikan inspirasi, informasi dan pemahaman tentang isu yang menyentuh kehidupan rakyat, dengan cara yang mudah dimengerti publik seperti isu pangan dan keterkaitannya dengan perubahan iklim.

Kelas belajar hari pertama dipandu moderator Adi Marsiela, pengurus pusat SIEJ Bidang Kampanye menghadirkan narasumber membantu memperkuat kapasitas jurnalis di Indonesia dalam menulis berita/liputan khususnya mengenai isu-isu terkait dengan sistem pangan dan perubahan iklim.

Ketua Umum SIEJ Rochimawati pada pembukaan kelas belajar, mengapresiasi antusiasme para peserta terhadap program ini.

“Dalam waktu relatif singkat, pendaftaran kelas belajar mencapai lebih dari 100 orang. Kami tentu berharap agar melalui kegiatan Kelas Belajar ini, peserta bisa mendapat pemahaman, memperdalam dan menggali mengenai sistem pangan dan kaitannya dengan perubahan iklim,” ujar Ochi — sapaan jurnalis VIVA.co.id itu.

Dari total 106 pendaftar, telah terpilih 50 jurnalis sesuai pengajuan isu liputan terbaik dan tuntas mengikuti kelas belajar selama dua hari. Seluruh peserta yang mengikuti kelas belajar juga berhak untuk mengikuti lomba jurnalistik dengan total hadiah lomba Rp12 juta.

Kelas Belajar Sistem Pangan Lestari Untuk Adaptasi Perubahan Iklim berlangsung secara virtual (15-16/12/2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *