• Ikuti Kami:
  • |
  • December 9, 2021
  • By - SIEJ

Aeshnina Azzahra: Saya Harus Berani Bersuara atas Hak Saya

Usia belia tak menjadi penghalang untuk ikut menjaga lingkungan. Hal itu dilakukan Aeshnina Azzahra, pelajar kelas 3 Sekolah Menengah Pertama Negeri 12 Gresik, Jawa Timur. Remaja berusia 14 tahun itu kerap melakukan aksi nyata sebagai bentuk kepeduliannya terhadap lingkungan.

Aeshnina pernah mengirimkan surat kepada Bupati Gresik tentang kondisi lingkungan di sekitar sekolahnya saat masih SD. Nina-sapaan akrabnya, juga pernah menyurati para pemimpin negara yang mengekspor sampah ke Indonesia. Aksinya pada usia yang masih belia itu pun mendapat banyak sorotan. Ia berkesempatan untuk bergabung dalam penelitian sampah plastik bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton). Pada 2021, Nina diminta berpidato dalam konferensi perubahan iklim terbesar dan terpenting di dunia, COP26 UNFCCC, di Glasgow. Ia juga menjadi salah satu narasumber termuda dalam forum Plastic Health Summit 2021.

Nina bertekad untuk terus melakukan aksi peduli lingkungan. Baginya, semua orang termasuk anak- anak, berhak atas lingkungan yang bersih dan sehat. The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan aktivis muda, Aeshnina Azzahra, pada Rabu, 7 Desember 2021.

Aeshnina Azzahra (14), pegiat lingkungan yang fokus pada sampah plastik. Foto : Istimewa

Bagaimana awal mula Anda mulai tertarik dengan masalah lingkungan?

Orang tua saya adalah aktivis pelindung sungai, jadi sejak kecil saya sudah di-edukasi tentang bahaya plastik dan pentingnya menjaga lingkungan. Saya juga berkesempatan melakukan penelitian bersama orang tua dan ikut aksi nyata peduli lingkungan.

Untuk pertama kalinya saya menulis surat kepada bupati Gresik waktu kelas 5 SD. Isinya tentang cerita pencemaran lingkungan yang terjadi di sekitar sekolah dan apa saja yang perlu diubah. Akhirnya, saya diminta mewakili sekolah untuk bertemu dengan bupati.

Menurut saya, membuat perubahan itu mudah asal ada kemauan. Bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menulis surat.

Mengapa Anda tertarik dalam masalah lingkungan pada usia yang masih sangat muda?

Saya memahami bahwa isu lingkungan penting dan harus cepat diselesaikan. Kalau lingkungan tetap dibiarkan tercemar, maka kondisinya akan bertambah parah. Saya harus ikut melakukan sesuatu untuk membuat perubahan karena saya menjadi bagian dari generasi muda yang akan merasakan dampaknya di masa depan.

Apa saja masalah lingkungan yang Anda temui saat ini?

Rumah saya dekat pabrik kertas, mereka beli sampah dari luar negeri. Sampah plastiknya diselundupkan, padahal nggak boleh. Lalu ada juga masalah lingkungan di Sungai Brantas, yang merupakan sumber air minum bagi masyarakat Surabaya, Mojokerto hingga Sidoarjo. Pembuangan sampah masih terus terjadi di hulu sungai dan mencemari air.

Saat ini, saya banyak mendalami persoalan tentang mikroplastik  udara dan sungai. Bahaya mikroplastik mengintai ketika mencemari sungai karena akan menyerap polutan yang ada di sungai.  Limbah cair hingga deterjen yang dibuang akan menempel di plastik. Ketika dimakan ikan, lalu ikannya kita konsumsi, bisa dipastikan banyak mikroplastik yang terkandung dalam tubuh manusia. Dampaknya akan sangat berbahaya bagi kesehatan, di antaranya akan memicu peradangan dan menstruasi dini. Tanpa disadari, kita mungkin sudah mengkonsumsi mikroplastik.

Anda juga pernah mengirim surat ke kedutaan besar Amerika, Kanada, Jerman, hingga Australia untuk menyampaikan aspirasi tentang kondisi lingkungan. Mengapa Anda melakukan itu?

Bagi saya, menulis surat itu mudah. Semua orang bisa menulis dan bisa mengirim surat kepada siapa pun. Surat yang saya tulis berisi fakta yang saya lihat. Pada 2019, saya juga menulis surat  kepada Presiden Donald Trump. Selain itu, saya menulis  surat kepada pemerintah Belanda, Jerman, Kanada, Australia termasuk untuk Presiden AS sekarang, Joe Biden.

Apa isi surat yang Anda kirimkan kepada mereka?

Saya menyampaikan agar mereka berhenti membuang sampah ke Indonesia dan mampu mengelola sampah mereka sendiri. Jangan membebankan sampah kepada negara berkembang, seperti Indonesia.

Saya bercerita tentang desa saya yang menjadi tempat pembuangan sampah negara-negara di Eropa dan Amerika yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan sekitar. Bahkan dari sampah itu, ada temuan telur ayam mengandung dioksin karena sampah yang dibakar.  Air yang dipakai untuk mendaur ulang sampah juga dibuang ke sungai, sehingga menyebabkan terbentuknya mikroplastik.

Saat berkesempatan berkunjung ke Belanda, saya melihat proses daur ulang plastik satu-satunya di negara itu. Sebagai negara maju yang dilengkapi dengan teknologi canggih, Belanda hanya mampu mengolah sekitar 60 persen sampah plastik melalui proses daur ulang dan sisanya dibakar. Bagaimana dengan Indonesia yang belum memiliki teknologi pengelolaan sampah yang baik?

Bagaimana reaksi-reaksi pemimpin negara?

Ada yang berjanji akan patuh pada aturan, ada juga yang membuat regulasi untuk mengurangi sampah. Di sisi lain, ada juga tanggapan yang kurang positif. Seperti menyalahkan pemerintah Indonesia yang mau menerima sampah dari negara lain.

Anda juga menjadi salah satu narasumber termuda dalam forum Plastic Health Summit 2021. Bagaimana awal mula Anda diundang?

Sebenarnya saya diundang karena penyelenggara acara pernah bekerja sama dengan lembaga Ecoton. Forum itu banyak membahas tentang bahaya plastik dan hubungannya dengan kesehatan manusia. Saya berkempatan bertemu dengan peneliti-peneliti hebat yang melakukan kajian tentang dampak sampah plastik dalam darah, feses, dan makanan. Saya juga bertemu banyak aktivis muda. Sangat menyenangkan bertemu dengan orang-orang dengan misi yang sama.

Apa yang Anda sampaikan dalam forum itu?

Saya menyampaikan masalah plastik import. Ternyata banyak audiens yang kaget karena mereka baru tahu bahwa sampah yang mereka hasilkan itu dibuang ke Indonesia. Selama ini, pemerintah negaranya hanya menyampaikan penanganan sampah dilakukan dengan daur ulang, tapi tidak menginformasikan tentang proses daur ulang yang justru dilakukan di Indonesia.

Anda juga diundang untuk menghadiri COP26 UNFCCC. Apa saja agenda selama berada di Glasgow?

Sebenarnya saya hadir dalam COP26 UNFCCC untuk screening film “Girl for Future”. Seorang sineas dari Jerman tertarik mendokumentasikan aktivitas saya dan membuat film dokumenter yang ditayangkan di Glasgow. Banyak audiens yang terinspirasi melalui karya itu.

Dalam konferensi COP26, saya juga berkempatan untuk berpidato. Isinya sederhana, menyampaikan fakta-fakta apa adanya tentang kondisi lingkungan di Indonesia.

Apa yang ingin Anda lakukan setelah mengikuti COP26?

Saya ingin mendorong pemerintah Indonesia agar menjadikan isu lingkungan sebagai prioritas. Sebagai langkah awal, saya ingin menyurati Presiden Jokowi. Saat ini saya masih mengumpulkan informasi dan fakta-fakta yang ingin saya sampaikan dalam surat yang akan saya kirimkan.

Tidak banyak anak muda mau terlibat dalam gerakan peduli lingkungan. Bagaimana mengajak anak muda dan pelajar untuk bergerak?

Bisa dimulai dari apa yang mereka suka. Anak muda tertarik dengan media sosial, seperti YouTube dan Instagram. Kampanye bisa dilakukan melalui media yang mereka gunakan, misalnya lewat tampilan warna-warni TikTok sehingga mereka tertarik mendalami isu lingkungan.

Di sekolah, saya menggelar pameran impor sampah plastik dengan memajang foto dan membuat petisi. Banyak teman sekolah yang tertarik dan ingin tahu lebih lanjut tentang isu plastik. Selain itu, saya juga bergabung dalam tim “River Warrior”, yang bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat dan anak-anak tentang lingkungan.

Saat ini Anda masih bersekolah, apakah kegiatan sekolah Anda terganggu dengan kegiatan/aktivitas menangani masalah lingkungan?

Awalnya memang terganggu. Apalagi saat di Belanda, saya harus izin tidak bersekolah selama satu bulan. Saya bersyukur mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, guru, dan teman-teman. Orang tua saya banyak membantu dalam penyusunan jadwal. Ada waktu luang untuk istirahat setelah belajar dan ada waktu luang juga untuk kampanye lingkungan. Pendidikan dan kerja lingkungan bisa berjalan bersamaan.

Sampai kapan Anda akan melakukan gerakan peduli terhadap lingkungan?

Sampai masyarakat paham dan pemerintah Indonesia memprioritaskan isu ini. Saya berharap kita semua, sampai generasi yang akan datang, dapat menikmati lingkungan bersih, air minum bersih, dan udara bersih. Semua orang punya hak atas hidup bersih. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. Saya tidak boleh takut, saya harus berani bersuara atas hak saya.

Aeshnina Azzahra (14) di perhelatan KTT COP26 UNFCCC di Glasgow. Foto : Istimewa

Banner Image : Aeshnina Azzahra (14), melakukan aksi bersama para aktivis muda saat perhelatan KTT COP26 UNFCCC di Glasgow. Foto : Istimewa

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments