• Ikuti Kami:
  • |
  • November 25, 2021
  • By - SIEJ

Cerita dari Swarnadwipa: Cuan di Hutan Lindung Bukit Betabuh

Di awal tahun 2021 lalu, Saya berkesempatan menyambangi Desa Air Buluh. Lokasinya ada di Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Sekitar lima jam berkendara roda empat dari Pekanbaru. Desa ini punya kedekatan emosional dalam fase kehidupan saya ketika menjadi mahasiswa Universitas Riau. Tepatnya, 25 tahun lalu ketika mengabdi selama tiga bulan di desa ini dalam program Kuliah Kerja Nyata.

Saya kembali ke desa ini, diundang Yayasan Hutanriau untuk menyaksikan Kelompok Tani Hutan (KTH) dampingannya panen Jernang, peresmian Sekolah Tani Hutan, melakukan adopsi pohon, sekaligus perayaan lima tahun berdirinya KTH Bukik Ijau (BI).

Tentunya setelah sekian lama, banyak perubahan menggembirakan di desa ini. Takjub juga begitu kembali menginjakan kaki ke sana.

Saya lihat infrastrukturnya jauh lebih baik. Dulu, jalan menuju ke Desa Air Buluh hanya jalan tanah yang kiri kanannya ditumbuhi rumput dan belukar. Kini, jalannya beraspal dan cukup lebar untuk menampung dua kendaraan yang berpapasan. Jarak tempuh pun menjadi lebih singkat dari kota kecamatan.

Pun dengan listrik dan air bersih. Meski penerangan masih belum merata di semua rumah warga, kondisi desa di malam hari tidak lagi kelam. Air bersih dari sumur juga tersedia. Demikian pula jamban. Beda dengan dulu yang mengandalkan Sungai Air Buluh untuk kebutuhan air bersih dan aktivitas mandi, cuci, kakus. Hanya saja memang, jaringan telepon selular belum bisa diharapkan. Masih susah sinyal.

Ekonomi masyarakat makin membaik. Warga sudah banyak mendirikan rumah permanen dan punya kendaraan, minimal roda dua.

Winahyu Dwi Utami saat berada di Desa Air Buluh. Foto : dokumen pribadi

***

Awalnya Saya sempat berpikir apakah karet dan sawit yang menghidupi masyarakat Desa Air Buluh hingga di titik ini?

Ternyata bukan hanya dua komoditas itu. Ada tanaman lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Jernang, tanaman hutan inilah jawabannya. Selain berkebun karet dan sawit sebagai mata pencaharian utama, masyarakat Desa Air Buluh kini membudidayakan Jernang.

Jernang adalah tanaman endemik Kuansing sejenis rotan dari marga Daemonorops. Kulit buah tanaman ini menghasilkan getah (resin) berwana merah. Mirip seperti damar atau kemenyan.

Di pasaran, biasa disebut dengan dragons’s blood. Getahnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna dalam industri porselen, marmer dan cat pernis. Di bidang kedokteran Jernang dijadikan bahan obat pendarahan, luka dalam saat operasi maupun luka luar, liver dan hepatitis hingga bahan baku kosmetik.

Bagi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi dan Inderagiri Hulu (Inhu), tanaman endemik ini popular. Jernang mendapat perhatian dan digadang-gadang sebagai salah satu andalan komoditas hutan bernilai ekonomi tinggi. Getah Jernang  dihargai mahal di pasaran. Saat panen, satu pohon Jernang mampu menghasilkan buah 5-10 kg dengan harga jual buah Rp 250 ribu per kg. Sementara lapisan resinnya dihargai Rp3,5 juta per kg.

Jernang sudah bisa dipanen saat berumur 4 tahun dengan masa produktif tanaman hingga 30 tahun.  Kebayang kan berapa nilainya yang dihasilkan setiap Kelompok Tani Hutan jika dalam lahan satu hektare ada sekitar 200 pohon jernang.

Tapi harga Jernang juga turun naik. Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau pernah menjual hingga seharga Rp 4,8 juta per kg. Saat harga murah, masyarakat menyiasatinya dengan “menyimpannya” dulu. Mereka tahu saat harga kembali tinggi baru “dilepas”. Berbeda dengan tanaman sawit yang harus dijual setelah panen walaupun harga terjun bebas.

Letak desa yang tidak jauh dari Hutan Lindung Bukit Betabuh, menguntungkan bagi masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) ini. Selain diaambil hasil hutannya, masyarakat juga menanaminya.

***

Warga Desa Air Buluh awalnya hanya mengandalkan Jernang yang tumbuh alami di hutan lindung Bukit Betabuh.

Ya, saat itu pengetahuan untuk membibitkan tanaman Jernang sangat terbatas. Mereka hanya mencari bibit ke hutan, kemudian bibit-bibit Jernang itu dicabut lalu coba dipindahkan untuk ditanam di tempat lain. Ternyata bibit enggan mau tumbuh.

Tak menyerah. Sejak tahun 1990-an, mereka terus mempelajari bagaimana cara mengidentifikasi hasil hutan non kayu ini. Dengan pendampingan Yayasan Hutanriau di tahun 2017, mereka pun belajar dari pengalaman dan riset partisipatif sekaligus membentuk Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau.

Mereka mempelajari bagaimana mengidentifikasi Jernang di hutan, praktik pembibitan, penanaman dan perawatan agar Jernang dapat tumbuh dengan baik. Mereka bahkan  juga praktik cara memanen tanaman ini dengan benar.

Hasilnya sangat menggembirakan. Mereka yang tergabung dalam KTH berhasil melakukan pembibitan pohon Jernang. Dari sebelumnya butuh waktu berbulan-bulan hingga bibit bertunas. Kini, dalam kurun waktu 15 hari, tunas Jernang dapat tumbuh dengan baik.

Karena pengalaman, pengetahuan dan kemampuan itu pula banyak masyarakat luar Desa Air Buluh dan Lembaga Swadaya Masyarakat datang ke Desa Air Buluh untuk belajar membudidayakan tanaman Jernang.

Antusias ini pula yang kemudian menggugah KTH Bukik Ijau mendirikan sekolah tani hutan yang diberi nama Sekolah Kelompok Tani Hutan (SKTH) Sungai Putat. Tujuannya, berbagi ilmu kepada masyarakat hutan lainnya. Walaupun kurikulum dan modul belajarnya belum sekeren institusi pendidikan pada umumnya. Namun, ilmu dan pengajarnya bisa diuji. Tidak diragukan lagi.

Materi yang diberikan sangat lengkap, antara lain bagaimana mengidentifikasi jernang di hutan,   praktik pembibitan, penanaman dan perawatan jernang hingga praktik panen di hutan pun diajarkan.

Tah hanya itu saja. Di sekolah ini para peserta juga diberi pemahaman mengenai kajian partisipatif bagaimana cara mengidentifikasi hasil hutan non kayu bernilai ekonomi tinggi dalam hutan sekitar. 

***

Kini masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau  mampu menghasilkan bibit sendiri. Bahkan menjual dan memasarkan serta memberi pendidikan ke petani lain.  Mereka juga mampu menanam ratusan hingga ribuan bibit, baik di hutan lindung maupun di kebun milik sendiri.

Dari cerita Henrianto, Ketua Kelompok Tani Hutan Bukik Ijau, para petani telah menanam Jernang di lahan hutan lindung seluas 50 hektare. Tanaman Jernang ini bisa tumbuh subur karena berada di bawah naungan pohon-pohon yang ada di hutan. Jadi, salah satu kunci keberhasilannya, tidak menanam di alam terbuka seperti sawit.

Menjadi petani pun tidak harus mempunyai lahan luas milik sendiri. Hutan alam yang dilindungi bisa mereka manfaatkan. Tanpa harus membabatnya atau memiliki izin kelola. Dengan membiarkan kawasan hutan sebagaimana adanya, masyarakat juga bisa menjaga dan memanfaatkan hutan agar tetap lestari.

Beda dengan tanaman sawit yang harus membuka lahan luas dengan membabat hutan. Beda dengan harga jual Tandan buah Segar (TBS) sawit per kg yang hanya sekitar Rp2.200 hingga Rp2.500.

Dari sini masyarakat makin menyadari, nilai ekonomi Jernang lebih tinggi daripada tanaman buah sawit ! Dan ini jadi cara lain menjaga dan melestarikan hutan, bukan membabatnya. Ini yang paling penting !

Penulis : Winahyu Dwi Utami, Koordinator Simpul SIEJ Pekanbaru

Banner Image : Jernang, tanaman endemik Kuansing yang dibudidayakan Kelompk Tani Hutan Bukik Ijau. Foto : Winahyu Dwi Utami.

Bibit pohon Jernang yang dibudidayakan warga Desa Air Buluh. Foto : Winahyu Dwi Utami
Panen pohon Jernang. Foto : Winahyu Dwi Utami

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments