• Ikuti Kami:
  • |
  • November 19, 2021
  • By - SIEJ

Macan Dahan Makin Jadi Incaran Pemburu

Kerusakan habitat dan perburuan jadi ancaman serius bagi populasi macan dahan di Sumatera. Kulit macan dahan yang dulu paling tinggi Rp5 juta, sekarang melambung lebih Rp50 juta. Bahkan, ada tren jadikan jenis kucing liar ini binatang peliharaan.

Pada bulan Februari 2021 di Jambi, tim gabungan yang terdiri dari petugas Taman Nasional Bukit Seblat (TNBKS), Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),  dan Kepolisian Daerah (Polda) Jambi berhasil menggagalkan upaya perdagangan kulit macan dahan dan tulangnya. Kulit macan dahan ini hendak dijual seharga Rp35 juta dan tulangnya, yang memiliki berat sekitar satu kilogram, dihargai Rp3 juta. Dua pelaku telah divonis oleh Pengadilan Negeri Jambi pada bulan Juli lalu, masing-masing divonis 2 tahun dan 1,6 tahun penjara.

Selain deforestasi, perburuan juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan populasi macan dahan di Sumatera. Kulit macan dahan yang dulu hanya dihargai paling tinggi Rp5 juta sekarang melambung tinggi, hingga lebih dari Rp50 juta per ekor. Bahkan terdapat tren di kalangan masyarakat menjadikan jenis kucing liar ini binatang peliharaan.

Berdasarkan pengamatan Yayasan Terbang Indonesia, selama 2 tahun terakhir ada 4 kasus perdagangan macan dahan. “Total ada 4 kasus, 2 kasus perdagangan kulit dan 2 kasus perdagangan macan dahan hidup” kata Marison Guciano, Direktur Yayasan Terbang Indonesia. Ia mengatakan bahwa macan dahan hidup menjadi incaran para penggemar satwa eksotis untuk dijadikan hewan peliharaan.

Pada tahun 2015, Polda Metro Jaya pernah menggagalkan upaya perdagangan macan dahan yang akan dibawa keluar negeri. Macan dahan ini dibeli oleh seorang warga Libya untuk dijadikan hewan peliharaan di daerah Timur Tengah. Ia dihargai Rp85 juta. 

“Di dalam negeri seekor macan dahan hidup dijual dengan harga berkisar 30 hingga 35 juta rupiah,” ujar Marison. Menurutnya, macan dahan yang diperdagangkan ini mayoritas berasal dari kawasan TNKS dan TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser). Dan pada umumnya pedagang dan pemburu macan dahan memiliki jaringan yang sama dengan harimau sumatera. 

Untuk perdagangan macan dahan, Marison mengidentifikasi ada dua kelompok pedagang yaitu pedagang konvensional dan pedagang yang “melek teknologi”. Dari pengamatannya, pedagang konvensional adalah pedagang yang menjual kulit dan tulang macan dahan. Polanya sama seperti pedagang kulit harimau; sangat tertutup, harus melalui perantara dalam jaringan mereka. 

Sementara, pedagang “melek teknologi” biasa menawarkan macan dahan melalui forum jual beli di media sosial seperti Facebook. Para pedagang ini menyasar para pecinta binatang peliharaan eksotis. Mereka menawarkan macan dahan hidup untuk dijadikan binatang peliharaan.

Keserakahan manusia tersebut semakin mengancam keberlangsungan hidup macan dahan. Padahal predator tersebut diklasifikasikan sebagai hewan dilindungi, seperti termaktub dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Macan dahan juga masuk dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Populasinya belum diketahui pasti. Namun, menurut tulisan di Harian Kompas (4/8/2021), diperkirakan tersisa 3.000-7.000 ekor macan dahan yang hidup di Pulau Sumatera.

Macan dahan memiliki peran penting dalam ekosistem hutan di Sumatera. Sebagai predator, apalagi dengan berkurangnya populasi harimau sumatera, keberlangsungan hidup mereka semakin penting untuk mengendalikan populasi satwa mangsa, sehingga keseimbangan ekosistem dalam sebuah kawasan tetap terjaga.

Simak laporan Lili Rambe selengkapnya di https://ekuatorial.com/

Banner Image : Barang bukti berupa kulit dan tulang macan dahan yang disita dari pemburu. Foto : Istimewa / Mongabay Indonesia

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments