• Ikuti Kami:
  • |
  • November 11, 2021
  • By - SIEJ

Yunanto Wiji Utomo: Jurnalis Kurang Punya Kesempatan Menjadi Spesialis

Tak banyak jurnalis dapat menghadiri langsung Conference of the Parties ke-26 ( COP26) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang digelar pada 31 Oktober – 12 November 2021 di Glasgow, Skotlandia. Yunanto Wiji Utomo, jurnalis Kompas.com asal Indonesia, terpilih sebagai salah satu fellow Climate Change Media Partnership (CCMP) 2021. Bersama dengan 19 jurnalis dari berbagai negara, Yunan – sapaan akrabnya, berkesempatan meliput konferensi yang khusus membahas tentang isu krisis iklim.

Peraih Beasiswa Chevening 2019 ini juga mengungkapkan tingginya antusiasme jurnalis dunia yang melakukan peliputan COP26. Salah satunya tampak dari sibuknya media center COP26 untuk publikasi berbagai perkembangan berita, mulai dari perdagangan karbon hingga investasi hijau.

Dalam Nawala the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) edisi khusus COP26 UNFCCC Glasgow, Yunan berbagi pengalamannya meliput COP26 dan pandangannya tentang pemberitaan lingkungan di Indonesia.


Yunanto Wiji Utomo, jurnalis Kompas.com asal Indonesia, terpilih sebagai salah satu fellow Climate Change Media Partnership (CCMP) 2021

Anda mengikuti kegiatan COP26 UNFCCC di Glasgow. Apa saja isu krusial yang menjadi pembahasan?

COP26 salah konferensi penting yang perlu dikawal oleh jurnalis maupun publik. Kita harus memastikan para delegasi sepakat untuk mencapai ambisi setinggi-tingginya untuk menahan kenaikan suhu bumi sehingga tak menyebabkan lebih banyak bencana.

Isu paling banyak dibicarakan di konferensi kali ini adalah soal loss and damage, mekanisme carbon market untuk tujuan pengurangan emisi, serta energi fosil. Soal finance juga banyak dibicarakan. Negara berkembang seperti Indonesia mendorong negara maju untuk punya mekanisme pembiayaan yang jelas.

Apa yang membedakan COP26 dengan COP sebelumnya?

COP26 menjadi pertemuan besar pertama dalam masa pandemi Covid-19. Ada lebih dari 30.000 orang berkumpul. Ini hal pertama yang menjadikan COP26 berbeda dari yang sebelumnya.

Selain itu, ada dorongan lebih kuat untuk membangun ekonomi lebih baik, dalam arti lebih berkelanjutan. Dorongan itu pasti ada sebelumnya, tapi mungkin tidak sebesar saat ini. Di COP ini juga kali pertama AS dan China setuju untuk mengatasi krisis iklim dan pertama kali pernyataan keluar dari era bahan bakar fosil disebut secara eksplisit.

Seperti apa Anda melihat eksposur pemberitaan COP26 Glasgow, baik secara global maupun nasional?

Banyak jurnalis berkumpul di sini. Media center berisi ratusan orang dan kerap kali penuh, ada yang duduk di lantai maupun ruang broadcast. Mereka semua berusaha mengawal COP26 dan menulis berita yang relevan untuk pembaca.

COP26 mendapatkan porsi pemberitaan yang cukup besar di media berbahasa Inggris. Saya yakin teman-teman jurnalis di Indonesia juga mengawalnya dan berusaha membuatnya relevan untuk pembacanya masing-masing.

Banyak juga di sini jurnalis yang baru pertama meliput. Mereka dibawa ke sini lewat proyek-proyek pengembangan kapasitas jurnalis. Kalau kita mau eksposur masalah lingkungan lebih besar, program-program itu memang harus ada.

COP26 menjadi konferensi iklim dunia yang dianggap terpenting setelah Paris Agreement. Bagaimana peran jurnalis dalam mengawal implementasi agenda ini dan isu apa saja yg harus mendapat lebih banyak porsi pemberitaan?

Saya pikir yang utama adalah mengawal negosiasi yang berlangsung. Jurnalis tidak punya akses langsung ke dalam ruang negosiasi, tetapi bisa mengamati lewat draft yang disepakati dan mewawancarai para delegasi.

Yang paling penting untuk dipastikan adalah apakah hasil negosiasi nanti memang menunjukkan ambisi tinggi untuk mengatasi krisis iklim.

Kolaborasi antar-semua pihak selalu digaungkan untuk melawan krisis iklim. Bentuk kolaborasi seperti apa dalam konteks jurnalisme lingkungan?

Bisa berupa peliputan bersama. Saya yakin sudah banyak yang melakukan. Bisa juga sebuah program peningkatan kapasitas jurnalis dalam tema tertentu maupun kemampuan teknis. Ini yang harus diperbanyak.

Jurnalis juga bisa membuka ruang kolaborasi dengan mereka yang non-jurnalis, seperti seniman, pekerja kreatif, dan juga publik. Kalau di VIK Kompas.com, saya bekerjasama dengan teman kreatif, ilustrator freelance, juga ilmuwan. Penting untuk membuat produk jurnalisme lingkungan yang beragam sehingga isu lingkungan bukan cuma dipahami oleh orang-orang di lingkaran yang sama.

Sepulang dari mengikuti agenda COP26, apa rencana Anda selanjutnya untuk terus mengawal isu lingkungan?

Hmmm… Saya kira membuka peluang kolaborasi paling mungkin.

Mengapa isu-isu lingkungan kurang mendapat porsi lebih banyak di redaksi media massa?

Kita tahu media di Indonesia, mau cetak, TV, atau online, semua berburu kecepatan dan kuantitas. Liputan lingkungan butuh waktu lebih lama. Mungkin itu salah satu faktor.

Media kita juga banyak yang pembacanya masyarakat urban. Sementara, isu lingkungan banyak yang bukan isu warga urban. Misalnya gambut, kebakaran hutan, atau overfishing, sehingga media mungkin tidak memberi porsi lebih.

Meskipun begitu, saya lihat sekarang banyak media khusus lingkungan. Walaupun karena kemasannya, yang baca pun saya yakin orang urban, bahkan lebih segmented lagi – warga urban yang terdidik.

Banyak media baru, menurut saya, menyasar orang-orang terdidik. Saya tidak tahu apakah ini tepat. Tapi mungkin kita perlu media lokal yang bicara lingkungan, melihat peristiwa-peristiwa di daerah dari perspektif lingkungan dan dikomunikasikan dengan cara tertentu sedemikian rupa, sehingga orang daerah paham dan mau bergerak bersama.

Apa saja hambatan dan tantangan jurnalis dalam meliput isu lingkungan di Indonesia?

Jurnalis kurang waktu untuk membaca dan kurang punya kesempatan untuk menjadi spesialis. Hidup jurnalis kerap habis untuk mengejar kuota berita, jadi pengetahuan soal lingkungan sendiri kurang. Ini sebenarnya hambatan yang muncul dari medianya sendiri.

Sementara itu, program pembinaan jurnalis di bidang sains dan lingkungan masih kurang. Kita mengeluh soal kualitas berita yang buruk tapi pada saat yang sama, di universitas misalnya, berapa yang punya mata kuliah atau malah program studi jurnalisme lingkungan?

Bagaimana Anda menjadi jurnalis?

Saya masuk sebagai penulis sains di Kompas.com. Ada lowongan menjadi penulis sains waktu itu dan saya melamar. Kebetulan diterima.  Waktu saya masuk, media online yang membahas sains masih sedikit. Saya jadi satu-satunya reporter di rubrik sains, sedangkan editor saya menangani beberapa rubrik.

Pasti semua tahu image media online yang buruk. Waktu masih baru, kadang di lapangan ada komentar, “Oh, anak online ya?”, lalu komplain soal berita ini dan itu. Padahal saya masih baru, enggak tahu apa-apa juga.

Lewat beberapa program, misalnya SjCOOP Asia dari World Federation of Science Journalists (WFSJ), saya akhirnya bertemu dengan orang-orang yang berpikiran terbuka, punya semangat sebagai mentor, dan membantu saya mengembangkan diri.

Untuk teman-teman jurnalis yang baru meliput isu lingkungan, mungkin bisa menjajal beragam program mentoring. Juga terbuka saja. Kadang, guru terbaik kita bukan orang terdekat, bukan jurnalis yang namanya mentereng dan kerap jadi pembicaraan, tetapi yang paham kompleksitas eksosistem media dan mau give the benefit of the doubts membina kita.

Bagaimana awal mula Anda tertarik meliput isu-isu lingkungan?

Dari dulu sebenarnya saya tertarik isu lingkungan. Kebetulan saya lulusan Fakultas Biologi. Saat jadi jurnalis, saya diajak lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga riset untuk meliput sejumlah isu lingkungan. Misalnya perikanan di Wakatobi, REDD+, gambut, dan lainnya. Dari situ ketertarikan terus tumbuh walaupun kesempatan saya meliput lingkungan tidak sebanyak jurnalis yang memang di media lingkungan.

Bisa diceritakan liputan lingkungan apa yang paling berkesan bagi Anda?

Mungkin liputan ke Bitung dan Wakatobi. Saya menghabiskan beberapa hari di laut. Waktu itu saya tidak doyan ikan. Setelah dari sana, jadi doyan. Di Wakatobi, saya snorkeling untuk pertama kalinya dan melihat keanekaragaman laut yang begitu indah untuk pertama kalinya.

Liputan lainnya ke pedalaman Kalimantan dan bertemu orang-orang Dayak. Saya tinggal seminggu bersama mereka untuk tahu soal perubahan iklim, spesifiknya soal REDD+. Di sana, saya jadi tahu bahwa saya ini anak kota. Ada satu hari saya betul-betul kangen kopi ala kafe Jakarta. Menjadi anak kota punya kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya pasti saya tidak terlalu memahami masalah. Kelebihannya, kalau paham, saya bisa membuat isu lingkungan lebih relate dengan warga kota.

Bagaimana strategi membumikan isu lingkungan ke masyarakat?

Sekarang banyak warga daerah yang bikin channel Youtube dan bicara tentang desanya. Orang diberi penjelasan, bukan tiba-tiba disuguhi berita kompleks. Di beberapa media asing, ada konten sangat dasar tentang beragam isu lingkungan yang bisa disematkan ke tulisan utama sehingga publik paham apa yang dibicarakan. Lainnya mungkin terbuka untuk bereksperimen dengan cara komunikasi kita.

Bagaimana strategi media untuk mengkomunikasikan isu-isu lingkungan kepada milenial?

Milenial dan gen Z sendiri tidak seragam. Ada yang visual, ada yang teks. Ada yang terdidik, ada yang tidak. Saya kira tidak ada satu pendekatan tunggal yang pas untuk semua. Perlu keragaman media dan keragaman pendekatan komunikasi.

Banner Image : Para aktivis yang melakukan protes terhadap keterlibatan produsen plastik di KTT Perubahan Iklim ke-26 di Glasgow, Skotlandia. Foto : Rochimawati / Viva.co.id

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments