• Ikuti Kami:
  • |
  • November 1, 2021
  • By - SIEJ

Tips Jurnalis Lingkungan : 3 Penyebab Utama Pemanasan Global

Perubahan iklim bukan sebuah cerita semata. Perubahan iklim adalah konteks dimana banyak cerita lain akan terungkap. Karena itu penting bagi jurnalis memahami setidaknya dasar-dasar perubahan iklim dan menyadari bahwa perubahan iklim lebih dari sekadar karbon dioksida dan bencana.

Berikut tiga penyebab utama pemanasan global yang penting diketahui dan dipahami jurnalis dalam meliput tentang perubahan iklim.

Peningkatan suhu memiliki tiga dampak signifikan yang menimbulkan masalah

1.Hujan yang tidak menentu

Di mana, kapan dan sederas apa hujan turun, dapat mempengaruhi kesehatan dan mata pencarian penduduk dan terlalu banyak atau terlalu sedikit hujan dapat memiliki dampak buruk. Sampai baru-baru ini, hujan dan salju turun dalam pola yang cukup teratur yang menentukan, antara lain, kapan petani menanam dan memanen tanaman. Tetapi karena lautan dan atmosfer menghangat, baik jumlah air yang menguap dan jumlah kelembaban yang dapat ditampung udara telah meningkat. Sebagai hasilnya, kita dapat memperkirakan curah hujan secara keseluruhan meningkat saat planet terus menghangat.

Namun apa yang berlaku untuk satu wilayah mungkin justru sebaliknya bagi wilayah yang lain, yang menyebabkan curah hujan yang lebih ekstrim dan kurang dapat diprediksi. Sebagian besar model curah hujan ilmiah memprediksi bahwa negara-negara yang terletak di garis lintang tinggi, serta tropis Afrika Timur, akan menerima lebih banyak curah hujan, sedangkan Lembah Amazon, Mediterania dan Afrika Utara, Amerika Tengah, Andes Selatan dan sebagian Australia kemungkinan akan menerima lebih sedikit curah hujan.

Fenomena iklim yang kompleks seperti di daerah monsun Asia Selatan dan Afrika Barat dan di banyak negara tropis dan subtropis terbukti lebih sulit untuk di buat model iklimnya, para ilmuwan kurang yakin pada prediksi mereka.

2. Peristiwa ekstrem

Gelombang panas, siklon tropis, curah hujan ekstrem, banjir, kebakaran hutan dan kekeringan adalah contoh dari bencana alam yang mungkin atau tidak mungkin menjadi lebih umum karena perubahan iklim kita.

Tahun 2011, IPDC menghasilkan laporan khusus tentang berbagai peristiwa semacam itu. Laporan tersebut menegaskan bahwa sementara terdapat bukti bahwa beberapa ekstrem telah berubah sejak tahun 1950-an, para ilmuwan tidak yakin sejauh mana perubahan tersebut mencerminkan suatu realitas baru untuk berbagai kawasan dan ekstrem yang berbeda. Namun demikian, para ilmuwan iklim telah memprediksi bahwa perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak peristiwa cuaca ekstrem.

Curah hujan yang ekstrem meningkatkan risiko terjadinya erosi tanah, tanah longsor dan banjir, yang dapat mengancam produktivitas dan infrastruktur pertanian, menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan ekonomi dan fisik masyarakat.

Banjir juga dapat mencemarkan pasokan air dan meningkatkan kemungkinan penyakit yang penularannya melalui air, seperti kolera. Sebaliknya, terlalu sedikit curah hujan dapat menyebabkan kekeringan, yang dapat merusak tanaman pangan dan ternak, menguras persediaan makanan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.

3. Naiknya permukaan laut

Sejumlah faktor mempengaruhi permukaan laut dan perubahan iklim berkontribusi dalam dua penyebab utama. Pertama, suhu atmosfer yang meningkat menyebabkan suhu laut meningkat dan ketika air memanas, molekulnya mengembang, dan meningkatkan volume totalnya. Kedua, peningkatan suhu juga menyebabkan gletser dan lapisan es mencair, menambah jumlah total air di lautan dunia.

Pada Juli 2013, Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan bahwa kenaikan rata-rata permukaan laut global selama dekade 2001-2010 adalah 3 mm per tahun, hampir dua kali lipat dari tren abad ke-20 yang diamati sebesar 1,6 mm per tahun.

Meningkatnya permukaan air laut meningkatkan risiko erosi pantai dan banjir, yang dapat menyebabkan kerusakan dan cedera fisik secara cepat, mengancam kesehatan dengan penyakit yang ditularkan melalui air, dan mencemari air minum dan lahan pertanian dengan garam. Pulau-pulau kecil dan daerah dataran rendah di negara-negara pesisir sangat berisiko, tetapi masalah ini ada di mana-mana; satu dari sepuluh penduduk Bumi – sekitar 634 juta – hidupnya kurang dari 10 meter di atas permukaan laut.

Di Asia, kota-kota seperti Jakarta, Bangkok, Dhaka, Guangzhou, Kota Ho Chi Minh, Kalkuta, Manila, Mumbai, Shanghai dan Yangon sangat rentan terhadap naiknya permukaan laut, banjir dan dampak lainnya dari perubahan iklim.

Sumber :

Menyampaikan Pesan, Meliput Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Asia dan Pasifik: Buku Panduan untuk Jurnalis

Selengkapnya dapat diunduh di https://siej.or.id/download/panduan-jurnalis-meliput-perubahan-iklim/

Banner Image : foto dokumentasi BNPB

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments