• Ikuti Kami:
  • |
  • October 28, 2021
  • By - SIEJ

Ochi Rochimawati : SIEJ Menjembatani Kebutuhan Jurnalis Mengawal Isu Lingkungan

Pemberitaan tentang isu lingkungan di Indonesia belum banyak mendapat ruang dan agenda redaksi media. Isu yang dianggap kurang menarik, kurangnya pemahaman jurnalis, hingga pembiayaan liputan yang tidak murah menjadi beberapa alasan masih terbatasnya publikasi berita tentang lingkungan.

Upaya-upaya untuk mendorong jurnalis konsisten mengawal isu lingkungan terus dilakukan, salah satunya oleh organisasi perkumpulan jurnalis lingkungan, the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ). Melalui berbagai program peningkatan kapasitas jurnalis, pemberian beasiswa peliputan, dan pelatihan jurnalistik, SIEJ berkomitmen menjadikan isu lingkungan sebagai agenda penting yang harus mendapat sorotan masyarakat.

Untuk mengetahui bagaimana pentingnya peran jurnalis dalam pemberitaan media tentang isu lingkungan, the Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan Ketua Umum SIEJ, Rochimawati yang akrab disapa Ochi.

Edisi ini kami hadirkan khusus untuk menyambut penyelenggaraan konferensi iklim dunia COP26 di Glasgow, pada November 2021.

Ochi Rochimawati, Ketua Umum the Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) 2019-2022

Bagaimana awal mula Anda tertarik dengan isu lingkungan?

Aktivitas berkebun, merawat tanaman, dan memilah sampah membangun kepedulian saya terhadap lingkungan. Saat bergabung bersama dengan the Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) pada 2008, saya semakin aktif terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan. Alasannya, bentuk kepedulian dan aksi nyata yang dilakukan sesuai dengan kapasitas saya sebagai jurnalis. Melalui karya jurnalistik seperti menulis berita, saya dapat ikut berkontribusi mengawal isu lingkungan dengan cara yang berbeda.

Selama berkarir sebagai jurnalis, bagaimana Anda melihat pemberitaan isu lingkungan di Indonesia?

Sejak bergabung dengan SIEJ, saya menyadari pemberitaan tentang isu lingkungan di Indonesia masih sangat terbatas. Hanya sedikit media yang memberikan porsi publikasi yang konsisten dan membekali jurnalis agar memiliki kompetensi yang mumpuni di bidang lingkungan hidup. Padahal sebagai sumber informasi publik, media seharusnya menempatkan isu lingkungan sebagai bagian penting dalam pemberitaan. Lingkungan sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, kondisi lingkungan yang baik atau buruk punya dampak langsung dalam aktivitas kita sehari-hari.

Ada topik yang dinilai kurang mendapat sorotan media?

Secara umum, tema lingkungan hidup sudah cukup sering diberitakan media. Namun, jenis pemberitaan yang ada seringkali hanya sebatas straight news, sehingga pembahasannya tidak mendalam. Jurnalisme investigasi khususnya dalam bidang lingkungan sangat penting untuk menyorot aktor dari kejahatan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang masif merupakan hasil dari kejahatan yang sistematis, melibatkan penguasa dan pihak yang berkepentingan untuk mencari keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan. Menggarap laporan investigasi yang berkualitas memang memerlukan sumber daya dan pendanaan yang besar. Apalagi dalam banyak kasus, keselamatan jurnalis juga tidak jarang menjadi taruhannya jika fakta yang disampaikan mengancam reputasi pihak tertentu. Ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan jurnalis untuk menyorot kebijakan pemerintah dan membangun kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif menjaga lingkungan dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, kolaborasi antarmedia menjadi salah satu solusi agar lebih banyak karya jurnalisme investigasi dalam bidang lingkungan yang membawa perubahan.

Apa saja hambatan jurnalis dalam meliput isu lingkungan di Indonesia?

Meliput isu lingkungan menuntut jurnalis untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Indonesia itu negara kepulauan terbesar di dunia. Jarak tempuh, keterbatasan pilihan transportasi menuju akses lokasi yang masih minim infrastruktur dan mahalnya biaya peliputan adalah beberapa hambatan yang seringkali membuat jurnalis harus mengurungkan niatnya mengawal isu lingkungan. Di sisi lain, kompetensi jurnalis di setiap daerah berbeda-beda. Untuk itu, jurnalis juga perlu diberikan kesempatan mengikuti program dan kegiatan untuk up-grading kemampuan jurnalistik mereka, mulai dari bagaimana memilih isu yang relevan, mewakili kepentingan banyak orang dan menyajikannya dengan lebih menarik dan komprehensif.

Sebagai satu-satunya organisasi jurnalis lingkungan di Indonesia, SIEJ terus berusaha menjembatani kebutuhan jurnalis untuk mengawal isu lingkungan. Program-program SIEJ banyak difokuskan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis melalui berbagai kegiatan, seperti agenda Editors Meeting, diskusi publik, dan pemberian beasiswa peliputan. Kami juga terus mendorong keterlibatan jurnalis dari seluruh Indonesia untuk mempublikasi tulisan di laman SIEJ tentang kondisi lingkungan di daerah mereka masing-masing.

Bicara seputar krisis iklim, bagaimana peran jurnalis dalam memberitakan tentang pentingnya isu ini?

Sebagai negara yang rentan terhadap dampak krisis iklim, kondisi Indonesia yang terus dilanda bencana sudah cukup menjadi bukti menurunnya daya dukung lingkungan yang dirusak manusia. Dampak nyata krisis iklim sebenarnya sudah dirasakan semua orang di berbagai belahan dunia. Salah satu tantangan terbesar jurnalis untuk memberitakan tentang krisis iklim adalah bagaimana menyederhanakan isu global ini menjadi lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pemahaman yang baik tentang isu krisis iklim dapat ikut membangun kesadaran masyarakat dalam upaya adaptasi dan mitigasi untuk menekan laju krisis iklim.

Anda menjadi salah satu penerima fellowship untuk ikut kegiatan Climate Change Conference (COP26) di Glasgow, November 2021. Bagaimana Anda memperoleh kesempatan itu?

Pada awal 2021, saya terpilih menjadi salah satu dari 12 penerima 2021 Internews Fellows Program. Kami yang berasal dari berbagai negara dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda, diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan selama satu tahun. Untuk ikut mengawal isu krisis iklim dalam KTT COP26 di Glasgow, Internews ternyata memilih dua fellows untuk berangkat ke sana. Kesempatan ini diberikan karena dinilai dapat mendukung peran kami sebagai jurnalis lingkungan.

Hadir untuk meliput langsung konferensi iklim terpenting di dunia tentu saja menjadi sebuah kesempatan langka, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan banyak persyaratan untuk bepergian ke luar negeri. Saya benar-benar beruntung.

Sebagai jurnalis, saya sangat tertarik untuk menyorot kebijakan-kebijakan global yang akan dihasilkan dalam konferensi ini, khususnya Indonesia. Sebagai negara yang disebut sebagai climate superpower, Indonesia memiliki peran penting dalam menekan laju perubahan iklim. Komitmen negara yang tertuang dalam Updated National Determined Contribution (NDC) perlu mendapat dukungan dari dalam dan luar negeri. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan menjaga bumi dari ancaman krisis iklim.

Sebagai Ketua Umum SIEJ, saya juga melihat ini sebagai ajang memperkenalkan organisasi SIEJ kepada para delegasi yang berasal dari berbagai latar belakang dan membuka lebih banyak kesempatan untuk bekerja sama di bidang lingkungan.

Generasi milenial dan gen Z dinilai sangat memahami isu krisis iklim. Bagaimana Anda mengajak mereka untuk terlibat dalam program-program SIEJ yang berfokus pada lingkungan?

SIEJ sangat mendorong keterlibatan anak muda dalam berbagai program dan kegiatan yang diadakan, baik sebagai peserta, pembicara, bahkan penerima beasiswa peliputan. Kami juga menyadari anak muda memiliki pengaruh besar dalam penyebaran informasi di media sosial. Untuk itu, kami berusaha menyajikan konten yang sesuai dengan gaya dan ketertarikan mereka terhadap isu lingkungan, seperti dalam publikasi Nawala dan postingan Instagram SIEJ yang ramah milenial.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments