Co-Firing, Skenario Transisi Energi Indonesia dengan Membakar Hutan ?

Dokumen Nationally Determined Contributions (NDC) terbaru menyebut, Indonesia menargetkan bebas emisi karbon pada 2060 atau lebih cepat, dengan menghentikan penggunaan energi fosil dan beralih ke energi terbarukan.

Dalam skenario transisi energi tersebut, pemerintah mencanangkan co-firing sebagai salah

satu solusi energi alternatif yang diklaim lebih hijau. Co-firing adalah metode pencampuran batubara dengan biomassa yang berasal dari berbagai bahan baku, seperti pelet kayu, pelet sampah, serbuk kayu, cangkang sawit, serbuk gergaji, dan sekam padi.

Pemerintah bahkan memproyeksikan ratusan ribu hektar lahan dibutuhkan untuk program ini.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam wawancaranya dengan ANTARA menyebut, dalam skenario Indonesia yang paling ambisius yaitu Low Carbon Compatible with Paris Agreement, Indonesia berupaya mencapai puncak emisi gas rumah kaca nasional pada 2030 dengan net sink sektor kehutanan dan penggunaan lahan pada 2030.

Sarah Agustio, Jurukampanye Biomassa dan Peneliti Trend Asia mengatakan, sejak 2020 lalu, co-firing biomassa yang ditonjolkan Indonesia adalah penggunaan pelet kayu dan serbuk kayu untuk mengganti batubara. Salah satu skema pemenuhannya dengan hutan tanaman energi monokultur.

“Biomassa skala besar justru mendorong penggunaan lahan besar-besaran, pembakaran pohon, dan mengancam keragaman hayati. Ini kemudian menjadi ancaman terbesar untuk alih fungsi lahan dan pembakaran komoditinya akan memperburuk krisis iklim,” kata Sarah Agustio.

Menurutnya, co-firing adalah solusi palsu transisi energi dan hanya akal-akalan pemerintah untuk memperpanjang masa beroperasinya PLTU. Biomassa yang dicampur dengan batubara tidak akan mengurangi paparan polusi yang sudah lebih dahulu diderita warga baik di sekitar pembangkit maupun kehidupan di sekitar hutan.

Indonesia, menjadi salah satu negara yang terlibat aktif dalam program energi terbarukan, dengan menggunakan biomassa. Di skala global, ada kekhawatiran meningkatnya biomassa skala besar dan bentuk-bentuk bioenergi lainnya.

PT PLN sebagai pemain listrik terbesar di Indonesia sedang gencar melakukan penggantian batubara dengan co-firing biomassa. Sejauh ini, sudah ada 6 pembangkit yang menggunakan biomassa secara komersial. Jumlahnya diproyeksikan akan terus bertambah.

Ada 52 PLTU dengan kapasitas terpasang 2000 megawatt (MW) yang menggunakan co-firing. Hingga 2024, diperkirakan 52 PLTU tersebut akan menggunakan co-firing biomassa dengan total kapasitas mencapai 18.154 Megawatt (MW).

Data statistik perdagangan internasional PBB menyebut dalam jangka waktu lima tahun terakhir 2016-2020, ada 44 negara penerima palet kayu dari Indonesia untuk pembangkit tenaga listrik berbasis biomassa. Besarannnya mencapai 20.905 ton dengan nilai impor 15.4 juta dolar Amerika.

Jepang dan Korea Selatan menjadi negara importir terbesar mencapai 14.888 ton dengan nilai impor 11.7 juta dolar Amerika. Jika saat ini dalam proses uji coba menggunakan 1 persen dari volume batubara, setidaknya PLTU membutuhkan 10 ton palet atau serpih kayu per hari, yang kemudian akan terus ditingkatkan hingga 10 persen. Konsekuensi naiknya ini akan berimbas pada panjang umur PLTU dan juga penguasaan lahan baru untuk pemenuhan bahan baku.

Sarah Agustio menambahkan, jika pemerintah Indonesia serius untuk melakukan transisi energi, seharusnya lebih fokus melihat peluang lain untuk energi bersih terbarukan.

“Yang tidak berbasis penguasaan lahan hutan besar-besaran yang malah memperparah krisis iklim. Membakar palet dan serpih kayu sama saja dengan membakar hutan,” tandasnya.  

Sementara itu, bertepatan dengan Hari Aksi Internasional Menentang Biomassa, Trend Asia mengadakan aksi simbolik bersamaan dengan peluncuran kampanye global melawan #BigBadBiomass pada Kamis (19/10/2021). Aksi ini bertujuan melawan biomassa hutan skala industri dan mendesak bank-bank pembangunan multilateral dan lembaga lain agar tidak berinvestasi ke biomassa.

Kontak media:

Sarah Agustio, Jurukampanye Biomassa dan Peneliti Trend Asia, +62 812-5556-7264

Ina, Communication Officer Trend Asia, +851 5760 2268

Banner Image : Trend Asia mengadakan aksi simbolik bersamaan dengan peluncuran kampanye global melawan #BigBadBiomass pada Kamis (19/10/2021). Foto : Trend Asia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *