Menuju COP26 : Kawal Ambisi dan Komitmen Mitigasi Perubahan Iklim Indonesia di COP26

Partisipasi semua pihak dan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, media, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi hal penting dalam mengawal isu perubahan iklim di Indonesia.

Hal ini diungkap Mahawan Karuniasa, Pendiri dan Direktur Environment Institute, yang juga Dosen Universitas Indonesia dalam  Seri #2 diskusi “Mengawal Ambisi dan Komitmen Indonesia Pasca COP26,” yang digelar The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) secara virtual pada Sabtu (16/10) menanggapi berbagai upaya dan ambisi Indonesia dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Salah satu kebijakan dalam penanganan perubahan iklim, menetapkan peta jalan (road map) adaptasi perubahan iklim hingga tahun 2030, yang dituangkan dalam Updated NDC. Selain itu, Indonesia juga memiliki dokumen Long Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050 sebagai upaya aksi perubahan iklim sampai 2050.

Ketua Umum SIEJ Rochimawati mengatakan, kegiatan diskusi editor meeting merupakan bagian dari kegiatan rutin untuk mendapat insight dari editor dan media untuk mengawal isu lingkungan dan perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021 (COP26).

“Kami mendorong media di Indonesia untuk memberikan perhatian lebih termasuk mengawal isu perubahan iklim dan komitmen Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim,” ujar Ochi.

SIEJ melihat melihat sejumlah mengangkat isu-isu terkait perubahan iklim menjelang COP26. Harapannya, komitmen Indonesia benar-benar dilaksanakan dan penting bagi jurnalis untuk bisa terus membumikan isu perubahan iklim.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Kepala Sekretariat Bidang Program Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Ristika Putri memaparkan, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim telah dilaksanakan dari level pusat dan daerah. Seperti inisiasi sebagai kabupaten lestari.

Tantangan menuju kabupaten lestari dapat dilihat dari segi tata kelola, pola kerja, dan kapasitas. Untuk mendorong kabupaten lestari, maka perlu semakin banyak pihak yang mendengungkan agar makin banyak orang yang relatable dari sisi pekerjaan mereka dengan isu sustainability yang ada.

“Dari segi tata kelola, misalnya ada sistem yang bersifat birokratif, berada di luar kendali LTKL, dan sulit dirombak. Dari segi pola kerja, LTKL melihat pentingnya koordinasi sebagai upaya mendorong kabupaten yang lestari,”ujar Ristika.

Sedangkan segi peningkatan kapasitas juga penting misalnya peningkatan kapasitas di bidang digital, ketrampilan, dan pemahaman mengenai isu keberlanjutan serta bagaimana cara menghadapi tantangan di tingkat kabupaten.

Sementara itu, Supervising Assignment Editor CNN Indonesia TV Irvan  Imamsyah mengatakan, literasi masyarakat Indonesia terkait perubahan iklim masih rendah. Masyarakat Indonesia banyak yang tidak percaya kalau perubahan iklim terjadi karena ulah manusia.

Berdasarkan survey dari lembaga Purpose di tahun 2021, dikatakan 9 dari 10 warga Indonesia khawatir dengan perubahan iklim. Walaupun 89% masyarakat mengetahui tentang perubahan iklim, namun tingkat pengetahuan masih rendah.

“Untuk membangun masyarakat sadar tentang perubahan iklim, penting bagi media untuk mengikuti perhelatan seperti COP26. Meliput COP itu seperti belanja ke pasar, tapi tidak ada daftar belanjaannya. Jadi banyak forum-forum yang harus diikuti media, belum lagi adanya kampanye oleh CSO,” ungkap Irvan.

Irvan juga memberikan saran kepada rekan-rekan media untuk menerapkan agenda setting, sehingga peliputan perubahan iklim tidak dilakukan secara instan.

Sebagai jurnalis, menurut Irvan yang harus dilakukan adalah bekerja dengan mengawal sehingga apa yang tertulis di kertas oleh pemerintah dapat terealiasasikan dengan selaras.

Narahubung :

Sepsha (restian.voi@gmail.com)

Divisi Program dan Kerjasama SIEJ

Rochimawati (ochi.april@gmail.com)

Ketua Umum SIEJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *