• Ikuti Kami:
  • |
  • October 4, 2021
  • By - SIEJ

Hari Satwa Sedunia : Gajah Masih Jadi Sasaran Perburuan Liar

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung merilis catatan kritis tentang perlindungan gajah yang makin rentan keberadaannya karena perburuan liar di dalam kawasan konservasi.

TNWK, salah satu rumah bagi fauna yang terancam punah (critically endangered) itu, mencatat berdasarkan hasil survei DNA populasi gajah pada tahun 2010 yang dilakukan Wildlife Conservation Society (WCS) terdapat 247 ekor gajah. Namun pada pendataan tahun 2020 dengan metode GPS collar hanya mencatat 180 ekor. Sedangkan sisanya tak terpantau oleh  pemantauan Elephant Response Unit (ERU) TNWK.

Pada tahun 2020, Balai TNWK mencatat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ditemukan kematian 22 ekor gajah akibat perburuan liar, karena mati tanpa gading dan gigi. Bahkan, kontak senjata masih terjadi antara polisi hutan dan pelaku perburuan liar. Sejumlah barang bukti seringkali ditemukan seperti 741 jerat seling, 34 sepeda ontel, 4 perahu dayung, tulang kepala gajah, tulang dan pinggul.

Kepala Balai TNWK Kuswandono mengatakan dari hasil evaluasi dengan aplikasi SMART RBM semester 1 tahun 2021 ditemukan jenis alat perburuan berupa 1 jaring kabut, 7 jerat nilon, 16 jerat jerat seling, 40 jerat selling kecil, 2 perangkap kandang, 3 stick dan 13 tanda perburuan lainnya.

”Ini menandakan perburuan liar di kawasan TN Way Kambas terus terjadi dan mengancam populasi satwa liar.  Keseimbangan ekosistem hutan hingga ekosistem bumi secara jangka panjang pasti terpengaruh,” tegasnya dalam momentum Peringatan Hari Satwa Sedunia pada 4 Oktober 2021.

Konsep perlindungan penyangga kehidupan merupakan hal yang sangat penting dengan perlindungan satwa di area konservasi dan melindungi ekosistemnya. Salah satunya dengan restorasi hutan.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, juga bagian lampiran dari Peraturan Pemerintah (PP) No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, gajah Sumatra atau Elephas maximus sumatranus termasuk ke dalam daftar jenis satwa yang harus dilindungi.

Dedi Istnandar, Staf Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), mengatakan gajah merupakan satwa yang hidup secara berkelompok pemakan tumbuhan (herbivor) memiliki banyak manfaat bagi kehidupan.

“Area jelajahnya luas untuk pencarian makanan, secara tidak langsung membantu penyebaran biji tumbuhan sebagai bibit pohon baru pada kawasan hutan yang dilewatinya. Kotoran gajah juga bermanfaat sebagai pupuk yang menyuburkan area hutan. Gajah juga mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, sehingga mengatur keseimbangan ekosistem hutan. Tubuhnya yang besar juga bermanfaat sebagai pembuka jalan bagi satwa lain dalam menjelajah hutan dan mencari makanan,” kata Dedi.

Sebagai upaya pengawasan dan pencegahan perburuan liar, TNWK bekerja sama dengan sejumlah pihak, seperti Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, Penegak Hukum dan masyarakat sekitar kawasan serta beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Indonesia mengatakan, pihaknya membantu  rehabilitasi hutan (pemulihan ekosistem) sejak tahun 2013 – 2017 dengan memulihkan kembali  100 hektare hamparan ilalang pasca-kebakaran hebat pada dekade 90-an.

“Kami bersama konsorsium pada 2013-2017 seluas 100 hektare, maupun spesifik dengan Auriga hingga 2023 untuk luasan 1.200 hektare,” ungkapnya.

 Auriga menargetkan membangun pembibitan dan melakukan penanaman seluas 600 hektare di kawasan Rawa Kadut. Selain itu, kami membuat sekat bakar untuk mengendalikan kebakaran dan menghambat kebakaran agar tidak meluas. Kami juga melakukan perawatan pada area permudaan alami (suksesi).

Dari luasan total TNWK sebesar 125 ribu  hektare, terdapat sekitar 17 ribu  hektare kawasan TNWK yang perlu direhabilitasi. Ini dibagi ke dalam tiga jenis metode upaya rehabilitasi atau pemulihan ekosistem, yakni pemulihan ekosistem alami, pemulihan ekosistem yang menggunakan anggaran negara dan pemulihan ekosistem bekerja sama dengan mitra, di mana Auriga termasuk di dalamnya.

Basuki, Koordinator Proyek Restorasi Auriga di Way Kambas, menjelaskan bahwa upaya restorasi secara tidak langsung akan menghambat perburuan liar. Pertumbuhan pohon di hutan akan menjadi banteng penjaga bagi satwa di kawasan TNWK, seperti gajah, rusa, harimau, dan satwa-satwa lainnya.

“Restorasi harus dilakukan secara integral dengan melibatkan masyarakat lokal. Tujuannya untuk menumbuhkan kesadaran, dan adanya sumber ekonomi alternatif. Keterlibatan masyarakat termasuk dalam hal penanaman bibit maupun kegiatan ekonomi yang bersumber dari jasa kawasan hutan, seperti pengembangan wisata edukasi di TNWK dapat dikembangkan.”

Ke depannya, Basuki berharap ada kegiatan wisata edukasi di kawasan konservasi, di mana para tamu yang berkunjung dapat menginap di rumah masyarakat, sehingga dapat menambah pemasukan bagi warga sekitar.

Banner Image : Gajah di PLG way-Kambas. Foto diambil dari website https://waykambas.org/pusat-latihan-gajah-plg/

  • Share:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments