• Ikuti Kami:
  • |
  • September 30, 2021
  • By - SIEJ

Perjuangan Perempuan Sangihe Menolak Tambang Emas

Emas begitu menggiurkan, tetapi para perempuan di Sangihe tak terbuai. Mereka tetap menolak sebab tak ingin alam sekitarnya rusak.

Jalan raya dari Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe, menuju Kampung Bowone sebenarnya mulus. Namun karena topografi pulau kecil yang berada di ujung utara Indonesia itu berbukit-bukit, jalannya pun berkelok-kelok secara ekstrem mengikuti kontur tanah.

Baru banting ke kiri, sudah diadang kelokan ke kanan. Baru saja menginjak rem menuruni bukit curam, kaki sudah harus dipaksa menginjak pedal gas di tanjakan. Penumpang di belakang yang tak kuat dan tak terbiasa, sudah pasti kliyengan. Mabuk.

Nissan Grand Livina hitam yang dicicil selama lima tahun itu pun untungnya sanggup bergerak lincah. Sang supir, Gerrit A. Kaemba, pemuda 30-an tahun asal Tamako, tak kalah lincah memutar kemudi.

“Saya pernah membawa 11 orang di dalam mobil ini,” katanya, setengah pamer, sembari memicingkan mata ke jalanan di depan. “Untungnya kuat menanjak. Buat ngetes mesin mobil baru.”

Butuh hampir dua jam menuju Kampung Bowone, yang berada di Kecamatan Tabukan Tengah Selatan. Membelah pulau dari barat ke timur, melewati jalan sempit di gigir bukit. Meleng sedikit, kendaraan bisa celaka masuk jurang yang cukup dalam.

Gerrit sudah terbiasa dengan kondisi jalan tersebut. Sambil menyetir, sesekali dia mengetik dan mengirim pesan di ponselnya, seolah sudah hafal setiap inci jalan.

Di Kampung Bowone, pukul 10 pagi, Stevi Poae, 28 tahun, sudah duduk di belakang meja di Posyandu dengan pena di tangan kanannya. Matanya tekun menghadap sebuah buku catatan lusuh berukuran besar, sesekali menuliskan sesuatu yang sepertinya hanya ia yang sanggup membacanya.

Hari itu Sabtu. Para ibu berbondong-bondong membawa anak-anaknya ke Posyandu buat pemeriksaan rutin. Stevi menyambut setiap ibu dan anak yang datang ke situ dengan senyum tergurat.

Setelah menimbang dan mengukur setiap anak, Stevi menyorongkan vitamin ke setiap ibu. Stevi sudah sejak lahir tinggal di Kampung Bowone. Anaknya tiga. Yang paling besar baru berusia 11 tahun. Sehari-hari ia bekerja di kebun untuk menghidupi keluarganya.

“Kalau di sini kegiatannya cuma berkebun untuk dijual di pasar,” kata Stevi membuka percakapan. “Bapak dan suami saya semua berkebun. Menanam ubi. Tidak ada kegiatan lain.”

Mengalir bersama ritme alam

Kehidupan mengalir dengan tenang dan damai di situ. Kampung itu kecil dan sepi. Dikelilingi kebun dan hutan. Hanya ada satu jalan raya yang menghubungkan antar kampung. Jumlah warganya tak lebih dari 200 kepala keluarga. Mayoritas warga bekerja sebagai pekebun dan nelayan.

Selain ubi, warga juga menanam kelapa, cengkih, dan berbagai sayur mayur. Mereka juga mengolah kopra dan sagu secara tradisional. Sagu menjadi primadona di sana. Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghana bahkan mencanangkan dua hari tanpa nasi, setiap Rabu dan Jumat.

Pohon-pohon sagu yang tumbuh alami dan dibudidayakan tersebut diolah secara tradisional. Ia hanya bisa diolah dengan air yang berasal dari sumber mata air di bukit. Mata air tersebut disalurkan lewat pipa kecil yang mengalir ke kolam penampungan. Pengolahannya sederhana dan butuh tenaga besar.

Pohon sagu dicacah kasar, sebelum dicuci terus menerus menggunakan tangan. Olahan tersebut meninggalkan adonan halus berwarna putih mirip tepung. Sementara ampas kasarnya dibuang. Satu pohon bisa menghasilkan lima karung masing-masing seberat 25 kg. Setiap karung dihargai Rp200 ribu di pasar.

Kehidupan tradisional tersebut, yang dinamis mengikuti ritme alam, terancam hilang ketika Maret lalu perusahaan tambang emas PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) datang ke Kampung Bowone melakukan sosialisasi dan penawaran harga tanah.

PT TMS datang mengantongi izin lingkungan dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) dari Kementerian ESDM dan Pemprov Sulawesi Utara untuk melakukan kegiatan produksi sampai 33 tahun ke depan.

Sebelum izin itu dikantongi pun, PT TMS dan induk perusahaannya yang asal Kanada, Baru Gold Corp., sudah mengantongi kontrak karya sejak 2010 untuk mengeksplorasi 42,000 hektare lahan di selatan Pulau Sangihe.

Selama tiga hari, dari 22 hingga 24 Maret, PT TMS melakukan sosialisasi di Kampung Bowone bersama sejumlah pejabat daerah. Mereka akan beroperasi di lahan seluas lebih dari 65 hektare di Kampung Bowone dan menawarkan harga tanah sebesar Rp5.000 per meter, sembari memberi janji kesejahteraan ekonomi bagi warganya.

Warga yang sudah turun temurun tinggal di situ kaget bukan kepalang. Tak ada angin tak ada hujan. Tak ada izin, tak ada pelibatan perumusan AMDAL, tiba-tiba harga tanah sudah dipatok sedemikian rupa. Mereka pun terancam terusir dari tanah kelahirannya.

Hari sosialisasi itu mungkin tak akan pernah dilupakan oleh Stevi. Dia tidak ikut duduk dalam rapat sosialisasi, sebab sibuk menyiapkan makanan buat para pejabat dan petinggi PT TMS. Namun sayup-sayup ia mendengar apa yang ditawarkan oleh perusahaan.

Simak laporan Adi Renaldi selengkapnya di ekuatorial.com

Banner image : Sebuah plang kayu berisi protes dan penolakan terhadap PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) di dekat Kampung Bowone, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Masyarakat menolak PT TMS karena dituding tidak memiliki izin operasi pertambangan yang layak, 7 Agustus 2021. Foto : Adi Renaldi / tirto.id

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments