• Ikuti Kami:
  • |
  • September 11, 2021
  • By - SIEJ

Restorasi Wilayah Pesisir Terpadu, Perbaiki Ekologi dan Ekonomi

Selama kurun waktu 30 tahun, hampir 50% luasan tutupan mangrove di pesisir Kota Semarang telah hilang. Kondisi ini mengakibatkan ekosistem pesisir Kota Semarang rawan abrasi dan banjir rob.  

Tekanan dari industri akuakultur sejak tahun 1978 melalui pembukaan tambak yang cukup intensif sekitar tahun 1990-2000 menjadi penyebabnya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2013 menyebut, penurunan luasan mangrove secara signifikan dari 557,39 hektare tahun 1990 menjadi 250,16 hektare pada tahun 2000.

Salah satu kawasan pesisir yang terdampak ada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Sejak 1997, tingkat abrasi di wilayah ini sangat tinggi mencapai 150 hektare. Bahkan merambah sepanjang 3,5 kilometer ke arah permukiman warga.

Muhammad Imran Amin, Direktur Program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA ) mengatakan, sejak 2019 kawasan ini menjadi fokus restorasi mangrove untuk mengurangi kerentanan masyarakat pesisir, menjaga sumber daya dan aset alam, serta dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dengan berbasis  ilmiah.

“Restorasi ekosistem mangrove di pesisir Kota Semarang butuh suatu demplot restorasi mangrove yang dapat menjadi acuan kegiatan restorasi dalam ruang lingkup yang lebih besar dan sarana pembelajaran bagi masyarakat sekitar,” kata Imran.

Restorasi mangrove yang digagas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan sejumlah mitra ini membekali warga dengan pengetahuan restorasi mangrove melalui berbagai pelatihan, seperti pemilihan benih, pembibitan, penanaman, pemantauan hingga pemeliharaan demplot restorasi mangrove.

Pelestarian ekosistem mangrove dan pengelolaan pesisir terpadu di Kelurahan Mangunharjo ini sebenarnya juga menajdi perhatian banyak pihak. Selain ekologi, pendekatan pesisir terpadu juga menyentuh aspeksosial dan ekonomi termasuk mata pencaharian.

“Kami identifikasi sektor ekonomi unggulan yang mendukung upaya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan guna meningkatkan taraf hidup masyarakat,” lanjut Imran.

Dengan pendekatan partisipatif Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP), diketahui, kerupuk udang, batik mangrove, dan budi daya tambak merupakan produk unggulan dan potensial bagi masyarakat Kelurahan Mangunharjo.

Sugiarti, selaku Lurah Mangunharjo mengatakan, upaya tindaklanjut dalam mendukung keberlanjutan usaha ekonomi, warga membentuk Koperasi Serbaguna Raharjo Mandiri sejak tahun 2020. Untuk pemasaran dan menjangkau pasar yang lebih luas, produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini bekerjasama dengan platform digital marketplace untuk pemasaran. 

”Kami harapkan produk unggulan ini dapat dipasarkan dengan baik, mutunya selalu terjaga, dan hasilnya dapat membantu peningkatan perekonomian warga, kata Sugiarti.

“Pengelolaan pesisir terpadu ini mendukung strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui kegiatan ekonomi berbasis konservasi. Jika dikelola secara efektif dan berkelanjutan, mangrove dapat menjadi sumber penghidupan, serta berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial,” imbuh  Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Banner Image : Warga Mangunharjo menyeleksi bibit mangrove yang akan ditanam di pesisir Mangunharjo, Semarang. Foto : Nugroho Arif Prabowo/YKAN

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments