• Ikuti Kami:
  • |
  • August 22, 2021
  • By - SIEJ

Jamartin Sihite: Jaga Hutan agar Orangutan Tetap Ada

Orangutan adalah salah satu satwa endemik Indonesia. Ada tiga spesies orangutan yang ditemukan di Indonesia, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii), orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Namun, ketiga spesies orangutan Indonesia berstatus kritis (Critically Endangered/CR) berdasarkan daftar merah Serikat Internasional untuk Pelestarian Alam atau IUCN.

Menurut data Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), lembaga yang berfokus pada konservasi orangutan, jumlah populasi orangutan di Indonesia hanya tersisa 73 ribu individu pada 2016. Beberapa faktor yang menyebabkan satwa yang tergolong mamalia dan primata ini menghadapi ancaman kepunahan antara lain konversi habitat, perdagangan ilegal, hingga kebakaran hutan dan lahan. Mirisnya, masih banyak warga yang belum menyadari pentingnya menjaga orangutan untuk tetap berada di habitatnya. Orangutan malah dipelihara, dibunuh, bahkan dijadikan tontonan.

Keberadaan orangutan di habitat alaminya membantu regenerasi dan keseimbangan ekosistem hutan. Orangutan menebar biji tumbuhan sisa makananya di sekitar hutan. Kebiasaan mereka membuat sarang dengan memetik daun dan dahan yang membantu ketersediaan matahari di hutan hujan tropis yang lebat dan gelap. Orangutan turut menjaga ketersediaan makanan, oksigen, bahkan kayu bagi manusia.

Untuk mengetahui bagaimana upaya penyelamatan dan perlindungan orangutan di Indonesia, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melakukan wawancara dengan CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, pada Kamis, 20 Agustus 2021.

Jamartin Sihite, CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Foto : dokumentasi pribadi

Bagaimana awal mula Anda tertarik terhadap orangutan?

Latar belakang pendidikan saya sebenarnya pertanian. Lalu, pendidikan S2 dan S3 fokusnya pada lingkungan. Dulunya, saya dosen di Universitas Trisakti. Pada 2004, saya memutuskan untuk bergabung dengan penggiat konservasi TNC dan mulai bekerja di Papua dan Pulau Komodo. Suatu ketika, saya bertemu dengan ahli orangutan dan ditantang untuk melihat mata anak orangutan. Momen itu menjadi tatapan pertama saya pada anak orangutan, melihat matanya seperti kehilangan harapan.  Saat itu juga saya langsung jatuh cinta dan tertarik untuk membantu perlindungan orangutan.

Saya menyadari bahwa kita juga bisa belajar di luar kampus. Hal itu yang membuat saya kemudian memilih untuk mengundurkan diri. Bagi saya, konservasi adalah aksi nyata yang kecil, tapi berdampak besar bagi perlindungan satwa yang terancam punah. Dari situ, saya bergabung dengan program USAID yang berfokus pada perlindungan orangutan. Setelah itu, saya pindah ke Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) hingga saat ini.

Orangutan di setiap daerah memiliki keunikan masing-masing. Bisa dijelaskan apa saja perbedaan orangutan di tiap daerah yang ada di Indonesia?

Awalnya, kita memang hanya mengetahui dua jenis orangutan saja. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan tentang orangutan berkembang. Untuk wilayah Sumatera saja, awalnya cuma dikenal satu spesies orangutan saja, kemudian ditemukan spesies lain yang berbeda. Pertama yang ada di bagian Utara danau Toba, kedua yang ada di bagian Selatan danau Toba, tepatnya di kawasan hutan Batang Toru di Tapanuli. Satu spesies lainnya lagi ada di Kalimantan. Perbedaan yang mencolok antara spesies orangutan ada di kecerahan warna. Orangutan Sumatera lebih cerah, sedangkan semakin ke Timur warna orangutan semakin gelap. Perbedaan lainnya, orangutan di wilayah Sumatera jarang turun ke tanah karena ada harimau di habitat mereka. Sementara di Kalimantan, orangutan yang kami temukan justru kerap ada di tanah. 

Bicara habitat hidup orangutan, kondisi hutan menyempit karena perkebunan dan kebakaran hutan dan lahan. Dalam pantauan BOSF, bagaimana kondisi orangutan di Indonesia saat ini?

Kalau bicara orangutan, mereka hidupnya di hutan. Hampir 70 persen hidup orangutan berada di luar kawasan konservasi yang ditetapkan pemerintah. Habitat hidup mereka berada sekitar 0 – 700 meter di atas permukaan laut. Banyak orangutan yang hidup di daerah yang juga ditempati manusia. Ketika pembangunan dilakukan, maka konflik dengan orangutan sulit dihindari. Biasanya jika terjadi konflik dengan manusia, orangutan selalu kalah. Mereka kadang bisa dibunuh.

Indonesia mengenal dua kawasan hutan dalam tata ruang, yaitu kawasan budidaya kehutanan dan budidaya non-kehutanan. Ketika kawasan budidaya non-kehutanan dikonversi menjadi peruntukan lain untuk manusia, tetap dianggap sah secara hukum. Hal itu yang kemudian membuat orangutan kehilangan ruang hidup karena habitat mereka digunakan untuk peruntukan lain. Akibatnya, terjadi penurunan populasi orangutan. Masalah lainnya yang muncul seperti perdagangan ilegal lintas negara serta tren pemeliharaan orangutan di luar negeri.

Seperti apa  perdagangan orangutan itu terjadi?

Kami hanya mengetahui saat perdagangan itu telah terjadi. Pada 2006, saat kasus pengembalian 48 orangutan dari Thailand, pemerintah Indonesia membawa mereka pulang kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan orangutan yang ditemukan di Kuwait. Secara kumulatif, BOSF menerima total 54 orangutan hasil repatriasi (yang dibawa pulang dari luar negeri). Peristiwa perdagangan ilegal ini terjadi lintas negara dan saat ini mayoritas perdagangan dilakukan di wilayah Timur Tengah, walaupun di Thailand juga masih tetap ada.

Anda tadi menyebutkan perilaku pemeliharaan orangutan. Bagaimana itu terjadi?

Masih ada pola pikir yang salah di masyarakat, di mana untuk sebagian orang memelihara satwa dilindungi dianggap keren. Seperti harimau dipamerkan melalui media sosial, maupun YouTube. Ada yang pelihara harimau Benggala, walaupun satwa itu tidak dilindungi, masyarakat kita mungkin tidak akan mencari tahu terlebih dahulu jenis harimau itu. Kalau orang Indonesia melihat itu, ada potensi ditiru untuk dipelihara. Saya pikir tindakan pamer satwa untuk dipelihara menghancurkan kerja-kerja konservasi yang kami dan kawan-kawan lakukan. Kami mencoba melakukan edukasi agar satwa dilindungi tidak punah, tapi satu sisi selebriti kerap pamer hewan peliharaan mereka. Itu tidak benar. Pelihara satwa liar itu tidak keren.

Bagaimana pola ancaman terhadap ruang hidup orangutan?

Polanya masih sama, meliputi konversi lahan, perdagangan ilegal, dan satwa langka dijadikan peliharaan. Untuk melakukan edukasi dan sosialisasi hukum, kita semua harus bekerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan NGO atau pemerintah saja. Perlu bantuan media, masyarakat, hingga ilmuwan. Bersama-sama melakukan konservasi orangutan.

Upaya apa saja yang BOSF lakukan untuk melestarikan orangutan?

Ketika ada yang melapor, kami bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bergerak bersama menyelamatkan orangutan. Orangutan ini kami rehabilitasi kemudian kami lepasliarkan ke alam bebas. Kami juga melakukan rehabilitasi lahan dan restorasi lahan gambut yang dibuka pada masa Soeharto. Kami melakukan restorasi bekas-bekas hutan yang dulunya habitat hidup orangutan. Tujuannya untuk mengembalikan hutan yang menjadi rumah orangutan.

Selain itu, kami juga punya program BOSF Goes To School. Program ini bertujuan untuk menyampaikan kepada anak-anak sekolah sedini mungkin tentang pentingnya menjaga orangutan. Kelak ketika mereka tumbuh besar menjadi pejabat, pebisnis, atau apa pun pilihan masa depan mereka, mereka lebih sadar tentang keberadaan orangutan.  

Sementara itu, kami juga mengajukan lisensi bekas Hutan Produksi (HPH) yang dikenal dengan HPH restorasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk direstorasi. Prosesnya sama dengan hak pengelolaan hutan (HPH). BOSF melalui Restorasi Hutan Orangutan Indonesia sudah mendapatkan 86.593 ha lahan dan sedang mengajukan izin untuk 50 ribu ha lahan lagi karena area restorasi pertama sudah hampir penuh daya dukungnya untuk orangutan yang sudah dilepasliarkan di sana. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah di Kawasan bekas megarice project atau kawasan Mawas. Di sana ada sekitar 2 ribuan orangutan liar yang hidup di kawasan seluas 309.000 ha.

Di kawasan tersebut tidak boleh ada penebangan hutan. Ini bagian dari upaya kami menjaga habitat orangutan. Dari 2012 hingga Juli 2021, kami berhasil melakukan rehabilitasi dan melepasliarkan 485 orangutan.

Berapa populasi orangutan menurut data BOSF hingga saat ini?

Berdasarkan survei yang kami lakukan pada 2016, terdapat kurang lebih 73 ribu orangutan yang tersisa. Pembagiannya 14.290 orangutan di Sumatera, 800 di Tapanuli, dan 57.350 di Kalimantan.

Orangutan di kawasan konservasi orangutan BOSF. Foto:dokumentasi BOSF

Apa saja tantangan dalam melakukan konservasi orangutan?

Kami masih kesulitan mengedukasi warga. Tantangan lainnya pada pendanaan karena membantu keberlangsungan hidup orangutan tidak mudah dan tidak murah. Kami juga mencoba mengajak para pengusaha yang mengelola kawasan lahan di Kalimantan untuk bersama-sama melindungi orangutan. Hal ini masih sulit terwujud. Padahal kalau dicoba pasti ada jalan untuk bersama melestarikan orangutan.

Anda melakukan konservasi orang-utan selama bertahun-tahun. Bisa dijelaskan apa pentingnya orangutan bagi ekosistem hutan?

Pentingnya keberadaan orangutan sudah diakui oleh para peneliti. Orangutan seperti tukang kebun di hutan. Pada siang hari mencari buah untuk dimakan, lalu menyebar bijinya di sembarang tempat. Pada sore dan malam hari, mereka akan membuat sarang. Orangutan membuka kanopi hutan, sehingga sinar matahari bisa masuk ke hutan dan biji-bijian bisa tumbuh dan berkembang. Proses fotosintesis di kawasan hutan akan berlangsung dengan baik. Hutan juga menjadi lebih baik.

Hutan yang baik akan mengasilkan oksigen, air bersih, hasil hutan kayu dan non-kayu. Hutan yang baik berperan dalam pengendalian perubahan iklim. Siapa yang menerima manfaat ini? Ya, kita juga manusia.Menyelamatkan orangutan di hutan sama dengan menyelamatkan manusia. 

Menurut Anda apakah ada upaya serius pemerintah dalam melindungi orangutan?

Bersama pemerintah, BOSF bekerja melindungi orangutan sejak 30 tahun lalu. Kami melakukan kolaborasi. Pemerintah memiliki peran untuk mengeluarkan kebijakan dan aturan. NGO seperti kami dapat memberikan masukan kepada pemerintah agar tidak melakukan pembangunan atau tidak memberikan izin perkebunan di area yang menjadi habitat orangutan sebagai langkah mitigasi. Menurut undang-undang, orangutan itu milik negara. Jadi, pemerintah punya peran penting.

Borneo Orangutan Survival melakukan kampanye kolaborasi melalui film dokumenter dan podcast. Bisa dijelaskan mengapa menggunakan medium tersebut?

Salah satu komponen penting dalam konservasi adalah komunikasi. Bagaimana pesan konservasi bisa diterima masyarakat umum. Kami menggunakan media podcast untuk menyasar generasi milenial karena ada banyak hal yang tidak tersampaikan jika menggunakan media tradisional. Kami mempelajari platform media sosial dan menyadari ketertarikan mereka pada podcast, YouTube, dan Instagram. Untuk mensosialisasikan tentang program konservasi BOSF, kami membutuhkan media tersebut. Harapannya, lebih banyak anak muda bisa bergerak bersama untuk menyebarkan informasi tentang orangutan.

BOSF juga kerap mengajak artis untuk ikut kampanye. Apakah hal itu membantu pelestarian orangutan untuk crowdfunding atau dukungan untuk membuat kebijakan baru?

Awalnya kami memang memiliki duta orangutan. Pada 2010, kami ubah dengan sebutan Campaigner Awareness. Jadi, siapa saja bisa mengkampanyekan kepedulian kepada orangutan. Satu hal yang selalu kami tekankan ketika artis ikut dalam kegiatan konservasi, orangutan butuh ke-artisan mereka untuk meningkatkan kesadartahuan masyarakat sebagai bagian dari anak bangsa. Untuk itu, kami tidak pernah membayar jasa mereka. Hal ini sebagai upaya untuk mengajak lebih banyak orang konsisten terlibat dalam melestarikan orangutan sesuai kapasitas masing-masing.

Bagaimana melestarikan keberadaan orangutan di Indonesia?

Jaga hutannya, biarkan hutan tetap ada supaya orangutan tetap ada. Jika 100 pebisnis saja yang punya area pengelolaan yang mengkonversi hutan atau yang mengelola hutan mau menyumbang 100 hektar lahan, maka kita bisa pastikan masih ada hutan yang terjaga.

Bicara anak muda, bagaimana mengajak mereka terlibat dalam menjaga hutan dan orangutan?

Kami masuk ke cluster yang mereka pahami. Dulu kami tidak tertarik menggunakan IG live, podcast maupun Tiktok. Kami sadar bahwa kami harus berubah dan mengikuti tren generasi milenial. Kami mencoba memodifikasi pesan dengan bahasa yang mereka pahami, dengan terus mengkampanyekan pesan bahwa melindungi orangutan di hutan itu keren. Aksi menjaga orangutan itu keren.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan anak-anak muda untuk terlibat aksi nyata untuk orangutan?

Pertama, mereka bisa ikut adopsi orangutan dan membantu ketersediaan makanan bagi orangutan. BOSF membuka diri terhadap donasi dan adopsi. Saat ini ada 9 orangutan yang bisa diadopsi, yaitu Taymur (7 tahun), Jelapat (6 tahun), Monita (3 tahun), Bumi (5 tahun), Mema (6 tahun), Topan (4 tahun), Davi (6 tahun), Kopral (15 tahun), dan Shelton (14 tahun).

Kedua, mereka bisa berpartisipasi hanya dengan menggunakan smartphone untuk kampanye bersama melalui like, share,dan comment. Kalau cocok dengan program BOSF, mereka bahkan boleh bergabung bersama kami. Tapi, jangan mikir mau kaya jika bergabung dengan BOSF, tapi mau hati gembira.

Menurut Anda, bagaimana masa depan orangutan di Indonesia?

Kalau ada yang beranggapan dalam 10-20 tahun orangutan akan punah, kami justru yakin orangutan masih akan ada bahkan dalam 100 tahun lagi. Persoalannya, bagaimana habitat mereka dapat terjaga? Kami berharap orangutan jangan sampai punah. Kita harus sadar bahwa orangutan itu adalah harta kita. Habitat dan orangutan harus kita jaga bersama. Ini tugas kita sebagai anak bangsa.

***

Peduli orangutan? Dengan membeli merchandise di https://www.orangutan.or.id/shop , kalian ikut membantu upaya konservasi orangutan di Indonesia, lho! Yuk, bersama kita dukung program perlindungan dan penyelamatan orangutan.

Banner Image : Orangutan bernama Amber di Kawasan konservasi orangutan BOSF. Foto : Dokumentasi BOSF

  • Share:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments