Perhutanan Sosial Sungai Buluh, Layu Sebelum Berkembang

Perhutanan Sosial Sungai Buluh bisa dikatakan layu sebelum berkembang. Kegiatan ekowisata yang dimulai tahun 2013 terhenti di tengah jalan, fasilitas penunjang pun rusak.

Air Sungai Buluh yang jernih mengalir tenang di tengah kesenyapan hutan. Airnya membentuk jeram-jeram kecil saat membentur batu-batu andesit yang hitam berkilat. Di sebelah kanan sungai ditumbuhi hutan karet dan durian, sedangkan di seberangnya hutan alami yang lebat.

“Kalau hari tidak hujan seperti sekarang, di dasar sungai ini akan terlihat ikan garing, ikan larangan yang baru bisa diambil setiap tiga tahun sekali. Ini ikan asli dan mahal harganya,” kata Ali Azwar Dt. Rajo Batuah, ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sungai Buluh, Selasa, 6 Juli 2021.

Hutan Nagari di Nagari Sungai Buluh, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat itu seperti surga hutan tropis. Di sana cukup banyak tersedia kebutuhan masyarakat, terutama buah-buahan. Ada durian, jengkol, rambutan, dan manggis. Juga ladang karet dan kopi robusta. 

Pada musim durian, seperti awal Juli itu, banyak pedagang durian dengan sepeda motor membawa durian dalam keranjang besar. Mereka datang dan pergi membawa durian dari hutan. Suara buah durian yang jatuh berdebum juga sering terdengar di sekitar pohon di hutan nagari.

Hutan Nagari Sungai Buluh seluas 1.336 ha ditetapkan menteri kehutanan sebagai perhutanan sosial pada 2 Desember 2013.

Sungai Buluh pernah dipersiapkan sebagai percontohan pengelolaan ekowisata bagi perhutanan sosial di Sumatera Barat. Sebuah bukit dengan pemandangan lepas ke arah Bandara Internasional Minangkabau (BIM) berjarak 5 km dan bisa ditempuh hanya 25 menit dari BIM, menjadi nilai jualnya.

Sejak berdiri hingga 2017 banyak kegiatan pelatihan untuk pengelola perhutanan sosial diadakan di Sungai Buluh. Fasilitas ekowisata juga dibangun, seperti jalan dan jaringan listrik hingga ke balai pertemuan LPHN di pinggir hutan.

Hutan di sepanjang sungai di sana memang memiliki banyak spot yang unik, seperti batu-batu besar di badan sungai dan di tengah hutan di sekitar pohon. Jauh di kedalaman hutan juga ada air terjun Sarasah Kuau dan tempat pemandian alami Lubuak Kandih. Keduanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki menyusuri hutan.

Untuk mendukung sarana ekowisata, di sepanjang tepi sungai sudah dibangun jalan setapak dari beton sepanjang 1 km yang bisa dilewati sepeda motor. Kemudian jalur tracking ke bagian hulu sungai di air terjun. Sedangkan sebuah rumah pohon berdiri di atas bukit tempat wisatawan memandang ke arah Kota Padang, terutama Bandara Internasional Minangkabau.

Dalam perencanaan pengelola LPHN, pondok-pondok petani di tengah hutan hingga air terjun Sungai Buluh juga disiapkan untuk penginapan wisatawan.

Saat rumah pohon dibuka pada 2017, banyak pengunjung yang datang. Pemandu ekowisata juga sudah disiapkan untuk membawa pengunjung ke dalam hutan.

“Nugie Nugraha, penyanyi yang juga pencinta lingkungan juga pernah datang dan menginap di kawasan air terjun di pondok petani semalam dengan temannya. Mereka katanya ingin menikmati alam,” kata Ali Azwar.

LPHN juga sudah merencanakan untuk membuat kolam renang alami di sebelah aliran sungai untuk melengkapi ekowisata di Sungai Buluh. Pemilik lahan sudah mengizinkan dan tinggal mencari investor untuk mewujudkannya.

“Hanya ini kegiatan kami yang tersisa, lainnya seperti budi daya jamur dan ekowisata tidak berjalan.”

Ali Azwar, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sungai Buluh

Simak laporan Febrianti selengkapnya si situs ekuatorial.com

https://www.ekuatorial.com/2021/08/perhutanan-sosial-sungai-buluh-layu-sebelum-berkembang/

Banner image : diambil dari situs menlhk.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *