• Ikuti Kami:
  • |
  • July 6, 2021
  • By - SIEJ

Cerita dari Jantung Borneo #2 : Mencari Siapa Pengeruk Antimoni

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 12 jam, kendaraan travel yang saya tumpangi tiba di Putussibau. Saya tak ingin perjalanan ini sia-sia. Entah bagaimana caranya. Kali ini harus berhasil bertemu dengan direktur PT. Makmur Pratama Indonesia. 

Persiapan harus matang. Mengatur strategi mencari rumah yang ditinggali direktur perusahaan tambang dan lokasi penambangan itu.

Saya akhirnya berhasil menemukan alamat rumah salah seorang warga dan karyawan PT Makmur Pratama Indonesia. Rupanya, direktur itu menetap di rumah tersebut. Ini jadi target pertama yang harus didatangi.

***

Sepeminum teh kemudian, muncul seorang lelaki renta dari pintu utama. Tanpa mengenakan baju. Hanya bercelana pendek. 

Si karyawan itu mengenalkannya sebagai Direktur Utama PT. Makmur Pratama Indonesia. “Mohon maaf, kalau bicara dengan beliau suaranya agak dikeraskan.” 

Sang direktur ternyata mempunyai gangguan pendengaran. Sesaat muncul keraguan untuk mewawancarainya. Saya tak yakin akan memdapatkan jawaban konsisten dari orang yang mengalami penurunan daya ingat.

Tapi, apa boleh buat. Bagaimanapun kondisinya, dia adalah direktur perusahaan yang diduga kuat terlibat dan bertanggungjawab dalam penyelundupan antimoni. 

Dan benar. Dengan suara terbata, dia membantahnya. Sepertinya untuk yang satu ini perkiraan saya salah besar. 

Jangan pernah meremehkan seseorang dari penampilan dan umur. Itu pelajaran berharga untuk saya.  

Direktur ini dapat menjelaskan kronologis waktu. Pada saat penangkapan, perusahaannya tidak ada pengiriman antimoni apalagi menyelundupkan ke Malaysia. Dia hafal pengiriman terakhir pada 26 Januari 2018 ke PT. Advance Smelting Technologi di Serang, Banten, sebanyak 22.500 Kg atau 22,5 ton.

Dia menegaskan perusahaan yang dikelolanya memiliki izin dan legal sehingga tak  terlibat dalam penyelundupan. Juga meyakinkan tidak ada aktivitas penambangan cukup lama karena minimnya pesanan dan alat berat yang  rusak.

Bantahan terus meluncur dari lelaki renta itu. Termasuk ketika nama Mr Chao saya sebut terlibat kerjasama dengan perusahaannya. “Bukan. Kami tidak mempekerjakan orang asing,” tegasnya.

Saya mencoba tidak menyanggah apapun yang diungkapkan. Sesaat kemudian, saya menunjukkan  dokumen resmi surat Izin Mempekerjakaan Tenaga Asing (IMTA). Di dokumen jelas tertera perusahaannya menjadi penjamin dan mengangkat Mr. Chao sebagai quality control advisor. 

Akhirnya dia mengakui. Meski tetap saja berkelit tak tahu menahu aktivitas warga Tiongkok itu.  

***

Ya, apapun jawaban sang direktur setidaknya saya sudah menemukan lingkaran para pengeruk antimoni di Boyan Tanjung.

Dan rasanya tak lengkap jika saya tidak melihat langsung lokasi penambangan dan aktivitas di tambang itu. 

Untuk keamanan diri, saya tak akan pergi sendiri. Dengan berhitung risiko ketika di lapangan dan pulang dengan selamat, saya ditemani seorang kawan yang membantu dan berjaga. 

Lokasi penambangan antimoni di Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, berada di bagian paling timur dari Provinsi Kalimantan Barat.  Jika dihitung dari Pontianak, butuh menempuh perjalanan darat sejauh 1.000 kilometer. 

Secara geografis, kabupaten ini berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Maka, tidak heran jika wilayah perbatasan rawan praktik penyelundupan. Di wilayah ini, tidak sedikit jalur tikus yang kapan saja bisa digunakan untuk  masuk dan keluar barang secara ilegal. Termasuk antimoni. 

Setelah menempuh perjalanan tiga jam dari ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau, kami tiba di lokasi areal tambang antimoni milik PT. Makmur Pratama Indonesia (MPI). Lokasinya berada di antara pemukiman penduduk Desa Riam Mangelai, Kecamatan Boyan Tanjung. 

Bagi sebagian masyarakat Kapuas Hulu, desa ini memang dikenal dan kerap mendapat sorotan karena maraknya aktivitas pertambangan ilegal, hingga izin eksploitasi pertambangan dan perkebunan.

Padahal jika ditilik lagi, Kabupaten Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten konservasi di jantung Kalimantan. Wilayah yang semestinya penting bagi kelestarian lingkungan.

Memasuki areal pertambangan seperti ini bukanlah pengalaman pertama. Sebelumnya, saya beberapa kali memasuki areal tambang emas ilegal. Tapi tetap saja jantung saya selalu berdegup kencang. Bersiap  berhadapan dengan para pekerja dan atau terusir dengan peringatan. Tapi semua antisipasi sudah dipersiapkan.

***

Kubangan bekas galian tambang milik PT Makmur Pratama Indonesia di Desa Riam Mangelai, Boyan Tanjung, Kapuas Hulu. Lubang tambang itu dibiarkan tanpa pagar pengaman. Foto : Arief Nugroho

Dengan hati-hati kami coba memasuki areal pertambangan. Nampak sepi. Para penjaga dan pekerja yang saya bayangkan sebelumnya bakal menghadang langkah kami pun tak terlihat.  Apalagi datang menghampiri.

Pun dengan menara pantau. Tak ada penjaga. Pabrik atau pun smelter untuk pengolahan dan pemurnian hasil tambang yang saya bayangkan tak ada sama sekali.

Sebaliknya. Di area itu nampak kubangan menyerupai danau berukuran 20-30 meter. Tanpa pagar pengaman. Kedalamannya kira-kira  mencapai belasan meter. 

Tidak jauh dari titik penambangan, terdapat dua unit ekskavator dan bangunan permanen memanjang yang digunakan sebagai bedeng pekerja. Semua sepi. Sudah ditinggalkan pekerjanya.

Ada dua ruangan utama di bangunan itu. Di bagian pertama, dijadikan ruang administrasi, dapur, dan tiga buah kamar yang masing-masing kamar terdapat dua ranjang. Semua berantakan. 

Sementara di bagian lainnya, dijadikan ruangan pengolahan dan laboratorium uji sampel batuan antimoni. Ini dugaan saya setelah melihat peralatan seperti kompor, tabung gas, alat penggorengan, dan beberapa jeriken berisi cairan kimia HCL (Asam Clorida) dan HNo3 (Nittrit Acid).

Di ruang itu, saya menemukan plastik transparan berisi serbuk hitam. Bisa jadi ini hasil pemurnian batuan antimoni karena saat itu saya tidak dapat memastikan sebelum ada hasil uji sampel.

Di luar kemasan juga dilabeli nama lokasi, seperti “Betung” dan “Riam Piyang”. Lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun pengujian sampel.

Antimoni yang dikeruk itu akhirnya dibiarkan tercecer tak bertuan.

Tapi, jauh sebelum kasus penyelundupan antimoni ini mencuat, tambang antimoni seluas 509,7 Ha yang berlokasi di Boyan Tanjung / Riam Mengelai, Kapuas Hulu  pernah ditawarkan di Forum Kaskus untuk dijual senilai Rp 80 miliar.

Iklan di Bulan September 2014 itu bahkan menyertakan IUP kuasa ekplorasi dan izin pengolahan pemurnian, pengangkutan, penjualan dan IUP produksi  tambang PT Makmur Pratama Indonesia yang beroperasi sejak tahun 2009.

Ruang pemurnian bebatuan antimoni yang ditemukan di bedeng PT Makmur Pratama Indonesia. Foto : Arief Nugroho
Sampel bebatuan antimoni setelah dimurnikan di areal tambang milik PT Makmur Pratama Indonesia. Foto : Arief Nugroho

***

Bagi sebagian orang tentu tak paham dan asing dengan kata “antimoni”. Tapi di dunia pertambangan, bebatuan berwarna hitam ini menjadi salah satu primadona yang diincar dan dicari para pebisnis tambang.

Antimoni merupakan unsur dengan warna putih keperakan, berbentuk kristal padat yang rapuh. Zat ini menyublim (menguap dari fase padat) pada suhu rendah. Sebagai sebuah metaloid, antimon menyerupai logam.

Antimoni sangat dibutuhkan dalam industri non makanan. Sebagai bahan baku  membuat beberapa jenis perangkat semi-konduktor, seperti dioda dan detektor inframerah serta peralatan hall-effect

Sebagai sebuah campuran, manfaat yang paling penting dari antimon adalah sebagai penguat timbal untuk batere, campuran antigores, korek api, obat-obatan, pipa, senjata ringan dan tracer bullets (peluru penjejak), pembungkus kabel, dan produk-produk minor lainnya yang digunakan sebagai bahan tahan api, cat, keramik, elektronik, dan karet.

Antimon sulfida alami (stibnit) diketahui telah digunakan sebagai obat-obatan dan kosmetika.

Jadi, antimoni sangat penting dalam perekonomian dunia. Saat ini Cina masih menjadi produsen terbesar antimon dan senyawanya. 

Di pasar internasional, batuan antimoni murni harganya mencapai US$8.000 perton atau sekitar Rp 115 juta (US$1=Rp14.000). Namun ada salah satu sumber menyebutkan, satu kilogram batu antimoni dihargai US$50.00 atau sekitar Rp 700.000 per kilogram. 

Produk ini banyak diekspor ke Turki, Prancis, dan Amerika Serikat. Kalau di  pasar dalam negeri yang banyak menggunakan adalah PT Pindad, perusahaan industri dan manufaktur dalam pembuatan produk militer. 

Antimoni banyak ditemukan di pegunungan yang kaya akan batuan mineral logam.  Kandungan antimoni terbesar berada pada batuan berjenis stibnite, yang merupakan sumber utama dari antimoni.

Ketersediaan mineral metalloid ini sangat besar di Indonesia, dengan potensi ekonomi yang sangat menarik jika dieksploitasi. Produksi antimoni telah dilakukan di beberapa tempat di Indonesia. 

Salah satunya di Kalimantan Barat. Batuan Antimoni yang banyak ditemukan di Kabupaten Kapuas Hulu dijadikan sebagai salah satu produk unggulan.

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Kalimantan Barat menyebut potensi stock kadar kandungan antimoni mencapai 5 % -20% (lebih kurang 100 ton – kadar permukaan).

Tak heran jika di tahun 2004, Pemda Kalimantan Barat sudah gencar menawarkan potensi sumber daya alam miliknya kepara para investor.  Antimoni menjadi salah satu dari bahan galian produk unggulan yang ditawarkan dalam “Indonesia Solo Exhibition” pertama di Beijing yang di sponsori Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Depperindag kala itu. Selain juga Bijih Besi dan Pasir Kwarsa.

Beberapa pengusaha Cina yang tergabung dalam Beijing Steel Industry & Trade Group Corporation dan Shun Ji Che Internasional Investment, menunjukkan minatnya menjajaki investasi dan perdagangan bahan galian antimoni di  Kapuas Hulu.

Bebatuan antimoni yang berhasil dikeruk di PT Makmur Prataman Indonesia. Foto:Arief Nugroho

***

Namun, perlu diketahui bahwa antimoni dan senyawa-senyawanya adalah toksik (meracun). Secara klinis, gejala akibat keracunan antimon hampir mirip dengan keracunan arsen. Dalam dosis rendah, dapat menyebabkan sakit kepala dan depresi. Bahkan dapat mengakibatkan kematian jika dosisnya tinggi.

Tak hanya itu, cemaran senyawa antimoni yang di atas ambang aman dapat membahayakan tanah dan perairan. Beberapa uji laboratorium terhadap tikus, kelinci, dan marmut yang dilakukan beberapa institusi menunjukkan bahwa tingkat paparan antimoni yang relatif tinggi di tanah dan perairan dapat menyebabkan kematian terhadap hewan tersebut.*n*

***

Tulisan ini bagian dari tulisan berseri Mencari Siapa Pengeruk Antimoni  https://siej.or.id/2021/07/03/cerita-dari-jantung-borneo-1-mencari-siapa-pengeruk-antimoni/

Penulis : Arief Nugroho, Jurnalis Pontianak Post. Koordinator simpul The Society of Indonesian Environmental Journalists SIEJ Kalimantan Barat.

Banner Image : Batuan antimoni yang belum dimurnikan /Foto : Arief Nugroho. 

Hasil liputan ini mendapat beasiswa Jurnalisme Investigasi Berbasis Data, tahun 2019. Karya jurnalistik dimuat di Pontianak Post, dan dapat dibaca di link :  https://pontianakpost.co.id/menelisik-praktik-culas-tambang-antimoni-2/

  • Share:
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments