• Ikuti Kami:
  • |
  • July 5, 2021
  • By - SIEJ

Di Balik Terdamparnya Para Raksasa Segara

Whale Stranding Indonesia (WSI) mencatat, sejak 2015 hingga awal 2021, ada 360 kasus mamalia laut terdampar di pesisir Indonesia. Dari angka itu, 126 di antaranya adalah paus.

Begitu tiba di Bali, Kamis (20/5), saya langsung mendapat kabar seekor paus tampak di bibir Pantai Lebih, Gianyar. Karena kondisi paus masih hidup, nelayan dan warga sekitar membantu sang paus berenang kembali ke laut lepas. Kabar ini saya dapatkan dari ketua BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso lewat pesan WhatsApp. Permana mendapatkan laporan tersebut dari masyarakat setempat lewat unggahan video di Instagram. Video itu milik akun @riistaay yang sedang berada di lokasi. Ia mengabadikan momen para nelayan dan masyarakat sekitar membantu gergasi laut ini. Begitu dikonfirmasi, pemilik akun ini mengatakan bahwa paus sudah berenang ke arah timur namun enggan menuju ke tengah laut.

Menurut hasil pemantauan tim respons cepat BPSPL Denpasar yang berada di lokasi kejadian, paus tersebut memiliki luka di bagian ekor dan sudah berenang menuju laut. Namun itu bukan akhir. Esok harinya, Jumat (21/5), sekitar pukul 11.46 WITA, tim respons cepat BPSPL mendapat laporan penemuan paus dengan ciri serupa di Pantai Mertasari, Sanur. Sayangnya, paus tersebut ditemukan dalam kondisi mati, terombang-ambing terbawa ombak, berjarak hanya puluhan meter dari bibir pantai.

Akhirnya, dengan bantuan nelayan setempat, paus ditepikan. BPSPL Denpasar dibantu Dinas Perikanan dan Kelautan Denpasar, berkoordinasi dengan masyarakat setempat untuk menguburkan paus yang diketahui berjenis cuvier’s beaked whale alias paus berparuh itu. Sebelum dilakukan penguburan, tim respons cepat dan peneliti dari yayasan non-profit Westerlaken Foundation, Rodney Westerlaken, mengambil sampel. Tak lama berselang, kabar meluas. Bukan cuma masyarakat penasaran saja yang datang, tapi juga tim dokter hewan dan juga bala bantuan dari volunteer yayasan non-profit lainnya.

Garis pembatas dipasang Rodney, agar kerumunan tidak mendekati paus dan mengganggu nekropsi. Proses nekropsi adalah otopsi atau bedah pada hewan, sebagai langkah awal untuk mengetahui penyebab kematian. Tim dokter dari Flying Vet dan Whale Stranding Indonesia (WSI), turut hadir membantu proses nekropsi. Namun sebelum itu, evakuasi tubuh paus memakan waktu yang cukup lama. Keterbatasan alat serta ukuran paus yang mencapai 5.3 meter membuat tim gabungan kewalahan. Setelah terkapar kurang lebih tiga jam di bibir pantai, alat bantu eskavator datang, dan tubuh paus dipindahkan ke area yang lebih kering. Proses nekropsi dilakukan hingga petang menjelang.

Serangkaian proses itu baru awal. Untuk mengetahui penyebab pasti mengapa paus berjenis kelamin betina ini bisa terdampar, akan menjadi cerita yang panjang. Sebuah cerita yang mengantarkan kita pada fakta tentang hidup para gergasi laut yang kini makin terancam. Bukan saja karena alam, tapi juga karena ulah manusia.

Angka keterdamparan paus di Indonesia

Kalau laut diumpamakan jalan tol dan mamalia laut jadi pengemudi, bisa dikatakan lautan Indonesia adalah rest area-nya. Lautan Indonesia merupakan jalur migrasi mamalia laut, seperti paus, lumba-lumba, hiu paus, dan dugong. Di musim tertentu, mereka akan dan selalu melewati lautan Nusantara, untuk mencari makan, istirahat, sekadar mampir bermain, juga berkembang biak dan mengasuh anak. Ketika para mamalia laut ini berkendara dan hendak mampir ke rest area, mereka mengalami berbagai kejadian. Entah itu kejadian alami atau akibat campur tangan manusia. Salah satu kejadian yang kerap mereka alami dalam perjalanan panjang mengarungi lautan itu adalah terdampar.

Simak laporan Siwi Nur Wakhidah selengkapnya di website ekuatorial.com

Banne image : Proses evakuasi paus berparuh di Pantai Mertasari, Sanur, Bali, Jumat (21/5/2021)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments