Cerita dari Jantung Borneo #1 : Mencari Siapa Pengeruk Antimoni

Cerita tentang antimoni cukup membekas dalam perjalanan saya selama meliput isu lingkungan di Kalimantan. Pulau yang dulu dikenal karena hutan yang lebat dan sumber daya alam melimpah.

Bagaimana tidak, liputan yang satu ini, bagi saya cukup menguras tenaga, waktu dan biaya. Bukan mendramatisir. Bisa jadi ini juga bertaruh nyawa. Berurusan dengan oknum-oknum di bisnis tambang tentu bukan hal yang mudah di hadapi.

Peristiwa itu terjadi tiga tahun silam. Ketika saya menelusuri aktor-aktor di balik penyelundupan berton-ton antimoni di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Batuan tambang yang memiliki senyawa beracun itu dilarikan ke Malaysia secara ilegal.

Semua bermula dari temuan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan yang menangkap sebuah truk pengangkut batuan tambang di sekitar Jalur Inspeksi Patroli Perbatasan (JIPP) di Kecamatan Badau. Ini jalur yang memisahkan Indonesia dan Malaysia.

Kabar penangkapan truk berisi batuan tambang antimoni pada November 2018 itu sempat menjadi headline di media lokal. Termasuk di media tempat saya bekerja. Tapi tak lama. Itu berlalu begitu saja.

Namun, dari sejumlah orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus itu justru tak diusut tuntas.  Hanya satu orang yang waktu itu harus mendekam di rutan. Rasanya tak mungkin jika penyelundupan itu dikerjakan sendiri. Apalagi  perbatasan antar negara harus dilintasi.

Ya, rasa curiga dan penasaran mulai menjangkiti hingga saya ingin menelisik kasus ini agar publik paham banyak praktik ilegal merusak lingkungan di wilayah ini.  Tapi saya juga harus tahu diri bahwa luasan pulau ini seringkali menyulitkan. Tak hanya butuh fisik tapi juga mental dan kantong tebal.

Beruntung, waktu itu saya mendapat beasiswa peliputan investigasi berbasis data. Ini menjadi “darah segar” untuk menindaklanjuti temuan kasus ini meski tak mendapat dukungan dana dari redaksi.

***

Kubangan bekas galian tambang milik PT. Makmur Prtama Indonesia di Desa Riam Mangelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. Lubang tambang itu dibiarkan begitu saja, tanpa ada pagar pengaman. Foto : Arief Nugroho

Untuk menelusuri siapa saja aktor di balik penyelundupan ini, saya tak hanya mengumpulkan banyak informasi dan dokumen. Tapi harus berhasil bertemu dan wawancara dengan orang-orang yang terlibat dalam pusaran antimoni ilegal di Kapuas Hulu.

Dugaan kuat kasus ini bukan kasus biasa. Banyak oknum terlibat. Ada warga sipil, warga asing, oknum TNI, bahkan PT Makmur Pratama Indonesia (MPI), perusahaan tambang yang mengantongi sertifikat CnC dan IUP Operasi Produksi dengan luas area lahan 215 hektare (SK Bupati Kapuas Hulu Nomor 319 tahun 2014).

Dari petugas saya mendapatkan nama-nama. Salah satu yang menjadi saksi kunci, Saparudin alias Udin. Sebut saja namanya demikian. Mantan Kepala Dusun Betung, Desa Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung yang ditahan di Rutan Kelas IIB Putussibau.

Mengetahui Udin ada di Rutan, Saya sempat terpikir ingin menyelinap atau menyamar sebagai pengunjung tahanan agar bisa bertemu . Tapi ini berisiko. Apalagi kami juga tidak saling kenal sebelumnya. Bisa jadi saya justru apes. Informasi tak di tangan dan rencana peliputan buyar.

Butuh waktu beberapa hari untuk memikirkan itu. Jalan terbaik tetap gunakan prosedur yang benar. Apapun hasilnya. Saya memutuskan untuk meminta izin petugas rutan agar bisa bertemu  dan mewawancarai Udin.

Dari pendekatan dan birokrasi belibet. Izin akhirnya saya kantongi dan memilih mendatangi Udin ketika jam besuk tahanan berakhir. Pertimbangan ini agar lebih leluasa dan tidak menjadi perhatian penghuni rutan lainnya.

Saya menunggu di ruang besuk yang menyerupai gazebo. Tak lama kemudian, nampak sosok lelaki dari kejauhan muncul. Melangkah pelan. Itu pasti Udin.

Entah apa yang terpikir dalam benaknya saat itu. Bisa jadi dia was-was atau curiga dengan kehadiran orang yang tak dikenalnya. Tapi saya yakin, dia telah mendapat “bisikan” dari sipir jika orang yang menemuinya adalah orang yang ingin mengorek kasusnya.

Saya bersikap senatural mungkin. Menanyakan kabar, mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Yang pasti juga menjelaskan maksud dan tujuan saya menemui pria paruh baya ini.

Gesture tak nyaman bisa saya rasakan. Maklum saja. Mungkin dia berpikir akan diinterogasi layaknya para petugas yang menjebloskan dia ke rutan. Mungkin dia merasa dejavu.

Tapi saya bukan petugas, tentunya tak akan memperlakukan narasumber kunci ini dengan semena-mena. Meski selama sesi wawancara dia selalu menyembunyikan pandangannya. Matanya tertuju ke bawah. Seperti ada rasa takut yang disembunyikan.

“Demi Allah, ini semua gara-gara Mr. Chao,” katanya mengawali cerita dan memberanikan diri untuk menyebut satu nama setelah saya meyakinkan untuk bicara.

Mr. Chao, yang disebut udin adalah warga negara asing asal Tiongkok yang suatu ketika menemuinya dan mengaku sebagai perpanjangan tangan PT. Makmur Pratama Indonesia. Perusahaan tambang antimoni yang beroperasi di desanya.

Udin lantas membeberkan bagaimana awal mula pertemuannya hingga keterlibatan dalam bisnis ilegal itu. Pertimbangan realistis. Dia tergiur nilai rupiah yang bakalan diterima tanpa paham tentang batuan antimoni dan harga jualnya. Tawaran Mr Chao saat itu Rp 4.500 per kilogram.

Tanpa pikir panjang, dia menyetujuinya dan meminta Sabri, salah seorang warganya untuk mencarikan batuan antimoni itu dengan cara menyewa lahan milik Ibrahim. Di lahan itulah batuan yang menjadi campuran bahan peledak itu di tambang.

Batuan antimoni yang sudah dikeruk, disimpan di rumah Udin sebelum diangkut oleh truk-truk dan dibawa pergi. Entah kemana, Udin tak mengetahui lagi. Dia tak memikirkan kemana truk-truk itu membawa antimoni. Yang terpikir dalam benaknya, uang hasil jual beli.

Nyatanya, Udin mengaku belum menerima uang sepeserpun dari Mr. Chao.

Berbekal informasi dari Udin, saya  berencana menemui beberapa orang yang terlibat dalam bisnis ilegal ini.  Dua nama saya kantongi. Termasuk sang direktur perusahaan tersebut.

***

Sejumlah nama yang disebut Udin ternyata mudah ditemui. Salah satunya pemilik lahan yang disewa untuk pertambangan. Ibrahim, pengerajin mebel yang ruko-nya berada di di pinggir jalan. Ibrahim sedikit kaget. Karena sebelumnya sudah ada petugas yang datang mengintrogasinya, dia “hafal” dengan jawaban yang sepertinya sudah disiapkan. Tak tahu menahu soal penyelundupan itu.

Sebagai pemilik lahan, dia  mengaku hanya mendapat kompensasi fee 10 persen dari hasil penambangan itu. Meski sempat melihat lelaki yang diketahui bernama Mr. Chao beberapa kali mendatangi lahan miliknya untuk mengambil sampel batu.

Target selanjutnya menuju Desa Betung, Boyan Tanjung untuk mencari nama-nama lain yang disebut Udin. Tentu saja kedatangan kami disambut dengan puluhan pasang mata yang manaruh rasa curiga. Melihat orang asing yang datang ke kampungnya.

Tapi mereka cukup berbaik hati sehingga saya mendapat petunjuk rumah Sabri. Lelaki perawakan tinggi kurus yang sehari-hari mengurus ladang sepertinya dapat menebak maksud kedatangan saya.

Tak lama kemudian, dari mulutnya meluncur cerita tentang asal mula penambangan antimoni. Nama Mr Chao lagi-lagi disebut dan menjadi orang yang dianggapnya paling bertanggungjawab dalam perkara itu.

Dia mengaku tak mengetahui  jika batuan antimoni yang dikeruknya dan dimasukkan ke dalam truk-truk itu akan  diselundupkan ke Malaysia.

“Mr. Chao yang memulai. Setahu saya, dia mau beli antimoni karena perusahaannya kehabisan stok,” kata Sabri.

Tak puas dengan jawaban Sabri, saya mendatangi PT. Makmur Pratama Indonesia. Perusahaan berlokasi di Pontianak yang diduga kuat menambang di luar wilayah izinnya. Dan  untuk menguatkan dugaan keterlibatan Mr. Chao.

Namun nihil. Alamat kantor yang terletak di Jalan Parit Haji Husein, Pontianak Selatan itu, kosong. Kantor yang lebih layak disebut rumah hunian itu ditinggalkan pemilik yang tak lain adalah direktur utama PT. Makmur Pratama Indonesia.

Saya tak percaya begitu saja. Memantau rumah itu menjadi pekerjaan saya berhari-hari. Dengan harapan, jika si pemilik rumah muncul, saya bisa langsung mewawancarainya. Apalagi nomor ponselnya yang berkali-kali saya hubungi  tak ada balasan.

***

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat informasi, sang direktur itu berada di lokasi penambangan di Desa Riam Mengelai, Boyan Tanjung.

Saya pun bergegas memesan tiket di jasa travel dan kembali menuju Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu.

Bersambung….https://siej.or.id/2021/07/06/cerita-dari-jantung-borneo-2-mencari-siapa-pengeruk-antimoni/

Penulis : Arief Nugroho,  Jurnalis Pontianak Post. Koordinator simpul The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat.

Banner Image : Sampel batuan Antimoni yang belum dimurnikan. Foto : Arief Nugroho. 

Hasil liputan ini mendapat beasiswa Jurnalisme Investigasi Berbasis Data, tahun 2019. Karya jurnalistik dimuat di Pontianak Post, dapat dibaca di link :

https://pontianakpost.co.id/menelisik-praktik-culas-tambang-antimoni-2/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *