• Ikuti Kami:
  • |
  • June 23, 2021
  • By - SIEJ

Solusi Palsu Perusahaan Besar Tangani Krisis Polusi Plastik

Hanya 15 persen perusahaan bermerek ternama yang berkomitmen tinggi dalam program solusi plastik.

Ini hasil temuan para ahli dari gerakan global Break Free From Plastic (BFFP), yang melacak dan menganalisis proyek-proyek tujuh perusahaan teratas Fast Moving Consumer Goods (FMCGs) dan delapan aliansi yang merespons komitmen pengurangan polusi plastik.

Koordinator Kampanye Korporat Break Free From Plastic, Emma Priestland menjelaskan, hanya 15% dari proyek yang menerapkan solusi sesungguhnya, seperti penggunaan ulang, isi ulang, dan sistem pengiriman alternatif.

“Perusahaan-perusahaan penghasil polusi terbesar di dunia mengklaim telah menangani polusi plastik. Faktanya tidak terbukti dari hasil brand audit. Mereka ini menggunakan solusi palsu yang berpotensi menimbulkan kerusakan yang paling parah dengan angan-angan sederhana dan klaim solusi terbaik. Perusahaan ini berinvestasi dalam proyek-proyek yang tidak banyak membantu mengatasi plastik sekali pakai,” jelasnya.

Laporan “Missing the Mark: Unveiling Corporate False Solutions to the Plastic Pollution Crisis” mengkategorikan 265 proyek perusahaan yang berjalan dari tahun 2018 hingga April 2021, untuk menentukan seberapa besar fokus mereka terhadap solusi seperti penggunaan ulang. Hasilnya, hanya 39 yang fokus pada penggunaan ulang. Sedangkan 226 proyek ditetapkan sebagai solusi palsu untuk krisis polusi plastik.

Perusahaan yang dinilai sebagai pencemar teratas adalah Procter & Gamble, PepsiCo, Mars, Inc., Mondelez International, Nestlé, Unilever, dan Coca Cola Company.

Perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi plastik tersebut sebelumnya mengklaim telah melakukan berbagai ‘solusi’ dalam penanganan plastik. Namun fakta justru “berpolusi” dan tidak banyak membantu mengatasi krisis polusi plastik.

Sementara itu, pemimpin Proyek Global Greenpeace USA Graham Forbes mengatakan, laporan ini menunjukkan perusahan merek besar gagal memprioritaskan penggunaan ulang dan pengurangan kemasan sekali pakai.

“Alih-alih bekerja dengan industri bahan bakar fosil untuk mempromosikan solusi palsu, perusahaan-perusahaan ini harus mengakhiri ketergantungan mereka pada plastik sekali pakai dan meningkatkan sistem penggunaan kembali secara global,” ucap Graham Forbes.

Co-Founder Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati mengaku banyak melihat solusi palsu yang dijajakan perusahaan-perusahaan besar dan aliansi mereka.

“Daur ulang bahan kimia menciptakan limbah beracun baru seperti plastik menjadi bahan bakar atau Refuse Derived Fuel (RDF) yang bertentangan dengan ekonomi sirkular. Plastic Offset menjengkelkan karena gagal menjawab krisis plastik,”kata Yuyun yang juga anggota panel ahli dari Indonesia dalam menganalisis inisiatif perusahaan.

Jenis inisiatif ini menurutnya, menunjukkan kurangnya ambisi dan prioritas metode penyampaian produk alternatif.

Padahal banyak perusahaan multinasional di Asia yang memiliki sumber daya cukup untuk berinvestasi dalam sistem delivery baru, dengan sistem guna ulang, isi ulang, dan desain ulang.

“Solusi ini akan memungkinkan pengurangan drastis dalam penggunaan plastik sekali pakai. Mereka harus mengubah cara berbisnis dan menghentikan greenwashing,” pungkasnya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments