Mengharukan, Cherry Datang dan Menunjukkan Anak-Anaknya. Lalu Pergi…

Dikenal dengan nama Sigit Rimba. Sebagai animal keeper bisa jadi tak terbayangkan sebelumnya. Namun, kini bisa dibilang “cinta mati” dengan satwa liar khususnya primata endemis Jawa.

Lebih dari satu dasawarsa, Sigit Ibrahim (33), pemuda lokal asal Ciwidey ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan menjadi penyelamat satwa di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa-The Aspinall Foundation, Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Jawa Barat memiliki luasan hutan sekitar 800 ribu hektare menjadi habitat primata endemis seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Surili (Presbytis) dan Kukang Jawa  (Nycticebus javanicus). Tapi, keberadaan primata ini terus mengalami penurunan tajam.

Secara global populasi di alam hanya tersisa sekitar 2000-4000 individu di beberapa kawasan konservasi dan hutan lindung di Jawa Barat dan sebagian kecil di Jawa Tengah. Dari  40 jenis primata yang hidup di Indonesia. populasi primata di alam liar ini disinyalir jumlahnya kian menyusut. Hampir seluruhnya berada pada kondisi terancam punah (critically endangered).

Banyak faktor yang memengaruhi penurunan populasi primata di habitat alaminya. Pusat Rehabilitasi Primata Jawa menyebut, permasalahan terbesar konservasi primata adalah tingginya aktivitas perburuan liar untuk dijualbelikan, tingginya pembukaan lahan kawasan hutan yang memicu konflik, dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang primata.

Sebuah upaya penyelamatan satwa yang tidak mudah dan tidak murah. Bagaimana Pusat Rehabitilasi Primata Jawa ini bekerja menjaga populasi primata endemis Jawa di alam ? Sigit Ibrahim, Manager Operasional Pusat Rehabilitasi Primata Jawa Aspinall Foundation-Patuha bercerita kepada Budi Nurgianto, Bidang Kampanye The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), dalam siaran langsung (live) di akun resmi Instagram SIEJ, baru-baru ini. Simak perbincangannya :

Sejak kapan Anda terlibat di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa ?

Saya tinggal di sekitar Pasir Bambu Ciwidey, tepat di dekat kawasan Cagar Alam Gunung Tilu. Nah, di tahun 2006 itu Gunung Tilu mengalami kebakaran hutan. Pada saat itu karena saya masih semangat main, kemping dan naik gunung, akhirnya saya berpikir kenapa tidak membantu petugas memadamkan api di sana. Dari situlah saya akhirnya tahu di Cagar Alam ini ada polisi hutan dari BKSDA.

Awal ketertarikan sebetulnya di situ. Kemudian saya diperkenalkan dengan Pak Made, Direktur Konservasi Alam Nusantara (Konus) di Bandung yang pada saat itu mereka sedang malakukan survei kajian populasi dan distribusi Owa Jawa di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Nah, dari pertemuan itu akhirnya ikut seleksi menjadi relawan. Bergabunglah saya sebagai relawan dalam survei habitat/  konsidi primata yang ada di habitatnya.

Bagaimana survei dilakukan untuk mengetahui keberadaan primata Jawa?

Dari survei itu ternyata kondisinya sangat miris. Salah satu contohnya ada di Gunung Tilu sebagai salah satu tempat habitatnya, Gunung Limbung, Gunung Ceremai. Bahkan di Gunung Ceremai ada informasi pada tahun 2003, orang masih melihat Owa Jawa tapi  tahun 2007 kami kesana kita sudah tidak menemukan sama sekali. Dari gunung-gunung ini kondisi Owa Jawa sudah hampir sangat sedikit dan sulit ditemukan.

Secara garis besar ketika kita bicara kondisi. Owa Jawa hidup di ketingian 0-1600mpdl. Diatas itu dia terlalu kedinginan. Dan masalahnya di ketinggian 1600-2000mpdl itu sekarang sudah jadi kebun  kentang. Saya survei itu.  Jelas ini berarti habitatnya hilang.

Bagaimana Program Rehabitilasi Primata Jawa diinisiasi ?  

Selesai survei di hutan, di tahun 2009 kita lanjut survei di pasar hewan di Sukahaji, di Jalan Rajiman, di vila-vila sekitar Garut, Cianjur. Dan ternyata Owa-Owa itu ada di sana. Ini masalah, ternyata kondisi Primata Lutung, Surili ini tidak berada di hutan tapi di pasar hewan maupun dipelihara warga.

Muncul lah kemudian Program Rehabilitasi Primata Jawa sebagai solusi bagi primata endemis ini. Primata yang hidup dengan orang ini harus kembali, tapi tidak semata-mata dikembalikan. Mereka harus mendapatkan pemulihan kondisi baik instingnya, naluri alaminya menemukan makanan, menemukan pasangan dan menghindari serangan. Dibangulah Pusat Rehabilitasi Primata Jawa oleh Aspinall Foundation bekerjasama dengan Kementrian Kehutanan di tahun 2010.

Pusat Rehabilitasi Primata Jawa dibangun dan di tahun 2021 data-data Owa yang dipelihara warga dilakukan penyitaan oleh BKSDA. Ada cerita menarik tentang penyitaan ini. Namanya Cherry, Owa yang dipelihara salah satu warga Ciwidey. Kondisinya memprihatinkan. Matanya buta, tangannya patah ketika kita periksa di tangan dan kakinya ada peluru senapan angin. Cherry ini adalah Owa hasil perburuan yang sudah 5 tahun dirawat oleh pemiliknya. Sejak 2005 dirawat, dia kehilangan induk. Dan di tahun 2011 bisa diselamatkan dan direhabilitasi di Aspinall Foundation. Ini Owa pertama yang kita rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Primata.

Latihanlah satwa ini. Kita beri kandang besar, beri akan sesuai habitatnya dan kita berikan pasangan. Akhirnya, Chery ini berhasil menunjukkan tanda-tanda liarnya dengan berbagai indikator. Kesehatannya menunjukkan dia tidak mempunyai penyakit menular, tidak ada virus. Akhirnya kita lepas liarkan di Gunung Tilu. Kembalikan ke habitatnya dan saat ini dari tahun 2014, Cherry berhasil kawin dengan Owa Liar di hutan. Punya 2 anak yang lahir di tahun 2016 dan 2019. Saat ini masih dipantau mereka adda di hutan. Ini perjalanan tidak mudah untuk Cherry dan kami.

Kalau Anda melihat sebenarnya apa yang melatarbelakangi perburuan primata?

Untuk melihat ini sebetulnya kita melihat isu besar bahwa ternyata masyarakat belum bisa membedakan mana hewan peliharaan dan mana hewan liar. Jadi, sebetulnya edukasi ini yang paling penting yang harus ditanamkan sejak dini. Hewan pelihataan ini dijinakkan sekian ribu tahun. Ada kucing, anjing, ayam, kelinci itu sudah dipersiapkan bagaimana rupanya dan sudah bisa dipastikan tidak berbahaya untuk manusia. Sedangkan masyarakat belum bisa membedakan ketika melihat kucing hutan atau monyet. Ini bukan peliharaan. Ini satwa liar dan punya sifat khas. Sejinak-jinaknya satwa liar suatu hari ketika  dia stres, lapar, atau birahi, dia akan jadi bahaya untuk pemilik. Minimal itu dulu

Jadi kita edukasi warga di sekitar hutan. Satwa liar ya tempatnya di hutan, satwa peliharaan ya boleh kita sayangi. Kedua, media sosial ini berpengaruh sangat besar. Dilihat orang untuk mendapatkan like banyak dan pengakuan dari orang. Konten jadi masalah ketika ingin menunjukkan satwa unik akhirnya disukai banyak orang. Ini yang mengancam keberadaan mereka.

Bagamana pendapat Anda ketika melihat satwa liar dijadikan peliharaan ?
Orang yang memelihara satwa liar itu seperti menyimpan bom waktu. Dimana ketika kecil lucu, unik warnanya dan menarik, orang senang. Tapi tunggu sampai usia dewasa. Di satu titik ini akan menjadi masalah. Contoh, memelihara buaya ketika ukuran masih 20-50 cm, makan baru sate. Ketika ukuran satu meter jadi kuwalahan karena makan bertambah. Belum lagi ketika lepas dan menyebabkan ancaman bagi orang lain.

Primata usia satu minggu dipelihara baik oleh pemilik dan bisa memenuhi semua kebutuhan, makanan, vaksin ke dokter, Tapi di usia siap kawin 5 tahu ini akan muncul taring, agresif dan sifat cemburu. Bisa jadi ketika dia melihat anak kecil yang seukuran bisa jadi sasaran. Bisa digigit. Jadi masalah dan ini sering terjadi. Masalah ketika satwa dewasa ada kebutuhan lain dari satwa ini seperti kebutuhan kawin yang tidak tersalurkan. Muncul sifat agresifnya, muncul ssifat liarnya.

Ketika muncul masalah, pemilik jadi bingung menyerahkan ke petugas karena tidak tega, serahkan ke kebun binatang tidak mau karena kandang kotor, tapi tidak bisa disayang. Akhirnya dia lepas seenaknya dan ketika di lepas jadi ancaman masyarakat. Selalu jadi masalah diakhirnya.

Berapa banyak primata yang sudah berhasil di selamatkan di pusat rehabititasi ?

Pusat rehabilitasi Primata Jawa punya dua site yakni di Ciwidey Jawa Barat dan Coban Talun di Jawa Timur. Khusus di Jawa Timur karena tidak ada Owa Jawa di sana, ada Lutung.

Di Jawa Barat saja yang kita tangani kurang lebih sekitar 221 yang sudah di selamatkan. Saat ini 40 masih mengisi kandang karena masih dalam proses rehabilitasi. 6 individu tidak bisa dilepaskan karena mengidap penyakit menular, mengidap virus yang dari 2016 belum bisa dilepasliarkan.  75 Owa Jawa, 15 Lutung dan Surili. Satwa-satwa ini hasil penyelamatan di Bandung, Jakarta, Cirebon dan wilayah Jabar lainnya.

Ada juga satwa yang dipulangkan kembali (repatriasi-red). Dimana kita tidak memiliki Surili di sini, sedangkan di kebun binatang di luar negeri ada Surili seperti kebun binatang di Inggris, Perancis. Mereka dengan sukarela memulangkan ke Indonesia untuk dipulangkan ke habitatnya. Betapa kepeduliannya orang luar negeri ini satu level di atas kita. Kebun binatang di sana ketika diminta mengembalikan satwa endemis Indonesia, bersedia mengembalikannya. Ini sukanya.

Lalu apa tantangan atau kendala terbesar?

Kendalanya ini satwa yang masuk dan keluar ke tempat rehabititasi tidak seimbang. Jadi bocor terus. Kita selamatkan di hutan A, tapi di hutan B terjadi perburuan. Ini tidak selesai-selesai. Kemudian penegakan hukum yang terjadi ini dirasa saat ini masih sangat lemah. Belum kuat. Dari sekitar 200 kasus, mungkin hanya 10 persen yang masuk meja hijau dan ditangani Dirjen Gakum atau Polda Jabar. Sempat pelaku dihukum beberapa bulan tapi efek jeranya juga sebatas itu. Ini kendala besar.

Di luar itu mungkin situasi pandemi ini menjadi salah satu kendala karena sulit melepasliarkan karena kita juga harus yakin satwa yang kita lepasliarkan tidak membawa virus ke alam. Ada screening khusus, di bawa ke laboratoriun. Di tes DNA jangan sampai primata yang ada di Sumatera dilepaskan di Jawa Barat itu akan mencemari genetik. Betul-betul harus sedetil mungkin. Unsur kehati-hatiannya sangat tinggi supaya orang tahu bahwa menyelamatkan primata itu hal yang serius. Tidak mudah dan tidak murah.

Selama melakukan kampanye atau aksi perlindungi primata Jawa ini, kasus apa yg paling menegangkan dan bagaimana seharusnya masyarakat terlibat?

Dari sekelumit kisah penyelamatan ini banyak sekali hikmah yang kita dapatkan dan temukan seperti kasus pertama kali menyelamatkan Cherry yang cukup menggetarkan. Kita sudah hopeless melihat kondisi satwa kering kayak gini tidak ada nutrisinya, tangannya patah dan tidak bisa melihat. Rata-rata pemilik atau orang yang memelihara yang disekitar hutan dan kampung. Mereka memelihara satwa ini bukan karena jual beli tapi karena kasihan.

Pemburu bawa bayinya kasihan tapi rata-rata tidak mau membeli. Sistemnya barter di mahar. Cherry  dimahar dengan emas dan kulit kemudian dianggap sebagai anaknya tapi karena sudah berontak di usaia 4-5 tahun dan akhirnya dia diikat, dirantai di depan rumah. Hingga ketika kita selamatkan si pemilik yang punya penyakit jantung sampai masuk rumah sakit karena shock kedatangan petugas dan polisi  hutan. Dan Owa di sita, dianggap melanggar UU Konservasi No 5 Th 90. Akhirnya kita terbebani, pemilik  masuk rumah sakit, Cherry diambil. Jadi ramai..hahaa.

Ini cukup menegangkan. Beruntung ketika kita perlihatkan Cherry kandangnya lebih besar, tidak diikat, makanan yang biasanya pisang kita beri pakan 100 jenis makanan di tempat kita. Kemudian bisa punya pasangan dan punya anak. Si pemilik senang. Seperti punya anak, sekolah, lulus, mandiri. Udah gitu. Jadi antara suka dan duka itu imbang.

Sering muncul pertanyaan awam seberapa penting keberadaan mereka (satwa liar) bagi kesembangan ekologi dan konservasi. Menurut Anda ?  

Sekecil apapun satwa ini punya peran penting. Ketika kita lihat primata di hutan, dia tidak hanya menyediakan pakan untuk macan tutul sehingga macan tutul tidak memangsa ternak warga, tapi primata sebagai cadangan makanan. Dia penyebar biji paling handal, makan beratus jenis buah dan buang kotoran dimana saja. Dari kotoran mereka ini muncul tumbuhan baru yang meregenerasi hutan. Itu fungsi yang besar dari primata. Sehingga ketika hutan lestari, air banyak, kita juga yang akan mendapatkan manfaat besar dari sana.

Sangat disayangkan buat saya ketika cinta itu harus dimiliki. Tidak semua cinta dimiliki dan biarkan mereka menjalankan fungsinya di hutan. Toh, ketika semua bertanya hati nurani  senang melihat keberadaan primata di hutan.

Nafsu, ketika kita melihat hewan-hewan di kadang meski di kebun binatang kan posisi tetap di kandang. Itu tidak bagus. Dengan pandemi ini kita semua merasakan diam di kamar, di rumah, tidak bisa kemana-mana. Jadi tahu karantina, isolasi. Pernahkah terpikirkan posisi satwa itu ada di posisi kita saat ini. Nah, mudah-mudahan ini jadi bentuk penyadaran bagi diri sendiri untuk ikut peduli satwa.

Ketika kita bicara Gunung Tilu yang luasnya 8 ribu ha. Petugas hanya 3 orang kemudian meninggal tinggal 2, sekarang tinggal satu dan belum ada penerusnya. Mau tidak mau kita sebagai pemuda lokal mengajak semua untuk melindungi hutan dan isinya.

Bagaimana kebijakan pemerintah dan perlindungan satwa endemis saat ini ? 

Kalau kita bicara tools, sebenarnya regulasi pemerintah ini sudah komplit. Aturannya, UU sudah sangat komplit. Sudah sekian ratus satwa di lindungi, status hutan sudah dibuatkan. Hanya masalah klasiknya adalah personil. Ini sebetulnya akan capek sekali kalau kita melakukan penindakan terus. Tapi kenapa tidak penyelamatan / perlindungan di kawasan ini harus diperketat. Jangan sampai ada yang keluar, minimal ini harusnya sudah bisa jadi solusi tapi kita tahu bersama bahwa personil sangat kurang, sangat minim. Sumber daya kita misalnya di hutan seluas 8 ribu ha hanya dijaga 3 orang. Ini kan serasa mustahil, tapi ketika 3 orang ini bisa merangkul pemuda-pemuda,  masyarakat untuk berperan aktif. Makas kesadaran itu akan muncul. Di sinilah perlindungan juga muncul.

Dari sisi birokrasi ini sebetulnya jadi salah satu kendala ketika kita menangani satwa endemis, satwa yang dilindungi oleh negara ini tentunya ada berbagai aturan administrasi. Misalnya ketika satwa datang sudah harus diberi penitipan, satwa melahirkan harus ada berita acaranya, satwa mati harus jelas kematiannya. Nah, ini yg biasanya menjadi tantangan. Tapi memang harus dilakukan, kalau tidak seperti ini akan sulit juga. Jadi sejauh ini keberadaan mitra harus bisa berjalan bersama.

Kita kembali ke hati nurani bahwa teman-teman di pemerintahan ini juga lebih senang ketika  ada yang membantu melakukan tugas utamanya. Ini sangat penting dan ketika ada masalah penegakan hukum dan lemahnya penegakan hukum, efek jera kurang maka harus kita imbangi dengan kesadaran masyarakat. Itu saja. Berbagi porsinya masing-masing

Apakah Anda pernah menemukan jalur perdagangan internasional satwa primata?

Saya justru menemukan hal menarik ketika berbicara soal internasional. Saya pernah diajarkan program Zoologycal Information Management System (ZIMS), dimana kebun binatang seluruh dunia ini terkoneksi dan mereka bisa saling cek stok keberadaan satwanya. Contoh kebun binatang di Amerika punya kelebihan stok Owa Jawa, sedangkan di Inggris  kekurangan betina. Dari ZIM ini mereka bisa saling informasi dan akhirnya ada pertukaran bukan perdagangan.

Indonesia masuk, di sana saya melihat ada akun-akun Zoo di Indonesia. Namun sayangnya ketika melihat ternyata tidak diupdate. Entah kenapa, tapi untuk kebun binatang luar itu sampai istilahnya berapa kali dibius, punya anak berapa kali, berpindah dari mana ke mana si individu itu semua jelas. Bahkan menariknya, bisa saling cek stok melestarikan, bagaimana breeding satwanya dan ketika dibutuhkan untuk kembali ke habitat alamnya. Mereka bersedia mengembalikan karena ini bukan sebuah kerugian, tapi  bagi sebuah kebun binatang ketika satwanya ini pulang kampung justru ini pamor kebun binatang itu naik karena mampu melakukan konservasi dengan baik. Malah naik tingkat. Ini yang saya temukan di evel internasional.

Namun untuk perdagangan ilegal, Indonesia justru jadi penyuplai terbesar baik itu dari olahan satwa seperti sisik trengiling, penyelundupan kakatua yang dimasukkan ke dalam botol dan puluhan mati. Padahal kalau di hutan, melihat dua kakatua terbang beriringan saja sangat sulit.

Apa kebanggan terbesar dalam mendedikasikan diri untuk Kelestarian Primata?

Sejak 10 tahun lalu saya bertemu Cherry pertama kali dan belum lama ketemu lagi di hutan, dia masih ingat. Datang tapi jaga jarak. Menunjukkan anak-anaknya kemudian pergi. Itu pertemuan 5 lima menit serasa apa ya. Nih gue bayar lunas. Itu momentum mengharukan. Sangat menarik ceritanya dan Cherry itu baru satu dari sekian banyak individu yang kita tangani. Dan tiap individu memiliki cerita di hati masing-massing bagi perawat dan orang yang terlibat dalam penyelamatan.

Itu mungkin kebanggan saya berkontribusi di bidang ini. Saya juga tidak pernah terpikirkan  bisa tinggal di Inggris di kebun binatang milik Aspinall. Di sana belajar bagaimana mensatwakan satwa kemudian kita langsung memilih satwa-satwa endemis Jawa yang harus pulang dan dipulangkan oleh mereka. Sampai ada nama bayi Owa yang pulang kemarin karena  pandemi harus mundur. Namanya sama dengan saya maka dibuatkan berita di kebun binatang itu “Sigit Meet Sigit”.

Ini penghargaan yang tak terkira untuk saya dan teman-teman. Sebuah penghargaan yang mengharukan bisa ke Inggris padahal tidak tahu bahasanya, tidak bisa beli tiket tapi bisa kesana..hahaa.

Harapan Anda untuk semua pihak agar peduli pada penyelamatan satwa liar ?

Kita tidak bisa mencegah kepunahan tapi bagaimana kita bisa memperlambat kepunahan ini terjadi. Kita memperlambat supaya generasi anak cucu kita bisa melihat dan menikmati keberadaan satwa-satwa endemis ini. Adalah sebuah tanggungjawab kita bersama karena ini bukan warisan, tapi ini titipan.

Untuk teman-teman yang suka dengan satwa liar, coba tanyakan hati kecil kita. Kalau senang ya datanglah ke habitatnya dan tidak mengganggu mereka. Kita abadikan dan ceritakan agar ini harus dijaga. Bairkan mereka menjalankan fungsinya di alam. Kita harus sepakat bahwa semua cinta itu tidak harus kita miliki.

Situasi pandemi ini mudah-mudahan menjadi momentum bagaimana kita merasakan kepedihan seperti yang dirasakan satwa-satwa ini ketika mereka ada di kandang. Kita semua butuh kebebasan. Begitu juga satwa.

Marilah kita sebagai manusia yang bisa berbicara melaukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka yang tidak bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kita sebagai manusia, bagaimana kita menyuarakan satwa agar tetap lestari di habitatnya. Satwa liar biar di hutan saja.

Banner image : Nunuk, Lutung betina hasil rehabilitasi paling produktif selain Linseed berhasil di lepas liarkan kembali ke habitatnya oleh tim Aspinall Foundation Indonesia dan BKSDA Jatim. Kini kelompok keluarga ini beranggotakan 20 ekor/ Foto : Aspinall Foundation Indonesia (IG)

Simak juga cerita Dandy Dwi laksono dari Kinipan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *