• Ikuti Kami:
  • |
  • June 21, 2021
  • By - SIEJ

Rusaknya Ekosistem Pulau di Seberang PLTU Jawa 7

Data yang termuat dalam Buku Statistik Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten periode 2014-2020 menunjukkan penurunan ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun dalam tiga tahun terakhir di Pulau Panjang, Pulau Lontar, Pulau Tunda, Pulau Satu, Pulau Dua dan Pulau Lima. Mengapa itu terjadi?

Muhammad Iqbal Elbetan (22) membelah gelap Kali Berung, Serang, banten dengan perahu berkapasitas mesin 6 paardenkrakracht (daya kuda). Ia bergegas keluar muara menuju lokasi tangkap sejauh satu kilometer. Jam baru menunjukkan pukul 04.00 WIB. Samar-samar terlihat dua alat pancing beserta umpan tergeletak di geladak.

Tapi di tengah jalan, lelaki yang berprofesi sebagai nelayan ini mengurungkan niat dan membalik haluan menjauhi area tangkap. Sebab kapal batu bara sudah beroperasi lebih dulu di jembatan timbang(jeti) milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 7.

“Saya takut ditabrak,” kata Iqbal saat ditemui di Kramatwatu, Bojonegara, Serang, Jumat, 30 April 2021.

PLTU Jawa 7 dengan kapasitas 2×1.000 Megawatt (MW) merupakan pembangkit terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan yang membangun yakni PT Shenhua Guohua Pembangkit Jawa Bali (PT SGPJB), perusahaan konsursium antara China Shenhua Energy Company Limited (CSECL) dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJBI) yang merupakan anak usaha PT PLN (Persero).

Kepemilikan saham CSECL di PLTU Jawa 7 mencapai 70 persen, sementara PJBI memiliki sisanya. Di Indonesia, sepak terjang CSECL dalam memproduksi energi kotor tak hanya di Banten. Perusahaan energi dan infrastruktur terbesar di China ini juga membangun PLTU Mulut Tambang di Kalimantan Timur, PLTU Sumatera Selatan I dan PLTU Simpang Belimbing Muara Enim. Perusahaan mengkalim bahwa PLTU Jawa 7 merupakan industri ramah lingkungan lantaran menggunakan teknologi pemanas Ultra Super Critic (USC) yang mampu meredam buangan karbon dan limbah ke laut.

Namun, Iqbal melihat sendiri bagaimana limbah bahang yang dialirkan pabrik setrum itu membuat permukaan air keruh, berbusa dan berbau busuk. Sementara nelayan lain, Lukman (50) mengeluhkan aktivitas kapal batu bara. Hampir setiap hari ia melihat hilir mudik kapal di tengah laut. Jumlahnya 3-4 kapal dalam sehari.

Lelaki yang sudah menetap puluhan tahun di Pulau Panjang ini menyakini bahwa aktivitas PLTU Jawa 7, mulai dari pengoperasian kapal batu bara sampai pembuangan limbah berpengaruh buruk terhadap ekosistem laut di sekitar tempat tinggalnya. “Gugusan terumbu karang bersampur lumpur, retak dan terdapat bintik-bintik berwarna putih. Nelayan banyak mengeluh. Biasanya tangkapan ada. Tahun ini malah tidak dapat. Jauh sekali perbedaannya,” katanya saat dihubungi Jaring.id, Sabtu 8 Mei 2021.

Simak laporan Abdus Somad selengkapnya di website ekuatorial.com

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments