Kirana Agustina: Banyak Sampah Plastik di Samudera Atlantik

JAKARTA-Masalah sampah plastik di laut masih sulit teratasi. Seiring berjalannya waktu, kondisi ekosistem laut justru semakin memburuk. Terumbu karang, padang lamun, dan mangrove rusak akibat sulitnya mengurai plastik. Biota laut juga terdampak polusi sampah plastik karena ikut mereka konsumsi.

Emily Penn, salah satu pendiri dan direktur misi eXXpedition bercerita pernah menguji 35 bahan kimia yang tak boleh masuk ke dalam tubuh, hasilnya 29 bahan beracun masuk ke dalam darahnya. Data dari International Coastal Cleanup (ICC) menyebutkan sebanyak 97.457.984 jenis sampah dengan berat total 10.584.041 kilogram ditemukan di laut pada 2019. Sembilan dari 10 jenis sampah terbanyak yang mereka temukan berasal dari bahan plastik, seperti sedotan dan pengaduk, alat makan plastik, botol minum plastik, gelas plastik, dan kantong plastik. Hal tersebut mengancam setidaknya 800 spesies yang hidup di laut.

Kondisi itu juga disampaikan Kirana Agustina, perempuan Indonesia pertama yang berkesempatan ikut eXXpedition melintasi Samudera Atlantik Utara dari Plymouth UK ke Azores, Portugal, sebuah kepulauan di tengah Samudra Atlantik Utara, selama dua minggu. Kiran mengaku mendapati sampah di samudera tak terhitung, bahkan mikroplastik juga ditemukan di sepanjang perjalanan mengarungi samudra.

Untuk mengetahui bagaimana kondisi laut dan polusi plastik mencemari laut, The Society of Indonesian Enviromental Journalist (SIEJ) melakukan wawancara dengan Kirana Agustina pada Selasa, 8 Januari 2021.

Kirana Agustina, Spesialis Kebijakan Global Plastic Partnership WRI Indonesia. Foto : Pribadi

Anda menjadi perempuan satu-satunya dari Indonesia yang ikut dalam eXXpedition melintasi Samudera Atlantik Utara dari Plymouth UK ke Azores, lalu Portugal selama dua minggu. Bisa Anda jelaskan pengalaman itu?

Tidak seseru yang ada di foto, aslinya lebih seram. Dari ekspedisi itu, saya menyadari perempuan mempunyai daya lenting yang kuat dalam mengatasi badai. Perjalanan dari Plymouth ke Azores adalah perjalan yang menyeramkan. Saat kami berlayar pada Oktober 2019 lalu, kita tahu ada badai Lorenzo yang merupakan badai paling kuat. Kami merasakan sendiri badainya kencang. Dalam dua minggu perjalanan, isinya badai. Kalau kita tidak punya kekuatan atau niat untuk berlayar, sulit rasanya diatasi.

Dalam ekspedisi tersebut terdapat 14 kru, empat di antaranya merupakan sosok yang terbiasa berlayar. Sementara sepuluh perempuan merupakan wanita biasa. Ada polisi, peneliti, jurnalis, hingga pengusaha.

Selama berlayar, kami harus menjaga kapal beroperasi selama 24 jam. Dari hal itu kami membagi waktu piket. Setiap satu orang mendapat jatah 2 kali, sehari menjaga kapal selama total 4 – 8 jam. Jadi, mau tidak mau kita harus mengendarai kapal. Saya yang tidak pernah mengendarai kapal harus mampu menyetirnya. Selain itu, ada juga pembagian untuk memperbaiki layar dan mengatur jadwal masak.

Hari pertama perjalanan saja sudah badai.  Layar kapal kami robek. Cuaca agak jelek saat itu. Ini perjalananku yang pertama, aku percaya meski ada badai pasti selamat.

Layarnya robek karena badai?

Iya, saat itu yang robek justru layar utama. Saat yang bersamaan sekitar pukul 12 malam angin kencang. Mau tidak mau kita harus mengganti layar yang beratnya hingga 100 kilogram. Karena basah, kami mencoba keringkan menggunakan blower – pompa udara bertenaga listrik. Setelah dirasa kering, kami menjahit layar tersebut. Saat itu, beruntung sekali ada yang bisa menjahit.

Kapal yang digunakan berlayar itu, seperti apa?

Kapalnya ada mesin, namun sebisa mungkin kita harus berlayar. Kita juga menggunakan solar panel untuk tenaga listriknya.

Bagaimana awal mula Anda diajak?

Awal mulanya, saya kagum dengan Emily Penn – perempuan yang melakukan ekspedisi laut sendiri. Saya tahu dia sudah sejak lama, sekitar 2013. Pada 2018, saat saya mendapatkan fellowship di PBB New York, di sana saya bertemu dengan Emily Penn dalam kegiatan di World Ocean Day. Pada tahun yang sama, saya mendapatkan beasiswa ke Inggris. Saya bertemu kembali dengan Emily dalam acara Ocean Drink, networking event yang diselenggarakan Emily di London. Di sana banyak berkumpul pada jurnalis, model, dan peneliti. Saya ada di sana. Saya ditawari Emily untuk berbicara di hadapan peserta terkait Indonesia dan kecintaan saya terhadap laut. Saya lakukan semua itu. Setelah itu, saya ditawari beasiswa untuk ikut dalam eXXpedition. Saya bersyukur karena saya perempuan satu-satunya asal Indonesia.

Selama berlayar, bagaimana kondisi siang dan malam hari di Samudera Atlantik?

Saya ingat perjalanan kami dilakukan pada musim dingin. Untuk kru profesional yang menjalankan kapal, mereka harus menggunakan seragam anti-badai dan anti-hujan. Bajunya berlapis-lapis. Saya hitung lapisannya ada empat.

Saat siang hari, saya merasakan setiap badai selesai, selalu muncul pelangi. Biasanya saat hujan di Indonesia atau di mana pun, pelangi hanya muncul satu kali saja. Namun di laut samudera, pelangi bisa bermunculan terus-menerus. Saya hitung lebih dari sepuluh pelangi yang saya lihat.   

Sementara kalau malam hari, saya melihat hewat laut memancarkan cahaya di malam hari. Itu indah sekali. Saya paling suka mendapati kapal malam hari, selain dapat melihat ikan berwarna, saya juga bisa melihat perubahan kemunculan matahari.

Ada ketakutan enggak melintasi samudera?

Rute yang kita lalui sepanjang Samudera Atlantik melewati teluk Biscay. Teluk tersebut menjadi tempat sejumlah cuaca buruk di Samudra Atlantik terjadi dan dikenal banyak terjadi peristiwa kapal tenggelam. Salah satunya kapal super Britania Raya, Royal Mail Ship (RMS) Titanic.

Di teluk tersebut, terdapat ruang di mana ada kedalaman lompatan langsung dari kedalaman 200 hingga 4.000 meter. Itu kemudian mengakibatkan arus air laut kencang. Akibatnya navigasi kapal sering salah. Saya jadi deg-degan selama melewatinya.

Bisa diceritakan, apa tujuan dari ekspedisi tersebut?

Kita mencari solusi kondisi laut berdasarkan ilmiah. Kita ingin tahu sampah plastik di laut berdasarkan pendekatan ilmiah. Selain itu, ini juga merupakan penyadartahuan bagi kita semua, termasuk perempuan. Sampah plastik mempunyai dampak langsung terhadap perempuan. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh perempuan, maka dapat mengakibatkan penyakit seperti kanker. Selain itu, di dunia kelautan masih jarang penelitian terkait isu perempuan. Sementara plastik banyak relevansi ke perempuan, seperti kosmetik dan rumah tangga. Mengurangi plastik salah satu solusinya bisa dimulai dari dapur. Dari situ, perempuan mempunyai andil.

Dari ekspedisi Anda bersama 14 kru lain, benar enggak sampah plastik itu jumlahnya banyak di laut?

Iya benar, tujuan utama kita melakukan sampling di laut. Kita ambil beberapa plastik dengan alat yang kami siapkan. Saya cukup kaget saat mendapatiplastik sudah menjadi satu ekosistem di lautan. Bisa dibayangkan apabila mikroplastik dimakan algae, kemudian algae dimakan cumi-cumi juga memakan plastik. Kita tahu, cumi dimakan tuna, lalu tuna dimakan manusia. Kemungkinan besar kita juga sudah memakan plastik.

Apa lagi yang Anda temukan?

Selain itu, saya melihat pelet plastik sebagai bahan material untuk membuat berbagai macam barang. Saya melihat, ternyata ada kapal-kapal yang membawa barang mentah siap olah pabrik itu tercecer di laut. Ini semakin memperburuk keadaan. Polusi plastik jadi semakin banyak.

Apa tindak lanjut dari ekspedisi tersebut?

Kita membentuk self-awareness dan komunitas untuk melakukan perubahan. Bagaimana memulai dengan isu plastik. Kemarin yang sudah kita lakukan, membawa hasil sampel plastik dan mikroplastik di laut ke Universitas Plymouth di Inggris dan sampel di darat datanya diolah di Universitas Georgia di Amerika.

Saya membantu pemerintah Indonesia, sekaligus menyadarkan masyarakat untuk mengurangi sampah plastik di laut. Saat ini, melalui National Plastic Action Partnership, kami melakukan kerjasama dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah, industri, dan sektor swasta, komunitas, hingga organisasi agama seperti NU dan Muhammadiyah. Saya tahu religious regulator berpengaruh untuk mengubah perilaku. Jadi, harus semua pihak terlibat.

Apakah Anda menyampaikan hasil ekspedisi Anda kepada pemerintah Indonesia?

Secara khusus belum ada sebab jalur ekspedisinya tidak ke Indonesia. Biasanya negara yang dilewati ekspedisi akan bertemu pemerintah lokal. Kami sampaikan temuan kita. Biasanya juga kepada akademisi di kampus-kampus.

Ada upaya menyampaikannya?

Sebenarnya kalau tim eXXpedition mau, malah pada 2019 sebenarnya ada agenda berlayar ke Indonesia. Namun di Indonesia kapal bendera asing sulit masuk. Sebetulnya, sudah ada rencana untuk berlayar di sekitar Indonesia tengah hingga timur. Jika situasi pandemik membaik.

Kenapa pilihannya Indonesia timur?

Emily, founder eXXpedition sempat Raja Empat dan mendapati Sorong, pintu masuk Raja Ampat memiliki banyak sampah. Selain itu, Pulau Papua salah satu lokasi yang memiliki keanekaragaman hayati laut terkaya dan juga posisinya dilewati jalur arus lintas Indonesia. Arusnya kencang dan mampu membawa sampah bawa plastik dari sembilan sungai terkotor di dunia.

Secara umum, menurut Anda bagaimana kondisi laut di Indonesia saat ini?

Indonesia bangsa bahari, negara kepulauan terbesar, panjang pantai terpenjang kedua setelah Kanada. Namun, memiliki banyak tantangan diantaranya perubahan iklim, polusi plastik di laut. Ini jadi risiko yang berdampak pada negara Indonesia baik dari sisi ekonomi dan biota laut untuk generasi sekarang dan yang akan datang.

Dari kacamata pribadi, membuat saya sadar potensi besar bangsa ada di laut. Indonesia adalah jantungnya terumbu karang dunia, banyak memiliki kharismatik spesies salah satunya dari 7 jenis penyu di dunia, 6 jenis ada di Indonesia.

Ada pengaruh terhadap ekonomi, itu maksudnya seperti apa?

Ambil contoh polusi plastik, pemerintah menjadikan plastik sebagai atensi. Mereka ingin salah satu devisa negara bisa diperoleh dari bahari. Namun, bagaimana bisa datangkan wisata bahari kalo kondisi laut kita tercemar?

Kedua dari sisi perikanan, Indonesia kan eskportir tuna terbesar di dunia. Tentu bisa mempengaruhi kualitas kesehatan ikan tuna. Selain itu, plastik ketika tercemar di laut akan merusak terumbu karang, ikan di sana akan mati. Lalu, bagaimana nelayan dan kita semua dapat ikannya?

Kalau bicara peran anak muda, apa yang bisa dilakukan?

Kalau perubahan perilaku, semua ekosistem harus berperan, pemerintah, industri, komunitas, dari rumah untuk mengurangi dan memilah sampah. Sekala besar untuk industri, mereka harus bertanggung jawab agar tidak menyampah. Perubahan perilaku dimulai dari diri sendiri. Saya anak muda, saya anak kelautan, suka jalan-jalan keliling Indonesia. Indonesia cantik dan memiliki potensi besar. Saya ingin berpartisipasi untuk mencari solusi, bukan polusi.

Apa dampak laut untuk anak muda?

Eksistensinya punah ketika laut tercemar, padahal laut meregulasi perubahan iklim. Ketika terjadi perubahan, tiga bulan sebelum terjadi laut sudah mengetahui itu. Terumbu karang, lamun, mangrove ekosistem penting. Di masa yang akan datang, anak muda mungkin tidak bisa melihat laut yang bersih lagi.

Banner Image : Kru eXXpedition 2019 / Dokumentasi : eXXpedition

Simak juga cerita Prigi Arisandi tentang sampah plastik di laut di tautan berikut :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *