Dari pengetahuan lokal hingga Van Steenis, restorasi ekosistem diteruskan

Kawasan taman nasional menjadi laboratorium yang mendata jenis-jenis pohon, pembenihan, penanaman, hingga perawatan. Solusi alami ketika Indonesia belum memiliki data tentang spesies pohon rimba.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru  (TNBTS) memiliki suhu ekstrim untuk restorasi ekosistem dengan suhu yang bisa turun hingga minus 13 derajat celcius. Sementara Indonesia masih minim literasi tentang pohon rimba yang cocok untuk suhu ekstrim seperti itu, cara mengatasi suhu ekstrim, hingga teknik pengecambahan benihnya.

Dengan mempraktekkan pengetahuan setempat, membaca catatan sejarah para naturalis, dan melibatkan masyarakat sebagai pelaksana, program restorasi ekosistem TNBTS mengukir keberhasilan pohon tumbuh sebesar 83 persen. Tak hanya itu, masyarakat setempat mendapatkan alih  pengetahuan yang menjadi bekal mereka untuk melaksanakan penanaman pohon secara swadaya.

Program Restorasi Ekosistem TNBTS oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) dan yang kemudian dilanjutkan oleh JICS (Japan International Cooperation System) bukan hanya merupakan program pemulihan ekosistem yang melibatkan masyarakat, namun juga percobaan untuk mengenali karakteristik tumbuhan langka di TNBTS.

Mulai dari karakteristik penyebaran biji, teknik pengecambahan, pertumbuhan, dan mengatasi kondisi suhu ekstrim. Pengalaman ini kemudian digunakan masyarakat untuk mempersiapkan  bibit sendiri dan melakukan penanaman secara swadaya setelah program berakhir pada Maret 2020.

Selengkapnya, simak hasil liputan Titik Kartitiani di https://www.ekuatorial.com/2021/05/budidaya-pohon-cara-masyarakat-lokal-hingga-van-steenis/

Banner image : Biji kesek setelah dipetik dan siap disemai tanpa perlakukan khusus di green house Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Foto: Titik Kartitiani / Ekuatorial Credit: Titik Kartitiani / Ekuatorial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *