Bustar Maitar: Jangan Habiskan Hutan yang Tersisa di Indonesia Timur

JAKARTA–Luas hutan Indonesia semakin berkurang. Badan Pusat Statistik mencatat pada 2018 luas lahan hutan seluruhnya mencapai 93.483.291 hektare, di mana hutan terluas berada di Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Namun di waktu yang bersamaan BPS juga mencatat hutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan masing-masing berkurang 1.122.684 ha dan 870.273 ha.

Dalam catatan Forest Watch Indonesia (FWI) selama tujuh rezim pemerintahan berkuasa, Indonesia telah kehilangan hutan alam lebih dari 23 juta hektare atau setara dengan 75 kali luas Provinsi Yogyakarta.

Melihat kondisi mengenaskan tersebut, Yayasan EcoNusa memprakarsai program “Defending Paradise” (Menjaga Surga) untuk menyelamatkan hutan di wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua dan Maluku. Hal itu dilakukan lantaran 50 persen hutan Indonesia yang masih tersisa berada di dua pulau tersebut. Keanekaragaman hayati, flora dan fauna endemik yang masih melimpah juga membuat EcoNusa bertekad untuk ikut menjaga kelestarian alam di kawasan tersebut.

Untuk mengetahui seperti apa Defending Paradise berjalan dan bagaimana upaya penyelamatan hutan di Indonesia Timur. The Society of Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ) mewawancarai CEO EcoNusa, Bustar Maitar, pada Selasa, 27 April 2021.

CEO Yayasan EcoNusa Bustar Maitar. Foto: Dokumentasi pribadi

Berikut petikan wawancara kami.

Baru-baru ini EcoNusa meluncurkan program Defending Paradise. Bisa dijelaskan lebih rinci mengenai program tersebut? Apa target besarnya?

Jadi ini adalah kampanye penyelamatan hutan di Indonesia timur, terutama di wilayah Papua dan Maluku. Kami menargetkan hutan kita yang tersisa di dua pulau tersebut dapat diselamatkan agar tidak terancam oleh ekspansi perkebunan berskala besar. Kami mempunyai misi menyelamatkan hutan di Indonesia timur.

Bagaimana pengamatan EcoNusa terkait kondisi hutan di Indonesia?

Kami menyadari hutan di Sumatera dan Kalimantan perlahan mulai terkikis. Ini tinggal menunggu waktu saja. Hutan Indonesia sekitar 50 persen berada di wilayah Timur. Kalau kita tidak menyelamatkannya saat ini, maka kita akan kehilangan hutan.

Kita juga akan gagal menyelamatkan iklim. Kita tahu perubahan iklim terjadi karena ekosistem hutan mulai menipis. Selain itu, tentu saja kita kehilangan keanekaragaman hayati dan hutan sebagai penghidupan masyarakat adat juga akan hilang saat kita tidak melakukan apa-apa. Ketika hutan ini tidak diselamatkan ancaman perubahan iklim nyata di depan kita.

Ada rencana untuk memperluas kampanye ke hutan daerah lain?

Econusa hanya fokus untuk Indonesia Timur, penekanannya karena hutan di sana yang tersisa.  

Dalam program ini Econusa bekerja sama dengan Cornell Lab of Ornithology. Mengapa?

Cornell Lab of Ornthology merupakan lembaga yang sejak dahulu fokus pada penelitian burung cenderawasih. Mereka intens meneliti di wilayah Papua dan Maluku. Hasil dari penelitian tersebut kita jadikan kolaborasi untuk memelihara hutan, serta flora dan fauna di Indonesia Timur.

Apakah bekerja sama dengan sebuah lab ornithology berarti fokus utama Defending Paradise adalah melestarikan burung-burung? Bagaimana dengan hewan lain, terutama hewan endemik Maluku dan Papua?

Tidak hanya burung cenderawasih, itu hanya salah satunya. Kami menyebut paradise itu berarti keseluruhan. Karena hutan di sana adalah keindahan alam sekaligus rumah dari burung cenderawasih. Semua fauna dan flora di sana juga kami lindungi dan menjadi concern dalam Defending Paradise.

Dalam program Defending Paradise, apakah ada lembaga lain yang berpartisipasi?

Ada grup musik Slank ikut membantu. Mereka sudah mendonasikan lagu mereka untuk digunakan sebagai bahan kampanye.  

Cenderawasih sepertinya dipilih sebagai simbol program kampanye ini. Mengapa?

Karena, sama seperti di Sumatera dan Kalimantan (yang menjadikan, red.) orang utan sebagai ikon, burung cendrawasih juga melambangkan sebuah keindahan yang harus dilindungi dan mereka terancam.

Ancaman apa saja?

Misalnya ekspansi perkebunan skala besar. Setelah Sumatera dan Kalimantan diokupasi kelapa sawit, lahan Papua dijadikan ruang untuk industri kelapa sawit, hutan Papua dan Maluku juga banyak ditebang, kayunya dijual. Selain itu, terdapat juga pertambangan yang semakin meluas dan pembangunan infrastruktur yang tidak memedulikan aspek lingkungan. Itu ancaman besar yang kami lihat.

Tadi sempat disampaikan bahwa EcoNusa juga menggandeng Slank dalam kampanye ini. Bisa diceritakan alasan pemilihan mereka dan bagaimana kerja sama itu terjalin?

Awal mulanya adalah kepedulian Slank terhadap lingkungan yang telah berjalan bertahun-tahun. Kami berangkat dari kepedulian yang sama. Kerjasamanya misalnya Slank menyumbang satu lagu untuk kita pakai musik kampanye, jadi tidak ada kerja sama formal. Bisa dikatakan ini lebih kepada kepedulian bersama dan melakukannya secara bersama-sama.

Harapan kami melibatkan musisi  ini agar lebih banyak orang yang tergerak bersama-sama. Ikut membantu kampanye perlindungan hutan di Indonesia Timur.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan tim Econusa, cara apa yang paling efektif dalam menjaga hutan dan habitatnya di Maluku dan Papua?

Caranya adalah hutan tidak boleh ditebangi terutama untuk skala besar. Untuk kebutuhan masyarakat, untuk rumah dan kebun, saya pikir tidak jadi soal untuk kehidupan sehari-hari. Sementara untuk (penebangan, red.) skala besar harus dihilangkan.

Bicara soal pemanfaatan hutan. Ada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Regulasi ini kerap digunakan pemerintah untuk mempercepat proses pembangunan yang berdampak ke hutan. Bagaimana tanggapan Anda?

Saya pikir pemerintah harus pertimbangkan dengan matang. Saya yakin mereka bisa menghasilkan keputusan yang baik. Kalau misalnya hanya membangun saja, dampaknya akan serius untuk lingkungan. Pembangunan infrastruktur perlu mempertimbangkan keadaan sosial dan lingkungan sehingga tidak berdampak buruk terhadap lingkungan ke depannya.

Pemerintah membuka akses jalan di Papua dengan alasan supaya masyarakat tidak terisolasi dan akses perekonomian berjalan cepat. Bagaimana menurut Anda?

Saya melihat pembangun infrastuktur untuk kebutuhan apa saja memang penting, tapi kebutuhannya membangun jalan 1 kilometer, kenapa harus bangun jalan 10 kilometer. Jangan sampai pembangunan akan merusak lingkungan yang sudah ada.

Bagaimana pendapat EcoNusa terhadap ekowisata sebagai bentuk perlindungan hutan partisipatif?

Ekowisata berprinsip partisipatif harus didorong. Pola pengembangan ekonomi masyarakat yang tidak berdampak signifikan terhadap lingkungan harus didukung. Sebab dengan waktu yang bersamaan memberikan peningkatan ekonomi di masyarakat. Saya pikir ini perlu didorong pemerintah.

Kalau membutuhkan infrastruktur besar meski konsep ekowisata, bagaimana?

Menurut saya yang jelas harus mempertimbangkan secara ekologis. Ini harus ditaruh di depan, jangan sampai covernya saja partisipatif ekologis padahal sebenarnya tidak. Lakukanlah kajian berdasarkan sains. Pertimbangan ekologis berbasis sains harus ditaruh di depan

Jadi harus ada pengawasan lebih ketat untuk menjaga hutan?

Iya, pemerintah harus memperkuat tata kelola lahan yang ada. Salah satu sumber masalah kan korupsi. Mestinya kan tidak hanya monitoring saja yang ditekankan, tapi juga dengan tidak memberikan ruang kepada industri besar untuk menggerogoti hutan yang masih tersisa. Jadi pemerintah harus melakukan pengawasan ketat.

Menurut EcoNusa, tindakan apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat awam untuk bisa ikut menjaga alam Indonesia, khususnya di Maluku dan Papua?

Minimal meminta pemerintah untuk tidak memperluas perkebunan di Papua dan Maluku. Mari bersama-sama untuk mendorong itu. Yang tersisa ini jangan dihabiskan. Cukup belajar dari Kalimantan dan Sumatera. Jangan kita ulangi di Papua dan Maluku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *